• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

E. Instrumen Penelitian

1. Metode pengumpulan data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan

cara menyebarkan skala kuisioner kepada karyawan yang bekerja

digunakan ialah skala likert, yaitu subjek diminta untuk memilih

salah satu dari enam jenis respon yang tersedia. Jenis skala likert

digunakan pada setiap aitem yang mengukur ketiga variabel dalam

penelitian ini.

Variasi pilihan respon yang disediakan peneliti adalah

Sangat Tidak Sesuai (STS) diberi nilai 1, Tidak Sesuai (TS) diberi

nilai 2, Agak Tidak Sesuai (ATS) diberi nilai 3, Agak Sesuai (AS)

diberi nilai 4, Sesuai (S) diberi nilai 5 dan Sangat Sesuai (SS)

diberi nilai 6 untuk skala LMX, engagement dan voice. Istilah

sesuai digunakan sebagai pilihan respon dikarenakan dapat

mengukur keadaan subjek sendiri, sehingga dalam merespon aitem

subjek terlebih dahulu menimbang sejauh mana isi pernyataan

tersebut sesuai dengan keadaan dirinya (Azwar, 2012). Sedangkan

penggunaan jumlah pilihan respon yang genap digunakan agar

menghindari subjek memberikan respon netral (Supratiknya,

2014).

Selain ketiga skala penelitian yang mengukur LMX,

engagement dan voice, peneliti juga ingin mengetahui apakah

subjek penelitian benar-benar memiliki hal penting berhubungan

dengan organisasi yang harus disampaikan atau tidak agar

pegukuran voice behaviour lebih akurat. Oleh karena itu, peneliti

juga menyediakan skala yang berisi lima buah pertanyaan

atau saran yang berhubungan dengan organisasi. Pilhan respon

jawaban yang disediakan peneliti untuk skala ini ialah “Ya” yang

diberi nilai 1 dan “Tidak”, yang diberi nilai 0.

2. Alat pengumpulan data

a. Skala voice behaviour

Skala voice behaviour diadaptasi dari alat ukur yang

telah dikembangkan oleh Van Dyne et al (2003) yang terdiri

dari lima buah aitem prosocial voice. Pertimbangan peneliti

memakai skala ini karena skala Van Dyne et al (2003) tidak

perlu diisi oleh teman kerja dan atasan seperti skala yang

dikembangkan oleh LePine dan Van Dyne (1998) atau hanya

berbentuk self report saja. Tentunya hal ini akan

mempermudah peneliti dalam mengolah data penelitian.

Pada penelitian ini, skala voice behaviour yang dipakai

adalah aitem dari dimensi prosocial voice. Hal ini dikarenakan

bentuk dimensi prosocial voice merupakan bentuk voice yang

banyak dibahas dan bentuk voice yang sama dengan penelitian

lainnya mengenai voice behaviour. Contoh bentuk pernyataannya adalah “Saya selalu merekomendasikan

saran-saran mengenai hal-hal yang memiliki dampak positif bagi

Tabel 3.1

Sebaran aitem skala Voice

Dimensi Nomor aitem Jumlah

Prosocial voice 1,2,3,4,5 5

b. Skala LMX

Skala LMX diadaptasi dari alat ukur yang telah

dikembangkan oleh Liden dan Maslyn (1998). Skala ini berisi

sebelas aitem yang dibuat berdasarkan empat aspek LMX yaitu

loyalitas, afeksi, kontribusi dan penghormatan professional.

Pertimbangan peneliti menggunakan skala Liden dan Masylyn

(1998) dikarenakan skala ini telah banyak digunakan pada

beberapa penelitian mengenai LMX sebelumnya (Liden &

Masyln, 1998; Wang et al. 2016; Dhivya & Sripirabaa, 2015).

Selain itu, alat ukur ini dibuat berdasarkan empat aspek LMX

yang telah disebutkan diatas. Berbeda dengan alat ukur yang

dikembangkan oleh Graen & Uhl-bien (1995) yang tidak

mengikutsertakan aspek penghormatan professional dalam

membuat alat ukurnya. Peneliti mengganti beberapa istilah

yang biasa digunakan dan dikenal oleh subjek pada perusahaan

tempat peneliti mengambil data misalnya “supervisor” diganti menjadi “kepala ruangan”. Salah satu contoh aitem dari skala LMX yang dipakai adalah “Saya sangat menyukai kepala

Tabel 3.2

Sebaran aitem skala LMX

Aspek Nomor aitem Jumlah

Afek (Affect) 1,5,9 3 Loyalitas (Loyality) 2,6,10 3 Kontribusi (Contribution) 3,7 2 Penghormatan professional (Professional respect) 4,8,11 3 Jumlah 11 c. Skala engagement

Variabel employee engagement diukur menggunakan

skala yang dikembangkan oleh Saks (2006). Skala ini berisi

enam buah aitem yang dibuat berdasarkan aspek-aspek dari

employee engagement yaitu semangat, dedikasi dan penyerapan. Alasan peneliti memilih skala ini karena aitem

yang dibuat telah dibedakan dan secara khusus untuk mengukur

organizational engagement dan work engagement dari

karyawan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya

Organizational engagement berbeda dengan work engagement. Organizational engagement merupakan orientasi individu

terhadap sebuah perusahaan atau organisasi dan tujuan dari

organisasi itu sendiri (Guest, 2014) sementara work

engagement lebih kepada pekerjaan yang digelutinya

(Schaufeli, 2002). Oleh karena itu, alat ukur yang digunakan

pada skala ini adalah “Menjadi anggota dari organisasi ini adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi saya.”

Tabel 3.3

Sebaran aitem skala engagement

Aspek Nomor aitem Jumlah

Dedikasi (dedication) 1,3 2

Semangat (vigor) 4,6 2

Penyerapan (absorption) 2,5 2

Jumlah 6

F. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 1. Validitas alat ukur

Untuk mengetahui sejauh mana skala yang akan digunakan

sebagai alat ukur dalam penelitian ini mampu menghasilkan data yang

akurat sesuai dengan tujuan ukurnya, diperlukan suatu proses validasi

(Azwar, 2012). Pada dasarnya terdapat banyak jenis validitas yang

dapat dipakai dalam sebuah penelitian. Diantaranya ialah content

validity, face validity, predictive validity, concurrent validity, convergent validity dan discriminant validity. Peneliti menggunakan

metode validitas isi atau content validity dalam melakukan proses

validasi. Validitas isi merupakan evidensi tentang kesesuaian isi dan

konstruk yang diukur dalam suatu tes diuji dengan menggunakan

analisis logis atau empiris (Supratiknya, 2014). Dalam hal ini, peneliti

menggunakan analisis dari expert judgment atau panel yang

Pembimbing Skripsi sebagai expert judgement yang melakukan

validasi skala penelitian.

Dikarenakan skala yang dipakai adalah skala adaptasi, maka

peneliti juga melakukan proses translation yang juga dibantu oleh

Dosen Pembimbing Skripsi dan beberapa orang mahasiswa Sastra

Inggris Universitas Sanata Dharma untuk menyesuaikan tata bahasa

dan budaya yang ada di Indonesia.

2. Reliabilitas Aitem Skala

Peneliti terlebih dahulu melakukan try out sebelum

mengambil data untuk mengetahui apakah aitem dari alat ukur yang

akan dipakai reliabel atau tidak. Reliabilitas aitem skala pada

penelitian ini diestimasi melalui komputasi statistik, yaitu koefisien reliabilitas (rxx’) yang berada dalam rentang angka 0 sampai dengan 1,00. Jika koefisien reliabilitas semakin mendekati angka 1,00 berarti

pengukuran akan semakin reliabel. Aitem yang baik ialah aitem yang

memiliki nilai rix diatas 0.3 (Azwar, 2012). Try out dilaksanakan pada

hari sabtu, 21 Mei 2016 hingga hari senin, 23 Mei 2016. Subjek try

out berjumlah 40 orang dan merupakan perawat yang bekerja di

sebuah rumah sakit swasta di Pekanbaru, Riau.

Pada masing-masing aitem dari skala voice behavior memiliki

nilai rix di atas 0.3 yang berkisar antara 0.44 sampai dengan 0.81

sehingga keseluruhan aitem dinyatakan reliable dan tidak ada aitem

memiliki nilai rix di atas 0,3 dan berkisar antara 0.482 hingga 0.841,

sehingga dari 11 aitem tidak ada aitem yang digugurkan. Pada skala

engagement pada aitem nomor 2, ditemukan niali rix sebesar 0.023

yang menandakan bahwa aitem tersebut tidak baik untuk dijadikan

alat ukur dan harus digugurkan.

3. Reabilitas Alat Ukur

Salah satu ciri instrument ukur yang berkualitas baik adalah

reliabel. Sebuah alat ukur dapat dikatakan reliabel apabila mampu

menghasilkan skor yang cermat dengan eror pengukuran yang kecil.

Selain itu, reliabilitas dapat diartikan sebagai keterpercayaan atau

konsistensi hasil ukur, yang mengandung makna seberapa tinggi

kecermatan pengukuran sebuah skala (Azwar, 2012; Supratiknya,

2014). Sama halnya dengan reliabilitas aitem, reliabilitas skala pada

penelitian ini diestimasi melalui komputasi statistik, yaitu koefisien reliabilitas (rxx’) yang berada dalam rentang angka 0 sampai dengan 1,00. Jika koefisien reliabilitas semakin mendekati angka 1,00 berarti

pengukuran akan semakin reliabel.

a. Skala voice behavior

Pada skala voice behaviour diketahui memiliki nilai

Cronbach’s Alpha sebesar α = 0.841. Hal ini menunjukkan

bahwa skala voice behaviour yang digunakan memiliki

Tabel 3.4

Reliabilitas skala voice behaviour

Reliability Statistic

Dimensi Cronbach’s Alpha N of Item

Prosocial voice 0.826 5

b. Skala LMX

Pada penelitian sebelumnya, diketahui koefisien alpha

dari skala LMX adalah α = 0.90, 0.74, 0.57 dan 0.89 untuk

aspek afek, loyalitas, kontribusi dan penghormatan

professional (Liden & Masylin, 1998). Sedangkan pada

penelitian yang dilakukan Van Dyne et al (2008) didapati

koefisien alpha sebesar α = 0.90. Setelah diadaptasi menjadi

bahasa Indonesia, peneliti juga melakukan try out untuk

menguji apakah skala LMX yang dipakai reliabel atau tidak.

Oleh karena itu, didapati nilai Cronbach’s Alpha skala LMX

sebagai berikut :

Tabel 3.5

Reliabilitas skala LMX Reliability Statistic Cronbach’s Alpha N of Item

0.908 11

Hasil tabel diatas menunjukkan bahwa nilai Cronbach’s Alpha

angka 1.0 yang berarti alat ukur LMX yang digunakan dalam

penelitian ini memiliki reliabilitas yang tinggi.

c. Skala engagement

Sedangkan untuk skala engagement, peneliti mengadaptasi

skala yang dikembangkan oleh Saks (2006). Pada penelitian

yang dilakukan oleh Saks (2006), didapati koefisien alpha sebesar α = 0.90 yang menandakan bahwa skala ini reliabel. Sedangkan pada penelitian ini, skala organizational engagement yang dikembangkan oleh Saks (2006) tersebut

diadaptasi sesuai dengan tata bahasa dan kebudayaan di

Indonesia tanpa menghilangkan isi atau konten dari setiap

aitem. Oleh karena itu didapati nilai Cronbach’s Alpha skala

engagement sebagai berikut :

Tabel 3.6

Reliabilitas skala engagement Reliability Statistic Cronbach’s Alpha N of Item

0.870 5

Tabel diatas menunjukkan bahwa Cronbach’s Alpha pada

skala engagement sebesar α = 0.870. Hal tersebut

menunjukkan bahwa skala engagement yang dipakai dalam

penelitian ini memiliki reliabilitas yang tinggi. Pada

masing-masing aitem memiliki nilai rix yang berkisar antara 0.54

Dokumen terkait