• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

5.1 Deskripsi Data Hasil Penelitian

5.1.4 Informan Utama III

1. Nama : Netty Siagian 2. Jenis Kelamin : Perempuan

3. Usia : 62 Tahun

4. Suku : Batak Toba 5. Agama : Kristen Protestan 6. Status : Janda

7. Pekerjaan : Bertani 8. Jumlah anak : 9 orang 9. Pendidikan Terakhir : SD

Informan utama yang keempat yang diwawancarai oleh peneliti adalah Ibu Netty Siagian dan beliau sudah berumur 62 tahun. Suami beliau yaitu Bapak Mendrofa telah meninggal dunia dan beliau memiliki 9 orang anak. Beliau adalah penduduk asli di Desa Paindoan dan tergabung dalam KUBE Saoloan. Beliau mendapat informasi mengenai program dari dinas sosial berupa bantuan ternak kepada 5 kelompok masyarakat. Beliau kemudian diajak untuk ikut berpartisipasi dalam program untuk menambah pendapatan dan kemudian didaftarkan menjadi salah satu anggota.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Saya tahu infonya dari orang desa ini juga. Diinfokan kepada saya ada program seperti pembagian ternak. Mereka juga kan tahu saya juga kekurangan pendapatan, jadi diajak ikut bergabung dalam program ini agar saya juga dapat bantuan. Saya ya senang ya dek ada bantuan-bantuan seperti ini. Lumayan menambah pendapatan, menambah uang makan saya.

Untuk proses terbentuknya kelompok, saya kurang paham. Saya hanya ikut saja lah pokoknya dimasukkan dalam kelompok.”

Menurut pengalaman Ibu Netty yang menjadi hambatan dalam pelaksanaan program KUBE ini adalah kurangnya interaksi antar anggota kelompok. Beliau sendiri mengaku malas untuk mengikuti rapat anggota karena lebih memilih pergi ke sawah yang jelas lebih menghasilkan. Beliau juga mengatakan jika dia kurang paham apa yang harus dikerjakan dalam program ini sehingga merasa tidak memiliki tanggung jawab dalam pelaksanaan program. Menurut beliau, anggota-anggota kelompok lain pun mengalami hal yang sama. Alasan ini yang menjadikan kelompok Saoloan tidak bertahan lama.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Hambatannya ya dari anggota itu sendiri. Kami jarang bisa melakukan pertemuan dek. Jujur saja saya juga merasa lebih baik pergi ke sawah, ada yang bisa saya kerjakan, hasilya juga lebih terlihat kalau saya ke sawah kan. Kalau rapat saya juga tidak tahu dek harus apa, jadi ngapain saya pergi kan. Saya rasa teman-teman saya pun seperti saya semua itu. Itulah makanya tidak bertahan lama kelompok kami.”

Sedangkan untuk proses pengelolaan dana, Ibu Netty tidak terlalu memahami proses pencairan dana. Beliau hanya mengetahui bahwa setiap anggota diberikan ternak dan pakan untuk dipelihara masing-masing anggota. Beliau juga mengatkan bahwa mendapat pelatihan berupa sosialisasi cara merawat ternak.

Selain itu tidak ada jenis pelatihan lain yang pernah diterima.

Dalam pelaksanaan program ini, beliau tidak terlalu memahami mekanisme pelaksanaannya. Beliau hanya mengetahui bahwa ternak ini adalah bantuan dari pemerintah dan beliau dapat mengelola ternak ini sendiri. Pertemuan anggota kelompok Saoloan pun jarang dilaksanakan. Targetnya mengadakan rapat setidaknya sekali dalam sebulan, namun pada pelaksanaannya hanya sekali dalam 2 bulan. Pendamping KUBE yang ditunjuk mengawasi kelompok Saoloan juga sangat jarang hadir. Tidak ada terjalin komunikasi yang baik antaranggota terhadap pendampingnya.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Kurang tau saya dek bagaimana ini proses pencairan dananya. Saya hanya dikasih saja anak babi sama pakannya pada hari itu. Sisanya ya saya yang urus ternak ini. Kami pernah diberikan pelatihan ketika pembagian ternaknya, diajarkan tentang bagaimana rawat ternak ini dek. Orang dinas sosial itu yang mengadakan pelatihannya. Hanya sekali itu saja kami diberi pembelajaran tentang cara merawat ternak, setelah itu sudah tidak ada lagi. Kami sudah dibebaskan bagaimana cara memelihara ternak ini. Tidak pernah diperiksa juga. Pendamping KUBE jarang sekali datang, kami juga memang jarang kumpul. Harapannya itu sekali sebulan dek, tapi bisa sekali saja dalam 2 bulan.”

Setelah 6 tahun tergabung dalam kelompok dan mengelola ternaknya sendiri, beliau memutuskan berhenti beternak karena mengalami kesulitan untuk mengurus ternaknya. Saat ini beliau tidak memiliki pendapatan stabil dan dirasa belum cukup untuk mengakses fasilitas kesehatan yang lebih baik. Menurut beliau, pendapatan ini hanya cukup untuk modal konsumsi sehari-hari saja. Saat ini, dalam mengakses fasilitas kesehatan, Ibu Netty biasanya akan pergi ke bidan desa jika merasa sedang sakit. Beliau memiliki asuransi kesehatan berupa KIS, namun kartu ini tidak pernah digunakan untuk berobat ke rumah sakit.

Kondisi tempat tinggal Ibu Netty juga sangat sederhana. Rumah yang ditinggali merupakan jenis rumah adat dan merupakan rumah peninggalan kakek-nenek beliau. Fasilitas seperti air dan listrik juga masih belum tersedia dirumah beliau. Biasanya beliau memasak menggunakan kayu bakar dan tidak menggunakan kompor gas. Menurut beliau, ia nyaman tinggal walau tak ada fasilitas air dan listrik. Kamar mandi beliau juga masih berada diluar rumah.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Kalau saya sakit ya saya pergi ke bidan di desa kita ini. Saya tidak sanggup bayar ke rumah sakit dek. Kalau ke bidan kan dekat, murah juga.

Saya memang ada kartu kesehatan dari pemerintah itu. KIS namanya kalau tidak salah ya. Tapi saya tidak pernah pakai itu. Kalau ada uang kan lebih baik untuk konsumsi sehari-hari saja. Gaji saya sebulan hanya 500 sampai 600 ribu perbulan, cukup-cukup makan dek. Kondisi rumah juga seperti inilah dek, udah rumah dari oppung ini. Kami juga tidak ada air listrik.

Kalau memasak pun pakai kayu saja. Tapi seperti ini pun keadaannya masih bisa kita nikmati dek.”

Dengan kondisi ekonomi yang demikian, beliau memenuhi kebutuhan air berssihnya melalui mata air yang terletak di belakang rumahnya. Air untuk konsumsi biasanya akan dimasak menggunakan kayu bakar yang dikumpulkan dari ranting pohon sekitar rumahnya. Walaupun sangat sulit, pemenuhan kebutuhan untuk makan tiga kali dalam sehari masih bisa diusahakan. Makanan yang beliau dapat konsumsi hanya berupa nasi dan lauk. Sayur dapat dikonsumsi sesekali sedangkan konsumsi buah sangat jarang. Selain itu, konsumsi susu juga eliau rasa sulit dan tidak diperlukan.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Kebetulan dibelakang rumah ada sumber mata air dek. Mata air itu yang saya pergunakan untuk semua kebutuhan termasuk minum dan mencuci.

Kalau untuk air minum saya masak saja airnya ditungku kayu. Makan tiga kali sehari masih sanggup walaupun sangat sulit. Kalau makanan saya nasi dan lauk saja juga sudah syukur. Sayur cuma bisa sesekali. Kalau unutk konsumsi buah, biasanya saya menunggu berbuahlah pohon yang di depan rumah ini dek. Kalau minum susu tidak pernah, tidak begitu perlulah dek.”

Dokumen terkait