• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.5 Instrumen Penelitian

Instrumen utama dalam penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri (Human Instrument). Menjadi instrumen secara langsung, peneliti dituntut untuk dapat memahami metode penelitian kualitatif dan masalah secara mendalam. Menurut Irawan dalam bukunya yang berjudul Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial (2006: 17), satu-satunya instrumen terpenting dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri.

Menurut Lofland dan Lofland (Basrowi & Suwandi, 2008: 169), sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diambil secara langsung tanpa perantara dari sumbernya (Irawan, 2005: 55). Data primer dalam penelitian ini merupakan data-data berupa kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati secara langsung dari hasil wawancara dan observasi. Sedangkan data sekunder adalah data yang diambil secara tidak langsung dari sumbernya (Irawan, 2005: 55).

55

Data sekunder dalam penelitian ini yaitu, data-data yang didapatkan berupa dokumen tertulis, buku-buku, jurnal, peraturan-peraturan, surat kabar, karya tulis ilmiah, gambar dan foto-foto hasil dokumentasi. Adapun alat-alat yang digunakan dalam proses pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu terdiri dari pedoman wawancara, alat perekam (Handphone), buku catatan, alat tulis dan kamera digital.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, yaitu: 1. Observasi

Observasi atau lebih umum dikenal dengan pengamatan. Observasi dalam penelitian kualitatif merupakan teknik dasar yang biasa dilakukan (Anis Fuad dan Nugroho, 2012: 18). Kemudian Moleong (2005: 175) menjelaskan, alasan secara metodologis penggunaan observasi adalah, pengamatan mengoptimalkan kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan, perhatian, perilaku tidak sadar, kebiasaan dan sebagainya. Melalui observasi ini, peneliti akan melihat sendiri pemahaman yang tidak terucapkan (tacit understanding), bagaimana teori digunakan langsung (theory-in use) dan sudut pandang responden yang mungkin tidak tercungkil lewat wawancara atau survey (Alwasilah, 2006: 155).

Adapun, teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi berperanserta (Participant Observation) yang bersifat pasif (Passive Participant Observation). Passive Participant Observation adalah, peneliti datang ke kancah penelitian namun tidak ikut terlibat dalam kegiatan narasumber yang diamati. Sehingga posisi peneliti dapat

56

dibedakan sebagai pihak luar, (Anis Fuad & Nugroho, 2012: 19). Ada beberapa alasan mengapa dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi/pengamatam, seperti yang dikemukakan oleh Guba & Lincoln dalam Moleong (2005: 174-175), diantaranya:

Pertama, teknik ini didasarkan pada pengalaman secara langsung. Kedua, memungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya. Ketiga, memungkinkan peneliti mencatat peristiwa dalam situasi yang berkaitan dengan pengetahuan proporsional maupun pengetahuan yang langsung diperoleh dari data. Keempat, sering terjadi ada keraguan pada peneliti, jangan-jangan pada data yang didapatkannya ada yang bias. Kelima, memungkinkan peneliti mampu memahami situasi-situasi yang rumit, karena harus memperhatikan beberapa tingkah laku yang kompleks sekaligus. Keenam, dalam kasus-kasus tertentu dimana teknik komunikasi lainnya tidak dimungkinkan, pengamatan dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat”.

2. Wawancara

Peneliti menggunakan teknik wawancara tidak terstruktur (Unstructured Interview) untuk memperoleh data dalam penelitian ini. Wawancara tidak terstruktur disebut juga wawancara terbuka. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Peneliti menggunakan pedoman wawancara yang hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan, (Sugiyono, 2009: 74).

Adapun wawancara yang dilakukan yaitu Indept Interview atau wawancara secara mendalam dengan sumber data atau informan yang menguasai dan memahami data yang akan dicari oleh peneliti. Wawancara

57

mendalam adalah suatu proses mendapatkan informasi untuk kepentingan penelitian dengan cara dialog antara peneliti sebagai pewawancara dengan informan atau yang memberi informasi dalam konteks observasi partisipan, (Djam’an Satori dan Aan Komariah, 2009: 131). Wawancara mendalam dimaksudkan agar peneliti dalam melakukan pertanyaan-pertanyaan dapat dilakukan secara bebas dan leluasa tanpa terikat oleh suatu susunan pertanyaan yang telah dipersiapkan. Wawancara mendalam dilakukan dengan cara menciptakan suasana keakraban karena peneliti membangun suasana “rapport” dengan lingkungan penelitian. Peneliti berperan sebagai “tigger” yang menjadi pemimpin pemicu munculnya jawaban-jawaban yang mendalam dan “crucial” yang diharapkan dari informan yang menguasai dan memahami data/informasi yang diperlukan dalam penelitian.

Pada proses wawancara mendalam, wawancara diawali dengan pengantar, yaitu peneliti secara terbuka memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan dari wawancara. Wawancara mendalam ini digunakan untuk mencari data yang akan digunakan dalam mencari jawaban atas perumusan masalah dalam penelitian ini. Pedoman wawancara yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berupa kisi-kisi wawancara yang bersifat tidak terstruktur. Hal ini dimaksudkan agar pengambilan data dalam penelitian kualitatif ini dapat berlangsung secara alami serta agar peneliti dapat memperoleh informasi lebih mendalam mengenai objek yang diteliti dan lebih banyak mendengarkan apa yang diungkapkan oleh

58

informan. Adapun pedoman wawancara dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1 Pedoman Wawancara

No Dimensi Informan

1 Fasilitas pasar:

a. Apa saja fasilitas pasar yang menjadi potensi retribusi yang sekarang ada dan berapa jumlah masing-masing jenisnya

b. Selain jenis fasilitas tersebut adakah fasilitas pendukung lainnya yang memberikan kontribusi terhadap retribusi pasar atau pendapatan pasar secara umum (untuk parkir, MCK, kebersihan dan ketertiban)

I1, I2, I3, I4-1, I4-2

2 Jenis dagangan:

a. Bagaimana pengaturan jenis dagangan (zonasi) dan bagaimana kaitannya dengan pendapatan retribusi pasar

b. Apakah jenis dagangan mempengaruhi

kemampuan membayar retribusi para pedagang

I1, I2, I3, I4-1, I4-2, I5-1, I5-2

3 Jumlah petugas pemungut:

a. Apakah jumlah personil pemungut retribusi pasar sudah sesuai/cukup dan bagaimana pembagian tugasnya

b. Apakah jumlah petugas pemungut retribusi pasar mempengaruhi pendapatan retribusi pasar, bagaimana kaitannya

c. Apakah sikap petugas pemungut retribusi pasar mempengaruhi pendapatan retribusi pasar, bagaimana kaitannya

d. Apakah perlu adanya petugas lain (pejabat terkait) selain pemungut retribusi untuk turun tangan dalam melakukan pemungutan retribusi pasar e. Upaya apa saja yang sudah dilakukan petugas

(pihak terkait) dalam hal retribusi pasar

I1, I2, I3, I4-1, I4-2, I5-1, I5-2

59

No Dimensi Informan

4 Tarif retribusi:

a. Bagaimana kepatuhan pedagang dalam membayar retribusi pasar sesuai dengan tarif yang ada pada Perda

b. Adakah rencana peningkatan tarif retribusi (untuk kios dan los) & bagaimana tanggapannya apabila ada peningkatan tarif (dari pedagang & petugas)

I1, I2, I3, I4-1, I4-2, I5-1, I5-2

5 Jumlah kios dan los:

a. Seberapa banyaknya kios dan los yang aktif dan non aktif

b. Bagaimana untuk mengatasi kios dan los non aktif agar menjadi aktif sebagai potensi retribusi pasar c. Adakah rencana penambahan unit baru pada jenis

objek yang sudah ada (kios dan los) untuk menambah potensi retribusi pasar

d. Adakah rencana penambahan jenis objek baru untuk menambah potensi retribusi pasar

I1, I2, I3, I4-1, I4-2

6 Luas area pasar:

a. Bagaimana kesesuaian luas area pasar dengan potensi/pendapatan retribusi yang ada

b. Kesesuaian luas area pasar dengan jumlah unit objek retribusi yang ada

I1, I2, I3, I4-1, I4-2

7 Jumlah pedagang:

a. Bagaimana kesesuaian jumlah pedagang sebagai subjek retribusi terhadap jumlah unit objek retribusi (kios dan los)

b. Apakah selain pedagang yang ada di kios dan los itu masih ada jenis pedagang lain yang bisa menjadi potensi retribusi pasar

c. Faktor apa saja yang melatarbelakangi kepatuhan pedagang dalam membayar retribusi

I1, I2, I3, I4-1, I4-2, I5-1, I5-2

8 Data penerimaan retribusi:

a. Berapa target pendapatan retribusi pasar, bagaimana jangka waktu penargetannya dan bagaimana pencapaiannya

b. Bagaimana proses penyetorannya ke Kas Daerah

I1, I2, I3

60 3. Studi Dokumentasi

Dokumen merupakan salah satu sumber data sekunder yang diperlukan dalam sebuah penelitian. Menurut Guba & Lincoln dalam Moleong (2005: 216-217), “dokumen adalah setiap bahan tertulis ataupun film, gambar dan foto-foto yang dipersiapkan karena adanya permintaan seseorang penyidik”. Selanjutnya, studi dokumentasi dapat diartikan sebagai teknik pengumpulan data melalui bahan-bahan tertulis yang diterbitkan oleh lembaga-lembaga yang menjadi objek penelitian, baik berupa prosedur, peraturan-peraturan, gambar, laporan hasil pekerjaan serta berupa foto ataupun dokumen elektronik (rekaman).

4. Studi Literature atau Kepustakaan

Studi literature atau kepustakaan adalah pengumpulan data penelitian yang diperoleh dari berbagai referensi baik buku-buku ataupun jurnal ilmiah yang relevan dengan penelitian yang dilakukan.

Dokumen terkait