• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. GAMBARAN UMUM PROVINSI BENGKULU

4.1. Perwilayahan Pembangunan

5.1.2. Infrastruktur Daerah

Infrastruktur Daerah memiliki hubungan yang erat dengan Produk Domestik Brutto (PDB) dan keputusan pelaku usaha untuk melakukan investasi. Ketersediaan infrastruktur daerah merupakan faktor penentu keputusan pelaku usaha karena sangat menentukan biaya distribusi input dan output produksinya. Ketersediaan infrastruktur dapat menjadi faktor pendorong produktivitas suatu daerah (KPPOD 2011).

Jalan kabupaten/kota yang baik, penyediaan listrik, lampu penerangan jalan, air bersih dan telekomunikasi merupakan prasyarat agar kegiatan usaha dapat berjalan secara efektif dan efisien. Sebaliknya, kualitas pengelolaan infrastruktur yang buruk dapat menambah biaya yang besar bagi pelaku usaha untuk berinvestasi dan berkembang.

The Gobal Competitiveness Report 2010-2011 (the World Economic Forum, 2010) menunjukkan bahwa kinerja infrastruktur Indonesia amat rendah. Provinsi Bengkulu berdasarkan hasil studi Tata Kelola Ekonomi Daerah (TKED) 2007 menurut para pelaku usaha yang ada di Provinsi ini, 53 persen menyatakan kualitas jalan masuk dalam kategori Buruk dan sangat buruk, 65 persen menyatakan kualitas lampu penerangan jalan buruk dan sangat buruk, 40 persen menyatakan kualitas air PDAM buruk dan sangat buruk, 38 persen menyatakan kualitas listrik PLN buruk dan sangat buruk, 13 persen menyatakan kualitas telepon masuk buruk dan sangat buruk.

Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk perbaikan infrastruktur bila mengalami kerusakan di Provinsi Bengkulu membutuhkan waktu 27 hari untuk perbaikan jalan, 10 hari untuk perbaikan lampu penerangan jalan, 4 hari untuk perbaikan air PDAM, 7 hari untuk perbaikan listrik PLN dan 2 hari untuk perbaikan telepon (Studi TKED 2007).

Banyaknya kendala yang dihadapi di Provinsi Bengkulu sehubungan dengan infrastruktur daerah (seperti diuraikan pada Tabel 16). Adapun Opini yang mucul sehubungan dengan infrastruktur daerah adalah sebagai berikut :

Sumber : Data diolah 2015

Gambar 21 Opini investor tentang infrastruktur daerah di Propinsi Bengkulu Gambar 21 memperlihatkan bahwa seluruh indikator yang menjadi faktor penentu infrastruktur daerah dalam penelitian ini masih berada dalam kondisi kurang. Bahkan ada diantara para responden yang menjawab tidak memadai. Penyelesaian perbaikan atas kerusakan yang terjadi di bidang infrastruktur dianggap tidak memadai.

Penyediaan listrik dan air bersih menjadi faktor yang dinilai paling kurang memadai. Persediaan listrik yang ada baru mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga. Untuk itu jika dilakukan pengamatan lebih lanjut mengenai pemakaian listrik di sektor industri akan mengganggu pasokan pemenuhan kebutuhan listrik rumah tangga akibat penyediaannya yang belum memadainya. Konsumsi listrik di Provinsi Bengkulu sangat didominasi oleh rumah tangga mencapai 76 persen dari total daya terpasang, usaha 12 persen, dan industri 28 persen. Hal ini dapat diartikan masih rendahnya aktivitas produktif yang ada. Frekuensi pemadaman listrik di Propinsi Bengkulu masuk dalam kategori sering.

Kualitas jalan dijelaskan pada Gambar 22 berikut :

10 8 5 3 2 2 1 1 1 1 22 23 24 23 24 20 18 17 19 22 1 2 4 7 7 11 14 15 13 10

Sumber : Bengkulu Dalam Angka 2014

Gambar 22 Kualitas infrastruktur jalan di Propinsi Bengkulu.

Pada Gambar 22 , terlihat ada 3 pengelompokkan jalan yaitu jalan nasional, jalan Propinsi, dan jalan kabupaten, dengan total panjang jalan 8395.64 persen. Jalan nasional memiliki panjang 774.82 km2 atau 9.23 persen dari total, jalan provinsi memiliki panjang 1590.52 km2 atau 18.95 persen, sedangkan jalan kabupaten memiliki panjang 6030.3 km2 atau 71.82 persen. Kualitas jalan nasional relatif stabil dengan persentase terbesar berada pada kategori baik. Begitu pula halnya dengan jalan provinsi. Hal berbeda terjadi pada jalan kabupaten dimana terihat dari tahun ke tahun perubahan kualitas jalan terus mengalami perubahan. Kualitas jalan kabupaten terus mengalami peningkatan bahkan pada tahun 2012 jalan kabupaten yang masuk kedalam kategori kualitas rusak berat sangat kecil sekali. Hal ini menandakan adanya upaya di bidang perbaikan infrastruktur jalan oleh Pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah terus dilakukan.

Infrastruktur air bersih di Provinsi Bengkulu pun ketersediaannya relatif kurang memadai. Penggunaannya didominasi oleh aktivitas non niaga (93 persen), sedangkan penggunaan air bersih di sektor industri baru mencapai 0.2 persen. Hal ini menyatakan rendahnya pemakaian air bersih yang berasal dari perusahaan air minum daerah dalam aktivitas produksi. Penggunaan air tanah masih sangat mendominasi.

Indikator dalam mengukur persepsi infrastruktur daerah adalah ketersediaan infrastruktur, kualitas jalan, kualitas penyediaan listrik, sambungan telpon, air bersih, penyerdiaan perbaikan jalan, penyelesaian pemadaman listrik, perbaikan permasalahan air. Secara umum mayoritas investor yang menjadi responden dalam penelitian ini menyatakan masih kurang bahkan tidak memadainya infrastruktur daerah.

5.1.3. Perizinan.

Perizinan usaha yang sederhana dan murah dapat mendorong perkembangan usaha baru. Sebaliknya prosedur pengurusan perizinan usaha yang sulit, lama, dan mahal akan mengakibatkan keengganan pelaku usaha untuk mengurus perizinan dan menghambat pertumbuhan kegiatan usaha baru.

0,00 500,00 1000,00 1500,00 2000,00 2500,00 3000,00 3500,00 4000,00 4500,00

Baik Sedang Rusak Ringan

Rusak Berat

Baik Sedang Rusak Ringan

Rusak Berat

Baik Sedang Rusak Ringan

Rusak Berat

Jalan Nasional Jalan Propinsi Jalan Kabupaten

2010 2011 2012 2013

Ada lima izin dasar yang perlu dimiliki oleh sebagian besar pelaku usaha yaitu (1). Izin Mendirikan Bangunan, izin ini dibutuhkan para pelaku usaha yang akan membangun gedung, (2). Izin gangguan (Hinder ordonantie atau HO) izin ini dibutuhkan jika usaha yang dilakukan memiliki eksternalitas-dapat menimbulkan gangguan bagi lingkungan sekitarnya seperti kebisingan atau polusi, (3). Surat Izin Tempat Usaha (SITU) izin ini dibutuhkan jika usahanya tidak memiliki eksternalitas. Setelah pelaku usaha memiliki IMB dan HO/SITU, izin seharusnya yang dimiliki adalah (4) izin operasional yaitu SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) izin bagi para pelaku usaha yang memperdagangankan produknya, dan TDI (Tanda Daftar Industri) yaitu izin bagi pelaku usaha yang bekerja di sektor industri, (5) Paling lambat tiga bulan setelah perusahaan memperoleh SIUP dan/atau TDI atau beroperasi, maka perusahaan wajib mendaftarkan perusahaannya untuk mendapatkan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) sehingga pemerintah mempunyai informasi mengenai seluruh pelaku usaha di daerahnya.

Instansi yang berwenang menyelenggarakan pelayanan perizinan Di tingkat daerah adalah instansi teknis (Satuan Kerja Pemerintah Daerah atau SKPD) yang diberi wewenang seperti misalnya Dinas Perdagangan/Perindustrian. Pelayanan perizinan juga bisa dilaksanakan oleh pejabat yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) sesuai dengan yang diamanatkan oleh Peraturan Menteri Dalam Negeri (PERMENDAGRI) No 24/2006. PTSP adalah institusi yang mendapatkan wewenang dari kepala daerah untuk menerbitkan berbagai izin usaha.

Pengajuan perizinan di Provinsi Bengkulu menurut para responden masih masuk kategori buruk. Hanya sebagian kecil responden yang menyatakan cukup baik. Keluhan utama ada pada masalah penyelesaian pengurusan perizinan seperti HO, SITU. Kebijakan pemerintah daerah terkait dengan perizinan pun dirasakan oleh para investor masih belum memadai.

Adapun opini para investor sehubungan dengan proses perizinan yang ada di Provinsi Bengkulu adalah sebagai berikut :

Gambar 23 Opini investor tentang perizinan di Provinsi Bengkulu

Di bidang Perizinan, hal utama yang dihadapi oleh para pengusaha adalah besarnya pungutan liar dalam proses perizinan. Walaupun beberapa kabupaten sudah melaksanaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, seringkali proses perizinan yang ada belum dilaksanakan secara benar.

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 2 9 9 9 6 7 3 6 11 21 21 22 22 21 17 21 20 19 20 0 10 2 2 3 10 5 10 8 2

Ketidakjelasan proses, waktu dan prosedur yang mengakibatkan aktivitas percaloan maupun pungutan liar terus berlangsung. Bahkan ada di salah satu kabupaten dimana oknum Pemerintah Daerah yang mendatangi para pelaku usaha berkedok untuk memberikan pelayanan perizinan dengan sistem jemput bola, dengan biaya yang melebihi jumlah semestinya.

Untuk semua jenis perizinan, terdapat kecenderungan semakin besar skala usaha, semain tinggi tingkat kepemilikan izin dasar. Hampir sebagian besar pelaku usaha besar memiliki TDP sementara hanya sebagian kecil usaha mikro yang memiliki izin dasar tersebut.

Rendahnya tingkat kepemilikan izin dasar oleh para pelaku usaha mikro dan kecil mempersulit mereka untuk mengembangkan usahanya, karena tanpa adanya berbagai izin dasar ini akan menyulitkan mereka untuk mendapatkan akses pada kredit dari perbankan dan juga untuk berpartisipasi dalam program pemerintah.

Indikator variabel perizinan adalah proses pengurusan perizinan, waktu pengurusan perizinan, penyelesaian pengurusan HO, Situ, TDP dan lama waktu yang dibutuhkan dalam proses perizinan. Mayoritas responden menyatakan bahwa proses perizinan yang masih dalam kategori buruk.

5.1.4. Peraturan Daerah.

Merupakan gambaran kerangka kebijakan Pemerintah daerah dalam mengembangkan perekonomian daerahnya. Peraturan yang rumit dan membingungkan dapat menjadi kendala bagi pelaku usaha di daerah, karena hal tersebut dapat mengakibatkan ketidakpastian dan mempersempit usaha perdagangan dan akses pasar.

Peraturan di daerah merupakan sebuah instrument kebijakan Pemerintah Daerah (PEMDA) yang dapat mengindikasikan keberpihakan terhadap dunia usaha. Undang-Undang (UU) No 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No 34 tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRI) memberikan kewenangan yang besar kepada PEMDA untuk menerbitkan peraturan di daerah yang dapat digunakan untuk mendorong dan menciptakan insentif atau sebaliknya, menjadi penghambat bagi perkembangan dunia usaha. Implikasinya adalah banyaknya persoalan yang muncul akibat keinginan PEMDA yang terlalu besar untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang memberatkan pelaku usaha dan masyarakat luas.

Secara umum, mayoritas responden menyatakan tidak setuju dengan pernyataan bahwa Pemerintah daerah telah mampu mengatur segala hal yang berhubungan dengan iklim berusaha di Provinsi Bengkulu

Gambar 24. Opini investor tentang Peraturan Daerah.

Gambar 24 memperlihatkan mayoritas responden menyatakan tidak setuju jika dinyatakan bahwa Pemerintah Daerah telah mampu menciptakan iklim usaha yang kondusif, telah mampu konsisten pada pelaksanaan aturan. Banyak kendala yang dihadapi oleh para responden sehubungan dengan Peraturan Daerah (Tabel 16). Peraturan daerah yang ada belum mampu memberikan batasan yang jelas bagi para pengusaha.

Pengusaha seringkali mengeluhkan peraturan daerah yang kerapkali berubah sesuai dengan keinginan Pejabat Daerah. Bahkan dibeberapa kabupaten keputusan untuk menerima investor mutlak ditentukan oleh Kepala Daerah tanpa didukung oleh Prosedur yang jelas. Ketidakjelasan aturan adalah sepertinya secara sengaja dipertahankan dibeberapa kabupaten.

Indikator yang dipergunakan dalam menilai peraturan daerah (PERDA) adalah kemampuan PERDA mendukung usaha, mampu direvisi sesuai dengan kondisi yang ada, menyebutkan tata aturan di bidang usaha secara jelas, jelas menyatakan biaya usaha, berlaku umum, jelas menyatakan batasan pelanggaran, konsisten. Opini mayoritas responden menyatakan sangat tidak setuju dengan pernyataan Peraturan Daerah yang ada telah mendukung usaha, konsisten dan transparan dalam pelaksanaannya.