• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

5.1 Deskripsi Data Hasil Penelitian

5.1.5 Informan Utama IV

1. Nama : Lamria Simanjuntak 2. Jenis Kelamin : Perempuan

3. Usia : 57 Tahun

4. Suku : Batak Toba 5. Agama : Kristen Protestan 6. Status : Menikah

7. Pekerjaan : Bertani

8. Jumlah anak : 7 orang 9. Pendidikan Terakhir : SD

Informan utama keempat yang peneliti wawancarai adalah Ibu Lamria Simanjuntak yang berusia 57 tahun. Beliau tinggal bersama suami dan memiliki 7 orang anak. Dalam memenuhi kebutuhan, Ibu Lamria bekerja sebagai petani.

Dengan pendapatan beliau dan juga gaji suami, beliau mampu menyekolahkan 6 orang anaknya, 3 orang diantaranya sudah bekerja dan tiga orang lagi sedang menempuh pendidikan. Sedangkan anak terakhir tidak disekolahkan.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Namanya pendidikan pasti penting ya dek, apalagi di zaman sekarang.

Saya dan suami usahakan lah pendapatan ini untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak. Tidak sedikit juga memang biaya pendidikan ini kan dek.

Syukurnya, tiga orang anak saya sudah tamat dan bekerja, tiga orang lagi adek-adeknya masih sekolah sekarang ini. Semoga lancar sekolahnya kan agar tidak sia-sia pengorbanan orang tua itu cari duit dek. Anak terakhir saya tidak sekolah karena ada gangguan tunawicara. Belum ada SLB di daerah kita ini. Sedih saya rasa, saya berharapnya dek bisa sekolahkan dia, tapi keadaan belum mendukung.”

Untuk menambah biaya pendidikan inilah Ibu Lamria memutuskan untuk bergabung dalam kelompok Saroha. Kelompok ini mendapat modal awal yang diberikan oleh dinas sosial dan langsung dibelikan ternak babi sebanyak 2 ekor setiap anggota. Sisa uang digunakan untuk membeli pakan ternak.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Kalau KUBE saya tau dari orang dinas sosial melalui desa. Kami ini dibentuk duluan kelompoknya bernama Saroha dan ada 10 orang anggota kelompok. Kami ada peraturan-peraturan juga di dalam kelompok. Kami diberikan uang yang langsung dibelanjakan yaitu ternak babi. Kami diberikan 2 ekor anak babi per orang, sama ada pemberian pakan juga.”

Untuk meningkatkan kualitas dan pengetahuan para anggotanya, Ibu Lamria menjelaskan dalam hasil wawancara bahwa beliau menerima pelatihan dalam bentuk sosialisasi dari dinas sosial. Telah diberikan infromasi-informasi mengenai ternak seperti misalnya cara perawatan ternak yang benar, jenis pakan, dan pengobatan ternak.. Beliau rasa informasi yang didapat cukup membantu beliau sebagai pemula dalam ternak babi. Namun secara keseluruhan beliau berharap ada pelatihan yang lebih baik agar anggota kelompok dapat mengolah ternak dengan baik.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Kalau pelatihan sepertinya ada ya. Bentuk pelatihannya pada masa itu dilatih tentang bagaimana cara perawatannya. Diberikan teori lah gitu dek.

Didampingi juga dengan pendamping KUBE pada saat itu. Lumayan memberi wawasan kan informasi-informasi itu. Misalnya diberitahukan kepada kami pakan yang baik itu seperti apa, harus disuntik berapa kali ternak ini dalam setahun agar tidak mudah terkena penyakit. Dikasih tau juga tentang jenis penyakit ternak, ya walaupun agak lupa juga kemudian.

Saya rasa sebenarnya pelatihannya kurang karena hanya bentuk sosialisasi saja dan hanya sekali kan, berharapnya ada pelatihan lain dan praktek langsung juga.”

Kelompok Saoloan tidak pernah melaksanakan pertemuan bersama pendamping KUBE. Beliau mengatakan hanya bertemu sekali saat dilaksanakan sosialisasi tentang cara merawat ternak. Selama pelaksaan rapat, yang hadir hanya anggota kelompok saja. Sama seperti kelompok lain, kelompok Saoloan juga mengumpulkan IKS setiap bulannya. Iuran ini tidak pernah dipergunakan dan hanya disetor ke rekening bank kelompok. Interaksi antar anggota kelompok juga berjalan lancar. Hubungan yang terjalin baik dikarenakan beliau merasa ada ikatan sesama ibu-ibu satu desa.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Kalau di kelompok kami tidak pernah datang seingat saya dek pendamping KUBE nya. Kami bertemu itu hanya saat ada sosialisasi dari dinas sosial itu saja. Kalau ada rapat anggota ya hanya anggota saja yang hadir di rapat itu. Terkait iuran, kami juga kumpulkan, jumlahnya 5 ribu per bulan. Uang iuran ini kami simpan di kelompok saja. Tidak sempat disimpan pinjamkan untuk anggota kelompok. Lalu itu setiap bulannya kami diwaijbkan menyetor ke rekening unutk mempertahankan kelompok. Kalau interaksi antar anggota kelompok pada saat itu sebenarnya cukup lancar.

Namanya ibu-ibu dan berada di satu kampung kan, jadi hubungan masih berjalan lancar dek.”

Selain masalah yang datang dari ketidakhadiran pendamping KUBE, hal-hal yang menjadi hambatan dalam kelompok Saroha berasal dari angota kelompok itu sendiri. Ibu Lamria menyatakan bahwa anggota kelompok menganggap modal yang diberikan hanya bantuan semata dari dinas sosial tanpa ada pertanggung jawaban dan lanjutan program. Angota kelompok sangat sulit untuk diajak

bertemu. Kondisi seperti ini yang terus-menerus membuat kelompok tidak bertahan lama dan bubar.

Kelompok Saroha juga tidak sempat menjalin kerjasama dengan masyarakat Paindoan lain dikarenakan kerjasama antar anggota kelompok juga masih sangat sulit dijalin. Kelompok juga tidak bertahan lama, hanya sekitar setahun lalu kemudian kelompok ini bubar. Dana yang ada di rekening bank kemudian ditarik dan dibagi rata kepada anggota-anggota kelompok.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Hambatan pasti ada saja dek. Ya bagaimanalah kalau orang di desa ya, susah pola pikirnya, maunya yang gratisan saja begitu. Susah kalau diajak mengadakan pertemuan, anggotanya ada 10 orang tetapi pas hadir hanya ada 3 orang. Sepertinya ini bukan masalah desa kita saja ini, mungkin ini juga masalah-masalah kelompok lain dan desa-desa lain juga. Saya juga sebagai ketua jadi malas ini mengadakan pertemuan. Kita liat sepertinya tidak ada tanda-tanda anggota datang, ya sudah lambat laun hilang begitu saja kelompoknya. Kami juga tidak sempat menjalin kerjasama dengan masyarakat desa dek. Bagaimana mau menjalin kerjasama dengan masyarakat lain jika kelompok juga belum bisa mandiri kan. Uang simpanan kami di bank saja akhirnya ditarik dan dibagi rata. Setelah itu tidak ada lagi pertemuan anggota kelompok. Hanya bertahan sekitar setahun saja kelompok kami. Makanya saya bilang tadi dek, masih susah mengadakan program di desa ini.”

Setelah bergabung dalam kelompok, beliau mendapat penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga. Dalam pemenuhan kebutuhan keluarga, beliau merasa sudah terpenuhi akan kebutuhan air dan makannya. Dengan pendapatan beliau dan juga gaji suami, Ibu Lamria dapat memenuhi pangan 3 kali sehari dengan nasi, lauk, sayur, buah dan susu untuk anak-anaknya. Beliau juga memiliki asuransi kesehatan berupa BPJS Mandiri tetapi jarang digunakan. Terkait anak bungsu ibu Lamria yang mengalami gangguan bicara, anaknya belum mendapatkan pengobatan atau terapi khusus.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Kalau kebutuhan air bersih dan makan masih terpenuhi. Kami masih bisa penuhi makan nasi, lauk, sayur, buah dan susu untuk anak lengkap dek.

Pendapatan sebulan sekitar 800ribu lah, masih ada juga gaji suami kan.

Dengan pendapatan itu, saya sisihkan sebagian untuk BPJS Mandiri, berjaga-jaga kalau anak saya harus dibawa ke rumah sakit. Apalahi anak terakhir saya kan ada sakit, tidak bisa dia bicara sejak lahir. Memang saat ini tidak ada dek pengobatan khusus atau terapi untuk dia, tetapi saya buat asuransi kesehatan untuk siap siaga. Biasanya kalau suami atau anak sakit ya saya bawa berobat ke poskesdes desa ini dulu dek, kan dekat cuma di depan sana, kalau tidak bisa ditangani baru ke dokter.”

Keadaan ekonomi yang terhitung stabil juga didukung oleh kondisi tempat tinggal Ibu Lamria yang sudah cukup baik dan sudah dengan status kepemilikan sendiri. Sumber air bersih di rumah adalah sumur bor. Fasilitas juga sudah cukup memadai, hanya saja pembuangan air hanya dialirkan ke belakang

rumah dengan alasan air pembuangan tidak akan menggenang karena tanah masih mampu untuk menyerap air tersebut.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan :

“Kondisi rumah tidak terlalu bagus, tapi masih nyaman dan sudah milik sendiri. Ada udara yang bebas keluar masuk, cahaya juga. Sudah cukup terang lampu rumah kita, ada TV juga. Kalau saluran pembuangan air kami alirkan ke belakang, soalnya disini kan masih bisa tanahnya menyerap air.

Ga ada genangan air kalaupun dibuang ke belakang aja pembuangan airnya.

Dokumen terkait