BAB III PEMBAHASAN
3.4 Instrumen Dan Prosedur Pengumpulan Data
Dalam penelitian kualitatif terdapat banyak cara yang dipakai untuk mengumpulkan data, cara pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sesuai dengan pedoman menurut (Saryono & Anggraeni, 2010).
1. Wawancara
Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya, teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (in dept interview). Wawancara mendalam (in dept interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan
penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai.
Wawancara dapat dilakukan secara semiterstruktur maupun tak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon (Sugiono, 2015). Dalam hal ini peneliti menggunakan wawancara semi terstruktur dan tak terstruktur.
2. Dokumen
Dokumen adalah sejumlah besar data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Adapun ciri-ciri dari dokumen, seperti dokumen berbentuk tulisan yaitu buku status pasien dan dokumen medik. Teknik atau cara pengumpulan data dalam penelitian kualitatif bersifat naturalistik (alamiah) yakni dengan observasi dan wawancara secara mendalam (Sugiono, 2015). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara dan dokumen. dokumen pada penelitian ini adalah buku status pasien yang berisikan tentang diagnosa pasien dan riwayat penyakit pasien. dokumentasi pada penelitian ini adalah foto pada saat melakukan wawancara kepada pasien.
3.4.2 Alat pengumpulan data
Alat pengumpulan data dapat diambil dari peneliti itu sendiri dan adapun instrumen atau alat yang digunakan dalam penelitian ini (Sugiono, 2015), adalah:
1. Alat tulis
2. Pedoman wawancara/ tak terstruktur/ semi strukture interview 3. Dokumentasi/ status pasien
4. Tape Recorder
3.4.3 Tahap Pengumpulan Data
1. Tahap orientasi
Peneliti melakukan pengumpulan data segera dilakukan setelah peneliti memperoleh izin dari RSUD Kota Surakarta dan menentukan calon informan sesuai dengan kriteria peneliti dan mendiskusikan dengan perawat ruangan terkait, peneliti bertemu langsung dengan calon informan sesuai dengan jadwal kunjungan untuk menjelaskan tujuan peneliti, manfaat penelitian, prosedur penelitian, hak-hak informan serta peran informan dalam penelitian.
Setelah membina hubungan saling percaya kemudian peneliti menanyakan kesediaan calon informan untuk menjadi informan dalam penelitian ini, jika calon informan bersedia menjadi informan dalam penelitian ini selanjutnya peneliti membuat perjanjian tempat dan waktu dilakukan wawancara. Calon informan menanda tangani lembar persetujuan atau informed consent.
2. Tahap pelaksana
Setelah peneliti membuat perjanjian dengan calon informan dan bersedia untuk menjadi informan dalam peneliti ini serta telah menandatangani Informed cosent, selanjutnya adalah wawancara mendalam terhadap informan, wawancara dilakukan sore hari di rumah
informan dengan durasi 30-45 menit. peneliti memberikan pertanyaan kepada informan sesuai dengan pedoman wawancara yang telah dibuat pada saat persiapan sebelum penelitian dilakukan, setelah wawancara selesai peneliti segera melakukan transkripsi hasil wawancara dan melakukan konsultasi dengan pembimbing tentang pertanyaan yang mungkin perlu untuk dikembangkan dan ditambahkan pertanyaan sesuai dengan pedoman wawancara dibuat berdasarkan data yang telah dikumpulkan pada saat studi pendahuluan dan sesuai dengan kriteria-kriteria.
Wawancara dilakukan dengan pedoman wawancara namun tidak bersifat kaku karena pertanyaan dapat berkembang sesuai dengan proses yang berlangsung selama wawancara. Informasi yang disampaikan informan terbebas dari pengaruh orang lain baik dari keluarganya maupun orang terdekat dari informan. Jumlah pertemuan antara peneliti dengan informan berbeda-beda antara satu hingga dua kali pertemuan peneliti selalu memperhatikan kondisi informan jika pada saat pertemuan pertama belum tercapai semua tujuan peneliti maka peneliti membuat kesepakatan pada informan untuk pertemuan yang kedua. Pada wawancara kedua ini juga penting dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada informan melakukan verifikasi/
konfirmasi.
3.5 Analisis Data
Analisa data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutka data kedalam pola, kategori dan satu uraian dasar, sehingga dapat di temukan tema tertentu (Moleong, 2007). Proses analisa dalam penelitian ini menggunakan langkah-langkah dari Colaizzi (Streubert & Carpenter).
Alasan pemilihan metode analisa ini didasarkan pada kesesuaian dengan filosofi Husserl, yaitu suatu penampakan fenomena (informan), sehingga sangat cocok untuk memahami arti dari suatu makna fenomena konsep diri pada pasien TB paru.
Adapun langkah-langkah analisa sebagai berikut:
1. Membuat deskripsi informan tentang fenomena dari informan dalam bentuk narasi yang bersumber dari wawancara.
2. Membaca kembali secara keseluruhan deskripsi informasi dari informan untuk memperoleh perasaan yang sama seperti pengalaman informan. Peneliti melakukan 3-4 kali membaca transkip untuk merasa hal yang sama seperti informan.
3. Mengidentifikasi kata kunci melalui penyaringan pernyataan informan yang signifikan dengan fenomena yang di teliti. Pernyataan-pernyataan yang merupakan pengulangan dan mengandung makna yang sama atau mirip maka pernyataan ini di abaikan.
4. Memformulasikan arti dari kata kunci yang sesuai pernyataan penelitian selanjutnya mengelompokkan lagi kata kunci yang sejenis.
Peneliti sangat berhati-hati agar tidak membuat penyimpangan arti dari
pernyataan informan dengan merujuk kembali pada pernyataan informan yang signifikan. Cara yang perlu dilakukan adalah menelaah kalimat satu dengan yang lainnya.
5. Mengorganisasikan arti-arti yang telah teridentifikasi dalam beberapa kelompok tema tersebut.
6. Mengumpulkan semua hasil penelitian kedalam suatu narasi yang menarik dan mendalam sesuai dengan topik penelitian.
7. Mengembalikan semua hasil penelitian pada masing-masing informan lalu diikutsertakan pada diskripsi hasil akhir penelitian.
3.6 Keabsahan Data
Keabsahan data pada penelitian kualitatif meliputi kredibility, transferability, dependebility dan confirmability.
1. Kredibility atau validitas internal antara lain dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, tringulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, dan member chek.
2. Transferability atau validitas eksternal menunjukkan derajat ketepatan atau dapat diterapkannya hasil penelitian ke populasi di mana sampel tersebut di ambil. Nilai transfer ini berkenaan dengan pertanyaan, hingga mana hasil penelitian dapat diterapkan atau digunakan dalam situasi lain.
3. Dependebility atau reliabilitas adalah apabila orang lain dapat
mengulangi/ mereplikasi proses penelitian tersebut, dalam penelitian kualitatif, uji depenability dilakukan dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian.
4. Confirmability atau obyektivitas, penelitian dikatakan obyektif bila hasil penelitian telah disepakati banyak orang, dalam penelitian kualitatif uji konfirmability mirip dengan uji dependability sehingga pengujiannya dapat dilakukan secara bersaman.
3.7 Etika Penelitian
Etika penelitian meliputi antara lain informed consent, anonimity dan confidentiality .
1. Informed consent adalah pernyataan kesediaan dari subjek penelitian untuk diambil datanya dan ikut serta dalam penelitian. Aspek utama informed consent yaitu informasi, komprehensif dan volunterness, dan juga lembar persetujuan yang akan diberkan responden yang akan diteliti dan memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan manfaat penelitian.
2. Anonimity (Tanpa Nama), untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak mencantumkan nama informan, tetapi lembar tersebut diberikan kode, nama informan selama penelitian tidak digunakan melainkan diganti dengan nomor dan inisial peneliti. Nomor dan inisial dari informan ini digunakan dengan tujan untuk menjaga kerahasiaan informan dan mencegah kekeliruan peneliti dalam memasukan data, berikut kode informan yang digunakan dalam penelitian ini: informan I (I01),
informan II (I02), dan seterusnya.
3. Confidentiality (kerahasiaan), kerahasiaan informasi informan dijamin oleh peneliti.
44 BAB IV
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di RSUD Kota Surakarta. RSUD Kota Surakarta merupakan Rumah Sakit yang di dirikan pemerintah kota solo yang berlokasi di pinggiran utara kota Surakarta Jawa Tengah. Pelayanan RSUD Kota Surakarta meliputi IGD 24 jam, rawat jalan seperti poliklinik umum, gigi, penyakit dalam, obsetri dan ginekologi, anak, mata, kulit dan kelamin, THT, syaraf, paru, serta VCT. Rawat inap seperti non bedah/ umum, bedah, anak, obsetri dan ginekologi.
Dan penunjang seperti ICU, radiologi, hemodialisa, laboratorium, farmasi, dan lainnya.
RSUD Kota Surakarta menjadi rumah sakit pilihan dan telah memiliki pasien dari berbagai daerah sekitar Surakarta jawa tengah. Pasien yang datang ke RSUD Kota Surakarta khususnya poli dalam bukan hanya pasien yang akan melakukan kontrol rutin, selain itu juga terdapat pasien rujukan dari puskesmas untuk mendapatkan penanganan selanjutnya seperti TB paru yang harus di lakukan pemeriksaan dahak, rontgen dan pemberian obat. Penyakit TB paru akan berdampak pada konsep diri penderita seperti permasalahan pada fisik, mental, dan sosial si penderita. Maka dari itu peneliti melakukan penelitian tentang konsep diri pada pasien TB paru di RSUD Kota Surakarta.
Bab ini peneliti menyajikan mengenai hasil penelitian mengenai Konsep Diri Pada Pasien TB di RSUD Kota Surakarta. Hasil penelitian di uraikan menjadi dua bagian, bagian pertama menjelaskan karateristik informan yang terlibat dalam
penelitian secara singkat, bagian ke dua menguraikan hasil penelitian tentang Konsep Diri Pada Pasien TB.
4.1. Karateristik Informan
Informan dalam penelitian ini berjumlah 3 informan yaitu pasien TB paru di RSUD Kota Surakarta. Adapun karateristik informan antara lain adalah sebagai berikut :
4.1.1 Informan 1
Informan pertama adalah laki-laki yang berinisial Tn. S usia 48 tahun.
Tempat tanggal lahir Surakarta, 6 November 1967. Agama Kristen.
Pendidikan SD. Pekerjaan Buruh. Alamat sambirejo RT 5 RW 9 kadipiro Surakarta. Status perkawinan sudah menikah. Kewarganegaraan Indonesia. Riwayat penyakit 5 bulan menderita TB paru.
4.1.2 Informan 2
Informan kedua adalah laki-laki yang berinisial Tn. N usia 55 tahun.
Tempat tanggal lahir Sragen, 3 Januari 1961. Agma Islam. Pendidikan SD.
Pekerjaan Buruh. Alamat Gedong, RT 07 RW 10 Kadipiro Banjarsari Solo. Status perkawinan sudah menikah. Kewarganegaraan Indonesia.
Riwayat penyakit 3 bulan menderita TB paru.
4.1.3 Informan 3
Informan ketiga adalah perempuan yang berinisial Tn. A usia 28 tahun.
Tempat tanggal lahir Kediri, 4 September 1987. Agama Islam. Pendidikan SMA. Pekerjaan Buruh. Alamat kayan, RT 01 RW 02 Krendawahono
Gondang Rejo Solo. Status perkawinan sudah menikah. Kewarganegaraan Indonesia. Riwayat penyakit 3 bulan menderita TB paru.
4.2.Hasil Penelitian
Peneliti akan menguraikan hasil wawancara sesuai dengan tujuan dalam penelitian ini, meliputi : 1) Gambaran diri, 2) Ideal diri, 3) Harga diri, 4) Peran, 5) Identitas diri
4.2.1. Gambaran Diri
Dari gambaran diri di hasilkan 3 tema yaitu : 1) kondisi fisik, 2) kondisi psikologis, 3) kondisi sosial
4.2.1.1.Kondisi fisik
Dua informan mengatakan bahwa gambaran dirinya berupa bentuk tubuh
“… pandangan saya itu ya gimana ya wong dulunya itu saya sehat gemuk sekarang kurus ya itugara-gara kena penyakit tb tu…”(I.1)
“…ya ini pak jadi kurus berat badan turun dulunya itu 60 kg pas saya timbang terakhir itu cuman 45 kg sudah turun berapa kilo itu…” (I.3)
Dua informan dari satu informan yang sama mengatakan bahwa gambaran dirinya berupa kondisi tubuh
“…ya sebelumnya saya itu menjadi tulang punggung menjadi orang yang bekerja keras tapi sekarang setelah kena penyakit ini saya itu jadi lemah…” (I.2)
“…emm kurang percaya diri pak sekarang ini kurus ngangkat-ngangkat ndak kuat jalan sana-sini ya cepat capek pak…”(I.3)
Hasil analisis dari tiga informan menghasilkan bahwa kondisi fisik pasien TB paru mengalami perubahan yaitu dua informan tubuhnya menjadi kurus dan dua dari satu informan yang sama kondisi tubuhnya lemah dan cepat capek.
4.2.1.2.Kondisi psikologis
Tiga informan mengatakan bahwa gambaran dirinya berupa perasaan negative
“…ya ada dulu waktu gemuk sehat kuat kemana-mana bisa ko sekarang mau kemana-mana nda bisa ko cuma duduk-duduk ga percaya diri ya ada…” (I.1)
“…ya seperti tidak berguna…” (I.2)
“…emm kurang percaya diri pak sekarang ini kurus ngangkat-ngangkat ndak kuat jalan sana-sini ya cepat capek pak…” (I.3)
Dua informan yang sama mengatakan bahwa gambaran dirinya berupa perasaan positif
“…yo masih mensyukuri masih di kasih umur panjang itu…”(I.1)
“…ya sering mensyukuri memang ya ini opo keadilan allah itu seperti ini, ini adil sangat lah adil hehe…” (I.2)
Hasil analisis dari tiga informan menghasilkan bahwa kondisi psikologis pasien TB paru tiga informan memiliki perasaan negative seperti tidak berguna dan tidak percaya diri dan dua informan yang sama juga menyatakan perasaan positif yaitu masih tetap mensyukuri.
4.2.1.3. Kondisi sosial
Dua informan mengatakan bahwa gambaran dirinya berupa terisolasi
“…terus itu ya itu g bisa kemana mana cuma di rumah aja sama hubungan keluarga itu kurang…” (I.1)
“…kalau sekarang lagi sakit gini lebih sering di rumah pak g bisa kumpul atau ikut kegiatan di masyarakat kaya ronda sama kerja bakti…”(I.3)
Hasil analisis dari dua informan menghasilkan bahwa kondisi sosial pasien TB paru menjadi terganggu karena penyakit TB paru membuat pasien TB paru tidak dapat bersosialisasi seperti biasanya dan lebih sering di rumah.
4.2.2. Ideal Diri
Dari ideal diri di hasilkan 3 tema yaitu : 1) kesehatan 2) dukungan lingkungan, 3) kebutuhan ekonomi
4.2.2.1. Kesehatan
Dua informan mengatakan bahwa ideal dirinya berupa sembuh/
sehat
“…harapannya yo itu biar penyakite hilang dapat anu kembali cari uang lagi nafkahi anak-anak sama istri itu g seperti ini cuma duduk-duduk susah…” (I.1)
“…harapannya ya supaya bisa sehat kembali ya bisa bekerja lagi paling tidak itu harus punya pemasukan buat keluarga…”(I.2)
Satu informan mengatakan bahwa ideal dirinya berupa kesehatan fisik
“…ya harapan saya sih ya cepat sembuh pak kan kalau dulu itu saya sehat kerja itu ya g cepat capek pak sekarang kerja dikit udah capek
…” (I.3)
Hasil analisis dari tiga informan menghasilkan bahwa ideal diri pasien TB paru yaitu penyakitnya hilang bisa sehat kembali dan tidak cepat capek.
4.2.2.2. Dukungan lingkungan
Dua informan mengatakan bahwa ideal dirinya berupa kebersamaan
“…harapan saya ya cuma satu cuma bisa anu itu bisa kumpul g minder gitu lo sama teman itu ya cuma itu…”(I.1) “…ya kalau bisa cepat sehat la pak biar bisa ikut kegiatan masyarakat kaya dulu lagi ngumpul-ngumpul gitu sama temen…” (I.3)
Satu informan yang sama mengatakan bahwa ideal dirinya berupa perasaan positif
“…harapan saya ya cuma satu cuma bisa anu itu bisa kumpul g minder gitu lo sama teman itu ya cuma itu…” (I.1) Satu informan mengatakan bahwa ideal dirinya berupa pengakuan
“…ya supaya saling mengerti aja saling mengerti dalam keadaan saya lagi kena penyakit ya jangan di hina jangan di ejek…” (I.2)
Hasil analisis dari tiga informan menghasilkan bahwa ideal diri pasien TB paru terhadap lingkungan bisa kumpul lagi, tidak minder, dan saling mengerti.
4.2.2.3. Kebutuhan ekonomi
Tiga informan mengatakan bahwa ideal dirinya berupa bekerja
“…harapannya yo itu biar penyakite hilang dapat anu kembali cari uang lagi nafkahi anak-anak sama istri itu g seperti ini cuma duduk-duduk susah…” (I.1)
“…harapannya ya supaya bisa sehat kembali ya bisa bekerja lagi paling tidak itu harus punya pemasukan buat keluarga…” (I.2)
“…ya kalau harapan saya sih biar cepat sembuh terus bisa kerja lagi buat nambah pemasukan keluarga…”(I.3)
Hasil analisis dari tiga informan menghasilkan bahwa ideal diri pasien TB paru bisa bekerja lagi nafkahi anak istri, punya pemasukan buat keluarga dan mencukupi kebutuhan dalam kelurga.
4.2.3. Harga Diri
Dari harga diri di hasilkan 1 tema yaitu : 1) HDR 4.2.3.1. Harga Diri Rendah (HDR)
Tiga informan mengatakan bahwa harga dirinya berupa kritik diri sendiri
“…Ya malunya sama diri sendiri…” (I.1)
“…g sih, g begitu saya ya seolah olah menyalahkan diri sendiri gitu na, g jadi beban untuk…” (I.2)
“…ya ada pak malu punya penyakit kaya gini mau ngapa-ngapain g bisa…” (I.3)
Dua informan yang sama mengatakan bahwa harga dirinya
“…g marah g tersinggung cuma sedih gitu aja…” (I.1)
“…ya aga terganggu sih seperti misalnya mau ngobrol jaga jarak ngobrolnya juga jauhan kan rasanya lain pak…” (I.3) Tiga informan yang sama mengatakan bahwa harga dirinya nantinya sembuh ko istri saya kan cuma ngeyem-ngeyem gitu lo…”(I.1)
“…g ada karena apa yo cemas sih, tapi kita lalu anu ya…”(I.2)
“…ya cemas sih pak kepikiran keluarga kasihan kalau saya gini terus g kerja kasihan anak sama istri...”(I.3)
Hasil analisis dari tiga informan menghasilkan bahwa pasien TB paru mengalami harga diri rendah seperti malu dengan penyakitnya, merasa bersalah terhadap diri sendiri, sedih, dan merasa cemas.
4.2.4.Peran
Dari peran di hasilkan 2 tema yaitu : 1) kesesuaian, 2) kegagalan 4.2.4.1. Kesesuaian
Tiga informan mengatakan bahwa peran dirinya berupa peran yang di terima
“…sebagai kepala keluarga…”(I.1)
“…sebagai apa ya, ya sebagai kepala rumah tangga…”(I.2) “…sebagai kepala keluarga…”(I.3)
Dua informan yang sama mengatakan bahwa peran dirinya berupa fungsi dalam masyarakat
“…ya masyarakat biasa…”(I.2)
“…masyarakat biasa…”(I.3)
Hasil analisis dari tiga informan menghasilkan bahwa peran pasien TB paru sesuai pada posisinya sebagai kepala keluarga dan masyarakat biasa.
4.2.4.2. Kegagalan
Satu informan mengatakan bahwa peran dirinya berupa terbatasi
“…ya di rumah cuma duduk-duduk…”(I.1)
Dua dari satu informan yang sama mengatakan bahwa peran dirinya berupa ketidak puasan
“…ya belum puas, ya belum puasnya itu tadi hubungan sama istri g bisa lancar gitu lo…”(I.1)
“…belum puas sebagai laki-laki…”(I.2)
“…ya kalau gini sih kurang puas pak tapi ya mau di apain namanya orang lagi sakit…”(I.3)
Hasil analisis dari satu informan menghasilkan bahwa peran pasien TB paru mengalami keterbatasan hanya bisa di rumah saja dan juga tidak puas dengan keadaannya yang sedang menderita TB paru.
4.2.5. Identitas Diri
Dalam identitas diri di hasilkan 2 tema yaitu : 1) Data diri, 2) Status 4.2.5.1. Data Diri
Tiga informan mengatakan bahwa identitas dirinya berupa nama
“…Tn. s…”(I.1)
“…Tn. n…”(I.2)
“…Tn. a…”(I.3)
Tiga informan mengatakan bahwa identitas dirinya berupa tempat tanggal lahir
“…solo anu Surakarta tanggal lahir 6 november 1967…”(I.1)
“…sragen ee karang asem tanon sragen…”(I.2)
“…1961 bulan pertama tanggal 3…”(I.2)
“…kediri 4 september 1987…”(I.3)
Tiga informan mengatakan bahwa identitas dirinya berupa jenis kelamin
“…laki-laki…”(I.1)
“…laki-laki…”(I.2)
“…laki-laki…”(I.3)
Tiga informan mengatakan bahwa identitas dirinya berupa kewarganegaraan
“…indonesia…”(I.1)
“…indonesia…(I.2)
“…indonesia…(I.3)
Hasil analisis dari tiga informan menghasilkan bahwa kesadaran pasien TB paru dalam memperkenalkan identitasnya seperti data diri.
4.2.5.2. Status
Tiga informan mengatakan bahwa identitas dirinya berupa alamat
“…sambirejo rt no 5 rw 9 kadipiro Surakarta…”(I.1)
“…ohh alamat rumah di gedong, RT 07 RW 10 Kadipiro Banjarsari Solo…”(I.2)
“…kayan RT 01 RW 02 Krendawahono Gondang Rejo Solo…”(I.3)
Tiga informan mengatakan bahwa identitas dirinya berupa agama
“…kristen…”(I.1)
“…islam…”(I.2)
“…islam…”(I.3)
Tiga informan mengatakan bahwa identitas dirinya berupa status perkawinn yaitu menikah
“…nikah…”(I.1)
“…sudah menikah…(I.2)
“…sudah menikah…(I.3)
Tiga informan mengatakan bahwa identitas dirinya berupa pekerjaan yaitu buruh
“…buruh…”(I.1)
“…buruh…(I.2)
“…buruh…(I.3)
Hasil analisis dari tiga informan menghasilkn bahwa kesadaran pasien TB paru dalam memperkenalkan identitasnya seperti status.
56 BAB V PEMBAHASAN
5.1. Gambaran Diri
Hasil penelitian mengenai gambaran diri pada pasien TB paru, informan mengatakan badan kurus, berat badan turun, lemah, cepat capek, merasa minder, tidak percaya diri, seperti tidak berguna, malu mau ngumpul, mensyukuri, tidak bisa kemana-mana, cuma di rumah saja, jaga jarak, menjauh, tidak ikut kegiatan di masyarakat, seperti putus hubungan di masyarakat, seperti di asingkan.
Penderita TB Paru biasanya mengalami perubahan bentuk fisik menjadi lebih kurus dan tampak pucat, sering batuk-batuk, badan lemah dan kemampuan fisikpun menurun, Perubahan mental seperti gangguan konsep diri, dan perubahan sosial seperti hubungan dengan orang lain terganggu (Purwoto, 2009). TB Paru dapat mengganggu keadaan fisik dan psikososial penderita yang mempengaruhi harga diri penderita TB Paru.Penderita TB Paru dengan pengobatan lama akan mengalami tekanan psikologis dan merasa tidak berharga bagi keluarga dan masyarakat (Sulistiyawati Endah, 2012).
Berdasarkan hal tersebut gambaran diri pasien TB paru mengalami perubahan pada fisik mental dan sosial yang menunjukkan pasien TB paru menjadi kurus, lemah, berperasaan negatife dan hubungan di lingkungan masyarakat maupun keluarga menjadi terganggu.
5.2. Ideal Diri
Hasil penelitian mengenai ideal diri pada pasien TB paru, informan mengatakan harapannya penyakitnya hilang, bisa sehat kembali, cepat sembuh, bisa kumpul lagi, ikut kegiatan di masyarakat, kumpul sama teman, tidak minder, di priyoritaskan, supaya saling mengerti, jangan di hina jangan di ejek, bisa kerja lagi, cari uang, nafkahi anak istri
Menurut Saronson dkk dalam Mazbow (2009) dukungan lingkungan sosial memiliki peranan penting untuk mencegah dari ancaman kesehatan mental. Individu yang memiliki dukungan lingkungan sosial yang lebih kecil akan lebih memungkinkan mengalami konsekuensi psikis yang negatif. Keuntungan individu yang memperoleh dukungan sosial yang tinggi akan menjadi individu lebih optimis dalam menghadapi kehidupan saat ini maupun masa yang akan datang, lebih terampil dalam memenuhi kebutuhan psikologi dan memiliki sistem yang lebih tinggi, serta tingkat kecemasan yang lebih rendah, mempertinggi interpersonal skill (keterampilan interpersonal), memiliki kemampuan untuk mencapai apa yang diinginkan dan lebih dapat membimbing individu untuk beradaptasi dengan stress.
berdasarkan hal tersebut pentingnya dukungan lingkungan sosial dalam proses kesehatan mental pasien TB paru. karena pasien TB paru yang memiliki dukungan lingkungan sosial yang lebih kecil memungkinkan mengalami konsekuensi psikis yang negatife dan dapat menjadikan tidak punya harapan untuk sembuh. berdasarkan hasil
penelitian tersebut juga di temukan data harapan untuk sembuh, sehat kembali, penyakitnya hilang, bisa bekerja lagi, cari uang, nafkahi anak istri.
dukungan lingkungan sosial memotivasi pasien TB paru untuk sembuh,
dukungan lingkungan sosial memotivasi pasien TB paru untuk sembuh,