• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.4 Informan ketiga HS (Sawi)

4.3.3 Kategorisasi Pola Jawaban GS (Sawi):

a. Pola bagi hasil

1. Perhitungan biaya

2. Perbedaan pembagian hasil antara pemilik kapal dengan abk

3. Perbedaan pembagian hasil sesama abk b. Pendapatan

1. Pendapatan kurang lebih Rp. 2.000.000 c. Pemanfaatan pendapatan

1. Konsumsi 2. Tabungan 3. Pendidikan anak

T : bagaimana cara pembagiannya itu pak ?

J : pertama itu dihitung semuai biaya kapal e sama makan dulu baru sudah itumi nanti na bagi bos e

T : apa apa yang termasuk dalam biaya makan sama biaya kapal ? J : Solar, Es balok, Beras, Minyak, Rokok, Oli, Gula pasir, Kopi,Rompong

(alat tangkap ikan )

T : apakah pembagiannya anatar pemilik kapal dengan abk sama?

J : tidak lebih banyak na dapat bos itu kalau pembagiannya T : apakah pembagian untuk sesama abk sama?

J: tidak samai karena pembagiannya lebih banyak na dapat kalau pengemudi kapal dari pada kalau kaya saya yang

T : apakah hasil pembagian itu langsung di serahkan ke abk?

J : tergantung ji biasa kalau perlu meki langsung ji di minta sama bos e

T : berapa lama hasil pembagiannya baru diambil ?

J: biasa satu bulan biasa juga ada teman yang langsung na ambil kalau butuh mi

T : bagaimana menurut bapak dengan pembagian hasil seperti ini?

J : kalau saya bagus tidak bagus maupi diapai karena ini mi kerjaan tidak adami yang lain

b. Pendapatan

T : berapa hasil penjualan sekali melaut?

J : kalau itu tergantung ikan yang ditangkap kalau banyak biasa ada 30 juta 40 itu paling banyak mi tapa kalau sedkit biasa ada 10 samapai 20 juta paling sedikit mi itu

T : berapa bapak dapatkan dari hasil pembagiannya?

J : kalau saya itu ada biasa say adapt ta 2 juta kalau banyak lagi rejeki biasa juga satu juta

T : apakah itu untuk perorang abk kapal?

J : iye perorang

T : apakah bapak punya penghasilan lain selain melaut?

J : tidak ada kalau usaha sy punya dek ituji saja pergi melaut

c. Pemanfaatan pendapatan

T : hasil dari pembagian hasil yang diterima bapak pergunakan untuk apa ? J : yah paling itu untuk kebutuhan sehari hari ji dek, beli beras apa kaya begitu ji heheheheh

T : apakah bapak punya tabungan?

J : kalau tabungan iye adaji di simpan tasedikit di bank sama istri kasian T : apakah anak bapak sekolah?

J : alhamdulillah sekolah ji semua anakku kasian

T : apakah dengan pendapatan dari melaut sudah cukup untuk membiayai keluarga bapak ?

J : yah kalau diliat cukup ji karena sampai sekarang Alhamdulillah bisa jeki makan kasian sama biayai anak anak hehehee

4.4.2 Ringkasan Coding Wawancara HS (Sawi):

a. Pola Bagi Hasil

1. Jumlah nelayan yang yang ikut melaut 10-15 orang 2. Pemilik kapal tidak ikut serta melaut

3. Lama melaut 15 hari

4. Hasil tangkapan dijual langsung

5. Uang hasil penjualan langsung di serahkan ke pemilik kapal

6. Perhitungan semua biaya makan dan kapal selama melaut

7. Pembagian untuk pemilik kapal lebih banyak disbanding abk

8. Pembagian untuk pengemudi kapal lebih banyak

dibanding abk

9. Hasil pembagian tidak langsung diterima

10. Lama pengambilan pembagian 1 sampai 2 bulan b. Pendapatan

1. Total Hasil penjualan penjualan 10 sampai 40 juta sekali melaut

2. Hasil pembagian kurang lebih 1 juta 3. Tidak memiliki usaha

c. Pemanfaatan pendapatan

1. Konsumsi sehari hari 2. Memiliki tabungan di bank 3. Menyekolahkan anak

4. Cukup untuk kebutuhan sehari hari 4.4.3 Kategorisasi Pola Jawaban HS ( Sawi ):

a. Pola bagi hasil

4.4.3.1 Perhitungan biaya

4.4.3.2 Perbedaan pembagian hasil antara pemilik kapal dengan abk

4.4.3.3 Perbedaan pembagian hasil sesama abk b. Pendapatan

1. Pendapatan kurang lebih Rp. 1.000.000 c. Pemanfaatan pendapatan

1. Konsumsi 2. Tabungan 3. Pendidikan anak

BAB V PEMBAHASAN

Setelah melakukan tahap analisis data pada bab IV, akhirnya peneliti mampu mendapatkan berbagai macam jawaban dan respon informan terkait bagaimana pola bagi hasil, pendapatan dan pemanfaatan pendapatan nelayan Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang. Hal ini dikarenakan metode kualitatif pendekatan studi kasus yang digunakan peneliti memang mampu menjelaskan kondisi alami dari suatu fenomena, seperti yang dikatakan Nasution (2003) bahwa pendekatan kualitatif berguna dalam perolehan pemahaman dan penggambarkan realitas yang kompleks.

Dari serangkaian tahap analisis data yang telah dilakukan peneliti, akhirnya peneliti memperoleh makna mengenai pola bagi hasil yang diterapkan, dan pendapatan serta pemanfaatan pendapatan nelayan Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang sebagai berikut:

5.1 Pola Bagi Hasil

Bagi hasil merupakan suatu sistem yang meliputi tata cara pembagian hasil usaha antara penyedia dana dan pengelola dana. Penyedia dana dan pengelolah dana dapat melakukan kesepakatan dalam bagi hasil usaha yang dijalankan. Sistem bagi hasil merupakan suatu sistem kerjasama antara Punggawa dan Sawi setelah adanya perjanjian kerjasama. Suatu perjanjian dimana pihak-pihak yang bekerja sama saling mengikat diri untuk bekerja sama

sesuai dengan kesepakatan tertentu yang telah disetujui antara pemilik modal (punggawa) dan nelayan buruh (sawi). Adapun pengelola dana atau punggawa yang ada di Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang tidak ikut serta dalam proses penangkapan.

Berikut potongan wawancara pemilik modal KP:

T : Apakah bapak juga ikut melaut?

J : kalau saya nda ikut ka, saya cuma tinggal dirumah saja

Terjemahan : “pemilik kapal tidak ikut serta dalam proses melaut, dia hanya tinggal di rumah“

Sistem bagi hasil yang digunakan nelayan kecamatan suppa kabupaten pinrang yaitu:

1. Perhitungan Biaya

Nelayan di Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang biasa melaut selama 15 hari yang tentunya memakai biaya. Biaya yang dikeluarkan dapat berubah-ubah bergantung pada jauh dan jumlah operasi penangkapan dalam semusim. Dalam proses pembagian, pemilik modal terlebih dahulu menghitung semua biaya selama melaut, berikut potongan wawancara pemilik kapal KP:

T : bagaimana cara pembagiannya pak ?

J : pertama itu di hitungi dulu biaya makannya sama biaya kapalnya juga selamai melaut, kalau kapal itu tetap mi sewa memang jadi kalau sudah itu di hitung mi berapa sisanya terus di bagimi untuk yang punya kapal dan untuk abk

Terjemahan : “pertama dia menghitung semua biaya selama melaut. Setelah perhitungan selesai maka hasil dari itu yang akan di bagi“

2. Perbedaan Pembagian hasil antara pemilik kapal dengan abk

Setelah semua biaya dihitung oleh pemilik kapal maka hasil itulah yang akan dibagi. Dalam pembagiannya Pemilik modal mendapatkan bagian paling besar dibanding abk. Hal ini disebabkan karena pemilik modal merupakan penyedia dana sekaligus pengelola dana sedangkan abk hanyala penyedia jasa.

Berikut potongan wawancara pemilik kapal KP dan abk GS : Potongan wawancara pemilik kapal KP

T : apakah pembagian hasilnya antara bapak dengan abk sama?

J : tidak sama kalau pemilik kapal lebih banyak pembagiannya karena kita semua yang tanggung

Terjemahan : “pembagian untuk dia lebih banyak dibanding abk“

Potongan wawancara abk GS

T : apakah pembagiannya antara pemilik kapal dengan abk sama?

J : tidak samai lebih banyak bagiannya pemilik kapal e karena kita cuma kerja jeki saja kalau pemilik kapal e kan dia semua yang punya

Terjemahan : “pemilik modal mendapatkan pembagian lebih banyak dibandingan dia“

3. Perbedaan pembagian hasil sesama abk

Perbedaan bagian dari pembagian hasil juga dilakukan pada pekerja kapal dimana pembagian untuk pengemudi kapal lebih banyak dibanding abk biasa. Pengemudi kapal yang ditunjuk biasanya merupakan orang yang sudah memiliki banyak pengalaman melaut, dapat mengantisipasi permasalahan yang terjadi selama melaut, dan dipercaya dapat memimpin operasi penangkapan ikan

yang dilakukan. Sedangkan ABK bertugas untuk mengoperasikan alat tangkap dengan sebaik mungkin agar mendapat hasil tangkapan yang maksimal. Berikut potongan wawancara KP:

T : apakah pembagian untuk abk sama?

J : eh tidak, lebih banyaki yang na dapat untuk pengemudi kapal karena dibagi lagi itu ada 2 orang yang pengemudi kapal jadi itumi nnt yang lebih tinggi na dapat pembagian dari pada yang lain

Terjemahan: “pembagian untuk 2 orang pengemudi kapal lebih banyak dibanding dia sebagai abk biasa“

Namun hasil dari pembagian tersebut tidak langsung di serahkan ke abk. Hasil pembagian tersebut diserahkan paling lama dua bulan, hal ini disebabkan karena adanya beberapa abk yang memiliki utang ke pemilik modal dan beberapa abk yang sengaja untuk menyimpannya. Berikut potongan wawancara KP:

T : apakah hasil pembagian itu langsung di serahkan ke abk?

J : tidak dulu, karena ada juga biasa abk yang na simpan dulu uangnya sama ada juga yang biasa ambil panjar jadi itu nanti di hitungi semua sama gaji T : berapa lama hasil pembagiannya di ambil oleh abk?

J : biasa itu na ambil i paling lama dua bulan biasa i juga kalau butuh sekali mi langsung ji na minta

Terjemahan : “hasil pembagian tidak langsunng dia serahkan ke abk, pembagian di serahkan paling lama 2 bulan karena adanya abk yang memiliki utang dan sebagian abk yang sengaja menyimpan uangnya“

5.2 Pendapatan Nelayan

Pendapatan merupakan jumlah uang yang diterima dari suatu aktivitas yang dilakukan. Pendapatan nelayan Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang sangat begantung pada hasil penjualan dari ikan yang mereka tangkap. jika hasil penjualan tinggi maka bagi hasil yang mereka dapatkan juga tinggi, berikut kutipan responden GS:

“pembagian hasil itu sangat tergantung dari ikan yang di tangkap kalau jumlah ikan yang di tangkap banyak makanya yang didapat juga banyak “

berdasarkan hasil wawancara berikut pendapatan dari bagi hasil yang diterima nelayan kecamatan suppa kabupaten pinrang berdasarkan jabatannya :

TABEL 5.1

Pendapatan Nelayan Kecamatan Suppa

N o

Jabatan Pendapatan

1 Pemilik kapal ± 5.000.000

2

Pengemudi kapal ± 2.000.000

3 Abk biasa ± 1.000.000

Sumber : Hasil wawancara

Berdasarkan tabel di atas rata-rata pendapatan dari bagi hasil yang di terima pemilik kapal kurang lebih Rp 5.000.000 dibanding pengemudi kapal kurang lebih Rp 2.000.000 dan abk biasa kurang lebih Rp 1.000.000

Pendapatan nelayan Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang hanya diperoleh dari hasil melaut. Hal tersebut diakibatkan dari tidak adanya mata pencaharian lain selain melaut. Berikut potongan wawancara GS :

T : apakah bapak punya penghasilan lain selain melaut?

J : tidak ada jadi kalau pulang mi dari melaut itu tinggal mi sj di rmh lagi Terjemahan : “ dia tidak memiliki usaha selain melaut jika dia pulang dari melaut dia hanya tinggal di rumah “

5.3 Pemanfaatan Pendapatan

Hasil Pendapatan yang diperoleh nelayan dipergunakan untuk berbagai kebutuhan. Kebutuhan tersebut dapat berupa kebutuhan primer, sekunder maupun tersier. Penggunaan pendapatan tersebut dapat dikatakan sebagai pemanfaatan pendapatan nelayan. Berdasarkan hasil wawancara, maka pemanfaatan pendapatan nelayan Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang dialokasikan untuk :

1. Konsumsi sehari-hari

Sebagian pendapatan yang diperoleh nelayan Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang dialokasikan untuk memenuhi konsumsi sehari-harinya. Berikut potongan wawancara HS ( Abk Biasa ) :

T : hasil dari pembagian hasil yang diterima bapak pergunakan untuk apa ?

J : yah paling itu untuk kebutuhan sehari hari ji dek, beli beras apa kaya begitu ji hehehehe

Terjemahan : “ digunakan untuk membeli kebutuhan sehari seperti beras “

2. Tabungan

Selain dialokasikan untuk konsumsi, sebagian pendapatan yang diperoleh nelayan Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang juga dipergunakan untuk menabung di bank. Berikut potongan wawancara GS ( abk pengemudi kapal ) :

T : apakah bapak punya tabungan?

J : iye ada tabunganku di bank, itu semua istri yang urus

Terjemahan : “ dia memliki tabungan di bank yang diurus oleh istrinya 3. Pendidikan anak

Pendidikan anak nelayan Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang juga teralokasikan dari total pendapatan yang mereka peroleh. Berikut potongan wawancara GS ( Abk Pengemudi Kapal ) :

T : apakah anak bapak sekolah?

J : Alhamdulillah sekolah semuaji ada masih SD adami juga SMA Terjemahan “ alhamdulillah semua anaknya sekolah ada SD dan ada juga yang SMA “

BAB VI

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dan dibahas dalam – dalam sebelumnya, maka penulis dapat menarik kesimpulan yakni:

1. Pola bagi hasil nelayan Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang yaitu pembagian hasil antara pemilik modal (punggawa) dengan nelayayan buruh (sawi) tidak sama, dan pembagian hasil antara sesama nelayan buruh (sawi) tidak sama.

2. Persentase bagi hasil terbanyak ditujukan kepada pemilik kapal sebesar kurang lebih 5 juta, selanjutnya pengemudi kapal sebesar kurang lebih 2 juta, kemudian yang paling sedikit memperoleh hasil adalah anak buah kapal sebesar kurang lebih 1 juta.

3. Pemanfatan pendapatan nelayan Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang dialokasikan paling utama untuk konsumsi sehari-hari, biaya pendidikan dan saving.

5.2 Saran

Setelah pemaparan yang telah dilakukan oleh penulis, beberapa saran yang diajukan, yakni:

1. Pemerintah harus lebih memperhatikan lagi kondisi perekonomian nelayan dengan membuat atau meninjau kembali kesesuaian regulasi

yang ada dengan kondisi realita masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan dilapangan.

2. Pemerintah harus membuat atau setidaknya meninju kembali kebijakan yang berkorelasi langsung dengan peningkatan kualitas

LAMPIRAN

Identitas Diri

Nama : imran

Tempat/Tanggal Lahir : lappa-lappae, 19 juni 1995

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat Rumah : BTP Blok AF No. 35

Nomor HP : 081242187679

Alamat E-mail :[email protected]

Riwayat Pendidikan

1) SDN 102 Lappa-Lappae Tahun 2001 - 2007

2) SMPN 1 Suppa Tahun 2007 - 2010

3) SMAN 1 Suppa Tahun 2010 - 2013

4) Universitas Hasanuddin Tahun 2013 – 2018

Demikian biodata ini dibuat dengan sebenar-benarnya.

Makassar, 14 Agustus 2018

Imran

Anwar, J., J. Damanik. N Hisyam & A. J. Whitten. 1984. Ekologi Ekosistem Sumatera. Yogyakarta: UGM Press. hlm. 317-318, 419-421, 424.

Boediono. 2010. Seri Sinopsis Pengantar Ekonomi No.1 Ekonomi Mikro. Edisi Kedua. Yogyakarta : BPFE

Budiono. 2002. Ekonomi Mikro Seri Sinopsis: Pengantar Ilmu Ekonomi No.1. BPFE, Yogyakarta.

Badan Pusat Statistik. 2016. Kabupaten Pinrang Dalam Angka

Basrowi & Suwandi. (2008). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta Creswell, J. W. 2003. Research Design Qualitative, Quantitative and Mixed Methods

Approaches Second Edition. New Delhi: Sage Publications.

[DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2006. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER. 16/MEN/2006 tentang Pelabuhan Perikanan.

Hamid. Abu. 2005. Penegembangan orang bugis (Passompe). Pustaka Refleksi.

Makassar

Irawan, R., Basrowi, & Iskandar. 2011. Pendidikan Nilai-Nilai Kecakapan Hidup Punggawa dan Sawi dalam Sistem Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan Etnis Bugis Perantauan di Kota Bandarlampung. Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 8 Nomor 2. November 2011. Lampung

Imron, Masyuri (ed). 2003. “Kemiskinan Dalam Masyarakat Nelayan”. Jurnal Masyarakat dan Budaya. Jakarta: PMB – LIPI.

Manurung, Rahardja. 2006. Teori Ekonomi Mikro. Edisi Ketiga. LP Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta

Muflikhati, I., dkk. 2010. Kondisi Sosial Ekonomi dan Tingkat Kesejahteraan Keluarga Kasus di Wilayah Pesisir Jawa Barat. Jurnal Ilmu Keluarga. &

Konsumsi,Volume 3, No 1, 1-10

Moleong, Lexy J. (2010), Metodologi penelitian kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung

Muhadjir, 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi IV. Yogyakarta: Penerbit Rake Sarasin

Mubyarto. 1984. Strategi Pembangunan Pedesaan. Yogyakarta: P3PK UGM.

Sumber Tentang Metode-metode Baru. Jakarta: UIP.

Mubyarto, et al. 1984. Nelayan dan Kemiskinan; Studi Antropologi di Dua Desa Pantai. Rajawali. Jakarta.

Mulyadi, 2005. Ekonomi Kelautan, Jakarta: PT. Rajagarfindo Persada

Mulyadi, 2005. Ekonomi Kelautan, Jakarta: PT. Rajagarfindo Persada

Mc Eachern, William. 2001. Pengantar ekonomi mikro. Jakarta. PT. Salemba Empat Nasution, 2003. Metode Research (Penelitian Ilmiah). Jakarta : Bumi Aksara.

Nontji. A. 2005. Laut Nusantara. Jakarta.

Nikijuluw, P.H.V. 2002. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan P3R. Pustaka Cidesindo. Jakarta.

Poerwandari, E. K. 1998. Pendekatan Kualitatif Dalam penelitian Psikologi. Jakarta : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Retnowati, E. 2011. Nelayan Indonesia Dalam Pusaran Kemiskinan Struktural Perspektif Sosial, Ekonomi dan Hukum. Jurnal Perspektif , Volume 16 No 3, 149-159.

Sanusi. Fattah 1997. Peranan Institusi Lokal Dalam Pembangunan Ekonomi Wilayah Pesisir, Studi Kasus Kelompok Sosial Punggawa-Sawi di Pulau Barang Lompo Kecamatan Ujung Tanah Kotamadya Ujung Pandang. Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin. Ujung Pandang.

Sulistiany. (1999). Penelitian Kualitatif. Yogyakarta : Media Pustaka

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sukirno, 2006. Makroekonomi: Teori Pengantar, Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Sastrawidjaya. 2002. Nelayan Nusantara. Pusat Riset Pengolahan Produk Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Samuelson dan William D Nordhaus 1997. Mikroekonomi. Jakarta: Erlangga

Soekartawi, 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Raja Grafindo : Jakarta.

Dokumen terkait