• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4. Metodologi Penelitian

4.5 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat untuk mengumpulkan data suatu penelitian (Notoatmodjo, 2010). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner data karakteristik responden, angket/kuesioner kebiasaan merokok dan

Adapun penjelasan mengenai instrumen penelitian dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:

4.5.1 Data Karakteristik Responden

Data karakteristik responden terdiri dari nama, umur, TB/BB, pendidikan, pekerjaan, riwayat keluarga yang mengalami kadar kolesterol tinggi, dan gaya hidup berupa: kebiasaan mengkonsumsi makanan sehari-hari, aktivitas fisik, dan konsumsi alkohol.

4.5.2 Kuisioner Kebiasaan Merokok

Bagian kedua kuesioner kebiasaan merokok, yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang digunakan sebagai kategori dari perokok dan bukan perokok serta pertanyaan pendukung. Adapun dikatakan sebagai perokok ringan jika mengkonsumsi 1-10 batang perhari, 11-20 batang perhari disebut perokok sedang, dan lebih dari 20 batang perhari disebut perokok berat (WHO, 2013 dalam Sundari, 2015).

4.5.3 Alat dan bahan Pemeriksaan Kadar Kolesterol Total

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini untuk mengukur kadar kolesterol total adalah pengukur kolesterol elektronik (Autocheck), dan strip yaitu alat yang mengandung bahan kimia yang bila ditetesi darah akan bereaksi dan menunjukkan berapa kadar kolesterol total dalam darah. Bahan yang dipergunakan yaitu lanset, kapas alkohol dan sarung tangan bersih.

Cara pengkuran kadar kolesterol total sebagai berikut:

Peneliti mencuci tangan dan mempersiapkan semua alat dan bahan, kemudian memakai handscone. Selanjutnya memasang stik kolesterol pada alat autocheck . Pada area penusukan di jari, peneliti terlebih dahulu membersihkan menggunakan kapas alkohol. Selanjutnya, peneliti mulai melakukan pemeriksaan, dimana salah satu jari tangan responden akan ditusuk menggunakan lanset agar darah keluar yang kemudian diletakkan pada stik kolesterol. Peneliti membacakan hasil kadar kolesterol total responden setelah alat autocheck berbunyi. Setelah tindakan selesai, peneliti merapikan alat dan mencuci tangan.

4.6 Validitas dan Realibilitas 4.6.1 Validitas

Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur tersebut dapat benar-benar mengukur apa yang diukur. Suatu instrument yang valid atau sahih mempunyai validitas yang tinggi (Arikunto, 2010). Uji validitas instrument bertujuan untuk mengetahui ketepatan dan kecermatan suatu instrument dalam melakukan fungsi ukurnya.

Uji validitas ini dilakukan oleh salah satu dosen Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang ahli dalam bidang ini. Kuisioner ini dinyatakan valid diperoleh nilai CV (0.93).

4.6.2 Realibilitas

Realibilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta atau kenyataan hidup tadi diukur atau diamati berkali-kali dalam waktu yang berlainan (Nursalam, 2017). Uji realibilitas dilakukan apabila kuisioner dinyatakan valid. Data tersebut diolah dengan menggunakan program komputerisasi, yaitu Cronbach’s Alpha. Alat ukur dinyatakan reliabel apabila dilakukan uji realibilitas menggunakan Cronbach’s Alpha dan diperoleh nilai 0,70.

4.6.2.1 Uji Realibilitas Kuisioner Kebiasaan Merokok

Uji realibilitas dilakukan di kota Medan dimana penelitian akan di lakukan yaitu di Kelurahan Sidorejo Hilir Kecamatan Medan Tembung dengan responden yang berbeda namun memiliki karakteristik kriteria inklusi yang sama dengan jumlah responden 30 orang menggunakan teknik cronbach alpha yang di olah dengan komputerisasi dan nilai yang diperoleh telah reliabel yaitu 0,730

4.6.2.2 Uji Realibilitas Alat Pemeriksaan Kadar Kolesterol

Alat pemeriksaan kadar kolesterol total autocheck tidak perlu dilakukan kalibrasi di Institusi atau Universitas, karena alat autocheck yang dipakai oleh peneliti masih baru dan kualitas alat yang baik.

Satu set alat autocheck telah memiliki alat kalibrasi sendiri yaitu berbentuk chip, dimana chip tersebut terdapat kode yang berbeda di setiap pengukuran. Strip

kolesterol dan lanset yang digunakan juga masih baru dengan expired dari strip kolesterol yaitu Mei 2021.

4.7 Prosedur Pengumpulan Data

Sebelum melakukan penelitian, proposal penelitian telah disetujui oleh dosen pembimbing dan mendapat izin penelitian serta menerima surat etik penelitian dari Fakultas Keperawatan USU. Selanjutnya peneliti mengirimkan surat permohonan penelitian kepada Badan Penelitian dan Pengembangan kota Medan dan melampirkan surat izin dari Fakultas Keperawatan USU. Setelah mendapat izin, peneliti memilih calon responden yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Setelah sampai dilokasi dan bertemu dengan responden, peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan kepada responden tentang tujuan, manfaat, dan prosedur pelaksanaan penelitian. Penelitian ini dilakukan pada pagi hari sebelum responden sarapan dan menghisap rokok.

Peneliti selanjutnya meminta kesediaan responden agar mau berpartisipasi dalam proses penelitian sebagai sampel penelitian. Responden yang bersedia berpartisipasi diminta untuk menandatangani inform concent. Peneliti membagikan kuisioner kepada responden yang bersedia dengan mendampingi responden selama pengisian kuisioner. Setelah selesai pengisian kuisioner, peneliti meminta izin untuk melakukan pemeriksaan kadar kolesterol total pada responden. Peneliti juga meminta ijin kepada responden untuk dapat melakukan dokumentasi melalui pengambilan foto ataupun video. Penelitian sempat terhenti karena kondisi Covid-19 dan kembali dilanjutkan setelah kondisi mulai membaik,

4.8 Analisa Data

Setelah seluruh data penelitian dikumpulkan, peneliti kemudian melakukan analisis data dengan melakukan pemeriksaan pada semua lembar penilaian dan kuesioner terlebih dahulu guna untuk memastikan kelengkapan data. Selanjutnya pemberian kode data (coding) dilakukan secara langsung untuk selanjutnya dianalisis menggunakan komputer. Selanjutnya data kuesioner dan lembar pengamatan dimasukkan (entry) ke dalam komputer. Setelah data dimasukkan, dilakukan pemeriksaan terhadap semua data untuk mencegah adanya kesalahan saat memasukkan data (cleaning). Selanjutnya data diolah menggunakan sistem komputerisasi.

Metode statistik untuk analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis univariat dan analisis bivariat:

4.8.1 Analisa Univariat

Analisis ini digunakan untuk menguraikan karakteristik dari setiap variabel yang diteliti, baik variabel bebas maupun variabel terikat. Analisis univariat penelitian ini meliputi distribusi frekuensi data demografi dan distribusi frekuensi dari vareiabel kebiasaan merokok dan kadar kolesterol total.

4.8.2 Analisa Bivariat

Analisis bivariat dalam penelitian ini digunakan untuk menguji pengaruh antara variabel independen, yaitu kebiasaan merokok (merokok dan tidak merokok) terhadap variabel dependen kadar kolesterol total.

Uji yang digunanakan adalah uji Wilcoxon dan Man-Whitney. Analisa dilakukan secara komputerisasi untuk melihat pengaruh kebiasaan merokok terhadap kadar kolesterol total pada laki-laki di dewasa di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung dengan cara melihat pengaruh antara subskor kebiasaan merokok dan subskor kadar kolesterol total. Nilai pengaruhnya dinyatakan ρ.

4.9 Keterbatasan Penelitian

Penelitian yang saya lakukan memiliki keterbatasan yaitu penelitian ini tidak melakukan wawancara secara mendalam terhadap masing-masing responden, dikarenakan pada penelitian ini menggunakan kuisioner tertutup yang pilihan jawabannya sudah ditentukan oleh masing-masing responden.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian

Pada bagian ini akan dijabarkan hasil penelitian dan penjelasan tentang Pengaruh Kebiasaan Merokok terhadap Kadar Kolesterol Total pada Laki-Laki Dewasa di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung. Pengambilan data telah dilakukan pada bulan Maret 2020 sampai dengan bulan Juni dan data diolah awal bulan Juli 2020 dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang. Penyajian data hasil penelitian meliputi data karakteristik responden, data kebiasaan merokok dan data kadar kolesterol total responden serta hasil pengaruh kebiasaan merokok terhadap kadar kolesterol total.

5.1.1 Karakteristik Demografi Responden

Karakteristik demografi responden yang didapat dari proses pengumpulan data antara lain meliputi umur, TB/BB, pendidikan, pekerjaan, riwayat keluarga yang mengalami kolesterol tinggi, dan gaya hidup. Dari 50 responden yang diteliti, diketahui bahwa mayoritas berada pada kelompok usia dewasa awal (26-35 tahun) yakni berjumlah 26 orang (52%). Rata-rata TB/BB responden yaitu 176-185 cm dan 61-70 kg yang berjumlah 29 orang (58%), dan mayoritas tingkat pendidikan terakhir adalah SMA yang berjumlah sebanyak 18 orang (36%) dengan mayoritas pekerjaan responden yaitu tukang becak, driver online, dan tukang bersih-bersih yang berjumlah sebanyak 20 orang (40%). Rata – rata seluruh responden tidak ada yang memiliki keluarga yang mempunyai riwayat kadar kolesterol tinggi. Dilihat dari sisi gaya hidup mayoritas responden sering

berolahraga dan terbiasa melakukan pekerjaan yang melibatkan ativitas fisik, dan tidak mengkonsumsi alkohol. Rata-rata jenis makan yang sering dikonsumsi responden yakni makanan rendah lemak dan tinggi karbohidrat yaitu berjumlah 32 orang (64%).

Untuk lebih jelasnya, gambaran karakteristik demografi dari responden bisa dilihat dalam tabel 5.1 berikut ini.

Tabel 5.1 Distribusi frekuensi dan presentase karakteristik laki-laki dewasa di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung (n=50)

Variabel F %

Riwayat keluarga yang mengalami kadar kolesterol tinggi:

melibatkan aktifitas fisik secara aktif

Data yang diperoleh dari kebiasaan merokok, didapatkan 25 responden merokok dengan persentase 50% dan 25 responden tidak merokok dengan persentase 50%. Pada responden yang merokok, sebagian besar sudah merokok selama lebih dari 10 tahun yaitu berjumlah sebanyak 20 responden dengan persentase (40%), dan jenis rokok yang dihisap sebagian besar rokok dengan filter (50%). Sebagian besar responden yang merokok merupakan perokok sedang yang

menghisap rokok 11-20 batang per hari dengan rata-rata 16 batang per hari.

Rincian lengkapnya telah tertera pada tabel berikut:

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Kebiasaan Merokok Responden (n=50)

Kebiasaan Merokok f %

5.1.3 Kadar Kolesterol Total Responden Merokok dan Tidak Merokok

Sampel terdiri dari 25 laki-laki dewasa yang merokok dan 25 laki-laki dewasa yang tidak merokok. Didapatkan pada responden yang merokok dengan kadar kolesterol total normal berjumlah 5 orang dengan persentase (20%).

Responden dengan kadar kolesterol ambang batas atas berjumlah 15 orang dengan persentase (60%), dan yang memiliki nilai kadar kolesterol yang tinggi berjumlah 5 orang dengan persentasi (20%). Pada responden yang tidak merokok didapatkan hasil kadar kolesterol yang memiliki nilai normal berjumlah 20 orang dengan persentasi (80%), nilai kolesterol pada ambang batas atas berjumlah 5 orang dengan persentase (20%), dan tidak ada responden yang memiliki nilai kadar kolesterol pada jumlah yang tinggi. Rincian lengkapnya tertera pada tabel berikut:

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Kadar Kolesterol Total Responden Merokok dan Tidak Merokok (n=50)

Nilai Kadar Kolesterol Total Kelompok

Merokok Tidak Merokok

(n) (%) (n) (%)

Normal (<200 mg/dL) 5 20 20 80

Ambang Batas Atas (200-239 mg/dL) 15 60 5 20

Tinggi (>240 mg/dL) 5 20 - -

Jumlah 25 100% 25 100%

5.1.4 Pengaruh Kebiasaan Merokok terhadap Kadar Kolesterol Total pada Laki-Laki Dewasa di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung

Berdasarkan hasil yang didapatkan sebanyak 20 laki –laki dewasa yang merokok memiliki nilai kadar kolesterol total yang tinggi dan yang memiliki nilai kadar kolesterol total normal sebanyak 5 responden. Sementara sebanyak 20 laki-laki dewasa yang tidak merokok memiliki nilai kadar kolesterol total normal dan sebanyak 5 responden memilki nilai kadar kolesterol total yang tinggi. Hasil uji wilcoxon menunjukkan terdapat pengaruh merokok terhadap kadar kolesterol total (p=0,000) dan terdapat pengaruh tidak merokok terhadap kadar kolesterol total (p=0,000). Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis pengaruh kebiasaan merokok terhadap kadar kolesterol total pada laki-laki dewasa di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung dengan menggunakan uji Menn-withney diperoleh nilai p= 0,000. Angka ini lebih kecil dari nilai α (alpha)=0,05 sehingga terdapat pengaruh kebiasaan merokok terhadap kadar kolesterol total pada laki-laki dewasa di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung.

Tabel 5.4 Pengaruh Merokok dan Tidak Merokok terhadap Kadar

Kolesterol Total pada Laki-Laki Dewasa di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung

Kadar Kolestrol Tidak Merokok Merokok p

Total (n) (%) (n) (%)

Normal 20 80 5 20

Ambang Batas Atas 5 20 15 60

Tinggi - - -

-Mean Negative 10.50 .00 0,000

Mean Positive .00 10.50

Tabel 5.5 Pengaruh Kebiasaan Merokok terhadap Kadar Kolesterol Total pada Laki-Laki Dewasa di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung

Nilai Kadar Kolesterol Total

Normal Ambang Batas Atas Tinggi Mean Rank Nilai p n % n % n %

Merokok 5 20 15 60 5 20 33,92 0,000 Tidak Merokok 20 80 5 20 - - 17,08

Total 25 100 20 80 5 20

Uji Mann-Whitney; P 0,00 Rerata klasifikasi Kadar Kolesterol Total Merokok 33,92;

Tidak Merokok 17,08

5.2 Pembahasan

5.2.1 Karakteristik Responden

Pada penelitian ini rata-rata usia responden berada pada dewasa awal sebanyak 26 orang dengan persentase 52%. Secara teori faktor usia

yang signifikan selama masa remaja, dikarenakan adanya pengaruh hormon testosterone yang mengalami peningkatan pada masa itu. Laki-laki dewasa di atas 20 tahun umumnya memiliki kadar kolesterol lebih tinggi dibandingkan wanita.

Sebelum menopause, wanita cenderung memiliki kadar kolesterol total yang lebih rendah dibandingkan laki-laki pada usia yang sama. Kadar kolesterol pada wanita dan pria, secara alami meningkat seiring bertambahnya usia. Menopause sering dikaitkan dengan peningkatan kolesterol pada wanita. Pada perempuan yang masih belum menopause masih dilindungi oleh hormon estrogen yang dapat mencegah pembentukan plak pada arteri dan meningkatkan kadar HDL (Ujiani, 2015).

Berdasarkan data responden rata-rata laki-laki dewasa memiliki TB/BB yaitu 61-70Kg (27%). Overweight dan obesitas diakibatkan karena ketidakseimbangan asupan energi dengan energi yang dikeluarkan. Kelebihan energi akan disimpan dalam tubuh dalam bentuk lemak. Penimbunan lemak terutama di bagian tengah tubuh akan meningkatkan risiko terjadinya resistensi terhadap insulin, hipertensi dan hiperkolesterolemia

Berdasarkan data pekerjaan dan aktivitas fisik responden yang memiliki pekerjaan lain-lain (tukang becak dan petugas kebersihan) sebanyak 20 orang (40%) dan aktivitas fisik sebanyak 26 orang memiliki pekerjaan yang melibatkan aktivitas fisik (52%). Melakukan latihan fisik yang rutin dan teratur dapat meningkatkan kadar HDL Jika kadar HDL mengalami peningkatan, itu sangat baik bagi tubuh karena HDL dapat menghindarkan kita dari penyakit kardiovaskuler (Hengkengbala, Polii dan Wungouw, 2013). Olahraga yang teratur

dapat menurunkan kadar LDL dalam plasma, namun dapat meningkatkan kadar HDL dalam plasma, kadar kolesterol juga akan berkurang karena kemungkinan besar karena meningkatnya sensitivitas insulin yang meningkatkan ekspresi lipoprotein lipase (Lombo, 2012).

Berdasarkan data pola makanan/ makanan yang dikonsumsi setiap hari sebanyak 32 orang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi makanan rendah lemak dan tinggi karbohidrat (64%). Asupan karbohidrat yang tinggi akan meningkatkan kolesterol, karena hasil dari pemecahan karbohidrat yang berupa glukosa mengalami hidrolisis menjadi piruvat yang selanjutnya menjadi asetil-KoA.

Apabila asupan karbohidrat lebih banyak dari yang dibutuhkan maka karbohidrat diubah menjadi glikogen dan apabila penyimpanan glikogen sudah penuh maka karbohidrat akan diubah dalam bentuk trigliserida dan disimpan dalam jaringan adipose. Peningkatan asupan lemak juga dapat meningkatkan kolesterol.Hal ini disebabkan karena sebagian besar lemak dalam bentuk trigliserida yang kemudian mengalami hidrolisis menjadi asam lemak bebas.Asam lemak bebas ini selanjutnya mengalami oksidasi menjadi asetil-KoA untuk menghasilkan energi.

Bila asupan karbohidrat, protein dan lemak berlebih maka pembentukan asetil-KoA akan meningkat dan dapat meningkatkan kadar kolesterol (Mulyani, 2018).

Berdasarkan data responden, riwayat/keturunan yang mengalami kadar kolesterol total tinggi yaitu seluruh responden tidak memiliki riwayat atau pun keturunan yang memiliki kadar kolesterol total tinggi (100%). Adanya unsur homocystine dalam darah yang merupakan unsur genetik juga dapat memicu peningkatan kolesterol.Unsur tersebut dapat meningkatkan aktivitas sel platelet

hypercoagulation, gangguan fungsi lapisan dalam pembuluh darah (endothelium) dan oksidasi kolesterol LDL. Jika seseorang memiliki familial hypercholesterolemia (keturunan hiperkolesterolemia) akan menyebabkan kadar kolesterol tinggi yang turun-menurun dalam anggota keluarga dan juga dapat menempatkan seseorang memiliki risiko tinggi terkena serangan jantung lebih awal (Mulyani, 2018).

5.2.2 Kebiasaan Merokok pada Laki-Laki Dewasa

Seluruh responden dalam penelitian ini adalah (50 orang) laki-laki dewasa awal sampai dewasa akhir. Dari hasil penelitian di dapatkan bahwa sebanyak 25 responden dengan persentase 50% memiliki kebiasaan merokok setiap hari dan sebanyak 25 responden dengan persentase 50% tidak memiliki kebiasan merokok.

Pada penelitian ini didapatkan bahwa rata-rata responden sudah merokok lebih dari 10 tahun dan rata-rata dimulai pada usia 20 tahun. Hasil penelitian ini sama dengan data Riskedas tahun 2018 dimana kebiasaan merokok di mulai pada usia

>15 tahun. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nararaya dan Sudhana (2013) pada penelitiannya didapatkan bahwa 12 dari 23 responden (52,2%) yang merokok mengaku mulai merokok sekitar umur 20 – 29 tahun.

Berdasarkan jenis rokok yang dihisap, dari 50 responden seluruhnya mengaku mengisap rokok dengan filter dan tidak ada yang menghisap rokok tanpa filter. Pada penelitian Narayana dan Sudhana (2013) berdasarkan jenis rokok yang dihisap sebesar 60,9% responden yang merokok mengaku mengisap rokok dengan filter dan 39,1% mengisap rokok tanpa filter.

Dari hasil penelitian ini didapatkan sebanyak 5 dari 25 responden yang merokok merupakan perokok ringan yaitu orang yang merokok kurang dari 10 batang perhari, 14 dari 25 responden yang merokok merupakan perokok sedang yaitu orang yang merokok 11-20 batang perhari, dan 6 dari 25 responden merupakan perokok berat yaitu orang yang merokok lebih dari 20 batang perhari.

Dengan rata-rata jumlah rokok yang dihisap dalam sehari sebanyak 15 batang per hari. Penelitian yang dilakukan Narayana dan Sudhana (2013) juga mendukung hasil penelitian, menjelaskan bahwa didapatkan 16 dari 23 responden (69,6%) yang merokok merupakan perokok ringan yaitu orang yang merokok kurang dari 10 batang per hari, dan 7 dari 23 responden (30,4%) yang merokok merupakan perokok sedang yaitu orang yang merokok antara 10 – 20 batang per hari.

5.2.3 Nilai Kadar Kolesterol Total pada Laki-Laki Dewasa Merokok dan Tidak Merokok

Menurut peneliti kemungkinan terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kadar kolesterol total terjadi peningkatan antara lain faktor usia atau umur responden, lamanya merokok, banyaknya jumlah rokok yang dihisap per hari dan juga olahraga. Davidson (2012) mengungkapkan bahwa kadar kolesterol di pengaruhi oleh asupan lemak, karbohidrat dan protein. Asupan serat, asupan kolesterol dari pangan dan aktifitas fisik atau olahraga juga dapat berpengaruh terhadap kadar kolesterol darah (Waloya, Rimbawani dan Andarwulan, 2013).

Hasil penelitian ini menunjukkan responden perokok yang mempunyai

dengan 15 responden (60%) kategori ambang batas atas, dan 5 responden (20%) dengan kategori tinggi. Sementara untuk responden yang bukan perokok memiliki nilai kadar kolesterol normal sebanyak 20 responden (80%), dan sebanyak 5 responden (20%) memiliki kadar tinggi. Hasil penelitian Elsa (2018) menunjukkan responden yang cenderung memiliki kadar kolesterol total diatas normal adalah pada umur 41 – 60 tahun dan >60 tahun. Pada responden yang berumur 40 – 60 tahun yaitu sebanyak 9 responden dari 12 responden sedangkan pada umur >60 tahun yaitu sebanyak 2 responden dari 3 responden.

Merokok menjadi hal penting yang dapat mempengaruhi kadar kolesterol dalam tubuh. Dalam penelitian Lambo (2012), didapatkan responden dengan kebiasaan merokok 14 responden dengan jumlah batang rokok yang bervariasi antara <10 batang per hari, 11-20 batang per hari dan juga ada yang >20 batang per hari. Berdasarkan hasil tersebut responden belum menyadari bahwa merokok dapat mempengaruhi kadar kolesterol dalam darah. Merokok berhubungan dengan rendah-nya kadar kolesterol HDL dalam darah sehingga dapat meningkatkan resiko terkena PJK. Berdasarkan hasil penelitian dari Kusuma et all dalam Zakiyah (2008), asap rokok mengandung karbonmonoksida, sedangkan sel darah merah mempunyai kemampuan lebih besar dalam mengikat karbonmonoksida dari pada oksigen sehingga kapasitas oksigen yang dibawa oleh sel ke jaringan akan berkurang menyebabkan hipoksia jaringan. Nikotin dalam rokok menyebabkan mobilisasi katekolamin yang dapat menambah reaksi trombosit dan menyebabkan kerusakan dinding arteri, sedangkan glikoprotein dalam tembakau dapat menimbulkan reaksi hipersensitivitas dinding arteri.

Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan 16 responden melakukan olahraga secara teratur, dan 26 responden terbiasa melakukan pekerjaan yang melibatkan aktivitas fisik seperti tukang becak, dan tukang bersih-bersih.

Sementara responden yang jarang melakukan olahraga sebanyak 8 orang dan seluruhnya memiliki kadar kolesterol total lebih dari normal. Aktifitas fisik seperti berolahraga juga dalam penelitian ini penting karena berhubungan dengan kadar kolesterol dalam darah. Manfaat olahraga diantaranya melancarkan sirkulasi darah, memperkuat otot, mencegah pengeroposan tulang, menurunkan tekanan darah, menurunkan LDL dan menaikan HDL. Olahraga juga bermanfaat untuk membakar kalori (Pontoh, Pangemanan dan Wungouw, 2013). Melalui hasil penelitian yang dilakukan Lombo (2012) ternyata terdapat 12 responden yang suka untuk berolahraga dan 10 responden tidak menyukai olahraga tetapi dari wawancara didapat bahwa dari responden yang tidak menyukai olahraga mempunyai latar belakang pekerjaan dengan aktifitas fisik yang berat seperti berolahraga yakni bekerja sebagai nelayan, tukang dan petani. Olahraga yang teratur dapat menurunkankadar LDL dalam plasma, namun dapat meningkatkan kadar HDL dalam plasma, kadar kolesterol juga akan berkurang karena kemungkinan besar karena meningkatnya sensitivitas insulin yang meningkatkan ekspresi lipoprotein lipase.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Heslet dalam Sulviana (2008) berolahraga dapat meningkatkan HDL dalam darah sampai 20-30%, kebiasaan berolahraga ini dapat menyingkirkan kolesterol, namun tidak bertahan lama apabila berhenti berolahraga. Penelitian juga dilakukan oleh Durstine dalam

Sulviana (2008) menunjukkan bahwa kebiasaan berolahraga menurunkan kadar LDL dan meningkatkan kadar HDL dalam darah yaitu dengan melakukan olahraga aerobik setidaknya 12 minggu berturut-turut dalam kurun waktu 45-60 menit berolahraga. Melakukan latihan fisik yang rutin dan teratur dapat meningkatkan kadar HDL. Jika kadar HDL mengalami peningkatan, itu sangat baik bagi tubuh karena HDL dapat menghindarkan kita dari penyakit kardiovaskuler. Kolesterol HDL dikenal sebagai kolesterol baik yang terbentuk didalam hati dan usus kecil, yang kemudian di lepaskan ke dalam aliran darah (Hengkengbala, Polii dan Wungouw, 2013)

Dari data penelitian responden yang mengonsumsi makanan tinggi lemak dan tinggi karbohidrat sebanyak 4 orang dengan kadar kolesterol melebihi dari normal. Makanan rendah lemak dan tinggi karbohidrat dikonsumsi sebanyak 32 responden dan hampir seluruhnya memiliki nilai kadar kolesterol total yang tinggi, dan responden yang mengonsumsi makanan rendah lemak dan rendah karbohidrat sebanyak 14 responden dan rata-rata memiliki kadar kolesterol total yang normal. Kolesterol adalah produk khas hasil metabolisme hewan, dengan demikian terdapat dalam berbagai makanan berasal dari hewan seperti kuning telur, hati, daging, dan otak. Setidaknya lebih dari separuh jumlah kolesterol tubuh berasal dari sintesis (sekitar 700 mg/hari) dan sisanya berasal dari makanan

Dari data penelitian responden yang mengonsumsi makanan tinggi lemak dan tinggi karbohidrat sebanyak 4 orang dengan kadar kolesterol melebihi dari normal. Makanan rendah lemak dan tinggi karbohidrat dikonsumsi sebanyak 32 responden dan hampir seluruhnya memiliki nilai kadar kolesterol total yang tinggi, dan responden yang mengonsumsi makanan rendah lemak dan rendah karbohidrat sebanyak 14 responden dan rata-rata memiliki kadar kolesterol total yang normal. Kolesterol adalah produk khas hasil metabolisme hewan, dengan demikian terdapat dalam berbagai makanan berasal dari hewan seperti kuning telur, hati, daging, dan otak. Setidaknya lebih dari separuh jumlah kolesterol tubuh berasal dari sintesis (sekitar 700 mg/hari) dan sisanya berasal dari makanan

Dokumen terkait