• Tidak ada hasil yang ditemukan

Integrasi Pasar Broiler Provinsi Kalimantan Timur

BAB IV ANALISIS BIAYA PRODUKSI DAN PERSAINGAN USAHA

4.2. Kinerja Usaha Ternak Broiler dan Sistem Distribusi

4.3.4. Integrasi Pasar Broiler Provinsi Kalimantan Timur

Bali antara harga broiler di tingkat pedagang besar (grosir) dan harga pengecer (ritel) adalah tidak terpadu atau antara ke dua pasar peternak dan pasar grosir tidak terintegrasi dengan baik. Tidak terdapatnya keterpaduan pasar tersebut, karena harga broiler pedagang besar (grosir) saat ini cenderung mengikuti harga posko yang ditentukan PINSAR yang merupakan wadah perusahaan-perusahaan besar peternakan. Sementara itu harga posko sangat ditentukan biaya pokok produksi usahaternak dan biaya pokok produksi sangat ditentukan harga pakan ternak. Disamping itu, harga broiler di Kota Bali juga banyak ditentukan oleh supply yang ada di pasar Pulau Jawa terutama Jawa Timur, karena lokasinya yang secara spasial berdekatan.

Nilai R2 pada analisis diatas diperoleh sebesar 0,998. Ini artinya

bahwa 99,8 persen variasi harga di tingkat pedagang besar (grosir) daging broiler dapat dijelaskan variabel-variabel bebasnya (independent variabel), sedangkan selebihnya sebesar 0,02 persen dipengaruhi oleh faktor lainnya. Artinya model dapat menjelaskan fenomena yang dikaji dengan sangat baik.

4.3.4. Integrasi Pasar Broiler Provinsi Kalimantan Timur

Analisis integrasi pasar dilakukan pada dua tingkatan, yaitu: (a) tingkat peternak ke pedagang besar (grosir), (b) tingkat pedagang besar (grosir) ke pedagang pengecer (ritel). Berdasarkan hasil analisis integrasi pasar untuk komoditas daging broiler dari tingkat petani (peternak) ke pedagang besar (grosir) di Provinsi Kalimantan Tmur diperoleh hasil estimasi sebagai berikut:

Pt = 813,709 + 0,945 Pt-1*** + 0,498** (Pd – Pd-1) + 0,019 Pd-1

R2 = 0,924

Puska Dagri, BPPP, Kementerian Perdagangan 108

Keterangan :

Pt = harga di tingkat peternak saat ini

Pt-1 = harga di tingkat peternak periode sebelumnya Pd = harga di tingkat pedagang besar

Pd-1= harga di tingkat pedagang besar periode sebelumnya Pc = harga di tingkat pengecer

Pc-1= harga di tingkat pengecer periode sebelumnya *) = signifikan 10%

**) = signifikan 5 % ***) = signifikan 1%

Koefisien b2 pada hasil estimasi menunjukkan seberapa jauh

harga ditingkat pedagang besar (grosir) daging ayam di Kota Samarinda ditransmisikan ke tingkat peternak broiler. Apabila nilai

parameter b2 bernilai 1, maka perubahan harga sebesar satu persen

pada tingkat pedagang besar (grosir) di Kota Samarinda akan menyebabkan perubahan harga sebesar satu persen juga di tingkat

peternak broiler di Kalimantan Timur. Nilai b2 yang diperoleh pada

estimasi diatas menunjukkan sebesar 0,498 atau lebih kecil dari 1 (satu). Hasil estimasi ini berarti bahwa dalam jangka pendek perubahan harga daging broiler di tingkat pedagang besar (grosir) di Kota Padang tidak tertransmisikan secara sempurna ke tingkat peternak broiler. Dimana kenaikan harga daging broiler sebesar satu persen ditingkat pedagang besar (grosir) hanya menyebabkan kenaikan harga hanya sebesar 0,498 persen atau sekitar setengahnya ditingkat peternak broiler.

Dari hasil estimasi juga diperoleh hasil bahwa kontribusi harga pada periode sebelumnya terhadap harga broiler peternak yang berlaku saat ini lebih kecil dari satu baik untuk variabel peternak periode sebelumnya maupun variabel harga pedagang besar (grosir) periode sebelumnya. Pengaruh harga pada tingkat peternak periode sebelumnya (pasar lokal) terhadap harga tingkat peternak (pasar lokal) saat ini bertanda positip sebesar 0,945 atau dibawah 1 (satu)

Puska Dagri, BPPP, Kementerian Perdagangan 109

namun sudah mendekati angka 1 (satu). Sama halnya dengan pengaruh harga pedagang besar (grosir) broiler periode sebelumnya yang juga bertanda positip, namun kontribusinya jauh lebih kecil dari 1 (satu) yaitu sebesar 0,019. Hasil estimasi ini menunjukkan bahwa pengaruh harga ditingkat pedagang besar (grosir) di Kota Samarinda periode sebelumnya lebih kecil dibandingkan dengan harga ditingkat peternak broiler periode sebelumnya terhadap tingkat harga saat ini ditingkat peternak broiler. Harga broiler ditingkat pedagang besar (grosir) periode sebelumnya bukanlah penentu pembentukan utama harga ditingkat peternak, namun lebih ditentukan harga peternak sebelumnya.

Perbandingan antara koefisien pengaruh harga ditingkat peternak periode sebelumnya dengan pengaruh harga pedagang besar (grosir) periode sebelumnya terhadap pembentukan harga ditingkat peternak saat ini, menunjukkan tinggi rendahnya keterpaduan antara kedua pasar yang bersangkutan yang disebut indeks hubungan pasar atau IMC. Apabila nilai IMC semakin mendekati nol dikatakan adanya integrasi pasar jangka panjang antara pasar di tingkat peternak di Kalimantan Timur dengan pasar ditingkat pedagang besar (grosir) di Kota Samarinda.

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai IMC sebesar 50,767. Hal ini mengandung makna bahwa integrasi pasar broiler di Kota Samarinda antara harga broiler di tingkat peternak Kalimantan Timur dan harga grosir daging ayam di Samarinda tidak terintegrasi dengan baik. Tidak terjadinya integrasi pasar daging broiler tersebut disebabkan harga broiler saat ini cenderung mengikuti harga posko yang ditentukan PINSAR yang merupakan wadah perusahaan-perusahaan besar peternakan dalam melakukan strategi bersama, diantaranya adalah penetapan harga posko sebagai acuan bagi pedagang dalam menebus broiler di tingkat peternak yang menjadi

Puska Dagri, BPPP, Kementerian Perdagangan 110

anggota mitra usahanya. Sementara itu penentuan harga posko lebih ditentukan oleh biaya pokok produksi daging broiler, dimana besaran biaya pokok produksi broiler sangat ditentukan harga pakan ternak. Disamping itu, harga broiler di Kota Samarinda juga dipengaruhi oleh pasokan dari Banjar Masin, karena lokasinya yang secara spasial berdekatan.

Nilai R2 pada analisis diatas diperoleh sebesar 0,924. Artinya

adalah bahwa 92,4 persen variasi harga di tingkat peternak daging broiler dapat dijelaskan oleh variabel-variabel bebasnya (independent variabel), sedangkan selebihnya sebesar 7,6 persen dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar model.

Berdasarkan hasil analisis integrasi pasar untuk komoditas daging broiler dari tingkat pedagang besar (grosir) ke pedagang pengecer (ritel) di Provinsi Kalimantan Timur diperoleh hasil estimasi sebagai berikut:

Pd = -106,910 + 0,857 Pd-1*** + 0,946 (Pc – Pc-1)*** + 0,135

Pc-1

R2 = 0,999

IMC = 6,339 (tidak terintegrasi) Keterangan :

Pt = harga di tingkat peternak saat ini

Pt-1 = harga di tingkat peternak periode sebelumnya Pd = harga di tingkat pedagang besar

Pd-1= harga di tingkat pedagang besar periode sebelumnya Pc = harga di tingkat pengecer

Pc-1= harga di tingkat pengecer periode sebelumnya *) = signifikan 10%

**) = signifikan 5 % ***) = signifikan 1%

Koefisien b2 pada hasil estimasi menunjukkan seberapa jauh

Puska Dagri, BPPP, Kementerian Perdagangan 111

ditransmisikan ke tingkat pedagang besar (grosir) daging broiler di

Kota Samarinda. Apabila nilai parameter b2 bernilai 1, maka

perubahan harga sebesar satu persen pada tingkat pedagang pengecer (ritel) akan menyebabkan perubahan harga sebesar satu

persen juga di tingkat pedagang besar (grosir) daging broiler. Nilai b2

yang diperoleh pada estimasi diatas menunjukkan sebesar 0,946 atau mendekati angka 1. Hasil estimasi ini berarti bahwa dalam jangka pendek perubahan harga broiler di tingkat pedagang pengecer (ritel) di Kota Samarinda ditransmisikan dengan dengan cukup baik ke tingkat pedagang besar daging broiler. Dimana kenaikan harga daging broiler satu persen ditingkat pedagang pengecer menyebabkan kenaikan harga 0,946 persen ditingkat pedagang besar (grosir).

Dari hasil estimasi juga diperoleh hasil bahwa kontribusi harga pada periode sebelumnya terhadap harga broiler pedagang besar (grosir) yang berlaku saat ini kurang dari satu, baik pada tingkat pedagang besar (grosir) daging broiler maupun pada pedagang pengecer (ritel). Pengaruh harga pada tingkat pedagang besar sebelumnya (pasar lokal) terhadap harga tingkat pedagang besar (pasar lokal) saat ini bertanda positip dibawah satu, namun cukup mendekati angka 1 (satu) yaitu sebesar 0,867. Dengan besaran yang lebih kecil namun dengan tanda yang juga positip diperoleh pada pengaruh harga pedagang pengecer (ritel) broiler sebelumnya yang kontribusinya kurang dari satu yaitu sebesar 0,135. Hasil estimasi ini menunjukkan bahwa pengaruh harga ditingkat pedagang pengecer (ritel) di Kota Samarinda periode sebelumnya lebih kecil dibandingkan dengan harga ditingkat pedagang besar daging broiler periode sebelumnya terhadap tingkat harga saat ini ditingkat pedagang besar (grosir) daging broiler. Harga broiler ditingkat pengecer (ritel) periode sebelumnya bukanlah penentu pembentukan

Puska Dagri, BPPP, Kementerian Perdagangan 112

harga ditingkat pedagang besar (grosir) daging broiler saat ini, namun lebih ditentukan harga pedagang besar periode sebelumnya.

Perbandingan antara koefisien pengaruh harga ditingkat pedagang besar (grosir) periode sebelumnya dengan pengaruh harga

pedagang pengecer (ritel) periode sebelumnya terhadap

pembentukan harga ditingkat pedagang besar (grosir) saat ini, menunjukkan tinggi rendahnya keterpaduan antara kedua pasar yang bersangkutan yang disebut indeks hubungan pasar atau IMC. Apabila nilai IMC semakin mendekati nol, itu berarti adanya keterpaduan pasar jangka panjang antara pasar di tingkat pedagang besar (grosir) daging broiler dengan pasar ditingkat pedagang pengecer (ritel) daging broiler di Kota Samarinda.

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai IMC sebesar 6,339. Hal ini menunjukkan tingkat integrasi pasar broiler di Kota Padang antara harga broiler di tingkat pedagang besar (grosir) dan harga pengecer (ritel) adalah tidak terpadu atau antara ke dua pasar peternak dan pasar grosir tidak terintegrasi dengan baik. Kurang adanya keterpaduan pasar tersebut, karena harga broiler pedagang besar (grosir) saat ini cenderung mengikuti harga posko yang ditentukan PINSAR yang merupakan wadah perusahaan-perusahaan besar peternakan dalam menentukan harga bersama. Sementara itu harga posko sangat ditentukan biaya pokok produksi usahaternak diantara perusahaan-perusahaan peternakan skala besar dan biaya pokok produksi tersebut sangat ditentukan harga pakan ternak. Disamping itu, harga broiler di Kota Samarinda juga banyak ditentukan oleh pasokan yang berasal dari pasar Banjarmasin karena lokasinya yang secara spasial berdekatan.

Nilai R2 pada analisis diatas diperoleh sebesar 0,999. Artinya

bahwa 99,9 persen variasi harga di tingkat pedagang besar (grosir) daging broiler dapat di Kota Samarinda dapat dijelaskan dengan baik

Puska Dagri, BPPP, Kementerian Perdagangan 113

oleh variabel-variabel bebasnya (independent variabel), sedangkan selebihnya sebesar 0,01 persen dipengaruhi oleh faktor lainnya. Artinya model dapat yang dibuat dapat menjelaskan fenomena yang dikaji dengan sangat baik.