BAB IV. TEMUAN PENELITIAN
4.2. Temuan Penelitian
4.2.3. Informan 3 (Rina)
1. Nama : Rinawati
2. Nama Panggilan : Rina
3. Usia : 34 Tahun
4. Suku Pasangan : Melayu
5. Pendidikan : Mahasiswa Pasca Sarjana Keperawatan USU 6. Pekerjaan : Dosen
7. Alamat : Jalan Denai Gang Durian Nomor 10 Medan Denai.
Rina adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga dan merupakan anak sulung dari 5 (lima) bersaudara. Rina menikah dengan laki-laki dari suku Melayu yang berprofesi sebagai pegawai tata usaha di sebuah Sekolah Tinggi Swasta di Kota Medan. Rina pernah tinggal di Kota Pariaman selama + 5 (lima) tahun, untuk menjalani masa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan bekerja sebagai perawat di sebuah klinik. Almarhum ayahnya adalah seorang tokoh adat pada salah satu perkumpulan orang Minang Pariaman di Kota Medan. Pengalaman di
Kota Pariaman tersebut, menambah pemahamannya tentang tradisi uang jemputan, namun mempengaruhi persepsi Rina tentang sosok laki-laki Pariaman.
Setelah berhenti bekerja di Kota Pariaman sebagai seorang perawat, Rina memutuskan melanjutkan perkuliahan jenjang S1 di tanah kelahirannya di Kota Medan. Ia menjalani perkuliahan jurusan keperawatan pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sumatera Utara (STIKESSU), di mana akhirnya ia diterima bekerja sebagai dosen di almamaternya tersebut. Saat duduk di bangku perkuliahan, Rina dan keluarganya tinggal di sebuah rumah gadang, tempat di mana masyarakat Minang Pariaman sering melaksanakan pesta perkawinan. Rumah gadang tersebut merupakan rumah adat perkumpulan orang-orang Minang yang berasal dari Batu Gadang Kabupaten Pariaman (kampung halaman ayahnya) yang kini berdomisili di Kota Medan.
Ayah Rina beserta keluarga dipercayakan untuk mengurus dan menempati rumah gadang tersebut. Pengetahuan Rina tentang tradisi uang jemputan, bersumber dari pengalamannya yang sering menyaksikan pelaksanaan tradisi tersebut dalam pesta perkawinan yang dilaksanakan di rumah gadang. Rina juga memahami tentang makna tradisi uang jemputan, dari sang ayah yang sering memberikan menjelaskan, terhadap seluruh pertanyaan Rina tentang tradisi yang berlaku pada masyarakat Minang, khususnya pada tradisi uang jemputan.
Pada tanggal 03 Juli 2015, peneliti menemui Rina pertama kali saat sedang menunggu dosen pembimbing untuk penyelesaian studi S2 nya di kampus Universitas Sumatera Utara. Wawancara secara mendalam baru dapat dilakukan pada tanggal 06 Juli 2015, saat ditemui peneliti di rumahnya ketika sedang bercengkerama bersama keluarga. Ketika peneliti menanyakan pandangannya
mengenai tradisi uang jemputan dipandang dari unsur agama, Rina mengemukakan bahwa tradisi tersebut tidak bertentangan dengan agama karena hanya merupakan kebiasaan orang Minang Pariaman. Hal tersebut seperti penuturannya berikut:
“Kalau menurut persepsi Rina, tradisi uang jemputan itu nggak ada masalah...karena kan di dalam tradisi itu tidak ada bertentangan dengan agama. Istilahnya itu kesepakatan dari kedua belah pihak aja.
Jadi nggak ada yang dirugikan kalau kedua belah pihak sepakat. Yang jadi masalah mungkin kan...kalau udah memberatkan bagi satu pihak.
Sama kayak suku Batak, anak perempuan menjadi tanggung jawab suaminya, makanya harta untuk anak laki-lakinya. Sebaliknya suku Minang, anak laki-laki dianggap mampu menghidupi dirinya sendiri, kalau perempuan itukan makhluk yang lemah, jadi perempuan itu yang harus dikasih persediaan gitu. Nggak usahlah dulu masalah perceraian, misalnya ditinggal mati oleh suaminya....terus banyak pula anaknya, sama apa mau dihidupinya anaknya itu”.
Selanjutnya Rina mengemukakan pendapatnya mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi uang jemputan:
“Istilahnya uang jemputan itu menunjukkan harkat atau martabat dari si laki-laki. Suatu kebanggaan bagi orang tuanya....kalau anaknya itu diberikan uang jemputan, jadi itu sebagai pengganti untuk menjaga anak perempuannya juga. Uang itu dapat dijadikan modal usaha dalam kehidupan rumah tangganya”.
Rina juga menambahkan nilai-nilai lain yang ada dalam tradisi uang jemputan sebagai bentuk saling tolong menolong antarkeluarga yang diwujudkan dalam tradisi baetong, yaitu pengumpulan dana bantuan dari pihak keluarga pengantin di akhir pesta:
“Kalau menikah...kan perempuan itu memberi uang jemputan, biaya pesta semuanya dia yang persiapkan. Jadi di akhir pesta nanti, ada acara di mana pihak keluarga perempuan semacam mendonor gitu...itu yang dinamakan malam baetong. Itu dilaksanakan di tempat
itu, paling cuma meresepsikan aja...memperkenalkan menantu baru dalam keluarga”.
Ia kembali mengemukakan pandangannya mengenai adanya balasan atau pengembalian pada pelaksanaan tradisi uang jemputan:
“Setahu Rina....perempuan itu ngasi uang jemputan, ada dikasih lagi sama pihak laki-laki, itulah yang sering di sebut panibo. Kalau siap nikah...kita pergi ke tempat mertua, biasanya mertua itu ngasi lagi tu....berupa perhiasan atau pakaian baru. Tapi kalau uang hilang itu salah...itulah yang sering dibilang orang bara uang ilangnyo? (berapa uang hilangnya?). Uang itu untuk laki-laki atau keluarganya semua, nggak ada dibalikkan lagi sama perempuan. Tapi orang lebih sering mengatakannya uang hilang, bukan uang jemputan. Kalau di kampung mamak (ibu) Rina, orang sering itu bilang....oh enaklah anaknya dikasi uang hilang Rp. 40 juta, gitu misalnya”.
Rina menuturkan pemberian uang hilang adalah bentuk perubahan atau pergeseran nilai terhadap makna tradisi uang jemputan yang sebenarnya, di mana pemberian uang dari pihak keluarga perempuan tidak dibalas atau tidak dikembalikan oleh pihak keluarga laki-laki. Perubahan lainnya menurut Rina terjadi pada pola fikir generasi muda dalam hal pelaksanaan tradisi uang jemputan saat ini. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh faktor pendidikan:
“Tapi sekarang udah jarang terjadilah uang jemputan itu, kalau yang Rina lihat dari segi pendidikan, orang sekarang udah semakin berfikir...udah berbaur sama suku-suku lain. Kalau soal uang jemputan itu...dikaitkan lagi dengan unsur agama tadi kan...bukan menjadi wajib dalam agama kita uang jemputan itu. Kalau menurut Rina yang penting kita hidup inikan, agama yang kita perhatikan.
Kalau nggak melanggar agama, kenapa nggak...gitu”.
Rina adalah sosok seorang perempuan yang aktif dan pekerja keras. Hal ini terlihat dari aktifitasnya yang padat dalam menjalani profesinya sebagai seorang dosen. Ia sering diminta untuk memberikan penilaian bagi mahasiswa-mahasiswa keperawatan yang sedang melakukan praktek kerja lapangan di beberapa rumah sakit di Kota Medan bahkan sampai ke luar kota, seperti di Kota
Binjai dan Kota Tebing Tinggi. Ibu dari dua orang anak ini, juga sedang menjalani kehamilan yang telah berusia 4 (empat) bulan. Namun kondisi tersebut, tidak menghalangi seluruh aktifitasnya sebagai seorang dosen yang tengah menempuh penyelesaian studi S2. Sebagai perempuan yang aktif dan pekerja keras, Rina tidak menyukai kemalasan. Rina mengakui prasangka negatif tentang kebiasaan laki-laki Pariaman yang sering ia lihat, mempengaruhi keputusannya dalam memilih jodoh:
“Rina memilih jodoh nggak ada hubungannya dengan tradisi uang hilang atau uang jemputan itu, memang sih ada stigma yang nggak suka Rina melihat laki-laki Pariaman ini. Ketidaksukaan Rina karena kebanyakan yang Rina lihat, nggak di kota...nggak di kampung, laki-laki Pariaman ini, suka kali duduk-duduk di lapau atau kedai kopi gitu...nggak suka aja nengoknya. Macam orang yang malas kerja jadinya....walaupun dia kerja gitu, tetap aja mesti kali nongkrong-nongkrong di kedai kopi, nanti pulangnya malam...gedor-gedor pintu, kan capeklah istrinya itu bukakan pintu, ganggu tetangga lagi. Kalau mau bersosialisasi sama kawan-kawannya..nggak harus di kedai kopi.
Kalau udah di kedai kopi taulah...ngomongnya ngawur aja, memang belum tentu dia mabuk-mabukkan...tapi nggak bermanfaat aja menurut Rina”.
Kepribadian Rina sebagai seorang perempuan yang aktif dan pekerja keras, mempengaruhi persepsinya terhadap prasangka negatif yang ia miliki tentang kebiasaan laki-laki Pariaman tersebut. Pada tahun 2000, Rina pernah dijodohkan dengan seorang laki-laki Pariaman yang bekerja sebagai polisi militer. Namun ia menolak dijodohkan, sebagaimana kutipan wawancara berikut:
“Di Padang dulu...Rina pernah dijodohkan sama mamak (paman) Rina dengan polisi militer. Tapi kurang suka Rina lihatnya....Rina tolak, karena kurang suka sama orang militer gitu. Akhirnya dijodohkanlah laki-laki itu sama saudara Rina, dia tamat SMA cuma....tapi keluarganya kaya, bisa ngasi uang jemputan banyak. Padahal waktu sama Rina, dia nggak minta banyak-banyak. Sama keluarga saudara Rina tadi...mereka rela ngasi uang jemputan banyak, karena senang dapat menantu orang militer. Waktu tahun 2000 itu...dijemputlah laki-laki itu Rp. 40 juta, udah banyak kali itu....waktu itu”.
Peneliti menanyakan mengenai alasan Rina tidak menyukai laki-laki dengan profesi sebagai seorang polisi militer:
“Kayak mana ya....polisi ini kan kebanyakan bangga dia jadi polisi, jadi bukan lagi mengayomi masyarakat, tapi malah menakut-nakuti masyarakat kerjanya. Apalagi orang Pariaman pula abang itu....Rina juga belum siap aja untuk menikah waktu itu, masih pengen kuliah.
Itulah makanya Rina ke Medan....melanjutkan kuliah”.
Walaupun Rina memiliki prasangka negatif tentang kebiasaan laki-laki Pariaman, namun ia menilai tradisi uang jemputan secara positif karena menurutnya nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut adalah sebagai bentuk perlindungan terhadap kaum perempuan, di mana perhiasan atau benda berharga lainnya yang diterima seorang perempuan sebagai panibo, dapat menjadi simpanan untuk membiayai hidupnya, apabila ditinggal mati oleh suami ataupun terjadinya perceraian.
Namun sikap Rina dalam keputusan memilih jodoh adalah tidak ingin menikah dengan laki-laki Pariaman, karena prasangka negatif yang ada dalam dirinya tentang kebiasaan laki-laki Pariaman yang suka duduk-duduk di kedai kopi, merupakan suatu kebiasaan yang tidak bisa diterima Rina, apabila hal tersebut terjadi pada suaminya kelak, seperti penuturannya berikut:
“Kalau tradisi uang jemputan itu...Rina nilainya positif kali.
Lantaran...perempuan itu dalam agama kan harus dilindungi, yang salah itu kalau dipaksa, padahal mereka nggak mampu. Kalaupun dikasi uang jemputan...bukan untuk modal mereka, malah sama orang tuanya. Nah...itu yang menjadi kurang enaknya. Tapi Rina menganggap memanglah semua suku itu kalau dilihat-lihat punya kekurangan, cuma mungkin karena Rina berbaur sama orang Minang, sering lihat kayak gitu. Menurut Rina kalau nanti kita menikah sama orang Minang atau sama suku lain, kita harus memikirkan bisa nggak
nantinya. Kalau Rina memang nggak siap menerima laki-laki yang suka duduk-duduk di kedai kopi, kesannya kayak pemalas aja gitu...karena kebanyakan Rina temui seperti itu”.
Pada tahun 2010, akhirnya Rina menikah dengan suaminya yang berasal dari suku Melayu. Ia juga mengetahui adanya stereotip negatif dari masyarakat yang menyebutkan bahwa “orang Melayu pemalas”. Saat peneliti menanyakan bagaimana ia akhirnya, memilih menikah dengan suaminya yang berasal dari suku Melayu, Rina menjelaskan sebagaimana kutipan wawancara berikut:
“Karena udah jodohnya....selama ini Rina tau bahwa stigma orang juga negatif tentang suku Melayu, katanya orang Melayu itu pemalas.
Tapi Rina belum pernah pula lihat langsung kayak gitu...kalau kebiasaan laki-laki Pariaman itu memang Rina lihat sendiri.
Sebenarnya orang nggak bisa dilihat perilakunya itu dari sukunya, tergantung kepribadian orangnya juga. Waktu kenal sama suami, kami nggak ada pacaran-pacaran, Rina berteman sama dia...sering main ke rumahnya. Dari situ Rina menilai kayak mana keluarganya, kepribadiaannya juga. Terus yang paling Rina suka....ayahnya itu penyayang, udah nampak sebelum kami menikahpun, apalagi setelah menikah. Rina senang mertua itu sayang sama kita. Sifat malas itu juga nggak Rina temukan sama suami”.
Peneliti mencoba mendalami kembali persepsi Rina tentang tradisi uang jemputan. Peneliti menanyakan bagaimana pandangannya mengenai transmisi nilai-nilai luhur pada tradisi uang jemputan yang ia persepsikan positif, perlu dilestarikan kepada generasi muda Minang Pariaman. Sedangkan ia sendiri menikah dengan laki-laki di luar suku Minang Pariaman. Rina menuturkan sebagaimana kutipan wawancara berikut:
“Kayak yang Rina bilang, tradisi uang jemputan Rina menilainya bagus kali, kalau betul-betul dilaksanakan sesuai makna yang sebenarnya ya. Sebagai bentuk melindungi perempuan...ngasi modal berumah tangga buat mereka yang dinikahkan. Tapi jodoh Rina ya...sama orang Melayu pula, iya kan. Memang Rina akui stigma negatif tentang kebiasaan laki-laki Pariaman itu, cukup membuat apa ya...iya nggak suka aja. Nggak ada hubungannya keputusan Rina itu dengan tradisi uang jemputan”.
Peneliti kembali menanyakan bagaimana pandangan Rina tentang perjodohan anak-anaknya kelak, terkait dengan pewarisan nilai-nilai luhur pada tradisi uang jemputan:
“Makin tinggi pendidikan anak...makin berubah pola fikirnya, menikah itu yang penting hukum agama yang dijalankan, nggak harus ada uang jemputan kan. Tapi Rina juga akan menjelaskan sama anak-anak Rina nanti, apa makna tradisi uang jemputan dalam adat perkawinan Pariaman itu. Cuma nggak ikut campurlah orang tua kalau urusan jodoh anak-anaknya. Kayaknya udah nggak sesuai lagi tradisi uang jemputan itu dilaksanakan dalam perjodohan generasi muda, karena itu tadi....pola fikirnya juga udah berubah karena pendidikan juga udah semakin tinggi kan”.
Rina juga mengemukakan bahwa memahami bahasa daerah, tidak berpengaruh pada keinginan seseorang untuk mau mengenal adat istiadat sukunya, termasuk tentang tradisi uang jemputan. Hal yang paling penting menurut Rina adalah bagaimana keluarga mengkomunikasikan nilai-nilai budaya kepada anak-anaknya, sebagaimana kutipan wawancara berikut:
“Nggak ada pengaruhnya menurut Rina, intinya bukan masalah bahasa, yang penting...kayak mana keluarga mengkomunikasikannya.
Salah satu fungsi keluarga kan mentransmisikan nilai-nilai budaya itu.
Contoh...kalau tiap hari berbahasa daerahpun di rumah, tapi orang tuanya juga nggak ngasi tau....nggak bisa juga. Ayah Rina berbahasa Minang sama anak-anaknya, tapi kalau Rina nggak nanya-nanya dan ayahpun nggak menjelaskan makna tradisi uang jemputan, nggak ngerti juga kan. Lihatlah orang-orang dari kampung itu....merantau dia ke Medan, malah malu dia berbahasa Minang, sok bahasa Indonesia pula dia. Kalau orang Minang bilang....ongeh (sombong)lah gitu, belum tentu juga mereka paham betul tentang tradisi itu kan...yang penting ada komunikasi dalam keluarga”.
Rina juga menambahkan bahwa saat ini, pergeseran juga terjadi pada peranan mamak atau paman:
”Tapi memang istilahnya paman ini, kalau di suku Minang itu ucapannya didengarkan kali. Apapun urusannya...bukan hanya dalam
Tapi anak-anak sekarang ini udah berfikir, kenapa kok paman pula yang ikut campur dalam perjodohan...harusnya orang tua kitalah”.
Ia juga menambahkan bahwa orang tuanya tidak memaksakan perjodohan, namun mereka memiliki harapan untuk mendapatkan menantu dari sesama suku, sebagaimana penuturannya berikut:
“Orang tua dari suku manapun...pasti ingin anaknya menikah dengan yang satu suku. Mereka ingin nggak mati keturunan...berkembang dia, jangan sampai adat itu nggak ada lagi. Termasuklah orang tua Rina...tapi kalau jodohnya sama suku lain nggak masalah, yang penting anaknya bahagia. Kalau Rina nggak menjalankan tradisi uang jemputan itu...karena memang jodohnya di luar suku Minang”.
Rina mengemukakan bahwa ia memiliki pengalaman ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), teman-teman sekolahnya memiliki stereotip negatif tentang perempuan Pariaman yang “membeli” laki-laki ketika akan menikah. Rina mengakui tidak terpengaruh terhadap stigma negatif tersebut, karena ia telah memiliki pemahaman tentang makna yang sebenarnya dari tradisi uang jemputan yang bersumber dari sang ayah.
4.2.4. Informan 4