5.2. Mikroekonomi Lingkungan Usaha
5.2.1 Input Kondisi
Pasokan bahan baku untuk produksi furniture dan komponen bahan bangunan di Kota Palangka Raya cukup stabil. Jumlah kebutuhan industri ini diperkirakan sebesar 12.000 m3/tahun (Lampiran 7). Bahan baku dapat didatangkan setiap saat ke gudang produksi dari para pedagang kayu di sekitarnya atau dari pusat penggergajian kayu Palangka Raya. Kadangkala kayu justru ditawarkan dan diantarkan oleh para penebang kayu di hutan atau oknum aparat keamanan. Sumber kayu sebagai bahan baku juga dapat diperoleh dari lelang yang dilakukan Dishutbun Kota Palangka Raya. Aliran peredaran kayu di Kota Palangka Raya disajikan pada Gambar 8.
Keterangan:
Gambar 8 Aliran peredaran kayu di Kota Palangka Raya
IPHHK penggergajian kayu legal Penumpuk/ galangan kayu Pembangunan fasilitas umum, gedung-gedung, perumahan dll Kebutuhan rumah tangga Oknum aparat Pengrajin meubel, kusen, komponen bangunan Penggergajian kayu illegal Penebang pohon di hutan IUPHHK di Kab. tetangga
Aliran kayu legal Aliran kayu illegal Penggergajian kayu di kabupaten
lain Lelang Dishutbun
Kayu bulat dan kayu gergajian yang dilelang di Kota Palangka Raya berasal dari hasil operasi yang dilakukan oleh Tim Gabungan Kepolisian, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, dan TNI atu hasil operasi Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC). Lelang kayu bulat hasil operasi diikuti oleh industri penggergajian kayu, sementara lelang kayu gergajian diikuti oleh para penumpuk kayu resmi yang terdaftar, para pengusaha meubel, atau developer fasilitas umum, gedung-gedung dan perumahan. Jumlah hasil operasi dan realisasi lelang yang dilakukan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Palangka Raya pada tahun 2005 dan 2006 disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9 Hasil operasi dan lelang kayu di Kota Palangka Raya tahun 2005 dan 2006
Hasil Operasi Hasil Lelang
Kayu Bulat Kayu Gergajian Kayu Bulat Kayu Gergajian Tahun
Ptg m3 Ptg m3 Ptg m3 x Rp.1000 Ptg m3 x Rp.1000 2006 794 230,91 8.812 229,33 260 268,94 134.700 21.083 112,06 65.910 2005 443 207,90 7.131 68,93 - - - 12.085 164,42 42.650 Sumber: Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng (2007).
Jumlah bahan baku yang berasal dari IUPHHK sulit dihitung karena ketiadaan dan kesimpangsiuran data dari instansi resmi pemerintah. Berdasarkan informasi dari Dinas Kehutanan Kalteng sampai akhir tahun 2006 tidak terdapat Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) baik hutan alam maupun hutan tanaman di Palangka Raya. Dengan demikian sumber bahan baku industri penggergajian kayu berupa kayu bulat harus didatangkan dari kabupaten lain. Namun, berdasarkan Bukti Penyampaian RPBBI IPHHK yang dikeluarkan Dishutbun Kota Palangka Raya pada tangal 15 Januari 2008, seluruh IPHHK di Palangka Raya memperoleh bahan baku berupa kayu bulat besar hutan dalam dari kontrak suplai dengan Kopermas Subur Makmur (Lampiran 8). Satu-satunya IPHHK yang memperoleh bahan baku dari sumber yang berbeda adalah IPKKH Sumber Usaha yang memperoleh kayu bulat dari PT. Sari Ramin Sunjaya.
Menurut informasi Kasubdin Kehutanan Dishutbun Kota Palangka Raya pada bulan Juli 2008, pemenuhan bahan baku kayu bulat industri penggergajian kayu di Kota Palangka berasal dari kontrak dengan PT. Hasil Kalimantan Jaya. Informasi tersebut juga menyatakan bahwa RPBI IUPHHK yang dikeluarkan tanggal 15 Januari 2008 akan direvisi. Jika pernyataan ini dapat dijadikan
rujukan, maka PT. Hasil Kalimantan Jaya harus menyediakan kayu sebanyak 7.700 m3. Realisasi kontrak ini akan sulit dicapai mengingat kontrak baru dibuat pada semester kedua tahun berjalan. Berdasarkan data Dishut Kalteng, pada tahun 2006 PT Hasil Kalimantan Jaya menghasilkan kayu sebanyak 10.500 m3 dengan perincian kayu meranti sebanyak 9.435 m3 dan rimba campuran sebanyak 1.065 m3 dengan porsi pemasaran di daerah Kalimantan Tengah sebanyak 7.412 m3. Di sisi lain, jenis kayu yang banyak dijual oleh penumpuk/galangan kayu adalah kayu rimba campuran, padahal sumber resmi kayu tersebut berasal dari IUPHHK.
Kenyataan di atas menunjukkan adanya problem legalitas pada sebagian besar kayu yang beredar di Kota Palangka Raya. Hal ini diperkuat dengan informasi dari pemilik galangan kayu yang menyatakan bahwa kayu legal yang beredar di IUPHHK penggergajian kayu dan galangan kayu hanya dijadikan stok. Stok tersebut tidak dijual sebelum datang stok kayu yang baru dan berfungsi sebagai ”kayu pengaman” pada saat operasi penertiban yang dilakukan oleh aparat. Jumlah kayu bulat illegal yang beredar di Palangka Raya diperkirakan sekitar 46-50% (Lampiran 9).
Maraknya kayu ilegal yang beredar di penggergajian kayu dan penumpuk/galangan kayu semakin mendapatkan angin segar karena pengguna akhir kayu tersebut, yaitu para pengrajin furniture, kusen dan komponen bangunan; developer fasilitas umum, gedung-gedung dan perumahan serta rumah tangga tidak mempermasalahkan legalitas kayu yang mereka beli. Pembeli lebih menyukai kayu yang ilegal karena harganya yang lebih murah. Perbandingan harga antara kayu legal dan ilegal yang beredar di Kota Palangka Raya disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10 Perbandingan harga beberapa jenis kayu legal dan illegal di galangan kayu di Kota Palangka Raya
Harga/m3 (Rp.) Kayu bulat Spesifikasi
Kayu legal Kayu ilegal
Meranti 2x20x4m 3.000.000 2.600.000 Keruing - 3.000.000 2.600.000 Benuas - 3.500.000 3.000.000 Ulin - 6.000.000 4.500.000 Alau 2x102x20 m 4.500.000 2.800.000 Kapur Naga - 3.000.000 2.600.000
5.2.1.2 Kondisi Sumberdaya Manusia
Pemilik sekaligus pimpinan unit-unit usaha furniture di klaster Palangka Raya umumnya adalah alumni SMK Teknik Pertukangan Mandomai Kabupaten Kapuas. Bahkan ada diantara pemilik tersebut ada yang masih berstatus sebagai staff pengajar di SMK Mandomai. Banyaknya alumni SMK Mandomai yang menjadi pemilik sekaligus pimpinan perusahaan karena pada umumnya mereka bukan penduduk asli Kota Palangka Raya dan tidak memiliki tempat usaha sendiri. Sebelum pindah ke dalam sentra furniture, para pengusaha tersebut bekerja sebagai karyawan di IKM furniture. Sebagian pengusaha ada pula yang membuat usaha sendiri dengan menyewa tempat di jalan-jalan utama Kota Palangka Raya. Ketika Pemko menawarkan tempat usaha yang baru dengan berbagai insentifnya para pengusaha ini mengambil kesempatan mengembangkan usaha di sana.
Para pengusaha ini kemudian merekrut tenaga kerja dengan jumlah, tingkat pendidikan, keahlian dan pengalaman yang berbeda-beda, tergantung dari kebutuhan masing-masing unit usaha. Berdasarkan informasi dari pengurus Koperasi Palangka Sejahtera, sampai bulan April 2008 jumlah tenaga kerja di sentra tersebut mencapai 120 orang. Sebagian pemilik perusahaan merekrut para karyawannya dengan status pekerja tetap dan sebagian lainnya dengan status tidak tetap. Para pekerja tetap mendapatkan gaji bulanan dan fasilitas/bonus lainnya sesuai kontrak yang disepakati. Banyak atau sedikitnya pekerjaan yang diperoleh perusahaan tidak mempengaruhi jumlah gaji karyawan tetap yang harus dibayarkan oleh perusahaan. Gaji untuk karyawan tetap termasuk pengeluaran tetap dalam struktur biaya perusahaan. Jumlah karyawan tetap berkisar antara 0-5 orang per perusahaan. Sebagian besar karyawan tetap ini adalah alumni SMK Teknik Pertukangan Mandomai Kabupaten Kapuas. Menurut para pimpinan perusahaan, para karyawan ini cukup memiliki keahlian dan mampu mengerjakan seluruh proses produksi dengan baik. Berdasarkan hasil studi banding ke industri furniture di Jawa Tengah dan Yogyakarta, mereka berkesimpulan bahwa keahlian karyawan cukup baik.
Karyawan tidak tetap yang bekerja di IKM furniture diantaranya adalah alumni SMK Mandomai yang sedang kuliah di Fakultas Teknik Unpar. Ada pula
yang berasal dari warga sekitar sentra. Karyawan tidak tetap diupah berdasarkan pekerjaan yang dilakukan. Besarnya upah yang diberikan untuk setiap pembuatan 1 buah pintu adalah: upah tukang sebesar Rp. 50.000,00; mengecat sebesar Rp. 30.000,00; dan mengampelas sebesar Rp. 3.000,00. Para pengusaha furniture tidak memberikan pelatihan/pendidikan khusus kepada karyawan tidak tetap untuk meningkatkan keahlian mereka. Para karyawan yang dinilai kurang memiliki keahlian dibimbing oleh karyawan yang lain sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas yang baik.
Kondisi sumberdaya manusia IKM yang berada di luar sentra tidak jauh berbeda dengan IKM yang berada di dalam sentra. Berdasarkan data Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Palangka Raya, pada tahun 2006 terdapat 148 unit IKM furniture dengan total tenaga kerja sebanyak 562 orang. Sebanyak 116 orang (76%) dari pemiliknya berpendidikan maksimal setara SMA, 18 orang (12%) berpendidikan sarjana dan 14 orang (9%) berpendidikan di bawah SMA.
5.2.1.3 Permodalan
Modal memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan kerja suatu unit usaha. Modal awal yang telah diinvestasikan oleh para pengusaha berkisar 15-35 juta rupiah. Modal tersebut terutama digunakan untuk membeli peralatan kerja, membangun kantor/tempat tinggal dan memasang jaringan/instalasi listrik. Saat ini para pengusaha furniture sesungguhnya memerlukan modal kerja untuk meningkatkan usaha mereka. Modal tambahan ini akan digunakan untuk membeli stok bahan baku dan menambah mesin-mesin dan peralatan produksi. Para pengusaha mengaku bahwa modal tambahan minimal yang mereka perlukan adalah berkisar antara 50-100 juta rupiah. Rendahnya bantuan modal yang dipinjamkan tidak akan memberi dampak yang cukup berarti dalam pengembangan usaha. Bahkan modal yang terlalu sedikit justru akan menimbulkan permasalahan bagi mereka.
Perjanjian antara Pemko dengan PT. BPK dan PT Askrindo untuk membantu penyaluran kredit bagi UKM tidak cukup membantu IKM furniture yang memerlukan modal usaha yang besar. Sementara sumber modal dari bank pemerintah dengan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) belum membuahkan hasil.
Menurut para pengusaha alasan utama penolakan pihak perbankan terhadap permohonan kredit yang mereka ajukan adalah tidak adanya jaminan kelangsungan usaha furniture karena produksi furniture sangat dipengaruhi oleh pesanan (by order). Selain itu, untuk pinjaman di atas 100 juta rupiah pihak perbankan mensyaratkan adanya jaminan/agunan. Disisi lain para pengusaha tidak dapat memberikan bukti kemampuan mereka mengembalikan kredit dengan menunjukan laporan keuangan atau bukti transasksi perbankan.
5.2.1.4 Mesin dan Peralatan Produksi
Kemampuan produksi IKM furniture di sentra furniture Palangka Raya semakin membaik dengan adanya bantuan mesin/peralatan kayu dari Departemen Perindustrian. Bantuan itu merupakan realisasi atas permintaan bantuan yang diajukan oleh Pemko Palangka Raya dan telah diserahterimakan pada bulan Mei 2007. Pengelolaan dan pemberdayaan alat-alat tersebut diserahkan kepada UPT Kayu yang berkoordinasi dengan Koperasi Palangka Sejahtera milik para pengusaha furniture. Para pengusaha dan masyarakat umum dapat memanfaatkan jasa di UPT Kayu dengan biaya yang cukup murah. Sebelum adanya mesin/peralatan tersebut para pengusaha mengaku mengalami kesulitan untuk membentuk desain tertentu karena tidak semua pengusaha memiliki mesin-mesin pengolahan kayu, terutama yang berharga cukup mahal. Mesin-mesin itu kebanyakan dibeli di Banjarmasin dan rata-rata berusia di atas 3 tahun. Untuk mengatasi kesulitan peralatan tidak jarang para pengusaha dalam klaster saling meminjamkan mesin kepada anggota lain yang membutuhkan.
Kini sebagian kesulitan itu sudah dapat diatasi. Sayangnya, belum semua mesin tersebut dipasang mengingat masih belum rampungnya pembangunan seluruh UPT Kayu dan keterbatasan pasokan listrik. Daftar bantuan mesin/peralatan Departemen Perindustrian untuk UPT Kayu di klaster furniture Palangka Raya pada Lampiran 11.
5.2.1.5 Fasilitas Penelitian dan Pengembangan
IKM-IKM furniture di Palangka Raya belum pernah melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) ataupun berinteraksi dengan lembaga litbang. Kemampuan teknik produksi, desain dan pemasaran diperoleh
berdasarkan pendidikan formal dan non-formal yang pernah diikuti oleh karyawannya. Keberadaan Universitas Palangka Raya (Unpar) sebagai perguruan tinggi yang terdekat belum menyentuh pada aspek teknis yang berkaitan langsung dengan kegiatan produksi. Staf Unpar yang diundang oleh Pemko untuk terlibat dalam pengembangan klaster ini berasal dari Fakultas Ekonomi, bukan dari Fakultas Teknik atau Fakultas Kehutanan. Peran staf tersebut adalah sebagai pendamping dalam perumusan kebijakan yang dibuat oleh Pemko.
Satu-satunya fasilitasi Pemko untuk meningkatkan mutu furniture adalah introduksi desain furniture oleh desainer yang didatangkan dari Jakarta. Batuan fasilitasi desainer itu merupakan salah satu implementasi nota kesepakatan dengan Direktur Jendral Industri Kecil Dan Menengah Departemen Perindustrian Dengan Deputi Bidang Pengembangan Dan Restrukturisasi Usaha Kementerian Negara Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah pada tahun 2006. Fasilitasi itu dilaksanakan selama 2 bulan pada medio tahun 2007. Selebihnya, beberapa perwakilan anggota IKM furniture diundang oleh Departemen Perindustrian atau Departemen KUKM pada pelatihan/training mengenai manejemen usaha, motivasi dan tinjauan ke beberapa sentra furniture di pulau Jawa.