BAB III METODOLOGI PENELITIAN
E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi yang bermanfaat untuk menjawab permasalahan penelitian. Instrumen sebagai alat pada waktu penelitian yang menggunakan suatau metode.
1. Peneliti atau penyusun dalam proposal
2. Bahan yang dijadikan landasan dalam sesi wawancara
2Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif, h. 111
41
3. Alat Perekam, Alat Pengambil Gambar atau Handphone 4. Alat Tulis Menulis yang dibutuhkan
5. Narasumber
F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data 1. Teknik Pengolahan Data
a. Klarifikasi data ( memilah-milih data )
Klarifikasi merupakan suatu kata serapan yang berasal dari bahasa belanda, yaitu Classificae, yang dimana pula berasal dari bahasa prancis Classification. Yang berarti bahwa istilah ini menunjukkan bahwa ada sebuah metode dalam penyusunan data secara sistematis atau bsia juga disebut menurut dengan adanya beberapa aturan atau kaidah yang telah diterapkan.
b. Reduksi data ( Mengurai data )
Dalam tahapan ini penyusun lebih menyederahanakan atau mengabstrakkan data yang didapat dilapangan. Biasanya disebut sebagai data kasar yang baru saja diperoleh dari observasi langsung lapangan. Dimana mengurangi data yang dimaksud adalah mengambil yang menjadi poin penting atau sari dari hasil penelitian itu sendiri
c. Editing data ( mengedit data yang salah )
Merupakan tahap dimana penyusun atau peneliti mengecek data dan mengedit jika ada datang yang salah atau tidak sesuai dengan hasil observasi lapangan yang telah dilakukan. Ditahap ini dikatakan merupakan tahap penyempurnaan yang dilakukan oleh penyusun sesuai dengan tolak ukur penyusun sendiri berdasarkan pengetahuannya dan apa yang telah dilaksanakan di lapangan.
2. Tekhnik Analisis data
Analisis data yang digunakan adalah analisis secara kualitatif terhadap data yang dikumpulkan yaitu baik primer dan sekunder. Yang dimana adanya tahap menganalisa data untuk menentukan isi yang kemudian disatukan dalam suatu penyusunan dengan literatur yang sejalan dengan penelitian itu sendiri.
Analisis data adalah proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan dan tema pada hipotesis sesuai dengan judul yang diangkat dalam proposal.3
G. Uji Keabsahan Data
Kualitas data dan ketepatan metode yang digunakan dalam penelitian sangat penting. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan pendekatan filosofis dan metodologis terhadap penelitian sosial. Keabsahan data penelitian kualitatif dilakukan melalui empat uji, yaitu credibility (validitas internal), transferbility (validitas eksternal), dependability (reliabilitas), dan confirmability (objektivitas).
Adapun penelitian ini hanya menggunakan dua uji yang paling sesuai, yaitu credibility dan dependability. Alasan digunakannya empat uji ini adalah untuk menjamin kualitas data yang ditemukan di lapangan.
1. Uji Kredibilitas
Uji kredibiltas data atau kepercayaan terhadap data atau penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan cara perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, dan member check.4
3 Bogdan dan Taylor.Pengertian Analisis Data Menurut Para Ahli.1975
4 Devi Sospita, Metode Penelitian,ospita88.blogspot.com, Diakses: Tanggal 24 Agustus 2020
43
Data yang valid dapat Triangulasi Ini merupakan teknik yang mencari pertemuan pada satu titik tengah informasi dari data yang terkumpul guna pengecekan dan pembanding terhadap data yang telah ada.
a. Triangulasi Sumber data, yaitu menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Data yang diperoleh kemudian dideskripsikan dan dikategorisasikan sesuai dengan apa yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut. Peneliti akan melakukan pemilahan data yangsama dan data yang berbeda untuk dianalisis lebih lanjut.
b. Triangulasi metode, yaitu menggali kebenaran informasi tertentu melalui berbagai metode dan sumber perolehan data. Misalnya, selain melalui sumber data utama yaitu annual report, peneliti bisa menggunakan sumber data pendukung lainnya seperti berita-berita terkait aktivitas Pelaporan Keuangan di berbagai media. Tentu masing-masing cara itu akan menghasilkan bukti atau data yang berbeda, yang selanjutnya akan memberikan pandangan (insights) yang berbeda pula mengenai fenomena yang diteliti. Berbagai pandangan itu akan melahirkan keluasan pengetahuan untuk memperoleh kebenaran handal.
2. Uji Dependabilitas
Uji realibilitas penelitian kualitatif dikenal dengan uji dependabilitas. Uji ini merupakan ujian atau pertimbangan keilmiahan suatu penelitian kualitatif.
Pertanyaan mendasar berdasarkan isu realibilitas adalah terkait konsistensi hasil temuan ketika dilakukan oleh peneliti yang berbeda dan dalam kurun waktu yang berbeda pula, tetapi dilakukan dengan metode dan interview script yang sama (Afiyanti, 2008).
Dependabilitas yang tinggi dapat dicapai dengan melakukan tindakan terstruktur yang memungkinkan peneliti lain menemukan hasil yang sama terhadap penelitian serupa. Adapun uji dependabilitas yang digunakan adalah uji
konsistensi, yang dapat diukur dengan melihat apakah interview scripts yang digunakan peneliti dapat menghasilkan jawaban/hasil yang sesuai dengan topik atau pertanyaan yang diberikan.
45 BAB IV
KONTRIBUSI E-COURT TERHADAP PENYELESAIAN PERKARA DI PENGADILAN AGAMA KELAS IA MAKASSAR A. Gambaran Umum Pengadilan Agama Kelas IA Makassar
1. Sejarah Pengadilan Agama Kelas IA Makassar
Peradilan Agama adalah kekuasan negara dalam menerima, memeriksa, mengadili, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara perkawinan, kewarisan, wasiat, hibah, wakaf, shodaqah, dan Ekonomi Syariah diantara orang-orang islam untuk menegakkan hukum dan keadilan.
Penyelenggaraan Peradilan Agama dilaksanakan oleh Pengadilan Agama pada Tingkat pertama dan Pengadilan Tinggi Agama pada Tingkat Banding. Sedangkan pada tingkat kasasi dilaksanakan oleh Mahkamah Agung. Sebagai pengadilan negara tertinggi.
Pengadilan Agama merupakan salah satu lingkungan peradilan yang diakui eksistensinya dalam Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 1970 tentang pokok- pokok kekuasan kehakiman dan yang terakhir telah diganti dengan Undang- Undang RI Nomor 4 Tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman, merupakan lembaga peradilan khusus yang ditunjukan kepada umat islam dengan lingkup kewenangan yang khusus pula, baik perkaranya ataupun para pencari keadilannya (justiciabel). Disamping Peradilan Agama ada juga Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara yang termasuk peradilan khusus.
Undang-Undang RI Nomor 7 ini disahkan dan diundangkan tanggal 29 Desember Tahun 1989 ditempatkan dalam lembaran Negara RI nomor 49 tahun 1989 dan tambahan dalam lembaran negara nomor 3400.
Isi dari Undang-Undang RI Nomor 7 tahun 1989 terdiri atas tujuh bab, meliputi 108 pasal. Ketujuh Bab tersebut adalah ketentuan umum, susunan pengadilan, kekuasaan pengadilan, hukum acara, ketentuan-ketentuan lain, ketentuan peralihan dan ketentuan penutup.
a. Sebelum PP. No. 45 Tahun 1957
Sejarah keberadaan Pengadilan Agama Makassar tidak diawali dengan Peraturan Pemerintah (PP. No. 45 Tahun 1957), akan tetapi sejak zaman dahulu, sejak zaman kerajaan atau sejak zaman Penjajahan Belanda, namun pada waktu itu bukanlah seperti sekarang ini adanya.
Dahulu Kewenangan Seorang Raja untuk mengankat seorang pengadil disebut sebagai Hakim, akan tetapi setelah masuknya Syariah islam, Maka Raja kembali mengangkat seorang Qadhi.
Kewenangan Hakim diminimalisir dan diserahkan kepada Qadhi atau hal- hal yang menyangkut perkara Syariah agama Islam. Wewenang Qadhi ketika itu termasuk Cakkara atau Pembagian harta gono-gini karena cakkara berkaitan dengan perkara nikah.
Pada zaman penjajahan Belanda, sudah terbagi yuridiksi Qadhi, yakni Makassar, Gowa dan lain-lain. Qadhi Pertama di Makassar adalah Maknun Dg. Manranoka, bertempat tinggal dikampung laras, Qadhi lain yang dikenal ialah K.H. Abd. Haq dan Ince Moh. Sholeh, dan Ince
47
Moh. Sholeh adalah Qadhi terakhir, jabatan Ince Moh. Sholeh disebut Acting Qadhi. Qadhi dahulu berwenang dan berhak mengangkat sendiri para pembantu-pembantunya guna menunjang kelancaran pelaksanaan fungsi dan tugasnya, dan pada zaman pemerintahan Belanda saat itu dipimpin oleh Hamnete.1
Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah Makassar terbentuk pada tahun 1960, yang meliputi wilayah Maros, Takalar dan Gowa, karena pada waktu itu belum ada dan belum dibentuk di ketiga daerah tersebut, jadi masih disatukan dengan wilayah Makassar.
Sebelum terbentuknya Mahkamah Syariah yang kemudian berkembang menjadi Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah, maka dahulu yang mengerjakan kewenangan Pengadilan Agama adalah Qadhi yang pada saat itu berkantor dirumah tinggalnya sendiri. Pada masa itu ada dua kerajaan yang berkuasa di Makassar yaitu kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo dan dahulu Qadhi diberi gelar Daengta Syeh kemudian gelar itu berganti menjadi Daengta Kalia.
b. Sesudah PP. No. 45 Tahun 1957
Setelah keluarnya PP. No. 45 Tahun 1957, maka pada tahun 1960 terbentuklah Pengadilan Agama Makassar yang waktu itu disebut
“Pengadilan Mahkamah Syariah” adapun wilayah Yurisdiksinya dan keadaan gedungnya seperti diuraikan pada penjelasan berikut:
11 Profil Pengadilan. pa-makassar.go.id.
2. Letak Geografis
Mulai dari awal berdirinya hingga sampai tahun 1999 Pengadilan Agama Klas 1 A Makassar telah mengalami perpindahan gedung kantor sebanyak enam kali. Pada tahun 1976 telah memperoleh gedung permanen seluas 150 m2 untuk Rencana Pembangunan Lima Tahun, akan tetapi sejalan dengan perkembangan zaman, peningkatan jumlah perkara yang meningkat dan memerlukan jumlah personil dan SDM yang memadai maka turut andil mempengaruhi keadaan kantor yang butuh perluasan serta perbaikan sarana dan prasarana yang menunjang dan memadai, maka pada tahun 1999 Pengadilan Agama Makassar merelokasi lagi gedung baru dan pindah tempat ke Gedung baru yang bertempat di Jalan Perintis Kemerdekaan Km.14 Daya Makassar dengan luas lahan (Tanah) 2.297 M2 dan Luas Bangunan 1.887,5 M2.2
3. Luas Wilayah
Wilayah Yurisdiksi Pengadilan Agama / Mahkamah Syariah Kota Makassar mempunyai batas-batas seperti berikut:
d. Sebelah Barat berbatasan dengan selat Makassar e. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Maros f.Sebelat Timur berbatasan dangan kabupaten Bone g. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Gowa
22 Letak Geografis Pengadilan Agama Makassar.Profil Pengadilan. pa-makassar.go.id.
49
Gambar 4.13
Wilayah Yurisdiksi Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah Makassar dahulu hanya terdiri 9 (Sembilan) Kecamatan selanjutnya berkembang menjadi 14 (Empat Belas) Kecamatan.
4. Strukut Organisasi Pengadilan Agama Makassar
Gambar 4.24
3 Wilayah Yuridiski Pengadilan Agama Makassar. Profil Pengadilan. pa-makassar.go.id.
4 Struktur Organisasi. Pengadilan Agama Makassar.2020
5. Visi Dan Misi Pengadilan Agama Kelas IA Makassar a. Visi
Terwujudnya Pengadilan Agama Makassar yang bersih, berwibawa, dan profesional dalam penegakan hukum dan keadilan menuju supremasi hukum.
Pengadilan Agama Makassar yang bersih, mengandung makna bahwa bersih dari pengaruh non hukum baik berbentuk kolusi, korupsi dan nepotisme, maupun pengaruh tekanan luar dalam upaya penegakan hukum. Bersih dan bebas KKN merupakan topik yang harus selalu dikedepankan pada era reformasi. Terbangunnya suatu proses penyelenggaraan yang bersih dalam pelayanan hukum menjadi prasyarat untuk mewujudkan peradilan yang berwibawa.
Berwibawa, mengandung arti bahwa Pengadilan Agama Makassar ke depan terpercaya sebagai lembaga peradilan yang memberikan perlindungan dan pelayanan hukum sehingga lembaga peradilan tegak dengan kharisma sandaran keadilan masyarakat.
Profesionalisme, mengandung arti yang luas, profesionalisme dalam proses penegakan hukum,
profesionalisme dalam penguasaan ilmu pengetahuan hukum dan profesionalisme memanajemen lembaga peradilan sehingga hukum dan keadilan yang diharapkan dapat terwujud. Jika hukum dan keadilan telah terwujud maka supremasi hukum dapat dirasakan oleh segenap masyarakat.
51
Berdasarkan visi Pengadilan Agama Makassar yang telah ditetapkan tersebut, maka ditetapkan beberapa misi Pengadilan Agama Makassar untuk mewujudkan visi tersebut. Misi Pengadilan Agama tersebut adalah :
b. Misi
1) Mewujudkan Pengadilan Agama yang transparan dalam proses mengandung makna bahwa untuk mewujudkan lembaga peradilan yang bersih, berwibawa dan profesion alisme, maka pelaksanaan proses peradilan harus diwujudkan dengan transparan. Wujudnya nyata transparan adalah proses yang cepat, sederhana dan biaya murah. Misi tersebut merupakan langkah antisipatif terhadap euforia reformasi hukum yang selalu didengungkan masyarakat.
2) Apatisme masyarakat terhadap peradilan yang selalu menganggap bahwa proses ke Pengadilan akan selalu lama, berbelit-belit dan memakan waktu dan biaya yang mahal harus ditepis dengan misi tersebut.
3) Administrasi dan manajemen yang baik akan mendorong percepatan terwujudnya visi dan misi. Pengetatan dan disiplin terhadap administrasi dan manajemen yang telah ditetapkan merupakan hal urgen, perubahan birokrasi atau reformasi birokrasi dalam tubuh lembaga peradilan merupakan jalan menuju reformasi hukum.
4) Meningkatkan Sarana dan Prasarana Hukum Yang mengandung makna bahwa tanpa adanya sarana atau fasilitas tertentu, maka tidak mungkin penegakan hukum akan berlangsung dengan lancar. Sarana dan prasarana
tersebut mencakup sarana gedung, sarana organisasi yang baik, sarana peralatan yang memadai, sarana keuangan yang cukup dan lain- lain.
B. Pelaksanaan E-Court di Pengadilan Agama Makassar
Sebagai institusi yang telah eksis selama ini, Peradilan Agama diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyrakat dalam pencarian keadilan yang hidup pada zaman yang terus mengalami perkembangan. Oleh karena itu, Peradilan Agama harus menjawab tantangan zaman khususnya dari sisi penegakan hukumnya yang harus selaras dengan perkembangan social, wacana kemoderenan dan perekembangan Ilmu Teknologi (IPTEK).5Kemajuan Teknologi Informasi yang sedemikian cepat dan telah mempermudah kerja manusia bukan tanpa efek samping yang berdampak buruk bagi manusia/masyarakat/Negara. Laju perkembangan teknologi informasi pada akhirnya menuntut badan-badan peradilan di berbagai negara tak terkecuali di Indonesia untuk mengadopsi penggunaan teknologi informasi. Bila sebelumnya pengadministrasian perkara di pengadilan dilaksanakan secara manual serta memakan waktu lama dan biaya tinggi maka penggunaan teknologi informasi berupaya mempercepat, mempermudah dan mempermurah biaya pengadministrasian perkara.
Ide pemanfaatan teknologi informasi untuk memperlancar tugas-tugas peradilan tersebut saat ini semakin berkembang pesat melalui peradilan elektronik (e-court ). Terlebih Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik telah mengamanatkan pemerintah untuk mendukung
5 Asni, Konsektualisasi Hukum berprespektif Perempuan di Peradilan Agama, jurnal
Al-„Adl, Vol.9 No.2, Juli 2016: 19
53
pengembangan teknologi informasi melalui infrastruktur hukum dan pengaturannya sehingga pemanfaatan teknologi informasi secara aman untuk mencegah penyalahgunaannya dengan memerhatikan nilai-nilai agama dan sosial budaya masyarakat Indonesia.
Keterbukaan informasi di peradilan, adalah salah satu hal yang seringkali disoroti karena berkaitan dengan hak atas peradilan yang adil. Prosedur birokrasi yang berbelit-belit berpotensi untuk membuat masyarakat malas memperjuangkan haknya melalui institusi formal penegak hukum. Berdasarkan riset masih banyak ditemukan praktik pungli yang dilakukan oleh oknum pengadilan di Indonesia dalam memberikan layanan publik kepada masyarakat.
Laporan Ombudsman Republik Indonesia menyebut dalam kurun waktu tiga tahun terakhir yaitu 2014-2016, Pengadilan Negeri merupakan lembaga peradilan yang paling banyak diadukan yaitu sebanyak 394 aduan dengan jenis mal administrasi yang paling banyak dikeluhkan publik adalah penundaan perkara yang berlarut-larut sebanyak 215 aduan, tidak kompeten dalam melaksanakan kinerja dalam sistem peradilan sebanyak 117 aduan, dan penyimpangan prosedur sebanyak 115 aduan.
Sebagai perbandingan, di Australia sudah terlebih dahulu diterapkan online dispute resolution, dimana pihak berperkara dapat menyelesaikan sengketanya secara online. Demikian juga di Amerika Serikat sejak tahun 1999 telah dimulai Public Access to Electronic Record (PACER), dan berbagai pemanfaatan teknologi informasi untuk menunjang tugas peradilan. Melalui
penggunaan e-court Mahkamah Agung Republik Indonesia juga kini sejajar pelayanannya dengan Supreme Court Amerika Serikat, Supreme Court Inggris, dan Supreme Court Singapura, E-Syariah di Malaysia.
Mahkamah Agung Indonesia sendiri melalui Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2018 tentang Administrasi Perkara Di Pengadilan Secara Elektronik telah mulai menggunakan teknologi informasi guna membantu perbaikan kinerja peradilan. Hal ini selaras dengan Visi Mahkamah Agung menjadi Badan Peradilan Modern dengan berbasis Teknologi Informasi Terpadu.
Penerapan e-court ini sendiri merupakan lompatan besar dari keseluruhan upaya besar Mahkamah Agung dalam melakukan perubahan administrasi di pengadilan.
Hal tersebut merupakan upaya mengatasi tiga hambatan yang sering dihadapi lembaga peradilan yakni penanganan perkara yang lambat, kesulitan mengakses informasi pengadilan, integritas aparatur pengadilan.
Di era milenial perkembangan tekhnologi tidak dapat dibendung lagi. Saat ini masyarakat, khususnya kaum milenial lebih memilih transaksi dengan menggunakan informasi transaksi elektronik (ITE) karena memiliki banyak unggulan dan kemudahan. Perkembangan teknologi itu, tidak di sia-siakan oleh Mahkamah Agung (MA) sebagai lembaga tinggi negara yang menjadi benteng terakhir penegakan hukum. Kabar baiknya lagi penggunaan aplikasi elektronik di dukung oleh pemerintah kemudian dikeluarkanlah aturan e-court sebagai salah satu benuk implementasi.
55
Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). SPBE telah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik.6 Dengan di dukungnya sistem elektronik oleh pemerintah menjadikan penerapan sistem elektronik di Pengadilan Agama lebih cekatan untuk melaksanakan persidangan berbasis elektronik tersebut. Untuk lebih mengenalkan sistem persidangan tersebut secara elektronik maka Sosialisasi e-court oleh Mahkamah Agung selama ini sangat dimassifkan dan begitu gencar disebar luaskan di beberapa wilayah hukum pengadilan agama yang tersebar di Indonesia termasuk kota Makassar. Peneliti kemudian mencari informasi lebih lanjut mengenai kapan kemudian Pelaksanaan E-Court di kota makassar dimulai, adapun hasil wawancara tersebut :
“Pelaksanaan E-Court terlaksana itu pada tahun 2019, itu masih baru terlaksana untuk di Pengadilan Agama Makassar ini.”
Berdasarkan hasil wawancra tersebut ternyata untuk pelaksanaan e-Court sendiri dimulai pada tahun 2019. e-Court sendiri merupakan layanan bagi pengguna terdaftar untuk pendaftaran perkara secara elektronik, mendapatkan taksiran panjar biaya perkara , pembayaran dan pemanggilan yang dilakukan dengan saluran elektronik dan secara daring. E-court merupakan salah satu bentuk implementasi SPBE, sebagaimana tergambar dalam Peraturan
6 Perpres.2018
Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 tentang Administrasi Perkara dan Persidangan di Pengadilan Secara Elektronik.7
PERMA No 1 tahun 2019 memperkenalkan istilah sistem informasi pengadilan, yaitu seluruh sistem informasi yang disediakan oleh Mahkamah Agung untuk memberi pelayanan terhadap pencari keadilan yang meliputi administrasi, pelayanan perkara, dam persidangan secara elektronik.
Kemudian lebih jelasnya untuk masyarakat yang menggunakan e-Court disebutkan bahwa secara garis besar e-court merupakan bagian dari upaya pengadilan untuk memberikan akses kemudahan kepada masyarakat dan para pencari keadilan (justie seeker), selain tentunya menjadikan pengadilan semakin transparan, efektif dan efisien. .
Berbicara mengenai pelaksanaan e-Court sendiri, di dalam sidang elektronik dikenal beberapa istilah :
1. e-Filing (Pendaftaran Perkara Online di Pengadilan)
E-Filing atau pendaftaran perkara secara online dilakukan setelah terdaftar sebagai pengguna atau memiliki akun pada aplikasi e-Court dengan memilih Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, atau Pengadilan TUN yang sudah aktif melakukan pelayanan e-Court. Semua berkas pendaftaran dikirim secara elektronik melalui aplikasi e-Court Makamah Agung Republik Indonesia (MARI).
7 PERMA 1/2019
57
2. e-Skum (Taksiran Panjar Biaya)
Dengan melakukan pendaftaran perkara online melalui e-Court, pendaftar akan secara otomatis mendapatkan taksiran panjar biaya (e-SKUM) dan nomor pembayaran (virtual account) yang dapat dibayarkan melalui saluran elektronik (multi channel) yang tersedia.
3. e-Payment (Pembayaran Panjar Biaya Perkara Online)
Aplikasi E-Payment dapat digunakan untuk melakukan pembayaran terhadap panjar biaya perkara yang ditetapkan melalui aplikasi e-SKUM sebagai tindak lanjut pendaftaran secara elektronik.
4. e-Summons (Pemanggilan Pihak secara online)
Sesuai dengan Pasal 11 dan 12 Peraturan MA-RI Nomor 3 Tahun 2018, disebutkan bahwa panggilan menghadiri persidangan terhadap para pihak berperkara dapat disampaikan secara elektronik. Untuk panggilan elektronik dilakukan kepada pihak penggugat yang melakukan pendaftaran secara elektronik dan memiliki bukti bertulis, sedangkan tergugat panggilan pertama dilakukan melalui jurusita pengadilan dan dapat dilakukan panggilan secara elektronik dengan menyatakan persetujuan secara tertulis untuk dipanggil secara elektronik, serta kuasa hukum wajib memiliki persetujuan secara tertulis dari prinsipal untuk beracara secara elektronik .
5. e-litigasi
E-litigasi merupakan sebuah sistem dimana proses administrasi persidangan dapat dilakukan secara elektronik. Meliputi pertukaran dokumen
persidangan yakni jawaban, replik, duplik, dan kesimpulan dapat dilakukan secara elektronik. Persidangan secara elektronik ini mengacu pada perma Nomor 1 Tahun 2019. E-litigasi merupakan bagian dari E-court.
Meskipun Court sendiri terlaksana pada tahun 2019, namun untuk e-litigasi itu sendiri baru terlaksana pada tahun 2020. Seperti yang dikatakan oleh bapak Rahmatullah selaku hakim yang diwawancari oleh peneliti, ia menyatakan bahwa:
“e-Litigasi itu baru terlaksana pada tahun 2020. E-Court dulu baru kemudian e-litigasi”
E-litigasi sendiri merupakan bagian dari e-court, hanya saja e-litigasi proses administrasinya. Administrasi perkara secara elektronik merupakan serangkaian proses penenrimaan gugatan atau permohonan, jawaban replik, duplik, dan kesimpulan, pengelolaan, penyampaian dan penyimpanan dokumen perkara perdata, agama, tata usaha militer, tata usaha Negara dengan menggunakan system elektronik yang berlaku di masing-masing lingkungan peradilan.
Adanya peraturan mahkamah agung nomor 3 tahun 2018 tentang administrasi perkara di pengadilan secara elektronik sebagai bentuk keseriusan mahkamah agung dalam menanggapi aspirasi masyarakat terkait modernisasi penyelenggaraan peradilan dan merupakan reformasi hukum acara yang memanfaatkan informasi untuk memfasilitasi bagi yang mendukung perizinan hak, baik gugatan maupun bantuan yang datang ke pengadilan.
59
Dalam pelaksanaan E-Court terdapat beberapa langkah pendaftaran hingga terdaftar dan mendapatkan nomor perkara. Berikut penjelasanya :8
1. Pendaftaran Akun Pengguna Terdaftar
Sebelum melakukan pendaftaran syarat wajib yang harus dilakukan adalah harus memiliki akun pada aplikasi e-Court. Untuk melakukan pendaftaran melalui e-Court yang dilakukan pertama kali adalah membuka website e-Court Mahkamah Agung dihttps://ecourt.mahkamahagung.go.id dan menekan tombol Register Pengguna Terdaftar. Dalam pendaftaran Pengguna Terdaftar harus dimasukkan alamat email yang valid karena aktivasi akun akan dikirimkan melalui email yang didaftarkan yang nantinya akan menjadi alamat domisili elektronik pengguna terdaftar. Apabila pendaftaran berhasil pengguna terdaftar akan mendapatkan email user dan password yang te lah dibuatnya dan dapat digunakan untuk login pada aplikasi e-court.
2. Login
Login pada aplikasi e-Court dapat dilakukan pada tombol Login halaman pertama e-Court. Setelah berhasil login untuk pertama kali login, pengguna
Login pada aplikasi e-Court dapat dilakukan pada tombol Login halaman pertama e-Court. Setelah berhasil login untuk pertama kali login, pengguna