BAB III METODOLOGI PENELITIAN
F. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah instrumen tes kemampuan berpikir kreatif matematis siswa berbentuk uraian. Tes uraian disusun berdasarkan konsep tes berpikir kreatif matematis yang memenuhi indikator berpikir lancar (fluency) yaitu kemampuan memberikan beragam jawaban yang lengkap dan benar, berpikir fleksibel (flexibility) yaitu kemampuan memberikan cara penyelesaian yang berbeda-beda dan logis untuk penyelesaian masalah, dan
37
berpikir kebaruan (novelty) yaitu kemampuan memberikan jawaban yang unik (gabungan atau kombinasi dari unsur-unsur yang telah ada).
Pedoman penskoran tes kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang digunakan pada penelitian ini adalah hasil modifikasi dari Bosch dan Lee, Kang Sup, Hwang Dong-jou, serta Seo Jong Jin dengan penjelasan sebagai berikut.
Tabel 3.2
Pedoman Penskoran Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Materi Bangun Ruang Sisi Datar
Aspek yang Diukur
Respon Siswa terhadap Soal atau Masalah Skor Berpikir
Lancar
(Fluency)
Tidak menjawab atau memberikan jawaban yang tidak relevan.
0 Memberikan sebuah jawaban yang relevan tetapi salah. 1 Memberikan sebuah jawaban yang relevan dan benar. 2 Memberikan lebih dari satu jawaban namun tidak beragam. 3 Memberikan lebih dari satu jawaban beragam. 4 Berpikir
Fleksibel (Flexibility)
Tidak menjawab atau memberikan satu/lebih cara tetapi semua salah.
0 Memberikan penyelesaian dengan satu cara tetapi masih terdapat kesalahan sehingga jawaban salah.
1 Memberikan penyelesaian dengan satu cara dan jawaban benar.
2 Memberikan penyelesaian dengan lebih dari satu cara tetapi masih terdapat kesalahan dalam proses perhitungan sehingga jawaban salah.
3
Memberikan penyelesaian dengan lebih dari satu cara dan jawaban benar.
4 Berpikir
Kebaruan (Novelty)
Tidak menjawab atau memberikan jawaban yang salah. 0
Membuat sebuah bangun ruang. 1
Membuat bangun ruang dengan menggunakan lebih dari satu bangun ruang yang sejenis.
2 Membuat bangun ruang dengan menggunakan lebih dari satu bangun ruang yang berbeda.
3
Instrumen penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan sampel prilaku dan menghasilkan nilai yang objektif serta akurat. Oleh sebab itu, tes yang digunakan harus memiliki kualitas yang baik.
Selain disusun sesuai prinsip dan prosedur penyusunan tes, untuk mendapatkan tes berkualitas baik maka perlu dilakukan analisis kualitas tes meliputi aspek validitas, reliabilitas, dan efektivitas butir-butir pertanyaan. Untuk mengetahui efektivitas butir-butir pertanyaan, maka dilakukan analisis tingkat kesukaran soal dan daya pembeda pada setiap butir soal.
1. Validitas
Menurut Zainal, “jika suatu tes dapat memberikan informasi yang sesuai dan dapat digunakan untuk mencapai tujuan tertentu, maka tes itu valid untuk tujuan tersebut”.5 Dengan kata lain validitas digunakan untuk mengetahui apakah instrumen dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Dalam penelitian ini dilakukan validitas isi dan validitas empiris.
Uji validitas isi dengan metode Content Validity Ratio (CVR) yaitu sebagai berikut:6
CVR = Keterangan :
CVR = Konten Validitas Rasio (Content Validity Ratio) Ne = Jumlah penilai/pakar yang menyatakan soal esensial N = Jumlah penilai/pakar
Validitas isi dengan metode CVR dilakukan pada tiap butir soal. Jika nilai CVR pada butir soal lebih besar dari nilai minimum yang disajikan Lawshe (lihat pada lampiran), maka butir soal tersebut esensial artinya dapat digunakan dan sebaliknya jika nilai CVR lebih kecil dari nilai minimum maka butir soal tersebut tidak dapat digunakan.
Peneliti melakukan pengujian validitas isi instrumen tes kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yaitu dengan memberikan form uji validitas isi dengan metode CVR ini kepada 6 orang guru matematika di SMP N 3 Tangerang Selatan.
5
Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), h. 247.
6
C.H Lawshe, A Quantitative Approach To Content Validity, (Purdue University: Personnel Psychology, 1975), p.567.
39
Terdapat delapan butir soal yang diuji dengan metode CVR dan keenam guru mengatakan bahwa kedelapan soal instrumen adalah esensial. Sehingga nilai CVR lebih besar dari nilai minimum yang disajikan Lawshe (lampiran 10) atau 1 > 0,99. Dengan demikian kedelapan soal tersebut esensial artinya dapat digunakan sebagai instrumen pada uji coba instrumen tes kemampuan berpikir kreatif. Berikut disajikan tabel rekapitulasi hasil uji CVR.
Tabel 3.3 Hasil Uji CVR No Soal Kategori CVR Keterangan Esensial Tidak Esensial Tidak Relevan 1 6 - - 1 Esensial/ Pakai 2 6 - - 1 Esensial/ Pakai 3 6 - - 1 Esensial/ Pakai 4 6 - - 1 Esensial/ Pakai 5 6 - - 1 Esensial/ Pakai 6 6 - - 1 Esensial/ Pakai 7 6 - - 1 Esensial/ Pakai 8 6 - - 1 Esensial/ Pakai
Sementara, komentar penilai digunakan sebagai acuan dalam perbaikan instrumen tes penelitian. Instrumen tersebut tetap digunakan (esensial) dengan ketentuan dilakukan perbaikan sesuai dengan saran yang diberikan. Perbaikan yang dilakukan diantaranya:
a. Perbaikan redaksi soal.
b. Perbaikan gambar agar nampak lebih jelas bahwa benda tersebut adalah gambar bangun ruang.
Setelah dilakukan uji validitas isi dengan menggunakan metode CVR kemudian instrumen diujicobakan kepada 40 siswa kelas IX di sekolah penelitian. Data hasil uji coba instrumen diuji validitas empirisnya dengan menggunakan rumus korelasi product moment dengan formulasi sebagai berikut:7
∑ ∑ ∑
√ ∑ ∑ ∑ ∑
7
Keterangan:
= Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y N = Jumlah siswa
X = Skor butir soal Y = Skor total
Untuk mengetahui valid atau tidaknya butir soal, maka harus mengetahui hasil perhitungan dibandingkan product moment pada taraf signifikan sebesar 5%. Jika hasil perhitungan maka soal tersebut valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif matematis siswa. Jika hasil penelitian maka soal tersebut dinyatakan tidak valid (drop) berarti soal tersebut tidak diikutsertakan sebagai instrumen tes kemampuan berpikir kreatif matematis.
Dari hasil analisa data uji coba tes dapat disimpulkan bahwa terdapat 6 soal yang dinyatakan valid, dan 2 soal yang tidak valid.
2. Reliabilitas
Menurut Zainal, “Reliabilitas adalah tingkat suatu derajat konsistensi dari suatu instrumen. Reliabilitas tes berkenaan dengan pertanyaan, apakah suatu tes teliti dan dapat dipercaya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Suatu tes dapat dikatakan reliabel jika selalu memberikan hasil yang sama bila diteskan pada waktu dan kesempatan yang berbeda”.8 Adapun rumus yang digunakan untuk menguji reliabilitas pada penelitian ini adalah Cronbach’s
Alpha atau koefisien Alpha adalah:9
[ ] [ ∑ ]
Keterangan :
= Koefisien reliabilitas R = Jumlah butir soal
= Varians skor total
8
Ibid., h. 258.
9
41
= Varians skor butir soal N = Jumlah siswa
∑ = Jumlah skor jawaban responden untuk butir pertanyaan ke-i Kriteria koefisien reliabilitas menurut J.P Guilford (1956: 145) adalah sebagai berikut:10
< 0,20 Derajat reliabilitas sangat rendah 0,20 ≤ < 0,40 Derajat reliabilitas rendah 0,40 ≤ < 0,70 Derajat reliabilitas sedang 0,70 ≤ < 0,90 Derajat reliabilitas tinggi 0,90 ≤ ≤ 1,00 Derajat reliabilitas sangat tinggi
Reliabilitas instrumen pada penelitian ini adalah 0,65 dan dikategorikan memiliki derajat reliabilitas sedang. Artinya, instrumen memiliki kekonsistenan yang cukup baik dalam mengukur kemampuan berpikir kreatif matematis siswa.
3. Tingkat Kesukaran Soal
Tingkat kesukaran (p) dihitung berdasarkan proporsi jawaban benar peserta uji. Formulasinya adalah:11
∑
Keterangan:
p : tingkat kesukaran
∑ : jumlah skor
N : jumlah skor maksimum
Berikut merupakan kriteria untuk menentukan predikat tiap butir soal.12 Tabel 3.4
Kriteria Butir Soal ITK Predikat soal < 0,30 Sulit
0,31 - 0,70 Sedang > 0,70 Mudah
10
Erman Suherman, Evaluasi Pembelajaran Matematika, (Bandung: JICA UPI, 2003), h. 139.
11
Zainal Arifin, op.cit., h. 272.
12
Dari hasil analisa data uji coba tes dapat disimpulkan tingkat kesukaran perbutir soal dan dapat dikategorikan 1 soal sulit dan 5 soal sedang.
4. Daya Pembeda (Discriminating Power)
Perhitungan daya pembeda adalah pengukuran sejauh mana suatu butir soal mampu membedakan peserta didik yang sudah menguasai kompetensi dengan peserta didik yang belum/kurang menguasai kompetensi berdasarkan kriteria tertentu. Semakin tinggi koefisien daya pembeda suatu butir soal, semakin mampu butir soal tersebut membedakan antara peserta didik yang menguasai kompetensi dengan peserta didik yang kurang menguasai kompetensi. Untuk menghitung daya pembeda setiap butir soal dapat digunakan rumus sebagai berikut:13
Keterangan :
D = Indeks daya beda
= Jumlah skor siswa kelompok atas = Jumlah skor siswa kelompok bawah = Skor maksimum siswa kelompok atas = Skor maksimum siswa kelompok bawah
Kriteria yang digunakan untuk menentukan daya pembeda adalah sebagai berikut:14
D : 0,00 – 0,20 = Jelek (Poor)
D : 0,21 – 0,40 = Cukup (Statisfactory) D : 0,41 – 0,70 = Baik (Good)
D : 0,71 – 1,00 = Baik Sekali (Excellent)
D : negatif, semuanya tidak baik, jadi semua soal yang mempunyai nilai D negatif sebaiknya dibuang saja.
13
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010) , h.
213.
14
43
Dari hasil analisa data uji coba tes dapat disimpulkan pada aspek daya pembeda terdapat 4 soal yang kriterianya cukup dan 2 soal yang kriterianya baik.
Berikut ini disajikan tabel rekapitulasi validitas, tingkat kesukaran soal, daya pembeda, dan reliabilitas uji coba instrumen.
Tabel 3.5
Rekapitulasi Analisis Kualifikasi Instrumen Tes No.
Butir Soal
Validitas Tingkat
Kesukaran Daya Pembeda KET Reliabilitas Nilai Kriteria Nilai Kriteria Nilai Kriteria Nilai Kriteria
1 0.427 Valid 0.442 Sedang 0.217 Cukup Pakai
=
0.65 Baik 2 0.596 Valid 0.6 Sedang 0.275 Cukup Pakai
3 0.563 Valid 0.419 Sedang 0.313 Cukup Pakai 4 0.540 Valid 0.331 Sulit 0.263 Cukup Pakai 5 0.212 Tidak
Valid - - - - Buang 6 0.627 Valid 0.594 Sedang 0.413 Baik Pakai 7 0.670 Valid 0.475 Sedang 0.450 Baik Pakai 8 0.195 Tidak
Valid - - - - Buang
Berdasarkan Tabel 3.5, terdapat 6 butir soal yang valid yang dapat digunakan sebagai instrumen tes kemampuan berpikir kreatif matematis. Keenam soal tersebut terdiri dari satu soal yang termasuk dalam kriteria sulit sementara lima soal yang lainnya termasuk dalam kriteria sedang. Ditinjau dari daya pembeda soal, terdapat dua soal dalam kriteria soal yang memiliki daya pembeda baik sementara empat soal yang lainnya memiliki daya pembeda cukup. Secara keseluruhan, instrumen tes ini memiliki derajat reliabilitas 0,65 termasuk dalam kriteria sedang. Instrumen tes kemampuan berpikir kreatif matematis dapat dilihat pada lampiran 18.