• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. Tata kelola kawasan konservasi perairan

5.3 Instrumen tata kelola sumber daya kelautan

Dalam studi ini kami mempergunakan wawancara kelompok fokus dan narasumber utama untuk mengkarakterisasi tata kelola sumber daya kelautan di Bentangan Laut Kepala Burung di bawah rejim pengelolaan yang berbeda (KKP vs non KKP).

Kelompok fokus adalah diskusi yang difasilitasi antara sekelompok orang mengenai suatu topik tertentu untuk mendapatkan gambaran tentang pemahaman bersama/kolektif maupun perspektif yang berbeda yang ada dalam suatu kelompok (Bernard 1995). Dalam studi ini kami melakukan diskusi kelompok fokus untuk mendokumentasikan pemahaman bersama atas tata kelola sumber daya kelautan di wilayah geografi tersebut. Diskusi kelompok fokus, yang difasilitasi oleh anggota senior tim lapangan UNIPA, dilaksanakan untuk memperoleh informasi mengenai batasan dan karakteristik (e.g. spesies-spesies penting, habitat dan kelompok pengguna) dari suatu unit tata kelola sumber daya kelautan (sebuah KKP atau lokasi penangkapan ikan) dan bagaimana semua itu dikelola. Instrumen diskusi kelompok fokus (Lampiran 5.1) mendapatkan informasi lewat berbagai cara termasuk pilihan terbatas dan pertanyaan terbuka, selain juga pemetaan bersama dan penyusunan peringkat.

Versi 1.0 (September 2012) 60

Tabel 5.1 Indikator tata kelola untuk instrumen diskusi kelompok terarah (FGD) dan wawancara informan kunci (KII). Diadaptasi dari Ostrom (1990).

Prinsip Rancangan Atribut Dimensi Pertanyaan Pengukuran 1. Batasan yang terdefinisi

dengan jelas

1a. Pengguna [FGD-12] Proporsi pengguna yang mengetahui batas-batas eksternal CPR [FGD-13] Proporsi pengguna yang mengetahui batas-batas internal CPR 1b. Sumber daya i. Aturan tergantung

konteks: spesies [KII-5] Proporsi spesies penting yang pemanfaatannya diatur secara spesifik ii. Aturan tergantung

konteks: habitat

[KII-5] Proporsi habitat penting yang pemanfaatannya diatur secara spesifik

iii. Aturan tergantung

konteks: pengguna [KII-6] Proporsi pengguna penting yang kegiatan pemanfaatannya diatur secara spesifik

2. Ada keselarasan 2a . Proporsionalitas [FGD-27]

[FGD-28]

Rata-rata rasio biaya-manfaat bagi pengguna

2b. Kesesuaian aturan

dengan kondisi lokal [KII-7] Aturan bervariasi sejalan dengan kondisi ekologis [KII-8] Aturan bervariasi sejalan dengan kondisi sosial 3. Ada aturan pemanfaatan

bersama

3a. Partisipasi dalam pengambilan keputusan

i. Penetapan [FGD-14] Proporsi pengguna yang secara aktif berpartisipasi dalam penetapan KKP

ii. Batasan KKP [FGD-15] Proporsi pengguna yang secara aktif berpartisipasi dalam penetapan batasan KKP

iii. Organisasi pengelola [FGD-16] Proporsi pengguna yang secara aktif berpartisipasi dalam merancang struktur organisasi pengelola

iv. Aturan peruntukan [FGD-17] Proporsi pengguna yang secara aktif berpartisipasi dalam pembuatan aturan

4. Ada pengawasan 4a. Pengawasan aktif i. Kondisi ekologi CPR. [FGD-18] Frekuensi/seringnya kondisi sumber daya kelautan dipantau

Prinsip Rancangan Atribut Dimensi Pertanyaan Pengukuran

ii. Kondisi sosial CPR. [FGD-19] Frekuensi kondisi kesejahteraan warga yang tergantung pada sumber daya kelautan dipantau

iii. Perilaku yang pantas

(kepatuhan) [FGD-20] Frekuensi kepatuhan pada peraturan peruntukan dipantau 4b. Pengawasan yang

dapat

dipertanggungjawabkan

i. Sanksi untuk kegagalan memantau kondisi ekologis

[KII-22] Jumlah sanksi yang dijatuhkan untuk kegagalan memantau kondisi ekologis

i. Sanksi untuk kegagalan mengawasi kondisi sosial

[KII-23] Jumlah sanksi yang dijatuhkan untuk kegagalan memantau kondisi sosial

i. Sanksi untuk kegagalan mengawasi kepatuhan pada aturan peruntukan

[KII-24] Jumlah sanksi yang dijatuhkan untuk kegagalan memantau kepatuhan pada aturan peruntukan

i. Sanksi untuk kegagalan penegakan aturan peruntukan

[KII-25] Jumlah sanksi yang dijatuhkan untuk kegagalan penegakan aturan peruntukan

5. Ada sanksi yang pantas 5a. Peluang sanksi

diterapkan i. Sanksi yang dijatuhkan

secara bertahap [FGD-21] Jumlah sanksi yang diterapkan untuk menegakkan kepatuhan pada aturan peruntukan

[FGD-21 A,B] Sanksi verbal [FGD-21 C-E] Sanksi denda [FGD-21 F] Sanksi fisik ii. Peluang sanksi

diterapkan [KII-18] Peluang sanksi diterapkan 5b. Sanksi tergantung

konteks i. Karakteristik

pelanggaran [KII-19,

A-D] Sanksi yang dipengaruhi karakteristik pelanggaran ii. Karakteristik pelaku

pelanggaran [KII-19, E-G] Sanksi yang dipengaruhi karakteristik pelaku pelanggaran

62 Versi 1.0 (September 2012)

Prinsip Rancangan Atribut Dimensi Pertanyaan Pengukuran 5c. Akuntabilitas pada

pengguna

i. Pengguna menentukan sanksi

[KII-22]

[FGD-22]

Proporsi sanksi yang diterapkan oleh para pengguna

ii. Petugas yang bertanggungjawab menentukan sanksi

[KII-25] Jumlah sanksi yang diterapkan terhadap para pemantau

5d. Insentif [KII-20] Jumlah insentif untuk mendorong kepatuhan terhadap aturan peruntukan.

6. Ada mekanisme

penyelesaian konflik 6a. Cepat [FGD-24A] Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik antar pengguna (dalam hari)

[FGD-24B] Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik antara pengguna dan petugas (daam hari)

6b. Biaya rendah [FGD-25A] Rata-rata biaya yang ditanggung untuk menyelesaikan konflik antar pengguna (dalam Dolar AS)

[FGD-25B] Rata-rata biaya yang ditanggung untuk menyelesaikan konflik antara pengguna dan petugas (dalam Dolar AS)

6c. Mudah diakses [FGD-26A] Rata-rata waktu tempuh perjalanan untuk menyelesaikan konflik antar pengguna (dalam menit)

[FGD-26B] Rata-rata waktu tempuh perjalanan untuk menyelesaikan konflik antara pengguna dan petugas (menit)

7. Ada pengakuan minimal atas hak untuk

berorganisasi

[KII-14] Proporsi pengguna yang haknya untuk berorganisasi paling tidak diakui oleh pemerintah

[KII-15] Sejauh mana aturan peruntukan menjadi bagian tindakan pemerintah nasional.

Prinsip Rancangan Atribut Dimensi Pertanyaan Pengukuran 8. Pengelolaan bersifat

berjenjang

[KII-2] Proporsi zona pengelolaan dikoordinasi secara lintas tingkat pemerintahan

Versi 1.0 (September 2012)

64 Kami melakukan wawancara semi terstruktur dengan para narasumber utama untuk mendapatkan informasi spesifik mengenai seluk beluk tata kelola sumber daya kelautan di Bentang Laut Kepala Burung.

Narasumber utama adalah individu dengan pengetahuan khusus mengenai topik tertentu dan mereka bersedia untuk berbagi pengetahuan tersebut (Bernard 1995). Dalam studi ini, narasumber utama adalah seseorang yang memiliki pengetahuan spesifik dan rinci tentang pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya kelautan di KKP dan di tempat orang biasanya menangkap ikan (untuk pemukiman kontrol yang dicocokkan secara kasar).

Wawancara narasumber utama membuat kami bisa mengeksplorasi aspek-aspek sensitif dari tata kelola sumber daya kelautan, seperti pengawasan dan penegakan aturan serta informasi khusus (misalnya struktur organisasi pengelolaan sumber daya); informasi yang tidak bisa dengan mudah didapat dari diskusi kelompok fokus. Instrumen wawancara narasumber utama (Lampiran 5.2) berisi pilihan terbatas dan pertanyaan terbuka, agar kami bisa mendapatkan data kuantitatif yang bisa dibandingkan dan data kualitatif untuk memberikan gambaran kontekstual terperinci tentang kondisi yang ada.

Dalam studi ini, instrumen diskusi kelompok fokus dan wawancara narasumber utama saling terkait, dengan informasi yang didapat dari diskusi kelompok fokus (misalnya daftar spesies penting, habitat dan pengguna) digunakan untuk menanyakan pertanyaan yang secara konteks signifikan kepada narasumber utama (lihat Lampiran 5.3 untuk panduan terperinci).

Kedua instrumen tata kelola sumber daya kelautan dalam studi ini (Lampiran 5.1 dan 5.2) berisi pedoman untuk tim lapangan, pertanyaan, kotak jawaban, dan jika diperlukan, kode jawaban. Setiap instrumen disertai dengan panduan (Lampiran 5.3 dan 5.4) yang berisi penjelasan rinci tentang instrumen itu dan panduan tahap demi tahap untuk melakukan diskusi kelompok fokus dan wawancara narasumber utama di pemukiman. Panduan kodeuntuk setiap instrumen juga tersedia di Lampiran 5.5. dan 5.6.

Kedua instrumen untuk menggali permasalahan tata kelola difokuskan pada isu pada tingkat lokal. Diskusi kelompok fokus dan wawancara narasumber utama dilakukan di KKP, fokusnya adalah pada tata kelola KKP itu sendiri. Sementara itu, pada kegiatan serupa di pemukiman kontrol fokusnya adalah tentang

‘tempat orang biasanya menangkap ikan’, yang didefinisikan sebagai suatu daerah yang paling umum (atau biasa/sering) didatangi penduduk setempat untuk menangkap ikan. Di Papua, batasan wilayah ‘tempat umumnya orang menangkap ikan’ biasanya sama dengan batasan wilayah yang menjadi hak masyarakat adat atas sumber daya kelautan.

Instrumen dan panduannya dikembangkan dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Jika peneliti berencana melakukan survei menggunakan bahasa lain, instrumen ini harus diterjemahkan oleh penutur asli bahasa tersebut dan diterjemahkan kembali ke dalam Bahasa Inggris untuk memverifikasi

keakuratannya.