• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

5.1 Deskripsi Data Hasil Penelitian

5.1.3 Informan Utama II

1. Nama : Roma Simanjuntak 2. Jenis Kelamin : Perempuan

3. Usia : 55 Tahun

4. Suku : Batak Toba

5. Agama : Kristen Protestan 6. Status : Menikah

7. Pekerjaan : Bertani 8. Jumlah anak : 6 orang 9. Pendidikan Terakhir : SMA

Informan kedua yang peneliti wawancarai adalah Ibu Roma Simanjuntak yang berusia 55 tahun. Ibu Roma tinggal bersama suaminya Bapak Siahaan dan 2 orang anaknya. Dari 6 orang anak beliau, 2 diantaranya sudah bekerja dan anak ketiga baru saja tamat kuliah dan anak keempat sekolah di jenjang perguruan tinggi, anak kelima baru saja lulus SMK dan anak keenam saat ini duduk di bangku kelas 7 SMP. Beliau dan suami bekerja sebagai petani.

Ibu Roma sebagai ketua KUBE dari kelompok Satahi berperan aktif dalam setiap kegiatan kelompok. Menurut beliau, KUBE adalah program yang dianjurkan oleh dinas sosial dan kelompoknya mendapat modal awal untuk ternak babi yang dibagikan pada anggotanya.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Saya tau info dari dinas sosial. Kami ditunjuk untuk langsung membentuk kelompok dan langsung diberi modal awal. Kami bentuklah 5 kelompok, namanya Satahi, Saoloan, Dos Roha, Saurdot sama Saroha.

Setelah kami bentuk, pihak dinas sosial memberi dana. Kami diinformasikanlah untuk membuat bank atas nama kelompok. Buku tabungan ini kemudian dipegang sama bendahara kami. Kemudian dari dinas sosial disetorlah dana ke bank itu.”

Beliau ikut menjadi anggota KUBE karena pada saat dibentuknya program beliau memiliki tanggungan yang besar yaitu enam orang anak yang masih sekolah. Namun saat ini kondisi ekonomi telah membaik. Dua orang anaknya saat

ini sedang kuliah dan beliau tidak merasa kesulitan dalam pemenuhan biaya pendidikan. Biaya pendidikan kedua anaknya juga oleh 2 orang anaknya yang sudah bekerja. Masalah keuangan keluarga dirasa sudah stabil untuk saat ini.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Dulu masih belum stabil keuangan dek, anak-anak semua masih sekolah.

Kita butuh uang tambahan untuk biaya sekolah anak. Tapi saat ini sudah lebih lancar keadaan ekonomi, sudah terpenuhi dek untuk kebutuhan anak sekolah. Apalagi sekarang 2 orang anak saya sudah kerja dan dua lagi sedang mencari pekerjaan. Justru mereka sekarang yang ikut membantu memenuhi kebutuhan keluarga kan. Mereka terkadang mengirim uang ke saya. Uangnya bisa saya pergunakan untuk nambahin biaya sekolah dua lagi anak saya. Keuangan sudah lebih mudah dan lancarlah di hari tua saya ini, syukurlah gitu kan.”

Rumah yang ditempati Ibu Roma saat ini pun sudah sangat memadai dengan status atas kepemilikan sendiri dan baru selesai dibangun. Air dan listrik sert a fasilitas seperti juga sudah lengkap. Pembuangan air dan kloset sudah dialirkan ke septitank. Pendapatan beliau saat ini pun terbilang stabil. Dalam sebulan, beliau mendapatkan sekitar Rp. 1.500.000. Jumlah ini didapat dari hasil tani dan program KUBE ternak babi yang beliau kerjakan. Biasanya beliau menjual 4ekor babi pertahun. Jika harga untung dari ternak dihitung menjadi pendapatan perbulan, beliau akan mendapatkan untung sekitar Rp.200.000- Rp.250.000 per ekor. Beliau juga kerap mendapat uang tambahan dari anak-anaknya.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Ini rumah sendiri dek, kami baru pindah kesini, masih sekitar setahun.

Dulu kami tinggal di Hutagaol, dulu masih ngontrak. Fasilitas juga sudah lengkap menurut saya dek, sudah ada air, listrik, tv, dan kulkas.

Pendapatan saya belakangan ini juga masih stabil dek. Sebulan pendapatan saya sekitar 1,5 juta lah, itu sudah hasil tani sama ternak babi kita. Ternak yang terjual pertahun itu sekitar 4 ekor saja. Ada juga lah sedikit tambahan dari anak.”

Dengan jumlah pendapatan yang stabil, pemenuhan kebutuhan keluarga Ibu Roma dan keluarganya dapat memenuhi air bersih dan makan tiga kali sehari.

Air bersih yang dipergunakan berasal dari sumur bor. Kebutuhan nasi, lauk - pauk, sayur dan buah juga terpenuhi dengan baik. Beliau juga mampu membeli susu sesekali. Selain itu, keluarga Ibu Roma juga memiliki asuransi kesehatan berupa KIS. Bila anggota keluarga sakit biasanya Ibu Roma memilih berobat ke bidan desa karena dirasa lebih dekat dan lebih murah. Berobat di bidan desa juga dirasa sudah bisa sembuh dan tidak perlu pergi ke rumah sakit.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Terpenuhi lah dek kalau air bersih dan makanan sehari hari. Sumber air kami sumur bor, makan juga bisa tiga kali sehari. Kami juga sudah bisa konsumsi sayur dan buah. Susu sekali aja, saya kurang suka. Apalagi sekarang anak-anak saya sudah bekerja. Jadi kebutuhan rumah tangga saat ini juga sangat terbantu. Kalau dulu-dulu ya masih diirit-irit biar ada tabungan untuk ke depannya misalnya bangun rumah. Untuk fasilitas kesehatan, saya punya jaminan kesehatan berupa KIS tidak ga ada biaya

untuk program KIS itu. Tapi kebetulan saya tidak pernah pergunakan kartu itu. Kalau sakit saya berobat ke bindes (bidan desa). Lebih dekat, lebih murah. Bukan sakit yang parah juga kan sampai harus ke rumah sakit.”

Program KUBE beliau rasa cukup membantu untuk menambah pendapatan. Walaupun saat pertama kali program dilaksanakan, beliau menjelaskan bahwa kelompoknya tidak mendapat pelatihan dari dinas sosial dan dipaksa mandiri tanpa arahan pihak lain. Kelompok mereka menerapkan iuran sebesar Rp.5.000 per bulan dan dana ini digunakan untuk kepentingan kelompok.

Interaksi antar anggota kelompok juga berjalan lancar.

Seperti kelompok lainnya, kelompok Satahi memiliki seorang pendamping, namun pendamping kelompok sangat jarang menghadiri rapat anggota. Hal inilah yang menjadi salah satu hambatan untuk meningkatkan kualitas kelompok. Masalah terbesarnya adalah banyak anggota kelompok yang tidak lagi memiliki ternak karena ternaknya tekena penyakit atau dijual dengan harga murah.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Kami tidak ada menerima pelatihan. Benar-benar hanya modal awal saja dek. kami dari 5 kelompok tidak ada menerima pelatihan. Kalau pertemuan perbulan ada kami laksanakan, bagus kok interaksi antar anggota sebenarnya saat itu. Kami juga adakan iuran 5 ribu perbulan dan uang pangkalnya 10 ribu per orang. Kami pakai iuran ini untuk kebutuhan kelompok. Kami juga ada pendamping, tapi terkadang saja datang pendampingnya, mungkin sibuk juga dia. Tapi ya jujur dek, sekarang

sudah tidak ada lagi berjalan pertemuan kelompok. Sudah berhenti pertemuan atau rapat-rapat kelompok karena beberapa anggotanya pun sudah ada yang tidak beternak lagi. Sudah habis dijual, harga jualnya juga murah sekali atau malah ada yang ternaknya sudah mati karena musim penyakit.”

Dokumen terkait