• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4. Metodologi penelitian

4.5 Instrumen penelitian

Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data demografi , dan lembar pengkajian nyeri Numerical Rating Scale (NRS).

4.5.1 Data Demografi

Pada kuesioner data demografi terdapat 10 pertanyaan, dan responden menjawab dengan menceklist satu pilihan yang telah disediakan. Pertanyaan terdiri dari kode responden, usia, jenis kelamin, suku responden, ukuran kateter intravena, lokasi penusukan, perawat yang melakukan tindakan insersi kateter intravena, penyakit yang diderita responden, lama responden dirawat, dan sudah berapa kali dipasang infus.

4.5.2 Lembar Pengkajian Intensitas Nyeri

Numerical Rating Scale (NRS) merupakan skala yang digunakan dalam

penelitian ini untuk mengukur intensitas nyeri. Numerical Rating Scale (NRS) ini digunakan pada saat responden dilakukan tindakan insersi kateter intravena. Pada skala NRS ini responden mengidentifikasi nyeri menggunakan skala 0-10. Jika klien memilih angka nol mengartikan responden tidak merasakan nyeri dan angka sepuluh mengartikan jika klien merasakan nyeri yang sangat hebat (Prasetyo, 2010).

4.6 Uji Validitas dan Reliabilitas 4.6.1 Uji Validitas

Uji validitas ialah ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan dan kesahihan suatu instrumen. Instrumen yang valid atau sahih memiliki nilai

validitas yang mendekati angka 1 (Arikunto, 2010). Uji validitasn skala nyeri NRS menunjukkan r = 0.90 (Li, Liu & Herr, 2007).

4.6.2 Uji Reliabilitas

Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten apabila dilakukan dua kali atau lebih pengukuran pada kondisi yang sama, dengan menggunakan alat ukur yang sama (Notoatmojo, 2012). Skala nyeri NRS menunjukkan reliabilitas lebih dari 0,95 (Li, Liu & Herr, 2007).

4.7 Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengambilan data dilaksanakan sesudah permohonan izin untuk melakukan penelitian dari institusi pendidikan (Fakultas Keperawatan USU) di ajukan, selanjutnya mengirim surat permohonan izin untuk melaksanakan penelitian pada bagian LITBANG RSUP HAM Medan. Jika telah memperoleh izin dari bagian penelitian rumah sakit, peneliti mencari responden sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Kemudian peneliti memaparkan tujuan, manfaat, dan prosedur pelaksanaan penelitian pada responden, jika pasien bersedia menjadi responden maka responden menandatangani informed consent. Kemudian responden mengisi kuesioner data demografi, dan menceklist salah satu angka dari numeric rating scale bila pasien mampu menulis sendiri atau menyebutkan salah satu angka dari numeric rating scale kemudian peneliti yang menceklist di lembar pengkajian bila pasien tidak mampu menulis sendiri atau ada kendala lain dan menyebutkan karakteristik nyeri. Penelitian ini dapat berlangsung sekitar

15-20 menit, kemudian proses mengolah atau analisa data dilakukan oleh peneliti setelah seluruh data dari semua instrument terkumpul.

4.8 Analisa Data

Analisa data dilakukan secara bertahap jika seluruh lembar pengkajian telah terkumpul. Prosedur analisa data terdiri dari editing, yaitu mengecek kembali kelengkapan jawaban pada lembar pengkajian yang telah diisi oleh responden, selanjutnya coding, yaitu memberi kode pada lembar pengkajian, kemudian entry data, yaitu memasukkan jawaban-jawaban dari responden yang telah diubah menjadi kode kedalam program software komputer dan yang terakhir ialah cleaning, yaitu mengecek kembali data agar tidak terjadi kesalahan.

Metode statistik untuk analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis secara univariat dan bivariat.

4.8.1 Analisis Univariat

Analisis univariat digunakan untuk menguraikan suatu hasil penelitian.

Pada penelitian ini metode statistik univarat akan digunakan untuk menganalisa data demografi meliputi usia, jenis kelamin, suku responden, ukuran kateter intravena, lokasi insersi kateter intravena, perawat yang melakukan tindakan insersi kateter intravena, penyakit yang diderita responden, lama responden dirawat, dan frekuensi insersi kateter intravena selama di rawat di RSUP HAM Medan.

Data demografi menggunakan analisis ini akan diuraikan pada tabel distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel. Untuk data numerik digunakan nilai rata-rata (mean), dan standar deviasi.

4.8.2 Analisis Bivariat

Analisis bivariat bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan intensitas nyeri pasien suku Batak dan Jawa, Batak dan Melayu kemudian Jawa dan Melayu pada saat insersi kateter intravena. Mann-Whitney merupakan uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini karena sampel pada penelitian ini <30 responden untuk setiap suku. Uji Mann-Whitney ini digunakan jika mememenuhi syarat yaitu, data tidak terdistribusi normal untuk skala interval atau rasio dan jika sampel penelitian <30. Uji Mann-Whitney bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan variabel intensitas nyeri antara suku Batak dan Jawa, suku Batak dan Melayu kemudian suku Jawa dan Melayu. Pengambilan keputusan statistik dilakukan dengan membandingkan nilai p (p value) dengan nilai α (0,05), dengan ketentuan:

a. Bila p value < nilai α (0,05), maka terdapat perbedaan intensitas nyeri antara suku Batak, Jawa, dan Melayu pada saat insersi kateter intravena.

b. Bila p value > nilai α (0,05), maka tidak terdapat perbedaan intensitas nyeri antara suku Batak, Jawa, dan Melayu pada saat insersi kateter intravena.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini diuraikan hasil penelitian dan pembahasan penelitian tentang perbedaan intensitas nyeri suku Batak, Jawa dan Melayu pada saat insersi kateter intravena di RSUP H. Adam Malik Medan. Pengambilan data dilakukan mulai tanggal 04 April 2019 - 17 Juni 2019 terhadap 60 orang responden di ruang rawat inap di Rindu A, Rindu B dan ruang IGD RSUP HAM Medan.

5.1 Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini memaparkan mengenai karakteristik demografi responden, intensitas nyeri suku Batak, intensitas nyeri suku Jawa, intensitas nyeri suku Melayu dan perbedaan intensitas nyeri suku Batak dan Jawa, perbedaan intensitas nyeri suku Batak dan Melayu dan perbedaan intensitas nyeri suku Jawa dan Melayu pada saat insersi kateter intravena di RSUP HAM Medan.

5.1.1 Karakteristik Demografi Responden

Karakteristik responden yang dipaparkan mencakup usia, jenis kelamin, suku, diagnosa medis, lamanya dirawat di RS, ukuran kateter intravena, frekuensi insersi kateter intravena, lokasi insersi kateter intravena, pengalaman perawat yang menginsersi kateter intravena, dan status perawat yang menginsersi. Dilihat dari usia, menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden (55%) suku Batak dan suku Jawa berusia dewasa madya dengan rentang 41-60 tahun sedangkan pada suku Jawa terdapat lebih dari sepertiga responden (45%) berusia 18-40 tahun dan berusia 41-60 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, lebih dari setengah responden (60%) suku Batak, (55%) suku Jawa dan (50%) suku Melayu adalah

hari begitu juga dengan suku Batak yaitu kurang dari tiga perempat responden (70%) suku Batak di rawat selama 1-3 hari sedangkan pada suku Melayu terdapat lebih dari setengah responden (55%) dirawat >3 hari dengan diagnosa kurang dari seperlima responden (15%) suku Batak dan kurang dari setengah responden (40%) suku Melayu adalah tumor sedangkan pada suku Jawa kurang dari seperempat responden (20%) adalah kanker. Ukuran kateter intravena yang digunakan pada suku Batak, Jawa dan Melayu adalah ukuran 20 (100%).

Frekuensi insersi kateter intravena lebih dari setengah responden (55%) suku Jawa dan responden suku Melayu (75%) yaitu >3 kali selama di rawat di rumah sakit sedangkan pada suku Batak terdapat tiga perempat responden (75%) telah di insersi kateter intravena sebanyak 1-3 kali selama dirawat di rumah sakit. Lokasi insersi mayoritas responden (80%) suku Jawa dan tiga perempat responden (75%) suku Batak dan Melayu terletak di dorsal tangan. Perawat yang menginsersi kateter intravena lebih dari sepertiga responden (40%) suku Batak, (45%) suku jawa dan (40%) suku Melayu berpengalaman selama >9 tahun. Status perawat yang melakukan insersi kateter intravena pada responden suku Batak, Jawa dan Melayu adalah perawat ruangan (100%).

Tabel 1. Distribusi Frekuensi dan Persentasi Karakteristik Demografi

Karakteristik Responden

5.1.2 Intensitas Nyeri Suku Batak, Jawa dan Melayu pada saat Insersi Kateter Intravena di RSUP HAM Medan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata intensitas nyeri yang dirasakan oleh reponden dari suku Batak adalah 3.60 (SD=1.93) dengan lebih dari setengah responden (55%) merasakan nyeri pada tingkat sedang dan lebih dari sepertiga responden (45%) merasakan nyeri ringan sedangkan rata-rata intensitas nyeri pada suku Jawa lebih tinggi dibandingkan suku Batak yaitu 3.90 (SD=1.78) dengan intensitas nyeri yang dirasakan oleh lebih dari seperdua responden (55%) suku jawa juga berada pada tingkat nyeri sedang dan diikuti dengan lebih dari sepertiga responden (40%) merasakan nyeri ringan dan sisanya (5%) merasakan nyeri berat, kemudian hasil rata-rata intensitas nyeri pada suku Melayu lebih rendah bila dibandingkan dengan suku Jawa yaitu 3.70 (SD=1.45) dengan lebih dari setengah responden (55%) suku Melayu merasakan nyeri pada tingkat sedang kemudian diikuti lebih dari sepertiga responden (45%) mengalami nyeri ringan.

Data intensitas nyeri suku Batak, Jawa dan Melayu pada saat insersi kateter intravena di RSUP H. Adam Malik Medan dapat dilihat pada tabel 2 dibawah.

Tabel 2. Distribusi Frekuensi dan Persentase Intensitas Nyeri suku Batak, Jawa dan Melayu pada saat Insersi Kateter Intravena di RSUP HAM Medan (n=60).

Intensitas Nyeri

5.1.3 Perbedaan Intensitas Nyeri suku Batak, Jawa dan Melayu pada saat Insersi Kateter Intravena di RSUP HAM Medan.

Data penelitian yang diperoleh yaitu 20 sampel untuk setiap suku (<30).

Oleh karena itu, peneliti menggunakan uji non-parametrik (Mann Whitney) untuk mengidentifikasi perbedaan intensitas nyeri suku Batak dengan Jawa, Batak dengan Melayu dan Jawa dengan Melayu pada saat insersi kateter intravena. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan intensitas nyeri suku Batak dengan Jawa Sig=0.81 (>0.05), Batak dengan Melayu (Sig=0.96) dan Jawa dengan Melayu (Sig=0.73) pada saat insersi kateter intravena di RSUP H. Adam Malik Medan. Dengan demikian H0 diterima dan Ha ditolak.

Tabel 3. Hasil uji non-parametrik Mann Whitney perbedaan intensitas nyeri suku Batak dengan Jawa, Batak dengan Melayu dan Jawa dengan Melayu pada saat insersi kateter intravena di RSUP HAM Medan (n=60).

Suku

5.2 Pembahasan

5.2.1 Intensitas Nyeri suku Batak, Jawa dan Melayu pada saat insersi kateter intravena di RSUP HAM Medan

Intensitas nyeri merupakan gambaran tentang seberapa parah sensasi tidak menyenangkan yang dirasakan oleh seseorang, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda (Tamsuri, 2004).

Faktor yang mempengaruhi persepsi nyeri individu salah satunya adalah sosiokultural. Ras, budaya, dan etnis (dimensi sosiokultural) mempengaruhi bagaimana rasa sakit yang dirasakan, dikomunikasikan, ditafsirkan, dan apa makna yang melekat padanya. Hal ini karena individu belajar dari kelompok budaya mereka bagaimana mereka harus memahami, dan menggambarkan rasa nyeri (Lovering, 2006). Budaya membentuk kepercayaan dan perilaku individu untuk mencari praktik layanan kesehatan, dan penerimaan terhadap intervensi medis yang diberikan. (Lasch, 2002). Nyeri adalah pengalaman pribadi, namun perilaku nyeri dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya dan psikologis. Setiap kelompok budaya dan sosial memiliki bahasa yang unik dari rasa nyeri. Hal ini tergantung pada faktor seperti apakah nilai budaya mereka atau ekspresi verbal dalam menanggapi rasa sakit atau cedera (Peacock, 2008). Etnis merupakan salah satu bagian dari dimensi sosiokultural, dimana pada beberapa etnis ekspresif memperlihatkan rasa nyeri yang dirasakannya tetapi ada juga yang memendam rasa nyeri tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan lebih dari setengah responden suku Batak (55%), Jawa (55%) dan Melayu (55%) merasakan intensitas nyeri sedang, kemudian lebih dari sepertiga responden suku Batak (45%), Jawa (40%) dan Melayu (45%) merasakan nyeri ringan dan hanya 1 responden suku Jawa yang merasakan nyeri berat.

Berbagai macam faktor dapat mempengaruhi nyeri seperti jenis kelamin, berdasarkan hasil penelitian lebih dari setengah reponden suku Batak (60%), Jawa (55%) dan Melayu (65%) berjenis kelamin perempuan. Menurut penelitian Uchiyama, et al (2006) mengenai perbedaan jenis kelamin pada nyeri post operasi setelah laparoscopi kolesistomi hasilnya menunjukkan perempuan melaporkan intensitas nyeri lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki, hal ini di dukung oleh Sorge (2018) dalam penelitiannya tentang perbedaan jenis kelamin pada respon nyeri menyebutkan bahwa wanita memiliki sensitivitas lebih tinggi dan kurang toleran terhadap rangsangan yang menyakitkan dibandingkan dengan pria.

Perbedaaan jenis kelamin terhadap nyeri sering dianggap berasal dari perbedaan dalam pengaturan hormon aktivitas otak dan perbedaan ini cenderung mempengaruhi pemrosesan rasa sakit (McEwen & Milner, 2017) dan menurut Burri (2018) pengaruh jenis kelamin terhadap nyeri berhubungan dengan faktor psikologis dan strategi koping, hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sorge (2018) menyebutkan bahwa intesitas nyeri pada laki laki cenderung dipengaruhi oleh rasa cemas sedangkan pada wanita intensitas nyeri dipengaruhi oleh rasa takut akan cedera yang terulang kembali, kemudian jika dilihat dari strategi koping, wanita mengatasi nyeri dengan melibatkan dukungan sosial dan

manjemen diri yang baik, sedangkan pada pria mereka lebih fokus menahan rasa nyeri, dan merasa terisolasi (Burri et al, 2018).

Menurut beberapa studi klinis yang diteliti oleh Koopman C (1984), Notermans dan Woodrow (1975) bahwa perubahan karakteristis fisiologis terkait dengan usia dapat mempengaruhi sensitivitas seseorang, dimana individu yang lebih tua cenderung mengalami penurunan sensitivitas terhadap rangsangan nyeri akut. Perubahan karakteristik fisiologis meliputi kepadatan sel organ sensorik, neurotransmitter, perubahan kepadatan sel perifer, komposisi saraf dan perubahan pada kulit yang mempengaruhi input nosiseptif, hal tersebut didukung oleh hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Li et al (2001) tentang pengaruh usia dengan persepsi nyeri terhadap stimulus nyeri akut di departemen gawat darurat menemukan terdapat pengaruh usia terhadap persepsi nyeri akut seseorang pada saat dilakukan insersi kateter intravena, Li menyebutkan bahwa pasien dengan usia lebih tua lebih sedikit merasakan nyeri akut jika dibandingkan dengan pasien yang lebih muda (p = 0.01). Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat lebih dari setengah responden (55%) suku Batak dan Jawa, dan lebih dari sepertiga responden (45%) suku Melayu berusia 41-60 tahun (dewasa madya) dan kurang dari seperlima responden (10%) suku Batak dan Melayu, dan (15%) suku Jawa yang berusia >60 tahun.

Menurut penelitian Wang et al (2019) ditemukan bahwa lamanya hari dirawat di rumah sakit tidak mempengaruhi intensitas nyeri pada pasien postoperative yang diberikan anestesi epidural dan anestesi umum (p = 0.79).

Hasil penelitian yang telah dilakukan ditemukan bahwa terdapat kurang dari tiga

perempat responden (70%) suku Batak, lebih dari setengah responden (55%) suku Jawa dan lebih dari sepertiga responden (45%) suku Melayu dirawat selama 1-3 hari di rumah sakit.

Pada penelitian yanng dilakukan Jacobson (1999) pada dua puluh dua pasien rawat jalan yang diinsersi kateter intravena ditemukan tidak terdapat penngaruh lokasi insersi dengan nyeri yanng dirasakan responden, hal ini juga sesuai dengaan penelitian yang dilakukan Li et al (2001) yang menemukan bahwa tidak terdapat penngaruh lokasi insersi kateter intravena dengan nyeri akut yang dirasakan pasien (p = 0.018) dan hasil penelitian ditemukan bahwa mayoritas responden (80%) suku Jawa dan tiga perempat responden (75%) suku Batak dan Jawa di insersi di dorsal tangan.

Menurut penelitian yang dilakukan Brown (1998) terhadap 26 responden yang diinsersi menggunakan dua ukuran kanula (20 dan 22) secara acak menemukan bahwa ttidak terdapat perbedaan intensitas nyeri pada pasien yang diinsersi kateter intravena menggukan ukuran 20 dan 22 (p = 0.1) dan sebagian besar responden merasakan nyeri yang berbeda-beda telepas dari ukuran kanul yang digunakan. Hasil penelitian ditemukan bahwa keseluruhan responden (100%) menggunakan ukuran 20 pada saat insersi kateter intravena, dan hal ini tidak mempengaruhi intensitas nyeri pasien.

Penelitian yang dilakukan oleh Soysal (2005) mengenai faktor yang mempengaruhi nyeri insersi kateter intravena pada pasien depresi menemukan bahwa tidak terdapat pengaruh antara penyakit yang dialami responden dengan nyeri yang dialami saat insersi kateter intravena (p = 0.234). Hasil penelitian yang

dilakukan ditemukan bahwa terdapat kurang dari seperlima responden (15%) dan lebih dari sepertiga responden (40%) suku Melayu menderita tumor. Pada suku Jawa terdapat seperlima responden (20%) menderita kanker dengan satu ressponden melaporkan nyeri berat pada saat insersi kateter intravena hal ini karena pasien menderita kanker payudara dan telah menajalani kemoterapi. Pada pasien kemoterapi pembuluh darah menjadi tipis, rapuh dan membutuhkan beberapa kali penusukan pada saat insersi, sehingga intensitas nyeri yang dirasakan pasien meningkat (Rudolph & Larson, 1987).

Upaya insersi kateter intravena yang dilakukan berulang kali dapat meningkatkan rasa nyeri dan kecemasan pada pasien (Lenhart et al, 2002). Oleh sebab itu keberhasilan perawat dalam menginsersi mempengaruhi nyeri yang dirasakan pasien. Salah satu variabel yang sangat signifikan terhadap keberhasilan perawat dalam menginsersi adalah pengalaman perawat bekerja (p = 0.001) hal ini karena perawat yang berpengalaman lebih terampil untuk menentukan pilihan yang berhubungan dengan insersi seperti lokasi insersi dan ukuran kateter intravena yang akan digunakan (Jacobson et al, 2005). Penelitian yang dilakukan menemukan bahwa status perawat yang menginsersi secara keseluruhan (100%) adalah perawat ruangan dan perawat yang menginsersi responden suku Batak (40%), responden suku Jawa (45%) dan responden suku Melayu (40%) telah memiliki pengalaman kerja >9 tahun.

Pengalaman individu mengenai nyeri juga mempengaruhi persepsi individu terhadap nyeri, dimana jika seseorang sering mengalami nyeri yang sama secara berulang kemudian individu dapat mengatasi nyerinya maka akan

menyebabkan individu tersebut lebih mudah untuk mengintpretasikan sensasi nyeri (Hariyanto & Rini, 2015). Menurut hasil penelitian yang dilakukan lebih dari setengah respondenn (65%) suku Batak, (55%) suku Jawa, dan (75%) suku Melayu telah diinsersi >3 kali.

5.2.2 Perbedaan Intensitas Nyeri suku Batak dengan suku Jawa, suku Batak dengan Melayu dan suku Jawa dengan Melayu pada saat insersi kateter intravena di RSUP H. Adam Malik Medan.

Setiap orang mempunyai respon yang berbeda terhadap nyeri yang dialaminya, sesuai dengan suku dan kultur dimana ia berasal, karena kultur akan mengajarkan orang tersebut dalam merespon nyeri (Akbar et al, 2014) dan menurut Andrew & Boyle menyebutkan bahwa pengaruh sosial budaya mempengaruhi perilaku nyeri, ekspresi nyeri standar yang tepat dan tidak tepat dan menurut Calvillo dan Flaskeurd (1991 dalam Perry & Potterr, 2006) terdapat perbedaan makna dan sikap individu terhadap nyeri sesuai dengan kelompok budaya dan menurut penelitian yang dilakukan Koopman (1984) ditemukan bahwa pasien Italia-Amerika lebih sering melaporkan rasa nyeri dibandingkan dengan pasien Anglo-Amerika kemudian penelitian yang dilakukan Woodrow, et al (1975) menemukan bahwa pasien Afrika-Amerika menunjukkan toleransi nyeri yang lebih rendah dibandingkan dengan pasien Kaukasia ,lalu hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Faucett, et al (1994) yang menemukan pasien Latin dan Afrika-Amerika melaporkan intensitas nyeri yang lebih tinggi pasca operasi dibandingkan dengan pasien Kaukasia.

Karakteristik suku Batak merupakan suku yang apresiatif dalam mengungkapkan nyeri yang dirasakannya dan dalam mengekspresikan emosi dalam bentuk tingkah laku, perkataan atau raut muka disesuaikan dengan kuat atau lemahnya nyeri yang sedang dirasakan. Tidak melebih-lebihkan juga tidak berusaha menutup-nutupinya. Sehingga ekspresi emosi orang dari suku Batak tidak cenderung lemah atau disamarkan, sedangkan karakteristik suku Jawa dalam penelitian Suza (2007) kebanyakan pasien Jawa (7 dari 10) menyatakan bahwa mereka mencoba untuk mengabaikan rasa nyeri nya dan tetap diam saja. Dalam budaya mereka, ketika berhadapan dengan penderitaan, orang Jawa diajarkan untuk menghadapinya dengan sabar dan mereka tidak diperkenankan untuk mengeluh karena menurut budaya Jawa mengeluh berarti kelemahan sehingga mereka diharapkan untuk menjadi kuat dan menerima takdir mereka. Hal ini ditekankan bahwa orang yang mengalami kesakitan harus menerimanya atau hanya bertahan, kemudian kebudayaan Melayu yaitu lebih netral sehingga mampu diterima oleh seluruh golongan masyarakat. Ekspresi emosi orang Melayu akan dipengaruhi oleh budaya Melayu yang lebih netral daripada bentuk ekspresi emosi Jawa yang tidak ekspresif dengan budaya Batak yang lebih ekspresif (Suciati, 2017). Jika dilihat dari karakteristiknnya suku Batak, Jawa dan Melayu terdapat perbedaan dalam mengekpresikan dan mengartikan nyeri namun hasil penelitian yang dilakukan menggunakan uji statistik Mann Whitney didapatkan bahwa tidak ada perbedaaan yang signifikan antara responden suku Batak dan suku Jawa (Sig=0.81), suku Batak dengan suku Melayu (Sig=0.96) dan suku Jawa dengan suku Melayu (Sig=0.73). Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang

dilakukan Ani (2004) bahwa tidak ada hubungan suku dengan intensitas nyeri pada pasien pasca bedah abdomen di RS Dr. Pringadi, hal ini juga didukung oleh penelitian (Sulistiyani et al, 2015) bahwa tidak terdapat perbedaan proporsi tingkat nyeri anak pra sekolah dengan suku (p = 0.12). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Jordan, et al (1998) yang menemukan bahwa ttidak terdapat perbedaan siginifikan terhadap keparahan nyeri pada pasien wanita Afrika-Amerika dengan Kaukasia yang menderita artritis, dimana pada pasien Afrika-Amerika lebih menggunakan strategi koping seperti pengalihan rasa nyeri, berdoa, dan berharap, sedangkan pada pasien Kaukasia lebih cenderung untuk mengabaikan rasa nyeri, kemudian menurut penelitian Morris (2001) dalam Ethnicity and Pain menyebutkan bahwa bagaimana tepatnya tentang budaya atau

etnis mempengaruhi nyeri belum diketahui, tetapi berbagai studi menggunakan metode yang beragam dan menunjukkan bahwa budaya mempunyai peran penting dalam pengalaman individu terhadap nyeri. Pentingnya budaya terhadap nyeri dieksplorasi dengan baik oleh Bates (1996), yang menerapkan metode kuantitatif dan kualitatif untuk membandingkan pasien di pusat nyeri di New England dengan pasien nyeri di pusat rawat jalan di Puerto Rico. Temuannya menunjukkan pasien New England merasakan intensitas nyeri yang lebih rendah. Kemudian Bates (1996) membandinngkan orang Latin yang tinggal di New England yang sebagian besar merupakan imigrasi dari Puerto Rico, dan hasilnya dalam merespon nyeri orang Latin lebih mirip dengan kelompok New England, hal ini menunjukkan bahwa respon nyeri individu dari kelompok kelompok etnis memang dibentuk kembali oleh budaya tempat mereka tinggal. Menurut Lasch

(2002) dalam IASP dengan judul Pain and Culture menyebutkan ketika menafsirkan penelitiannya sullit untuk mengetahui apakah penelitian mereka mengenai pengaruh budaya terhadap nyeri disebabkan oleh variasi dalam penngalaman nyeri, perilaku nyeri, atau variasi persepsi tenaga kesehatan dan pengobatan nyeri pasien. Namun variabel yang paling penting dalam perawatan nyeri pada pasien adalah keselarasan bahasa yang digunakan antara tenaga

(2002) dalam IASP dengan judul Pain and Culture menyebutkan ketika menafsirkan penelitiannya sullit untuk mengetahui apakah penelitian mereka mengenai pengaruh budaya terhadap nyeri disebabkan oleh variasi dalam penngalaman nyeri, perilaku nyeri, atau variasi persepsi tenaga kesehatan dan pengobatan nyeri pasien. Namun variabel yang paling penting dalam perawatan nyeri pada pasien adalah keselarasan bahasa yang digunakan antara tenaga