BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELLITIAN
1. Informan Pertama
No. Nama Usia Pekerjaan
Sudah menjadi pemulung 1. Lasmaria br. Butar-butar 51 tahun Pemulung Lepas dan
Toke kecil
10 tahun 2. Karisman Manalu 46 tahun Pemulung Lepas 12 tahun 3. Hotmananda simamora 36 tahun Pemulung lepas 5 tahun 4. Nurmala situmorang 46 tahun Pemulung lepas 12 tahun 5. Gabe tumiar sipahutar 43 tahun Pemulung lepas 12 tahun 6. Nurmaida br.
Simangunsong
50 tahun Pemulung lepas dan toke kecil
12 tahun 7. Manogihon situmorang 29 tahun Pemulung berbandar 10 tahun 8. Tukkot manalu 29 tahun Pemulung lepas 15 tahun 9. Rossiner Br. Opsungguk 46 tahun Pemulung lepas 10 tahun 10. Diana br. Naibaho 43 tahun Pemulung lepas 10 tahun Sumber: Data primer 2016
4.4. Profil Informan dan Temuan Lapangan 4.4.1. Informan Utama
1. Informan Pertama Data informan:
Nama : Lasmaria br. Butar-butar
Agama : Kristen Protestan Jenis kelamin : Perempuan Status : Menikah Pendidikan terakhir : SMA
Asal : Pekanbaru
Penghasilan per bulan : ± Rp. 1.200.000
Tanggungan : 2 orang (anak dan suami)
Bu Lasmaria adalah seorang ibu rumah tangga yang bekerja sebagai pemulung selama 10 tahun, sebelum ia bekerja sebagai pemulung, dulunya sewaktu gadis dia bekerja di pabrik Lion Star di Jakarta sebagai karyawan pengiriman luar kota. Setelah menikah ia merantau ke Sumatera Utara dan menetap di perumahan Cendana dan bekerja sebagai pemulung lepas juga sebagai toke kecil. Bu Lasmaria memiliki 3 orang anak, anak pertama tamatan SMK bekerja sebagai supir mobil transportasi di Jakarta, anak kedua tamatan SMP dan sekarang sudah menikah dan memilik anak 1 berusia 1 tahun, dan ia bekerja menjual pakaian kredit disekitar rumah orang tuanya, dan anak yang ketiga masih sekolah SMP kelas 1. Bu lasmaria bekerja mulai jam 08.00-18.00 wib setiap harinya. Wilayah kerjanya disekitar tanjung morawa dan batang kuis.Bu Lasmaria memiliki langganan rumah tangga dan langganan sekolah, jadi setiap hari bu Lasmaria keliling kerumah-rumah langganan dan kesekolah langganannya. Pendapatan hariannya berkisarantara Rp. 150.000 - Rp.200.000/harinya. Dipotong dengan uang minyak becak perhari Rp.20.000/hari, pendapatan bersihnya berkisar Rp.130.000-Rp. 180.000/ harinya termasuk dengan modal usaha bu lasmaria. Saat
ini bu Lasmaria sebagai tulang punggung keluarga, walaupun ia masih mempunyai suami akan tetapi suaminya sudah 3 bulan ini hanya bisa dirumah saja karena terkena penyakit kolesterol sehingga membuat suaminya tidak dapat banyak bergerak dan hanya bisa istirahat dirumah saja karena masih dalam proses pengobatan.
• Strategi aktif informan pertama
Pendapatan bu Lasmaria tergolong rendah, dikarenakan ia hanya bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan segala kebutuhan hidup yang semakin mahal dan tinggi, cara bu Lasmaria mempertahankan kehidupannya adalah dengan cara usaha sampingan yaitu menjual pakaian monza/bekas. Jadi setiap hari senin-sabtu bu lasmaria bekerja sebagai pemulung sedangkan dihari minggunya ia berjualan pakaian bekas di pasar mingguan desa. Akan tetapi karena kenaikan harga pakaian bekas belakangan ini bu lasmaria berhenti sementara karena keterbatasan modal untuk belanja pakaian bekas yang harganya sudah mahal perbalnya.
Cara lain yang dilakukan bu Lasmaria adalah biasanya dengan menukangi barang-barang bekas yang terbuat dari bahan logam, biasanya harga bahan logam perkilonya mulai Rp. 5000 – Rp. 40.000/kg. Akan tetapi sebelum dijual ke toke besar biasanya barang-barang logam tersebut di sortir lagi bagian dalamnya, jika ada yang masih bagus akan dijual dengan harga yang berbeda. Begitulah cara bu Lasmaria menambah penghasilannya dengan kemampuan nya mengolah barang-barang bekas. Seperti ungkapan informan mengatakan :
“ Kami pun dek, kalau tidak pintar-pintar menjual barang bekas ini, gak akan dapat untung lebih, misalnya seperti bahan-bahan logam, biasanya didalam bahan logam itu ada alat-alatnya yang masih bagus, jadi kami bongkar lah alatnya, kami pisahkanlah alat yang
bagusnya, biasanya kalo kami menjual terpisah itu bisa dapat untung 20-30rb/kg nya, begitulah cara kami dek untuk menambah uang belanja rumah ini” (L, 51th).
• Strategi Pasif Informan pertama
Strategi pasif adalah strategi yang dilakukan untuk menghemat pengeluaran keluarga, carabu Lasmaria menghemat pengeluaran adalah dengan cara menghemat biaya pangan, pendidikan dan kesehatan. Menghemat biaya pangan dengan cara makan dengan lauk seadanya, keluarga bu Lasmaria juga sudah tidak bisa memakan daging karena terkena penyakit kolesterol, sehingga mereka hanya makan menggunakan ikan saja, tahu dan tempe serta sayuran hijau. Karena pendapatan terbatas keluarga bu Lasmaria memenuhi kebutuhan keluarga dengan belanja perhari setelah pulang kerja.
Menghemat biaya pendidikan, yaitu dengan cara menyekolahkan anak di sekolah negeri sehingga biaya pendidikan tidak terlalu mahal. Hanya menyiapkan biaya jajan harian saja, serta pakaian seragam sekolahnya.
Dan menghemat biaya kesehatan dengan mendaftar sebagai keluarga kurang mampu dan mendapat Kartu Indonesia Sehat dari pemerintah, sehingga disaat mereka sakit mereka dapat berobat dengan cara gratis. Kalaupun ada biaya tambahan dikenakan biasanya biaya obat luar saja.
• Modal sosial dan ketergantungan informan pertama
Bu Lasmaria sangat memanfaatkan modal sosialnya sebagai alat pembantu kesulitan dalam hidupnya, misalnya seperti rumah yang ia tempati, ia tidak menyewa rumah, melainkan menetap secara gratis karena rumah yang ia tempati adalah rumah milik keluarganya, jadi sudah selama 10 tahun tinggal di perumahan cendana tidak pernah membayar uang sewa rumah.Becak barang yang informan
gunakan juga bukan milik pribadi, melainkan milik saudaranya yang diberi izin pakai tanpa sewa selama bertahun-tahun ini.
Selanjutnya modal sosial yang ia bangun kepada langganan rumah tangga dan langganan sekolah, sehingga dengan mudah ia untuk memperoleh barang-barang bekas yang akan ia jual ke toke besar. Hubungan kepercayaan yang dibangun dengan toke juga sangat baik, terlihat dari toke mau memberikan pinjaman uang kepada informan, dan cara pembayarannya juga dapat dicicil. Hal tersebut semua tidak akan terjadi jika informan tidak memiliki modal sosial seperti kepercayaan dan hubungan timbal balik yang diberikan kepada toke selama bertahun-tahun. Seperti ungkapan informan:
“Toke juga lihat-lihat orangnya dek, saya dikasih pinjaman karena saya sudah 4 tahun bekerjasama dengan toke, dan saya juga membangun kepercayaan toke kepada saya dengan cara: apabila saya berhutang saya membayarnya tepat waktu, dan saya setia hanya menjual barang saya kedia, makanya dia mau kasih pinjaman dengan saya dan bayar dicicilpun dia mau, semua itu harus ada kepercayaan dek, karena toke juga gak berani kasih sembarangan kalau dia belum percaya sama orangnya” (L,51th).
Terlihat juga besarnya ketergantungan bu Lasmaria terhadap tokenya disaat dia berada di masa sulit, dan tokenya juga sebaiknya, bahkan tokenya mau membeli barang dengan harga lebih. Selanjutnya Ketergantungan bu Lasmaria terhadap sekolah dan langganan rumah tangganya, terlihat bahwaia harus membangun hubungan yang baik dengan sekolah dan langganan rumah tangganya agar ia tetap dapat bekerjasama dengan langganannya. Cara dia membangun hubungan dengan langganannya adalah dengan cara disaat pelanggannya menghubunginya dan dibutuhkan ia akan segera hadir untuk mengambil barang
bekas, ia juga menunjukkan sikap ramah dan baik dalam berkomunikasi. Dan rajin menjalin silaturahmi ke langganannya.
• Teori kemiskinan
Menurut Prof. Sayoga, garis kemiskinan dinyatakan dalam Rp. Per tahun, sama dengan nilai tukar beras (kg per orang per bulan yaitu untuk masyarakat pedesaan 320 kg per orang per tahun dan untuk masyarakat perkotaan 480 kg per orang per tahun).
Berdasarkan pengamatan lapangan, Bu Lasmaria memiliki penghasilan bulanan senilai Rp. 1.200.000/bulan, dengan jumlah tanggungan 2 orang yaitu suami dan anak nya.Jika menggunakan nilai tukar beras, setiap bulannya setiap orang wajib menghasilkan 26 kg beras sebagai standar garis kemiskinan. Apabila dirupiahkan maka 26kg = Rp. 260.000/orang/bulan. Maka seharusnya penghasilan minimal bu Lasmaria dengan 2 orang tanggungannya adalah Rp. 260.000 x 3 = Rp. 780.000/bulan. Dengan jumlah penghasilan bu Lasmaria Rp. 1.200.00 – Rp. 780.000 = Rp. 420.000.- maka bu Lasmaria berada satu garis di atas garis kemiskinan.
Namun demikian, keluarga bu Lasmaria masih dikatakan miskin karena berdasarkan ukuran di atas, maka mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1). Tidak memiliki factor produksi sendiri, seperti tanah, modal dan keterampilan. 2). Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri untuk memperoleh tanah garapan atau modal usaha. 3) kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas (self employed) berusaha apa saja.
Bu Lasmaria tidak memiliki tanah, karena ia masih menumpang di rumah saudaranya, tidak mempunyai modal sendiri karena modal untuk usahanya di peroleh dari pinjaman yang diberikan oleh toke kepadanya. Dan tidak memiliki keterampilan lain selain bekerja sebagai pemulung.
2. Informan kedua Data informan:
Nama : Karisman manalu
Usia : 46 tahun
Agama : Kristen Protestan Jenis kelamin : Laki-laki
Status : Menikah Pendidikan terakhir : SMP
Asal : Dolok Sanggul
Penghasilan per bulan : Rp. 1.440.00
Tanggungan : 7 orang ( 6 orang anak dan 1 istri)
Bapak karisman adalah seorang kepala rumah tangga yang sudah bekerja sebagai pemulung selama 12 tahun.Ia sudah menetap di perumahan Cendana selama 15 tahun. Dan ia bekerja menjadi pemulung bersama istrinya. Ia berasal dari dolok sanggul merantau ke Medan mulai dari ia lajang. Memilik 8 orang anak. 2 anak sudah tamat SMA dan sudah menikah, 2 anak hanya tamat SMP, 1 anak masih smp kelas 1, selanjutnya ada yang SD kelas 6 dan kelas 1 dan terakhir masih balita. Pak karisman sebagai pemulung lepas yang mencari barang bekas dengan cara menyewa becak bersama teman-temannya. Pendapatan harian mereka
Rp.50.000/org di potong uang sewa becak setiap orang Rp.20.000/org. Mereka hanya menerima Rp.30.000/org penghasilan bersihnya.Jika berdua dengan istri menjadi Rp.60.000/harinya.Mereka memulung semua jenis barang bekas, mulai dari besi, atom, kertas, karton, dan plastik.Ia bekerja mulai pukul 09.00-16.00 wib dilapangan, kemudian menyortir barang-barang dan pulang kerumah jam 18.00-19.00 wib. Sesampai dirumah istrinya harus belanja dan memasak lagi untuk makan keluarga.Karena mereka belanja setiap hari setelah mereka pulang membawa uang.Wilayah kerja mereka yaitu daerah Pantai Labu, Batang Kuis, Sibiru-biru, Patumbak, Lubuk Pakam, dan Delitua.
• Strategi aktif informan kedua
Strategi aktif adalah segala usaha dan potensi yang ada dilakukan untuk mempertahankan kehidupan.Dengan pendapatan yang sangat minim untuk membiayai kehidupan anak yang banyak, pak Karisman melakukan strategi aktif dengan cara bekerja bersama istrinya. Istrinya membantu dia untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.Dengan keadaan mereka yang berada di bawah garis kemiskinan tanggung jawab mencari nafkah bukan hanya berada di tangan suami, melainkan isteri juga harus turut membantu untuk meringankan beban ekonomi keluarga.Karena jika mereka bekerja berdua mereka bisa mendapat uang Rp.60.000-100.000/harinya sehingga dapat memenuhi kebutuhan harian mereka.
• Strategi pasif informan kedua
Strategi pasif yang digunakan pak Karisman adalah dengan menghemat biaya pangan, pendidikan dan kesehatan. Cara mereka menghemat biaya pangan adalah dengan cara makan dengan lauk seadanya saja, seperti ikan asin, ikan teri,
dan sayur rebusan. Mereka juga mendapat bantuan beras kurang mampu dari program bantuan pemerintah dengan membayar Rp.6000 untuk 5kg beras setiap bulannya. Cara mereka menghemat biaya pendidikan mereka dengan cara menyekolahkan anak mereka ke sekolah negeri, sehingga hanya memikirkan uang jajan hariannya saja. Dan cara menghemat biaya kesehatan dengan cara menjadi anggota dari salah satu program bantuan pemerintah yaitu peserta Kartu Indonesia sehat, sehingga mereka bisa berobat kapan saja tanpa biaya (gratis).
• Modal sosial dan ketergantungan informan kedua
Bapak Karisman menggunakan modal sosialnya sebagai cara membantu dia disaat berada dimasa sulit, misalnya disaat dia keabisan uang dan kesulitan untuk membeli kebutuhan pokok, ia dapat mengutang ke warung/kede langganannya dengan cara pinjaman sementara. Misalnya hari ini ia mengutang di warung, besoknya ia wajib membayar utangnya ke warung, bisa langsung lunas atau dicicil perharinya. Tentunya ia harus membangun kepercayaan kepada pemilik warung agar dapat memberikan pinjaman/utangan barang kepadanya. Dan ia memiliki ketergantungan terhadap pemilik warung, karena bagaimanapun disaat ia kesulitan untuk makan, ia hanya dapat meminta bantuan ke warung, karena kalau minta bantuan ke tetangga atau teman-teman, biasanya tidak akan dapat bantuan karena mereka sama-sama susah. Seperti ungkapan informan:
“kalau disaat barang botot lagi sepi, pendapatanpun sedikit, ya harus ngutang dulu lah kewarung, besoknya setelah dapat duit baru dibayar, Cuma warung yang dapat kasih hutangan, itupun besoknya harus langsung bayar, kalau tidak dibayar besoknya sulit untuk dikasih ngutang lagi, kalau pinjam ke tetangga atau kawan sama aja, kamikan sesama pemulung, jadi sama susahnya, tidak bisa untuk meminjam” (K, 49th).
Keluarga pak Karisman sangat bergantung terhadap pemilik warung, dan oleh sebab itu mereka menjaga hubungan yang baik dengan pemilik warung.
• Teori kemiskinan
Menurut Prof. Sayoga, garis kemiskinan dinyatakan dalam Rp. Per tahun, sama dengan nilai tukar beras (kg per orang per bulan yaitu untuk masyarakat pedesaan 320 kg per orang per tahun dan untuk masyarakat perkotaan 480 kg per orang per tahun).
Berdasarkan pengamatan lapangan, pak Karisman memiliki penghasilan Rp. 1.440.000/bulan dengan jumlah tanggungan 7 orang, maka seharusnya penghasilan pak Karisman tiap bulannya adalah Rp. 260.000 x 7 = Rp. 1.820.000/bulan, sedangkan pada kenyataannya penghasilan pak Karisman hanya Rp. 1.440.000/ bulan. Selisihnya adalah minus Rp. 380.000.- dapat disimpulkan bahwa keluarga pak Karisman berada di bawah garis kemiskinan.
3. Informan ketiga Data Informan:
Nama : Hotmananda Simamora
Usia : 36 tahun
Agama : Kristen Protestan Jenis kelamin : Laki-laki
Status : menikah Pendidikan terakhir : SMA
Asal : Dolok sanggul
Penghasilan : Rp. 960.000
Pak Hotman bekerja sebagai pemulung sudah 5 tahun belakangan ini, iasudah menetap di perumahan Cendana selama 5 tahun juga. Pak Hotman memiliki 3 orang anak, anak yang pertama masih berada dikelas 1 SD, dan anak ke 2 dan ke 3 masih Balita.Ia menyewa rumah di perumahan Cendana dengan bayaran sewa rumah 1,5jt/tahunnya. Pak Hotman kategori pemulung lepas yang setiap harinya memulung bersama-sama dengan teman-temannya menggunakan becak sewaan.Uang sewa becak perorangnya Rp.20.000/orang setiap harinya, pendapatan harian pak hotman berkisar antara Rp.30.000-Rp.40.000/hari, itu pun sudah dipotong uang sewa becak. Jam kerjanya mulai dari jam 09.00-16.00 wib belum termasuk menyortir barang, biasanya kalau hitung sampai mereka menjual ke toke, biasanya mereka pulang sekitar jam 18.00-19.00 wib tiba dirumah.
• Strategi aktif informan ketiga
Strategi aktif yang digunakan pak Hotman adalah dengan memanfaatkan segala tenaga dan waktunya untuk mencari barang bekas dilapangan dengan sebanyak-banyaknya, bahkan jika masih kurang banyak, ia bersama teman-temannya memperpanjang waktu kerja mereka hingga mereka mendapatkan barang bekas yang bisa memberikan uang yang layak buat belanja rumah tangga nya.
• Strategi pasif informan ketiga
Strategi pasif yang digunakan pak Hotman adalah dengan cara menghemat biaya kehidupan mereka, menghemat biaya kehidupan sehari-hari, keluarga pak Hotman lebih mengutamakan untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras, lauk pauk seadannya saja seperti telur, ikan asin, ikan teri dan sayuran rebusan. Untuk pakaian juga mereka lebih memilih pakaian bekas/monza dari pada pakaian
baru.Karena yang terpenting bagi mereka bisa makan saja sudah lebih baik dan bersyukur.
• Modal sosial dan ketergantungan informan ketiga
Pak Hotman berada di perumahan Cendana masih terhitung baru 5 tahun, dan ia pindah dari dolok sanggul ke perumahan Cendana juga karena ia bersaudaraan dengan pak Karisman informan ke 2 di penelitian ini.Ia bersaudara ipar dengan pak Karisman melalui istri mereka. Ia pindah ke perumahan Cendana karena pak Karisman sudah duluan tinggal di Cendana, dan potensi untuk bekerja sebagai pemulung juga ada, karena di kampungnya sendiri sulit untuk mencari pekerjaan, seperti ungkapan informan 3 :
“ saya pindah kemari karena ada saudara saya sudah tinggal disini, dikampung susah untuk cari kerjaan, saya lihat abang itu aja anaknya 8 bisa hidup dengan memulung, kenapa saya tidak mencoba, kalau hidup di rantau orang ya harus kuat, susah senang ditanggung bersama.” (H, 36th)
Terlihat bahwa pak Hotman menggunakan modal sosialnya untuk mendapatkan tempat dan usaha, melalui saudaranya ia akhirnya mendapat pekerjaan walau hanya sebagai pemulung setidaknya ia bisa memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya.
Pak Hotman juga bercerita, disaat ia mengalami krisis keuangan ia biasanya mengutang ke warung/kede langganannya, dan ia bisa membayarnya dengan cara mencicil. Tentunya ia sudah membangun modal sosial yang baik dengan pemilik warung/kede sehingga pemilik warung mengizinkannya untuk menghutang dan bisa membayarnya dengan caradi cicil setiap harinya.
Menurut Prof. Sayoga, garis kemiskinan dinyatakan dalam Rp. Per tahun, sama dengan nilai tukar beras (kg per orang per bulan yaitu untuk masyarakat pedesaan 320 kg per orang per tahun dan untuk masyarakat perkotaan 480 kg per orang per tahun.
Berdasarkan pengamatan lapangan, pak Hotman memiliki penghasilan perbulan Rp. 960.000/bulan dengan jumlah tanggungan 4 orang. Seharusnya penghasilan minimal pak Hotman setiap bulannya adalah senilai Rp. 260.000 x 5 = Rp. 1.300.000/bulan. Sedangkan penghasilan riil pak Hotman adalah Rp. 960.000/bulan, maka dapat dikatakan pak Hotman berada di bawah garis kemiskinan.
4. Informan keempat Data informan:
Nama : Nurmala Situmorang
Usia : 46 tahun
Agama : Kristen Protestan Jenis kelamin : Perempuan Status : Janda Pendidikan terakhir : SMA
Asal : Dolok Sanggul
Penghasilan : Rp. 1.200.000 Tanggungan : 4 orang anak
Ibu nurmala adalah seorang ibu rumah tangga tunggal (janda),ia bekerja sebagai pemulung sudah 12 tahun, dari ia mulai tinggal di perumahan Cendana, ia
termasuk kedalam tipe pemulung lepas/swausaha yang setiap harinya bekerja mulai pukul 09.00-16.00 wib dilapangan, selanjutnya menyortir lagi hingga pukul 18.00 wib dan malam tiba dirumah, bu nurmala setiap harinya menumpang becak bersama teman-temannya untuk memulung kelapangan, daerah pulungan mereka biasanya mulai dari Batang Kuis, Lubuk Pakam, Perbaungan hingga Galang. Pendapatan hariannya Rp. 50.000/hari dan sudah dipotong uang sewa becak Rp. 20.000/org. ia memiliki 4 orang anak, 2 anak sudah tamat SMA, 1 masih SMP, dan 1 lagi masih sekolah SD kelas 5. Ia menyewa di perumahan sudah 12 tahun dan membayar sewa rumah pertahunnya Rp. 1,5jt/tahun.
• Strategi aktif informan keempat
Strategi aktif yang digunakan bu nurmala adalah dengan mengajak anaknya untuk ikut dalam memulung, jadi bisa menambah penghasilan harian mereka. Selanjutnya ia memanfaatkan segala usaha dan tenaga yang ia miliki untuk menambah pendapatan hariannya dengan cara memperpanjang jam kerja dan lebih giat disaat berada dilapangan agar mendapat banyak barang bekas. • Strategi pasif informan keempat
Strategi pasif yang digunakan bu nurmala ialah dengan cara menghemat pengeluaran keluarga yaitu dengan cara lebih mengutamakan membeli kebutuhan pokok seperti makan dan minum keluarga, makan dengan menggunakan lauk seadanya, seperti ikan asin dan ikan teri. Selanjutnya menghemat biaya pendidikan anak-anaknya dengan cara menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri, jadi tidak mengeluarkan biaya apapun selain pakaian seragam dan jajan harian anak. Berikutnya ia menghemat biaya kesehatan dengan cara mendaftar sebagai anggota Kartu Indonesia Sehat (KIS), jadi bila ia dan keluarga sakit bisa
menghemat biaya kesehatan bahkan tidak bayar sama sekali karena kartu Indonesia Sehat (KIS) adalah program kesehatan dari pemerintah bagi masyarakat yang kurang mampu, jadi tidak dikenakan biaya apapun.
• Modal sosial dan ketergantungan informan keempat
Modal sosial meliputi jaringan, kepercayaan dan hubungan timbalbalik/kerjasama, bu Nurmala sebagai orangtua tunggal didalam kehidupannya menggunakan modal sosial, seperti jaringan/relasi yang ia bangun didaerah tempat tinggalnya, ia sangat dekat kepada tetangganya baik sesama pemulung maupun tidak, dan ia termasuk memiliki banyak saudara di perumahan itu karena banyak yang 1 kampungnya tinggal di perumahan Cendana tersebut, dan disaat ia kesulitan ia juga sering meminta bantuan kepada kerabatnya yang 1 kampung dengan dia. Selanjutnya kepercayaan dan hubungan yang ia bangun dengan pemilik warung langganannya, karena disaat ia berada dalam kesulitan keuangan, biasanya ia mengutang kewarung langganannya untuk belanja kebutuhan pokok, dan membayarnya dengan cara dicicil setiap hari sepulang kerja.
Berikutnya bentuk ketergantungan yang terjadi antara bu Nurmala terhadap toke nya terlihat disaat ia membutuhkan duit untuk kehidupannya, selain ia mengutang ke warung ia juga biasanya meminjam duit kepada tokenya, pinjaman yang diberikan pun bersifat sementara, dan banyak pinjaman juga terbatas, paling banyak hanya Rp.50.000 karena tokenya juga banyak memberikan pinjaman kepada pemulung yang lainnya. Maksud pinjaman sementara disini adalah misalnya ia meminjam uang hari ini kepada toke, besok harinya disaat ia mau menjual barang hutangnya langsung dipotong oleh tokenya.
• Teori kemiskinan
Menurut Prof. Sayoga, garis kemiskinan dinyatakan dalam Rp. Per tahun, sama dengan nilai tukar beras (kg per orang per bulan yaitu untuk masyarakat