5.1 Deskripsi Hasil Penelitian
5.1.3 Informan Utama I
Nama : Narti Sitanggang
Umur : 41 Tahun
Suku : Batak
Agama : Kristen Protestan
Alamat : Desa Sitoluhuta
Pendidikan terakhir : SMA
Pekerjaan : Penenun
Jumlah anggota keluarga : 3 orang Pekerjaan suami : - (Meninggal)
Informan utama yang peneliti wawancarai adalah Ibu Narti Sitanggang yang biasa di sapa Ibu Narti. Ibu Narti sudah menjadi seorang penenun semenjak SMA. Ibu Narti merupakan penduduk asli di Desa Sitoluhuta. Ibu Narti memiliki 3 orang anak. Anak pertama Ibu Narti merupakan anak laki-laki yang masih bersekolah di jenjang SMK kelas 1. Anak kedua Ibu Narti merupakan perempuan yang masih bersekolah di jenjang SMA kelas 1. Dan anak yang terakhir anak Ibu Narti merupakan perempuan dan masih bersekolah di jenjang SMP.
Ibu Narti merupakan penenun ulos yang menggunakan alat tradisional gedogan/kasusak. Alat tersebut merupakan kepunyaan Ibu Narti sendiri. Saat menenun Ibu Narti bekerja sendiri karena anaknya yang belum mengerti cara bertenun bahkan untuk meluruskan benang-benang (menggorga) untuk tenunan.
Ibu Narti dalam kesehariannya sebagai penenun akan memulai kegiatan bertenun mulai dari pagi jam delapan sampai malam hari. Bertenun dilakukan Ibu Narti di dalam dan di luar rumah. Kegiatan bertenun ini tentu akan diselingi dengan pekerjaan-pekerjaan lain seperti beberapa pekerjaan rumah tangga.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Karena saya penduduk asli kampung ini yaa dek saya sudah bertenun sejak saya masih remaja, setelah tamat SMA saya tidak melanjut sekolah karena orang tua saya tidak ada biaya dan sudah sakit-sakitan. Saya bertenun mulai dari jam 8 sampe malam dek, biar dapat dalam 1 minggu 1 helai ulos bahkan lebih dek. Anak saya masih sekolah semua dek dan mereka juga belum mengerti soal bertenun inikan jadinya sayalah sendiri yang mengerjakan. Kalo alatnya milik saya sendiri dek, kalo gedogan ini susahnya rusak karena memang bahan kayunya bagus.”
Peneliti kemudian bertanya bagaimana dampak pandemi covid-19 terhadap pendapatan. Ibu narti menuturkan bahwasanya pendapatan penenun mengalami penurunan hal tersebut diakibatkan adanya pembatasan sosial di masa pandemi covid-19 dimana perayaan aktivitas budaya dibatasi bahkan ditunda untuk sementar waktu. Hal tersebut membuat minimnya akan pemakaian ulos dan permintaan dan harga ulos menngalami penurunan. Ibu Narti menuturkan bahwasannya sebelum covid-19 setiap harinya mengerjakan tenun ulos dan ulos yang dihasilkan mencapai 3 lage/helai kain selama 2 minggu sehingga dalam sebulan dapat mencapai 6 kain ulos. Harga 1 helai ulos Ibu Narti seharga Rp350.000 jadi untuk pendapatan Ibu Narti sebelum pandemi dapat mencapai Rp2.100.000 dan dapat menabung Rp100.000-200.000. Dimasa covid-19 yang pemasaran ulos menurun Ibu Narti hanya dapat menyelesaikan 4 lage/ulos dalam sebulan. Harga 1 helai ulos Ibu Narti seharga Rp280.000 sehingga pendapatan Ibu Narti di masa pandemi Rp1.120.000. Hal ini juga menyebabkan Ibu narti mengurangi nilai tabungannya.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“kalo bertenun itu dek harus sabar dan memang dalam satu hari itu kita harus tetap di dalam gedogan itu kalo misalnya keluar-keluar dari alat itu nggak nampak hasilnya dek. Jadi kalo ibu bekerja mulai jam-jam 8 dek hingga malam hari. Karena nggak ada kerjaan juga dek tv dan handphone saya pun belum ada jadi bertenunlah saya. Sebelum pandemi bisalah dek dapat 6 ulos, kalo sekarang 4 paling banyak dek harganya pun menurun drastis dari harga Rp350.000 ke Rp280.000 yang biasa saya tenun ya.
sebelum pandemi, dulu saya bisa menabung sampai Rp200.000, sekarang saya mengurangi untuk tabungan karena untuk memenuhi kebutuhan aja pun juga dek udah syukur.”
Ibu Narti mempunyai cita-cita untuk menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi. Ibu Narti menuturkan bahwasannya kebutuhan sekarang semakin meningkat dibandingkan sebelum adanya covi-19. Ibu Narti yang memiliki anak yang masih bersekolah di jenjang SMA dan SMP, mengeluhkan akan biaya salah satu anaknya yang di jenjang SMK. Anaknya yang bersekolah di tengah pandemi Covid-19 harus tetap membayar uang sekolah secara penuh walaupun proses belajar dilakukan kurang efektif. Pengeluaran yang semakin bertambah juga disebabkan karena adanya biaya untuk membeli kuota internet untuk anak belajar. Adapun bantuan kota dari pemerintah tidak diperoleh oleh anak dari Ibu Narti di masa pandemi.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Masa Covid-19 kayak gini pengeluaran makin banyak dek, tapi pendapatan kita (penenun) turun. Anak masih ada yang sekolah, itu
sekolahnya jarang tapi uang sekolah jalan terus, gak bayar uang sekolah nanti gak boleh ujian untuk anak saya yang di SMK. Dua anak saya kan baru tamat SMP dek jadi sebelumnya 1 buah handphone dipakai untuk belajar masih bisa tapi sekarang karena udah beda-beda saya harus membeli handphone lagi dek. Belum lagi belajar dari internet, jadi nambah biaya untuk beli paket. Kalo anak saya yang lain kebutuhnya kuotalah dek karena mereka sekolah di negeri jadi uang sekolah gratis.
Bantuan kuota dari pemerintah ke nomor anak saya tidak cair dek, itu nggak tau salahnya dimana padahal sudah didaftarkan juga dari sekolah”.
Karena kebutuhan yang semakin meningkat Ibu Narti menuturkan tidak pernah membeli barang-barang yang tidak terlalu penting seperti membeli baju baru. Sebelum pandemi Ibu Narti membeli baju baru untuk anaknya di akhir tahun namun di masa sekarang Ibu narti tidak lagi melakukannya karena pendapatan yang sudah menurun dan lebih mementingkan untuk membeli masker, hand sanitizer dan makanan yang lebih bergizi. Selain itu, untuk keperluan makan Ibu Narti lebih sering mengonsumsi ikan Nila hasil tangkapan tetangga dari pada membeli daging maupun membeli ikan di pasar. Tidak hanya itu Ibu Narti juga sesekali membeli buah yang untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Sebelumnya Ibu Narti jarang sekali membeli buah, cukup dengan makan dengan 3 kali dalam sehari dengan lauk ataupun tahu, tempe dan sayur. Kegiatan berlibur juga jarang dilakukan Ibu Narti dan anak-anaknya.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Pengeluaran makin nambah dek pas covid-19 ini, kalau untuk membeli baju baru sebelumnya memang dibeli dek itu pun di akhir tahun. Kalau sekarang lebih mementingkan untuk kebutuhan makan yang lebih bergizi dek. Kalau makan sebelum dan di masa pandemi menunya sama aja, pakai tahu, telur, ikan dari tetangga itu pun dah enak. Tapi di masa pandemi kan diharuskan meningkatkan imun tubuh jadi saya belilah sekali-kali buah dan sayur. Ditambah lagi membeli masker dan hand sanitizer di masa pandemi ini dek harus memang berhematlah.”
Peneliti juga menanyakan bagaimana dengan kondisi kesehatan keluarga Ibu Narti sebelumnya dan di masa pandemi ini. Ibu Narti menuturkan bahwasannya kondisi sebelum dan semasa pandemi kesehatan anak dan Ibu Narti sehat. Terkadang mereka hanya mengalami penyakit ringan seperti demam dan membeli obat ke puskesmas pembantu desa. Ibu Narti juga menyatakan bahwasannya mereka belum memiliki kartu jaminan sosial.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Kalau kondisi kesehatan ibu beserta anak ibu sehat-sehat aja dek, kalau pun sakit cuman sakit kepala aja. Ibu bawa berobat ke puskesmas pembantu desa juga sudah sembuh. Ibu belum mengurus kartu jaminan sosial dek.”
Rumah atau tempat tinggal adalah sebagai tempat untuk beristirahat dari rasa lelah dan sebagai tempat untuk berlindung dari panas dan hujan. Ibu Narti mengutarakan bahwasannya Ibu Narti belum mempunyai rumah kepunyaan sendiri. Rumah yang menjadi tempat tinggal Ibu Narti merupakan kepunyaan
orang tuanya. Bangunan rumah yang menjadi tempat tinggal Ibu Narti tersebut dengan beralas semen dan dan temboknya beton, memiliki kamar mandi dan dapur yang cukup memadai. Kamar mandi sudah di lengkapi dengan mck sedangkan sumber air yang digunakan Ibu Narti dari Danau Toba. Listrik yang digunakan Ibu Narti dengan kekuatan 450 watt dan mendapat biaya tagihan listrik secara gratis untuk beberapa bulan dari pemerintah.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Ibu masih menumpang dek di rumah orang tua, karena orang tua tinggal di perantauan dengan anaknya. Rumah ini juga sudah cukup bagus dan luas disini dek kamar mandi juga ada sama tempat mck, tapi kalau air ibu masih harus ngambil air dari Danau Toba karena belum punya uang untuk buat sumur bor dek. Biaya listrik yang ibu bayar biasanya Rp30.000 dek itu pun syukur biaya listrik saya gratis beberapa bulan di masa covid ini.”
Ibu Narti menuturkan bahwasanya di lingkungan desa komunikasi sebelum pandemi dan di masa pandemi terjalin dengan baik. Tidak hanya di lingkungan, komunikasi antar keluarga juga terjalani dengan baik. Namun di masa pandemi kegiatan arisan dan partangiangan di desa tersebut ditunda untuk sementara waktu. sebelum pandemi Ibu Narti tidak memperoleh bantuan dari pemerintah bahkan keluarga. Namun di masa pandemi Ibu Narti beberapa kali menerima bantuan covid-19 sebesar Rp300.000 dalam sebulan dan mendapat bantuan UMKM sekali sebesar Rp2.400.000 hal ini dapat membantu biaya dalam memenuhi kebutuhan Ibu Narti seperti dalam menambah modal, memenuhi kebutuhan anak dan memenuhi kebutuhan pangan.
Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:
“Hubungan ibu dengan tetangga bagus dek, kalo disini jarang orang berantem karena kumpul-kumpul pun jarang dek sibuk dengan kerjaan masing-masing apalagi masa pandemi ini kan dek walaupun di kampung-kampung tetapnya takut. Kalau sama keluarga hubungan saya terjalin dengan baik. Untuk perkumpulan seperti arisan dan partangiangan setiap bulan sebelum pandemi berjalan dek, cuman dimasa pandemi ini ditunda dulu dek. Untuk gotong royong antar penenun tetap dilakukan dek itupun di masa pandemi sikit-sikit aja orang datang. Dulu ya dek sebelum pandemi kalau gotong royong penenun rame datang, karena disitu juga ada info tentang adanya pelatihan-pelatihan dari dinas perindustrian.
Bantuan dari pemerintah yang ibu terima ada yang Rp300.000 dek dan Rp2.400.00 ibu rasa cukup membantu bantuan itu dek karena dia bentuk uang tunai jadi bisa untuk memenuhi kebutuhan dan menambah modal, di masa pandemi ini ya dek, sebelum pandemi ibu belum ada dapat bantuan.”