BAB IV PENGATURAN HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM
B. Integrasi Perangkat Hukum ASEAN mengenai Sektor-Sektor Prioritas
Hakikatnya, ASEAN Economic Community dibuat untuk memperluas pasar dan mempromosikan kompetensi perdagangan serta menghilangkan hambatan-hambatan yang berkaitan dengan ekonomi, perdagangan, dan industri antar negara anggota ASEAN dengan cara menyatukannya dalam integrasi regional menjadi sebuah pasar tunggal.
Namun, integrasi regional juga memiliki potensi risiko. Pertama, dapat menimbulkan kerugian kesejahteraan jika "efek penciptaan perdagangan" dibayangi oleh “efek pengalihan perdagangan”, yaitu jika penghapusan hambatan perdagangan di antara negara-negara anggota menyebabkan perdagangan lebih efisien dengan negara-negara non-anggota dibandingkan jika dialihkan ke negara anggota yang kurang efisien. Kedua, akan menyebabkan “pengalihan efek
investasi” dimana investasi sumber daya yang terbatas dialihkan ke pasar terpadu dengan skala yang lebih besar. Ketiga, ada kekhawatiran terhadap “efek mangkuk mie” (“noodle bowl effect”), mengacu pada potensi masalah yang mungkin timbul sebagai akibat dari kurangnya koherensi antara perbedaan perjanjian yang tumpang tindih.130
Berhubung agenda ASEAN Economic Community (AEC) 2015 diintegrasikan dalam sebuah pasar tunggal, Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN melihat bagaimana liberalisasi perdagangan di wilayah ini akan dilaksanakan, dan bagaimana standard-standard umum dikembangkan. Selain itu, kerja sama dan alih teknologi dengan bantuan organisasi-organisasi internasional/regional (seperti Food and Agricultural Organzation/FAO) dan sektor swasta juga menjadi perhatian ASEAN. Hal ini juga mengundang produsen pertanian melalui promosi dan berjaringan kerja sama pertanian.131
Selain pasar tunggal, Komunitas Ekonomi ASEAN juga melihat sebuah kawasan ekonomi dengan semangat kompetisi yang tinggi, pembangunan ekonomi yang setara, dan integrasi penuh dalam ekonomi global. Pembangunan kawasan kompetitif ini akan dilakukan dengan membuat beberapa kebijakan bersama dan pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan. Untuk itu, ASEAN akan menyelaraskan kebijakan-kebijakan kompetisi, perlindungan konsumen, hak kekayaan intelektual, pajak dan e-commerce. ASEAN akan mendirikan sebuah jaringan transportasi yang terintegrasi (udara, laut, dan darat); mengembangkan sistem ICT yang dapat dihubungkan dan digunakan oleh semua negara di kawasan 130 lib.ui.ac.id/file?file=digital/131618-T%2027561-Dampak%20kemajuan-Analisis.pdf, Ibid hal. 77 131 Ibid hal. 98
ini; mencari proyek-proyek untuk jaringan listrik dan pipa gas yang terintegrasi; mempromosikan sektor penambangan; dan menarik sektor swasta untuk mendanai upaya-upaya tersebut.132
Seiring dengan disepakatinya draft AEC Blueprint, pada pertemuan ke-39 AEM juga disepakati mengenai Roadmap for ASEAN integration of the Logistics Services Sector sebagai priotitas ke-12 untuk integrasi ASEAN dan menandatangani “Protocol to Amend Article 3 of the ASEAN Framework (Amandment) Agreement for the Integration of the Priority Sectors”. Dengan demikian, ke-12 Priority sectors dimaksud adalah agro-based products (produk berbasis agro), air-travel (transportasi udara), automotive (otomotif), e-ASEAN, electronics (elektronik), fisheries (perikanan), healthcare (kesehatan), rubber- based products (produk berbasis karet), textiles & apparels (tekstil dan pakaian), tourism (pariwisata), wood-based products (produk berbasis kayu), logistics services (jasa logistik).133
Professor European University Institute, EUI President ad Interim Marise Cremona mengatakan potensi negara di ASEAN dalam menerapkan integrasi hukum cukup besar.
Berdasarkan keputusan tersebut maka penting bagi negara-negara anggota ASEAN untuk mempunyai perangkat hukum nasional sendiri ataupun memiliki perjanjian bilateral yang konkret untuk dapat menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015 sebagai tindakan preventif untuk melindungi kepentingan negaranya apabila terjadi konflik terhadap pelaksanaannya di kemudian hari.
132
Loc.cit
133
diakses pada 15 Juli 2014
"Salah satu faktornya hampir sebagian besar negara di ASEAN seperti Singapura, Indonesia, Malaysia mempunyai isu yang sama yaitu masalah perubahan iklim, dan masalah ketenagakerjaan,”134
134
Diskusi Universitas Pelita Harapan "ASEAN Through Integration Law" di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (29/7), dari
Marise menjelaskan, negara- negara di Eropa telah mengintegrasikan sistem hukum mereka. Jadi ketika mereka menghadapi permasalahan, maka negara di Eropa saling membantu. Hal yang sama seharusnya terjadi antar negara ASEAN.
"Jika negara ASEAN sudah melakukan integrasi hukum yang hebat maka kontribusi negara ASEAN memberikan ide atau konsep terhadap hukum internasional akan diperhitungkan," ujar dia.
Dia mengatakan, salah satu keuntungan integrasi sistem hukum adalah sesama negara ASEAN bisa membuat nota kesepahaman bersama terkait isu penting, sehingga negara ASEAN saling mendukung menciptakan keharmonisan tidak hanya di sektor hukum, tetapi juga dalam sektor-sektor lain seperti ekonomi dan perdagangan.
Kesempatan yang sama, Advokat, Konsultan Hukum dan Mediator Universitas Pelita Harapan Henry Panggabean menilai ide mempersatukan sistem hukum sesama negara ASEAN cukup baik. Menurut dia, setiap negara ASEAN mempunyai permasalahan hukum yang berbeda-beda. Contohnya Indonesia, masalah yang sering terjadi adalah narkoba dan korupsi. Adapun Thailand masalah terorisme.
Henry mengatakan jika negara ASEAN ingin menerapkan integrasi hukum maka pekerjaan rumah yang pertama kali harus dilakukan adalah membereskan dahulu masalah di negara masing-masing atau yang disebut dalam istilah hukum trend nasional. Jika trend nasional di negara sudah beres, baru pemerintah memikirkan untuk menerapkan integrasi hukum.
C. Pengaturan Arus Barang dan Arus Bebas Jasa dalam ASEAN Economic Community (AEC) 2015
ASEAN Economic Community merupakan langkah maju dan komprehensif dari kesepakatan perdagangan bebas ASEAN (ASEAN Free Trade Area/AFTA). AEC Blueprint mengamanatkan liberalisasi perdagangan barang yang lebih meaningful dari CEPT-AFTA. Maka dari itu, negara-negara anggota ASEAN telah menyepakati ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) pada pertemuan KTT ASEAN ke-14 tanggal 27 Februari 2009 di Chaam Thailand. 135
ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) merupakan kodifikasi atas keseluruhan kesepakatan ASEAN dalam liberalisasi dan fasilitasi perdagangan barang (trade in goods). ATIGA terdiri dari 11 bab, 98 pasal, dan 10 lampiran, yang antara lain mencakup prinsip-prinsip umum perdagangan internasional (non- discrimination, Most favoured Nations-MFN treatment, national treatment), liberalisasi tarif, pengaturan non-tarif, ketentuan asal barang, fasilitasi perdagangan, kepabeanan, standar, regulasi teknis dan prosedur pemeriksaan
135
penyesuaian, SPS (Sanitary and Phytosanitary Measures), dan kebijakan pemulihan perdagangan (safeguards, anti-dumping, countervarting measures).136
a) Mewujudkan kawasan arus barang yang bebas sebagai salah satu prinsip untuk membentuk pasar tunggal dan basis produksi dalam ASEAN Economic Community (AEC) 2015 yang dituangkan dalam AEC Blueprint;
ATIGA bertujuan untuk:
b) Meminimalkan hambatan dan memperkuat kerjasama diantara negara-negara Anggota ASEAN;
c) Menurunkan biaya usaha;
d) Meningkatkan perdagangan dan investasi efisiensi ekonomi; e) Menciptakan pasar yang lebih besar dengan kesempatan dan skala
ekonomi yang lebih besar untuk para pengusaha di negara-negara anggota ASEAN; dan
f) Menciptakan kawasan investasi yang kompetitif. Selain itu terdapat beberapa elemen penting dari ATIGA,137
136
Ibid, hal. 19 137
Ditjen Kementerian Perdagangan Internasional, Informasi Umum: Masyarakat Ekonomi ASEAN – ASEAN Community in a Global Community of Nations, 2011, hal. 15-16
yaitu : (i) ATIGA mengkonsolidasikan dan menyederhanakan seluruh ketentuan yang terdapat dalam CEPT-AFTA, sekaligus memformalkan beberapa keputusan tingkat menteri. Sebagai hasilnya, ATIGA menjadi perangkat hukum tunggal tidak hanya bagi pejabat pemerintahan yang menerapkan dan mengamankan perjanjian tersebut, namun juga bagi pelaku usaha yang menjadi pemetik manfaatnya, (ii) Annex pada ATIGA menunjukkan jadwal penurunan tarif secara
menyeluruh dari setiap negara anggota dan menguraikan tingkat tarif yang dikenakan kepada setiap produk per tahunnya hingga tahun 2015.
Hal ini membuat rencana penurunan tarif menjadi lebih transparan dan memberikan kepastian bagi komunitas bisnis. Sebuah pengundangan komitmen juga telah dilakukan untuk menerapkan secara efektif jadwal penurunan tarif sampai dengan tahun 2015, yaitu sejak 1 Januari 2010, untuk ASEAN-6 (Brunei, Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand) hampir seluruh tarif Bea Masuk Barang sudah 0%. Untuk Cambodia, Laos, Myanmar, Vietnam tarif 0% pada tahun 2015;138
138
(iii) ATIGA mencakup beberapa elemen untuk dapat memastikan terwujudnya arus perdagangan bebas barang di kawasan ASEAN, termasuk di antaranya: liberalisasi tarif, penghapusan hambatan non-tarif, keterangan asal barang, fasilitasi perdagangan, kepabeanan, standar dan kesesuaian, dan kebijakan sanitary and phyto-sanitary. ATIGA meliputi cakupan komprehensif dari komitmen di bidang perdagangan barang, serta mekanisme penerapan serta pengaturan kelembagaannya. Hal ini akan memungkinkan terbentuknya sinergi dari langkah-langkah yang diambil oleh berbagai badan- badan sektoral ASEAN, (iv) Hal ini akan memungkinkan pembentukan sinergi atas langkah yang diambil oleh berbagai unit di ASEAN, (v) Dengan tujuan untuk menghilangkan hambatan non-tarif, ketentuan mengenai kebijakan non-tarif (NTMs) dalam ATIGA telah dikembangkan lebih jauh melalui kodifikasi tindakan-tindakan, dan melalui penyusunan mekanisme untuk mengawasi komitmen pengurangan hambatan-hambatan non-tarif, (vi) ATIGA memberikan
penekanan pada langkah-langkah fasilitasi perdagangan dengan memasukkan Kerangka Kerja Fasilitasi Perdagangan ASEAN. Lebih jauh, ASEAN telah mengembangkan Program Kerja Fasilitasi Perdagangan untuk periode 2009-2015.
Bagi Indonesia, ATIGA diharapkan dapat memberikan manfaat di bidang perdagangan antara lain, terciptanya kepastian hukum dalam menjalankan usaha di bidang perdagangan barang, adanya kemudahan dan penyederhanaan prosedur kepabeanan, perijinan dan imigrasi bagi para pelaku usaha dan pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan persetujuan ini, serta terciptanya lapangan kerja baru dan meningkatnya sektor swasta dalam perdagangan bebas sehingga peran serta Indonesia nyata dalam mewujudkan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.
ATIGA mulai berlaku setelah diratifikasi oleh seluruh negara anggota. Pada saat ATIGA berlaku, beberapa perjanjian ASEAN yang berhubungan dengan perdagangan barang seperti perjanjian CEPT dan beberapa protokol lainnya akan tergantikan. Indinesia meratifikasi ATIGA melalui Peraturan Presiden No. 2 tahun 2010 tentang Pengesahan ASEAN Trade in Good Agreement (ATIGA) yang kemudian diteruskan dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 128/PMK.011/2010 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor Dalam Rangka ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA).
Selain manfaat, tantangan yang akan dihadapi Indonesia sebagai konsekuensi diterapkannya ketentuan arus barang bebas, Indonesia harus meningkatkan daya saingnya dengan:139
139
Departemen Perdagangan Internasional, Ibid, hal. 20-21
(i) meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan kualitas produksi; (ii) menciptakan usaha yang kondusif dalam rangka
meningkatkan daya saing; (iii) memperluas jaringan pemasaran; (iv) meningkatkan kemampuan dalam penguasaan teknologi informasi dan komunikasi termasuk promosi pemasaran dan lobby.
Selain arus bebas barang, arus bebas jasa juga merupakan salah satu elemen penting dalam pelaksanaan ASEAN Economic Community yang berkaitan dengan penghilangan hambatan penyediaan jasa diantara negara-negara ASEAN diatur melalui ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS). Selain yang telah disebutkan pada Bab sebelumnya, AFAS dibentuk bertujuan untuk140
Liberalisasi jasa pada dasarnya adalah menghilangkan hambatan- hambatan perdagangan jasa yang terkait dengan pembukaan akses pasar (market access) dan penerapan perlakuan nasional (national treatment) untuk setiap mode of supply
(i) meningkatkan kerjasama diantara negara anggota di bidang jasa dalam rangka meningkatkan efisiensi dan daya saing, diversifikasi kapasitas produksi dan pasokan serta distribusi jasa dari para pemasok jasa masing-masing negara anggota baik di luar ASEAN maupun di dalam ASEAN, (ii) menghapus secara signifikan hambatan-hambatan perdagangan jasa diantara negara-negara anggota, dan (iii) meliberalisasikan perdagangan jasa dengan memperdalam tingkat dan cakupan liberalisasi jasa dalam GATS dalam mewujudkan perdagangan bebas di bidang jasa.
141
140
Ibid, hal. 30
. Hambatan yang mempengaruhi akses pasar adalah pembatasan dalam
141
Mode 1 (cross-border supply): jasa yang diberikan oleh penyedia jasa luar negeri kepada pengguna jasa dalam negeri; Mode 2 (consumption abroad): jasa yang diberikan oleh penyedia jasa luar negeri kepada konsumen domestik yang sedang berada di negara penyedia jasa; Mode 3 (commercial presence): jasa yang diberikan oleh penyedia jasa luar negeri kepada
jumlah penyedia jasa, volume transaksi, jumlah operator, jumlah tenaga kerja, bentuk hukum dan kepemilikan modal asing. Sedangkan hambatan dalam perlakuan nasional dapat berbentuk peraturan yang dianggap diskriminatif untk persyaratan pajak, kewarganegaraan, juga waktu menetap, perizinan standarisasi dan kualifikasi, kewajiban pendaftaran serta batasan kepemilikan properti dan lahan.142
Secara umum, tindakan yang harus dilakukan dalam rangka liberalisasi bidang jasa, antara lain;
143
konsumen di negara konsumen; Mode 4 (movement of individual service providers): tenaga kerja yang menyediakan keahlian tertentu dan datang ke negara konsumen
142
Ibid, hal. 31
menghilangkan secara nyata hambatan perdagangan jasa untuk 4 sektor jasa prioritas yaitu transportasi udara, e-ASEAN, kesehatan dan pariwisata pada tahun 2010, dan pada tahun 2013 untuk prioritas sektor jasa yang kelima yaitu jasa logistic dan tahun 2015 untuk seluruh sektor jasa lainnya. Hal berikutnya yang perlu dilakukan adalah melaksanakan liberalisasi setiap putaran perundingan (1 kali dalam 2 tahun) yaitu 2008, 2010, 2012, 2014 dan 2015. Langkah berikutnya menjadwalkan jumlah minimum sub-sektor baru yang akan diliberalisasikan untuk setiap putaran perundingan sebagai berikut: a) Pada tahun 2008: 10 sub-sektor baru tambahan ke sub-sektor lainnya yang sudah disepakati pada tahun sebelumnya. b) Pada tahun 2010 : 15 sub-sektor baru tambahan ke sub-sektor lainnya yang sudah disepakati pada tahun 2008. c) Pada tahun 2012 : 20 sub-sektor baru tambahan ke sub-sektor lainnya yang sudah disepakati pada tahun 2010. d) Pada tahun 2014 : 20 sub-sektor baru tambahan ke sub-sektor lainnya yang sudah disepakati pada tahun 2012. e) Pada tahun 2015 : 7
143
sub-sektor baru tambahan ke sub-sektor lainnya yang sudah disepakati pada tahun 2014.
Pemberian fasilitas arus bebas jasa di kawasan ASEAN, juga dilakukan upaya-upaya untuk melakukan pengakuan tenaga profesional di bidang jasa guna memudahkan pergerakan tenaga kerja tersebut di kawasan ASEAN berupa antara lain penyusun Mutual Recognation Arrangements (MRAs). Mutual Recognition Arrangements (MRA) di sektor jasa merupakan perkembangan yang relatif baru dalam kerja sama ASEAN di bidang perdagangan jasa. Sebuah MRA memungkinkan kualifikasi pemasok jasa yang diakui oleh pihak yang berwenang di negara asal mereka untuk juga diakui oleh negara-negara anggota penandatangan lainnya. Hal ini membantu memfasilitasi aliran penyedia jasa profesional di kawasan ini, sejalan dengan ketentuan dan peraturan domestik yang relevan.144
Fakta menunjukan, akhir tahun 2015 akan menjadi batas waktu bagi Indonesia untuk memasuki masyarakat ekonomi ASEAN yang membuka batas- batas aturan mengenai pajak, tarif dan bea untuk barang dan jasa di kawasan Asia Tenggara. Hadirnya AEC ini juga akan berpengaruh pada banyak sektor, tidak hanya pada sektor perdagangan bebas untuk berbagai produk barang tetapi juga
D. Regulasi Hukum Nasional Indonesia sebagai Negara Anggota ASEAN dalam Rangka Menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015
144
akan berpengaruh terhadap sektor tenaga kerja dan perkembangan teknologi. Nantinya berbagai negara di ASEAN akan dengan bebas bersaing untuk mengisi sektor tenaga kerja di seluruh negara ASEAN. Bagi negara yang memiliki tenaga kerja dengan kualifikasi pendidikan dan kompetensi yang tinggi, ini akan menjadi peluang untuk melakukan ekspansi tenaga kerja ke negara ASEAN lainnya.145 ASEAN Economic Community (AEC) 2015 banyak disorot dalam pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa sehingga membawa Indonesia cukup aktif dalam kancah internasional. Walaupun AEC ini dilaksanaan pada tahun 2015 setahun setelah pemilihan umum yang berarti ada individu baru yang akan menjalankannya, namun persiapan menuju AEC 2015 ini sangat penting dalam menentukan posisi Indonesia ke depannya. Sebagai individu pembuat kebijakan, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa sendiri cukup berhasil dalam mengamankan kedudukan Indonesia sebagai negara yang patut diperhitungkan dalam tingkat ASEAN, sementara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selain ikut aktif dalam urusan regional tersebut juga cukup mengurusi persiapan domestik Indonesia. Terbukti dengan beberapa kebijakan yang dibuatnya seperti Inpres RI Nomor 9 Tahun 2013 tentang kebijakan upah minimum dalam rangka keberlangsungan usaha dan peningkatan kesejahteraan pekerja serta Kepres RI Nomor 18 Tahun 2013 tentang kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas Batam. Sementara sebagai responnya terhadap wacana perdagangan bebas ASEAN sebagai dasar AEC 2015, Presiden SBY menciptakan peraturan seperti Peraturan Presiden (Perpres RI)
145
pada tanggal 5 Agustus 2014
Nomor 2 Tahun 2010 tentang pengesahan persetujuan barang ASEAN. Dalam masa pemerintahan SBY pula sektor UKM dan kekhasan daerah mulai mendapat perhatian.146
Pemerintah telah menyiapkan policy paper tentang Peningkatan Daya Saing Menghadapi MEA 2015. Kebijakan ini disusun oleh Kementerian Koordinator dan Perekonomian selaku AEC Council Indonesia bersama kementerian dan sektor terkait. Policy paper ini difokuskan pada penyiapan daya saing dengan pilar pasar tunggal dan basis produksi regional, yakni sektor perdagangan, jasa dan investasi yang juga dilengkapi dengan rekomendasi berupa Rencana Aksi Peningkatan Daya Saing (RAPDS) untuk setiap kementerian/sektor.
Secara khusus, keberadaan regulasi nasional dapat dilihat dari masing- masing sektor prioritas AEC 2015 yang terdiri dari 7 sektor barang, yaitu: agro- based products (produk berbasis agro), automotive (otomotif), , electronics (elektronik), fisheries (perikanan), rubber-based products (produk berbasis karet), textiles & apparels (tekstil dan pakaian), wood-based products (produk berbasis kayu) dan 5 sektor jasa, yaitu: air-travel (transportasi udara), e-ASEAN, healthcare (kesehatan), tourism (pariwisata), logistics services (jasa logistik).
147
Untuk pengembangan industri nasional sesuai dengan Pasal 2 Peraturan Presiden RI Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional, sehingga perlu menetapkan peta panduan (Road Map). Pada bidang agro based products 146 2014 147
(produk berbasis agro), Menteri Perindustrian Republik Indonesia pada saat itu, Mohamad S. Hidayat, telah mengeluarkan peta panduan (road map) mengenai Pengembangan Klaster Industri Prioritas Industri Berbasis Agro Tahun 2010- 2014. Industri berbasis agro ini dibagi kedalam beberapa kelompok dengan peraturannya, yaitu148
148
Buku II Prioritas Industri Berbasis Agro, rocana.Kemenperin.go.id, diakses pada tanggal 5 Agustus 2014
a) Klaster Industri Pengolahan Kelapa Sawit, Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor : 111/M-Ind/Per/10/2009 Tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Kelapa Sawit; b) klaster Industri Kakao Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor : 113/M-Ind/Per/10/2009 Tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Kakao; c) Klaster Industri Pengolahan Kelapa, Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor : 114/M- Ind/Per/10/2009 Tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Kelapa; d) Klaster Industri Pengolahan Kopi, Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor : 115/M-Ind/Per/10/2009 Tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Kopi; e) Klaster Industri Gula, Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor : 116/M-Ind/Per/10/2009 Tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Gula; f) Klaster Industri Tembakau, Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor : 117/M-Ind/Per/10/2009 Tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Hasil Tembakau; g) Klaster Industri Pengolahan Buah, Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor : 118/M-Ind/Per/10/2009 Tentang Peta Panduan (Road
Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Buah; h) Klaster Industri Furniture, Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor : 119/M- Ind/Per/10/2009 Tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Furniture; i) klaster Industri Kertas, Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor : 121/M-Ind/Per/10/2009 Tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Kertas; j) Klaster Industri Pengolahan Susu, Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor : 122/M- Ind/Per/10/2009 Tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Susu.
Penerbitan seperangkat peraturan tersebut diharapkan pelaksanaan pengembangan industri dapat lebih fokus dan menjadi; i) Pedoman operasional pelaku klaster industri, dan aparatur Pemerintah dalam rangka menunjang secara komplementer dan sinergik untuk suksesnya pelaksanaan program pengembangan industri sesuai dengan bidang tugasnya; ii) Pedoman koordinasi perencanaan kegiatan antar sektor, antar instansi terkait di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota); iii) Informasi dalam menggalang partisipasi dari masyarakat luas untuk berkontribusi secara langsung dalam kegiatan pembangunan industri.149
Pada bidang automotive (otomotif), Pengamat ekonomi internasional dari Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Elisabeth Kartikasari menilai, dalam ASEAN Economic Community 2015, Indonesia hanya mengincar pasar otomotif
149
pada tanggal 5 Agustus 2014
semata, namun belum memunculkan produk dalam negeri sendiri untuk bersaing didalamnya.
“Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini menjadi basis produksi otomotif. Namun perlu diingat bahwa kendaraan yang diproduksi, dirakit, dan diekspor dari Indonesia seluruhnya adalah merek asing. Ini merupakan ironi, sebab mengapa pemerintah lebih mendukung merek asing untuk meningkatkan jumlah ekspor daripada mendorong merek mobil lokal untuk ikut bersaing dalam AEC?” ujarnya.
Memang, prestasi Indonesia di bidang otomotif ASEAN patut diacungi jempol. Namun persaingan pangsa pasar otomotif dengan Thailand bisa dibilang hanya “berebut mahkota semu.” Pasalnya, baik Indonesia maupun Thailand sama- sama menjadi basis produksi produsen otomotif asing, namun juga sama-sama tidak memiliki produk lokal untuk dijadikan sebagai andalan sektor otomotif.150
Namun sejatinya, sampai saat ini pemerintah belum mengeluarkan regulasi yang jelas tentang mobil nasional. Regulasi yang bisa dibilang mendekati mobil
nasional saat ini adal
empat yang hemat energi dan terjangkau, atau saat ini populer disebut Low Cost and Green Car (LCGC).
Regulasi ini berisikan pemerintah yang memberi keringanan pajak pertambahan nilai barang mewah (PPnBM), kepada produsen otomotif yang memproduksi mobil dengan kriteria tertentu, seperti konsumsi BBM minimal 20
150
kilometer per liter, menggunakan bahan baar beroktan (RON) 92, dan harga jualnya paling tinggi 95 juta rupiah.151
Pemerintah harus menbuat regulasi yang jelas tentang definisi mobil nasional. Selain itu, pemerintah juga harus membuat pemisahan yang jelas antara LCGC dengan merek mobil lokal. Hal ini agar produsen-produsen mobil lokal bisa memiliki dasar hukum yang jelas soal mobil nasional. Selain regulasi, pemerintah perlu memberikan bantuan kepada produsen mobil lokal, semisal dengan memberi Insentif berupa potongan pajak, bantuan finansial, serta bantuan riset agar merek lokal bisa berkembang.152
Pada bidang elektronics (elektronik), tanggal 25 Maret 2008 pemerintah melalui Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) telah mengesahkan undang–undang baru tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) atau cyberlaw-nya Indonesia. Indonesia telah resmi mempunyai undang-undang untuk mengatur orang-orang yang tidak bertanggung jawab dalam dunia maya. Di berlakukannya undang-undang ini, membuat oknum-oknum nakal ketakutan karena denda yang diberikan apabila melanggar tidak sedikit kira-kira 1 miliar rupiah karena melanggar pasal 27 ayat 1 tentang muatan yang melanggar