BAB IV. TEMUAN PENELITIAN
4.2. Temuan Penelitian
4.2.7. Informan 7 (Nur)
1. Nama : Nurhayati
2. Nama Panggilan : Nur
3. Usia : 53 Tahun
4. Suku Pasangan : Minang Pariaman 5. Pendidikan : SMP
6. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
7. Alamat : Jalan Pertiwi Gang Ayahanda Nomor 12/A Medan Denai.
Nur adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki 3 (tiga) orang anak.
Anak sulungnya adalah satu-satunya anak laki-laki, sementara 2 (dua) anak lainnya adalah anak perempuan. Ke dua anak perempuannya telah ia nikahkan dengan laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman. Nur adalah ibu dari informan 5 (Yunita Handayani), yang peneliti temui di pesta pernikahan anaknya pada tanggal 17 Mei 2015 yang lalu. Beliau begitu berperan utama dalam perjodohan anak-anaknya, sebagaimana orang tuanya dahulu memperlakukan hal yang sama kepada dirinya.
Beliau dilahirkan dari keluarga perantau Minang dengan kehidupan yang sederhana. Namun ke dua orang tuanya begitu kental dengan adat istiadat Minang yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di perantauan. Nur juga sering diajak pulang kampung oleh kedua orang tuanya, sehingga ia juga memiliki referensi mengenai pelaksanaan tradisi uang jemputan dari pengalaman kerabatnya. Di dalam keluarga, bahasa Minang adalah bahasa utama yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari. Oleh sebab itu, Nur sangat mahir berbahasa Minang meskipun beliau lahir dan lebih banyak dibesarkan di Kota Medan.
Saat berusia 18 tahun, orang tuanya menjodohkan Nur dengan seorang laki-laki Pariaman yang berprofesi sebagai seorang wirausaha pembuatan sepatu.
Nur yang masih belia mengikuti keinginan orang tuanya, tanpa merasa terpaksa.
Pada tahun 1980, Nur akhirnya menikah dengan jodoh pilihan orang tuanya tersebut serta melaksanakan tradisi uang jemputan pada pesta pernikahannya.
Proses wawancara mendalam dilakukan di rumah Nur pada tanggal 03 Juli 2015, peneliti menanyakan pandangan beliau mengenai unsur agama dan kepercayaan
yang terkandung dalam tradisi uang jemputan, beliau menuturkan sebagaimana kutipan wawancara berikut:
“Kalau perempuan yang melamar nggak ada masalah, namanya udah adat kita. Kalau ibu senang, adat ibu...ibu jalani. Buktinya ibu udah dua orang menantu ibu orang Padang. Kalau perempuan ngasi uang jemputan nggak ada masalah...namanya adat, adat kita bersandar dengan agama juga. Kalau istilahnya adat basandi syara’, syara’
basandi kitabullah. Itulah adat kita....agama itu kan tergantung orang masing-masing. Ada yang ngerti, ada juga yang nggak ngerti. Kadang mengerti kali agama itu nggak dijalani, untuk apa....iya kan. Ada yang kuat kali dengan adatnya....dijalaninya, saling menghargai aja”.
Beliau menambahkan, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut adalah sebagai bentuk penghargaan terhadap status laki-laki yang datang ke rumah keluarga istri dan sebagai modal usaha bagi laki-laki, seperti kutipan wawancara berikut:
“Uang japuik itu...menghargai laki-laki sebagai urang sumando (yang datang ke keluarga istri), jadi dikasi berapa uang japuiknya...sekian misalnya. Nanti uang itu dijadikan modal usaha itu...iya untuk hidup sama-sama istrinya. Waktu ibu dulu gitu....dia ini kami (Nur dan suami) dijodohkan. Kalau jaman dulu mana kayak sekarang, orang banyak pacar-pacaran. Tapi bukan sembarangan laki-laki yang dikasih sama kita. Bagus orangnya...bisa dia mencari (punya pekerjaan), makanya uang japuik itu untuk modal sama dia”.
Nur mengungkapkan bahwa sumber referensinya mengenai tradisi uang jemputan, bersumber dari pengalaman kerabatnya yang menikah dengan melaksanakan tradisi tersebut. Orang tua Nur tidak secara khusus menjelaskan tentang makna tradisi uang jemputan. Akhirnya saat menjalani pernikahan karena dijodohkan oleh keluarganya dan dibantu oleh paman (mamak)nya, Nur juga menjalani tradisi tersebut:
“Ya...dari saudara-saudara ibu, orang-orang dulukan banyak dijodohin dulu itu. Pendapat ibu nggak masalah, orang tua mencarikan jodoh pasti yang bagus untuk anaknya. Kalau cocok....mamak kita juga ikut berperan, dialah yang datang melamar ke keluarga laki-laki tadi.
Kalau orang bilang...bisa pula orang Pariaman ini, perempuan yang
ngasi uang sama laki-laki, biarkan aja....kan orang itu nggak tahu adat itu kayak mana. Saling menghormati ajalah...nggak masalah itu”.
Beliau menambahkan pula bahwa pemberian uang jemputan oleh pihak keluarga perempuan, nantinya akan dibalas atau dikembalikan lagi oleh pihak keluarga laki-laki, selain itu Nur juga memahami adanya tradisi baetong sebagai bentuk solidaritas keluarga dalam membantu memberikan sumbangan untuk pengeluaran biaya pesta:
“Nanti itu...waktu kita pergi ke rumah keluarga laki-laki, kita dikasi panibo. Berapa uang japuik yang dikasi...segitu juga harganya panibo yang dikasi. Itu dia itu...bisa bentuk perhiasan, pakaian atau apalah yang cocok. Trus kalau orang Padang ni, pas hari pesta tu....malamnya diadakanlah baetong....niniak mamak itu yang memimpin. Nanti sanak keluarga kita menyumbang...ada yang ngasi duit, kain, emas, pakaian dan lain-lain untuk yang pesta. Jadi kalau orang Padang ini pesta nggak ada ruginya. Uang hasil baetong itu...biasanya bisa menutupi biaya pesta, bahkan bisa lebih”.
Nur menjelaskan bahwa pada masa sekarang ini telah terdapat perubahan pada pelaksanaan tradisi uang jemputan:
“Kalau sekarang anak-anak banyak yang pacar-pacaran. Susahlah misalnya si perempuan...enggak sanggup keluarganya manjapuik, si laki-laki bilang...nanti abang yang ngisi uang jemputan itu katanya.
Jadi laki-laki itu mengganti untuk mengisi adat. Dari pada malu, nggak dijalankan adat istiadatnya. Tapi awak orang Padang ini enggak bisa pesta mengharapkan orang lain, harus ada jugalah uang kita”.
Peneliti mencoba menggali lebih dalam bagaimana sikap beliau dalam urusan perjodohan anak-anaknya, sebagai upaya transmisi nilai-nilai tradisi kepada generasi muda, Nur mengemukakan pendapatnya sebagaimana berikut:
“Pernahkan anak ibu cowoknya orang Padang, sesama keluarga udah saling kenal kalau ada acara di rumah kita....dia datang. Udah kayak anak sendirilah...orangnya baik. Tapi lama-lama ibu nilai, ada juga enggak bagus keluarganya, belum apa-apa...udah berani pinjam duit.
Ibu nggak suka kali sama orang yang enak sama dia, nggak enak sama kita. Saling menghargailah....kita kalau udah menikahkan anak kita, kan menyatukan dua keluarga. Ibu kalau dapat....kawin anak awak, sama keluarga juga saling berbaikan. Ini...belum apa-apa udah berani
pinjam duit memaksa pula tu, udah ibu bilang enggak ada duitku...kakak ada barang emas, kita gadaikan aja yok...katanya, enggak suka pula ibu kayak gitu. Jadi memang ibu jodohkan sama pilihan ibu, tapi kita kenalkan lah dulu....biar dia menilai cocok nggaknya, dia juga yang mau berumahtangga...iya kan”.
Berdasarkan pernyataan Nur di atas, peneliti menanyakan bagaimana sikap anaknya ketika dijodohkan dengan pilihannya tersebut:
“Ibu bersyukur juga punya anak, masih bisa diatur...walaupun dulu ada yang menentang (membantah), akhirnya dinasehati nurut juga.
Kalau anak itu menikah dengan pilihan orang tua, sakit senangnya orang tua ikut menanggung....iya kan. Tapi kalau anak itu nyari jodoh sendiri...kalau senang dialah itu, kalau terjadi yang buruk mau bilang apa, rasakanlah...itu juga pilihanmu, iya kan”.
Peneliti menanyakan, bagaimana beliau memandang proses transmisi nilai-nilai budaya dalam tradisi uang jemputan, beliau menjelaskan pandangannya berdasarkan pengetahuannya menyaksikan pelaksanaan tradisi tersebut di kampung halaman orang tuanya:
“Orang tua Ibu juga bukan ada ngasi tau adat japuik itu. Kita positif aja menilai tradisi itu kan. Kalau pulang kampung....kita tenggok kayak mana...saling membantu orang di kampung itu, kalau ada yang pesta. Ibu kan sering pulang kampung...jadi sering tenggok pesta-pesta saudara. Kalau di sini...kita pergi ke pesta saudara, tentu anak kita juga kita bawa, dari situlah dia tahu adat itu. Kalau khusus kali dikasi tahu, enggak ada. Yang penting, adat itu bukan untuk merugikan anak-anak kita. Kalau ibu yang penting anak ibu itu dididik untuk tahu sopan santun”.
Beliau juga mengemukakan bahwa dengan membiasakan berbahasa Minang di dalam keluarga, merupakan salah satu bentuk upaya melestarikan dan memperkenalkan budaya Minang kepada anak-anaknya. Namun Nur mengakui bahwa anak-anaknya tidak terlalu mahir berbahasa Minang, karena lebih banyak berbaur dengan orang-orang dari suku berbeda. Kedua orang tuanya juga membiasakan berbahasa Minang pada beliau, sehingga Nur mahir berbahasa
4.2.8. Informan 8