BAB V HASIL PENELITIAN
5.1 Deskripsi Hasil Penelitian
5.1.5 Informan Utama 4
Nama : Ayu Santika
Agama : Islam
Umur : 29 Tahun Status : Menikah
Alamat : Jalan Kolam Renang Pekerjaan : Laundry
Pendidikan : Sekolah Menengah Atas (SMA)
Informan utama keempat ini bernama Ayu Santika dan bekerja sebagai pemilik laundry dan suami informan bekerja sebagai tukang bangunan.
Sebagaimana 3 informan utama sebelumnya, informan ini juga diwawancarai di
78 rumahnya yang kebetulan saat itu juga ada suaminya. Informan memiliki 2 orang anak yaitu Rizal Syahputra sebagai anak pertama berusia 7 tahun dan anak kedua bernama Akbar Setiawan yang berusia 3 tahun. Anak informan yang peneliti jadikan sebagai objek penelitian adalah anak pertama yang berusia 7 tahun yakni Rizal.
Pertanyaan pertama yang peneliti tanyakan pada informan yakni menanyakan apakah informan mengetahui bahwa anaknya ke warung kopi main gadget. Merespon pertanyaan ini, informan mengaku mengetahui bahwa anaknya sangat jarang datang ke warung kopi itu. Namun bila datang ke sana, ia tahu bahwa anaknya akan bermain gadget bersama teman-temannya. Berikut bentuk tuturan informan, “Anak saya jarang kali ke sana. Kalau main HP biasanya di rumah saja. Tapi tiap dia ke sana, memang saya lihat dia main HP sama kawan-kawannya.”
Pertanyaan kedua, peneliti menanyai informan, apakah tetap memberikan batasan waktu pada anaknya dalam menggunakan gadget atau tidak. Menjawab pertanyaan ini, informan mengatakan bahwa ia tak memberikan batas waktu bagi anaknya untuk bermain gadget. Alasannya tak begitu membatasi sebab anaknya juga bukan tipe anak yang selalu main gadget. Demikian bentuk tuturan informan,
“Tak ada sih saya batasi dia main HP. Karena kan juga bukan main HP saja kerjanya. Bantu saya juga laundry ini.” Apabila dianalisa sekilas, maka dapat diketahui bahwa anak informan utama ke-4 ini juga membantu orang tuanya dalam menjalankan usaha laundry dan tak hanya menghabiskan waktunya bermain gadget saja.
79 Pertanyaan ketiga, peneliti menanyakan informan terkait cara yang dilakukannya dalam mengontrol anaknya bermain gadget. Menanggapi pertanyaan ini, informan mengatakan dirinya tak terlalu mengontrol anaknya dalam bermain gadget. Hanya saja ia tetap mengingatkan anaknya untuk belajar dan mengerjakan PR. Demikian bentuk penyampaian informan, “Saya tak terlalu mengontrol-mengontrol dia main HP Karena seperti yang saya bilang tadi dia bukan yang selalu main HP. Tapi tetap selalu saya ingatkan untuk belajar, untuk mengerjakan PRnya juga.”
Selanjutnya peneliti menanyakan informan apakah merasakan kendala dalam mengasuh anak yang sering bermain gadget. Menjawab pertanyaan ini, informan mengatakan tak merasakan kesulitan dalam mengasuh anaknya. Bahkan ia senang anaknya sering membantunya dalam menjalankan usaha laundry dan tak hanya bermain gadget saja. Berikut kiranya bentuk penyampaian informan,
“Tidak sulitlah mengasuh mereka ini. Malah saya bangga karena sering dia membantu saya menguruskan kain laundry ini dan tak main HP saja kerjanya.”
Melalui jawaban ini, tergambar sebuah fakta bahwa orang tua si anak merasa bangga pada anaknya sebab seringkali anak itu membantu orang tuanya dalam menjalankan usaha laundry dibandingkan hanya bermain gadget saja sepanjang waktu.
Pertanyaan berikutnya, peneliti bertanya apakah ketika anak menangis atau marah, informan akan langsung memberikan gadget atau tidak. Merespon pertanyaan ini, langsung saja informan mengatakan bahwa anaknya tak pernah marah apalagi menangis saat meminta gadget. Hal itu terjadi sebab gadget itu sendiri sudah milik anaknya dan anaknya tak lupa waktu saat bermain gadget.
80 Demikian penuturan informan, “Tak pernahlah marah dia, apalagi sampai menangis minta HP. Lagian kan HP itu sudah punya dia sendiri. Dia juga kan kalau main HP tak lupa waktunya. Jadi saya biarkan saja.”
Pertanyaan berikutnya peneliti menanyakan informan sejak usia berapa si anak dipebolehkan menggunakan gadget. Menanggapi pertanyaan ini, informan mengatakan bahwa anaknya sudah diberikan gadget sedari kecil yakni pada kisaran usia 2 tahun. Namun baru dibelikan gadget satu tahun yang lalu.
Demikian bentuk tuturan informan, “Dari kecil dia sudah dikasih HP. Kalau saya tak salah usia 2 tahunan lah. Tapi baru dibelikan HP untuknya sendiri sekitar satu tahun yang lalu.”
Selanjutnya peneliti menanyakan informan terkait pengaruh penggunaan gadget terhadap prestasi akademik anaknya. Memberikan jawaban atas pertanyaan ini, informan mengatakan tak begitu berpengaruh. Tak terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar anaknya dulu sebelum punya gadget dan sekarang setelah memiliki gadget. Demikian bentuk tuturan informan, “Tak berpengaruh yang gimana-gimana begitu sih. Tak ada bedanya prestasi belajar dia dulu waktu belum punya HP sama yang sekarang. Alhamdulillah masih juara-juara juga dia di sekolah.”
Kemudian peneliti menanyakan juga apakah penggunaan gadget oleh anaknya mempengaruhi interaksi sosial anak dengan orang tuanya. Menjawab pertanyaan ini, informan mengatakan tak berpengaruh. Anaknya masih sering membantunya dalam usaha laundry yang dijalankan keluarga mereka. Demikian bentuk tuturan informan, “Kalau interaksi sama saya, tak ada pengaruhnya sih.
81 Sampai sekarang dia masih cukup sering membantu saya. Nanti sambil membantu sambil mengobrol-ngobrollah kan.”
Terakhir peneliti menanyakan, apakah informan pernah mencoba menghentikan anaknya menggunakan gadget. Mendengar pertanyaan ini, langsung saja informan mengatakan bahwa ia tak pernah dan merasa tak perlu menghentikan anaknya menggunakan gadget. Demikian tuturan informan, “Saya tak pernah dan saya rasa juga tak perlulah menghentikan dia main HP.”
Mendapatkan jawaban seperti ini, langsung saja peneliti terpikir jawaban semacam ini diberikan sebab anaknya juga bukan tipe anak yang lupa waktu atau dalam kata lain “candu” dalam bermain gadget. Anak itu juga baik dalam prestasi sekolahnya. Rajin membantu orang tua pula. Sehingga sama sekali tak perlu dilarang atau dihentikan bila berkaitan dengan menggunakan gadget.