• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.1 Deskripsi Hasil Penelitian

5.1.7 Informan Utama V

Nama : Marhaulian Sitanggang

Umur : 60 Tahun

Suku : Batak

Agama : Katolik

Alamat : Desa Sitoluhuta

Pendidikan terakhir : SD

Pekerjaan : Penenun

Jumlah anggota keluarga : 3 orang Pekerjaan suami : - (Meninggal)

Informan utama yang peneliti wawancarai adalah Ibu Marhaulian Sitanggang yang biasa disapa Ibu Marhaulian. Ibu Marhaulian sudah menjadi seorang penenun semenjak umur 16 tahun. Ibu Marhaulian merupakan penduduk asli di Desa Sitoluhuta. Ibu Marhaulian memiliki 3 orang anak. Satu diantaranya yang merupakan anak laki-laki masih dalam jenjang pendidikan perguruan tinggi.

Ibu Marhaulian merupakan penenun ulos yang menggunakan alat tradisional gedogan/kasuksak. Alat tersebut merupakan kepunyaan Ibu Marhaulian sendiri.

Saat menenun Ibu Marhaulian bekerja sendiri. Ibu Marhaulian dalam keseharian sebagai penenun akan memulai kegiatan bertenun mulai dari pagi jam delapan sampai malam hari. Kegiatan bertenun ini tentu akan diselingi dengan pekerjaan-pekerjaan lain seperti beberapa pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Kegiatan bertenun dilakukan pada pagi sampai sore hari di dalam rumah.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Sejak remaja saya udah bertenun dek, dulu juga mama saya bertenun jadi saya belajar dari mama saya. Saya juga kan cuman tamat SD, jadi saya ya bertenun aja setelah tamat, dulu sempat saya merantau sebentar namun saya kembali lagi ke kampung ini. Di kampung ini masih menggunakan gedogan para penenun dek, karena yang di kenal sejak dini gedogan. Saya bertenun mulai pagi sampai malam dek karena saya tidak punya pekerjaan lain yang bisa jadi peralihan. Anak saya masih ada satu dalam perkuliahan. Dua udah tamat dan itu hasil dari bertenun biayanya.”

Peneliti juga menanyakan dampak pandemi yang dirasakan penenun dan bagaimana akibatnya terhadap pendapatan para penenun. Ibu Marhaulian

mengutarakan bahwa pandemi mengakibatkan harga ulos yang menurun dan penggunaanya yang berkurang, diakibatkan adanya pembatasan sosial di masa pandemi covid-19 dimana perayaan aktivitas budaya dibatasi bahkan ditunda untuk sementara waktu. Hal tersebut membuat minimnya akan pemakaian ulos dan permintaan serta harga akan ulos menjadi berkurang. Pendapatan sebelum pandemi Ibu Marhaulian biasanya mendapatkan pendapatan sebesar Rp2.450.000 dalam sebulan. Namun selama pandemi Ibu Marhaulian hanya mampu mendapatkan pendapatan sebesar Rp1.400.000. Sebelum pandemi covid harga ulos yang dihasilkan Ibu Marhaulian dapat mencapai Rp 350.000 untuk satu buah ulos dimasa pandemi menjadi Rp280.000. Ibu Marhaulian dalam sebulan dapat menenun ulos sebanyak 7 lage/ulos dengan kualitas yang lumayan tinggi sebelum pandemi dan di masa pandemi ini menjadi 5 lage/helai.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“dampak yang ibu alami harga dan pemasaran ulosnya menurun dek, kalau sebelum pandemi ibu bebas menjual ulos ke toke sekarang di masa pandemi ini nggak bisa banyak-banyak dek. Sekarang ibu menjual 5 helai ulos lah paling banyak. Sebelumnya ibu bisa menjual ulos 7 ulos dalam sebulan. Dulu harganya masih nyampe Rp350.000 sekarang cuman Rp280.000 dek.”

Peneliti juga menanyakan bagaimana dampak terhadap kebutuhan pendidikan di masa pandemi covid-19 kepada Ibu Marhaulian. Ibu Marhaliulian menyatakan bahwasannya Anaknya yang masih di jenjang perkuliahan membutuhkan kuota yang lebih banyak. Sebelumnya ada bantuan kuota dari pemerintah namun dikarenakan menganti kartu anak Ibu Marhaulian sudah tidak

terdaftar. Di masa pandemi dan uang kos dan uang kuliah yang harus dibayar meskipun anak tidak pergi kesekolah dan tidak berada ditempat tinggal anak.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“kebutuhan sekarang makin banyak dek, apalagi untuk biaya pendidikan ini, syukur anak saya tinggal satu aja yang sekolah. Sekarang anak saya kuota internet lah yang paling banyak dek sama kebutuhan bayar uang kuliah dan biaya kos. Sebelumnya anak saya dapat bantuan kuota dek, cuman anak saya ganti kartu jadinya nggak terdaftar lagi”

Peneliti juga menanyakan bagaimana dengan kondisi kebutuhan pangan dan sandang Ibu Marhaulian. Ibu marhaulian menyatakan bahwasannya tetap makan teratur setiap harinya dengan 3 kali sehari namun mengurangi kualitas makan namun, dengan memakan sayur dan buah-buah yang harganya relatif murah. Ibu Marhaulian juga mengatakan bahwasannya dimasa dan sebelum pandemi mereka jarang melakukan liburan dan membeli pakaian baru hanya di akhir tahun saja.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“untuk kebutuhan makan tetap dek sebelum dan di masa cocid ini makan 3 kali sehari, tapi kualitasnya lah yang berbeda. Kalau kebutuhan yang lain jarang saya beli dek, terkadang kalau untuk pestalah sama kebutuhan sekolah anak saja. Liburan juga ibu tidak pernah dek.”

Tempat tinggal yang ditempati Ibu Marhaulian tidak mengalami perubahan. Sebelum pandemi dan di masa pandemi Ibu Marhaulian belum memiliki rumah dan tetap tinggal menumpang di rumah orang tuanya yang sudah tiada. Rumah yang ditempati Ibu Marhaulian sudah memiliki mck, listrik namun,

sumber air yang Ibu Marhaulian bersumber dari Danau Toba. Rumah tersebut bertembok dengan kayu dan setengah beton dengan beralas semen.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Ibu belum memiliki rumah sendiri dek, masih tinggal di rumah orang tua menumpang cuman saya tidak membayar uang sewa cukup merawat rumah ini saja. Kalo mck sudah ada dek cuman air masih dari Danau Toba, belum ada uang membuat Pam supaya irit juga dek tidak bayar air.”

Peneliti juga bertanya mengenai komunikasi Ibu Marhaulian dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Ibu Marhaulian mengutarakan bahwa Ibu Marhaulian tidak pernah melakukan perkelahian dengan tetangganya. Begitupun dengan anak-anaknya komunikasi Ibu Marhaulian berjalan dengan baik. Ibu Marhaulian juga kerap kali meminta uang kepada anaknya untuk membayar uang kuliah anaknya di masa pandemi ini. Dalam kegiatan arisan dan perkumpulan Ibu Marhaulian turut serta namun untuk kegiatan tersebut sementara waktu ditiadakan dan hanya kegiatan bergotongroyong yang terlaksana. Di masa pandemi dan sebelum pandemi Ibu Marhaulian juga menyatakan tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah, hanya adanya pemotongan biaya tagihan listrik.

Berikut hasil wawancara yang peneliti cantumkan dalam tulisan:

“Kalo komunikasi dengan keluarga dengan tetangga bagus dek. Cuman di masa pandemi saya takut keluar- keluar dek sama ngobrol-ngobrol karena tetangga saya ada yang isolasi mandiri. Sebelum pandemi ibu mengikuti kegiatan seperti partangiangan dari gereja dan arisan namun, di masa

pandemi sekarang ini kegiatan ditunda dek. Kalo bantuan yang saya terima tidak ada dari pemerintah desa, tetapi potongan uang listrik di masa pandemi ada dek. Saya biasanya meminta bantuan untuk uang sekolah anak saya kepada anak saya yang sudah menikah.”