• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

3.1 Taman Nasional Gunung Halimun Salak

3.1.9 Interaksi Masyarakat dengan Kawasan TNGHS

Interaksi antara masyarakat dengan kawasan hutan yang saat ini merupakan kawasan TNGHS telah terjalin sejak lama. Masyarakat yang mendiami wilayah di dalam maupun di sekitar hutan TNGHS dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: masyarakat adat dan masyarakat Sunda lokal. Masyarakat adat sudah menempati wilayah TNGHS sejak lama. Masyarakat yang mendiami kawasan TNGHS sudah ada sejak abad ke-19, yakni pada zaman kerajaan Pajajaran. Masyarakat lokal tersebut tidak terpengaruh oleh adanya ekonomi pasar, tetapi hanya untuk bertahan hidup. Mereka memanfaatkan sumber daya hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup subsisten (Harada et al. 2001). Sedangkan masyarakat Sunda lokal adalah mereka yang pada awalnya mendatangi dan mendiami wilayahnya saat ini karena bekerja sebagai tenaga kerja perkebunan atau alasan lain.

Masyarakat di dalam dan di sekitar TNGHS memanfaatkan kawasan hutan untuk lahan pertanian, perkebunan dan pemukiman. Hampir seluruh masyarakat tersebut merupakan masyarakat petani, meskipun beberapa di antaranya termasuk dalam masyarakat perkebunan. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, masyarakat melakukan kegiatan perladangan berpindah. Pada saat itu luas lahan yang masih luas dan jumlah penduduk yang masih sedikit memungkinkan masyarakat melakukan perladangan berpindah. Untuk mendapatkan lahan garapan, pada awalnya mereka membuka hutan untuk dijadikan lahan garapan padi .

Penunjukan kawasan TNGHS telah menimbulkan beberapa permasalahan mendasar, antara lain: konflik mengenai kepemilikan lahan dan pemanfaatan sumberdaya alam. Permasalahan ini erat hubungannya dengan pemenuhan

kebutuhan hidup masyarakat yang berada di dalam dan di sekitar kawasan TNGHS, dengan sumber mata pencaharian utama dari pertanian. Selain itu Keanekaragaman jenis flora dan fauna yang ada di dalam kawasan TNGHS, telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat yang ada di dalam dan di sekitarnya. Dari hasil studi yang dilakukan Galudra (2005), didapatkan bahwa pada beberapa bagian kawasan hutan yang ditunjuk telah lama digunakan oleh masyarakat sebagai lahan pertanian.

Perubahan fungsi kawasan hutan lindung dan hutan produksi yang berada di sekitar kawasan TNGHS telah menyebabkan perubahan sistem pengelolaan kawasan hutan. Kawasan hutan lindung tidak hanya berperan pada perlindungan terhadap tanah dan tata air, tetapi juga ditingkatkan fungsinya sebagai kawasan pelestarian alam. Penyelesaian proses peralihan fungsi kelompok hutan yang berada di sekitar kawasan taman nasional menjadi kawasan TNGHS, membutuhkan waktu yang cukup lama. Terdapat jeda waktu sebelum dilakukan serah terima pengelolaan dari pihak Perum Perhutani kepada pihak taman nasional. Sampai akhir tahun 2003 pengelolaan kawasan yang dilakukan oleh taman nasional masih pada kawasan yang lama seluas ±40.000 hektar (BTNGH 2004).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Prasetyo dan Setiawan (2006), diperkirakan bahwa pada periode tahun 1989 – 2004 telah terjadi deforestasi kawasan TNGHS seluas 22 ribu hektar (sekitar 25%). Deforestasi diikuti dengan kenaikan secara konsisten semak belukar, ladang, dan lahan terbangun. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat aktifitas sosial ekonomi masyarakat desa yang berada di dalam dan sekitar kawasan TNGHS berupa kegiatan pemanenan kayu, perluasan lahan pertanian dan pembangunan perumahan . Proses kehilangan hutan pada kawasan TNGHS terbanyak terjadi pada periode tahun 2001-2003, seluas 4.367,79 hektar. Gambar 2 adalah grafik degradasi luas hutan alam kawasan ekosistem halimun dalam periode 1989-2004 berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prasetyo et al. (2008).

Gambar 2 Perubahan luas hutan alam dan penanaman. (Sumber: Prasetyo et al. 2008).

Selama periode 1989-2004, hutan alam terdegradasi, sedangkan aksi penanaman relatif stabil. Hutan yang terdegradasi diiringi dengan bertambah luasnya tutupan lahan yang lain seperti lahan pertanian, pemukiman dan semak belukar. Hal ini wajar terjadi karena lahan hutan tersebut digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui usaha pertanian dan sebagian lain menggunakan sebagai wilayah pemukiman. Banyaknya pemukiman menjadi implikasi adanya pertambahan jumlah penduduk. Gambar 3 menunjukkan perbandingan antara perubahan luas hutan dan luas lahan untuk penggunaan lain, yaitu: pemukiman, lahan pertanian, dan semak belukar.

Gambar 3 Perubahan luas hutan dan penggunaan lain: pemukiman, lahan pertanian, semak belukar. (Sumber: Prasetyo et al.2008).

Faktor ekonomi seringkali dijadikan alasan oleh masyarakat untuk melakukan berbagai kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam kawasan TNGHS yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan Taman Nasional. Hal ini

erat hubungannya dengan upaya masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Terdapat indikasi bahwa luas kepemilikan lahan garapan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan TNGHS belum dapat memberikan hasil untuk memenuhi tingkat kecukupan kebutuhan hidup sehari-hari. Menurut Yatap (2008) kemampuan ekonomi masyarakat sekitar TNGHS cenderung rendah, walaupun sebagian besar tidak termasuk dalam kategori rumah tangga (RT) miskin.

Luas kepemilikan lahan garapan sebagian besar anggota masyarakat yang ada di sekitar kawasan TNGHS tergolong sempit (<0,25 hektar) (Gunawan 1999; Mudofar 1999; dan Harada 2005 dalam Yatap 2008). Kehidupan masyarakat masih tergantung pada kegiatan pertanian (Gunawan 1999; Budiman & Adhikerana dalam Yatap 2008). Hal ini mendorong masyarakat melakukan kegiatan ilegal dalam pemenuhan kebutuhannya, seperti: perambahan hutan, penambangan emas tanpa ijin, dan perburuan satwa (Widada 2004).

Pemanfaatan sumberdaya alam kawasan TNGHS telah memberikan dampak terhadap aktivitas kehidupan masyarakat. Terdapat berbagai bentuk pemanfaatan keanekaragaman tumbuhan di kawasan TNGHS antara lain: pengambilan kayu untuk bangunan dan peralatan rumah tangga, kayu bakar, rotan, tanaman hias, tumbuhan makanan, tumbuhan obat, dan tumbuhan yang diperlukan untuk perlengkapan upacara adat.

Terdapat kecenderungan yang menunjukkan bahwa semakin sempit penguasaan lahan masyarakat dan semakin dekat jarak tempat tinggal masyarakat dari hutan, maka perilaku masyarakat terhadap tingkat pelestarian sumberdaya hutan akan semakin rendah (Gunawan 1999).

Sebelum penunjukan areal konservasi TNGHS, masyarakat masih dapat dengan leluasa memasuki hutan dan menjaga hutan dengan cara lokal. Masyarakat juga diperbolehkan mengambil hasil hutan tanpa merusaknya selain diberi akses dan kontrol terhadap hutan tersebut. Studi yang dilakukan oleh Nurhaeni (2009) di Desa Cirompang, salah satu desa di sekitar kawasan TNGHS, menunjukkan bahwa hutan di desa tersebut sampai pada masa Perhutani dibiarkan tetap hijau atau digunakan sebagai hutan lindung sebagai penyeimbang alam. Setelah penunjukan areal konservasi masyarakat tidak diperbolehkan lagi masuk ke hutan. Masyarakat tidak memiliki akses terhadap hutan.

3.2 Desa Cipeuteuy

3.2.1 Letak dan Luas

Secara administratif, Desa Cipeuteuy termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Desa Cipeuteuy berbatasan dengan Desa Cihamerang di sebelah selatan, Desa Kabandungan di sebelah Timur yang masih dalam wilayah Kabupaten Sukabumi. Sedangkan batas sebelah Utara dan sebelah Barat adalah Desa Malasari dan Desa Purwabakti yang masuk dalam wilayah Kabupaten Bogor. Desa Cipeuteuy terletak sekitar 56 kilometer dari Ibukota Kabupaten Sukabumi dan 3 kilometer dari Kota Kecamatan Kabandungan. Sedangkan jarak dari ibu kota provinsi adalah 135 kilometer dan dari ibu kota negara adalah 106 kilometer.

Desa Cipeteuy adalah desa pemekaran dari Desa Kabandungan yang mengalami pemekaran pada tahun 1980 menjadi Desa Kabandungan dan Desa Cipeuteuy. Desa Cipeuteuy terdiri dari 5 dusun dimana masing-masing dusun terdiri dari beberapa kampung. Dusun-dusun tersebut adalah Dusun Arendah yang terdiri dari Kampung Arendah, Babakan dan Parigi 1; Dusun Cipeuteuy yang hanya terdiri Kampung Cipeuteuy; Dusun Cisarua terdiri dari Kampung Babakan dan Cisarua; Dusun Leuwiwaluh terdiri dari Kampung Leuwiwaluh, Kampung Sawah, Kebon Genep, Dramaga dan Cilodor; serta Dusun Pandan Arum yang terdiri Kampung Sukagalih, Pasir Majlis, Pasir Badak, Cisalimar1, Cisalimar2, Pandan Arum dan Pasir Masigit.

3.2.2 Kondisi fisik

Topografi wilayah Desa Cipeuteuy berupa dataran tinggi berbukit dengan ketinggian 750-850 meter di atas permukaan air laut (mdpl) dengan curah hujan rata-rata tahunan sebesar 2.600 mm/tahun. Musim hujan terjadi pada bulan Oktober-April, musim kemarau berlangsung bulan Mei-September. Suhu rata- rata harian adalah 3 Celcius.

3.2.3 Penggunaan lahan

Desa Cipeuteuy memiliki luas wilayah 3.746,6 ha dengan pemanfaatan lahan yang dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2 Luas wilayah Desa Cipeuteuy menurut penggunaannya tahun 2011

Penggunaan Lahan Luas (ha) Persen

Hutan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak 2.115,0 56, 45

Perkebunan (eks HGU PT. Intan Hepta) 583,0 15,56

Sawah Irigasi 545,0 14,55

Kebun Campuran 496,2 13,24

Pemukiman 4,6 0,13

Sawah Tadah Hujan 2,8 0,07

Total 3.746,6 100,00

Sumber: Data Potensi Desa Cipeuteuy 2011

Sebagian besar wilayah Desa Cipeuteuy adalah kawasan hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, seluas 2.115 ha atau sekitar 56,45% dari total luas wilayah desa. Luas lahan kedua adalah kawasan perkebunan (eks HGU Perkebunan cengkeh PT. Intan Hepta) yang mencakup 583 ha atau sekitar 15,56% dari total wilayah desa. Selanjutnya penggunaan lahan mencakup areal sawah irigasi, kebun campuran, pemukiman dan persawahan tadah hujan. Baik lahan hutan TNGHS dan Eks perkebunan Intan Hepta adalah lahan milik negara. Jika dijumlahkan maka luas lahan milik negara di Desa Cipeuteuy mencakup 2.698 ha atau sekitar 72,01% dan lahan milik hanya sekitar 27,99%. Lahan pertanian yang merupakan tanah milik masyarakat yang berupa sawah irigasi, kebun campuran dan sawah tadah hujan hanya sekitar 1043,95 ha atau sekitar 27,86% total wilayah desa. Luas lahan milik berdasarkan sertifikat, akta jual beli, girik, dan SPPT (Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang) adalah seluas 650 ha atau sekitar 17,35% dari total luas lahan.

Wilayah Taman Nasional Gunung Halimun Salak pada awalnya merupakan wilayah Perhutani yang dialihkan berdasarkan Surat Keputusan No.175 tahun 2003 yang berisi penetapan kawasan Perhutani sekitar 73.000 hektar sepanjang Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Lebak untuk dialihkan menjadi Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Wacana pengalih-kelolaan hutan tersebut sesungguhnya sudah dimulai dari tahun 2003, namun baru terealisasikan pada tahun 2006. Gambar 4 menunjukkan lokasi wilayah Desa Cipeuteuy dan TNGHS.

Cantika (2008) menyebutkan bahwa meskipun telah ada penetapan zona lindung dan zona pemanfaatan, tetapi selama ini tidak ada nota kesepakatan yang jelas mengenai batas desa dengan Taman Nasional, sehingga belum ada batasan wilayah yang jelas antara wilayah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak dengan Desa Cipeuteuy. Saat penetapan tersebut sebagian besar kondisi kawasan berupa garapan tumpang sari petani masyarakat sekitar pada masa pengelolaan oleh Perhutani. Sampai saat penelitian ini dilaksanakan, sebagian kawasan yang ditetapkan tersebut masih berupa lahan garapan pertanian masyarakat sekitar baik berupa sawah maupun pertanian lahan kering.

3.2.4 Sosial Ekonomi Masyarakat

Jumlah penduduk Desa Cipeuteuy pada tahun 2011 tercatat sebanyak 6.842 jiwa yang terdiri dari 3.503 jiwa (51%) laki-laki dan 3.339 jiwa (49%) perempuan. Jumlah tersebut berasal dari 1.777 Kepala Keluarga (KK), dengan rata-rata sebanyak 4-5 orang jumlah anggota keluarga pada tiap KK-nya.

Menurut data potensi desa, penduduk yang termasuk ke dalam usia kerja berkisar dari umur 15 hingga 55 tahun, meskipun di lapangan banyak ditemukan penduduk yang menurut desa masuk dalam usia lanjut, namun masih dapat melakukan kegiatan usaha pertanian. Tabel 3 menunjukkan jumlah penduduk menurut kelas umurnya. Dari tabel tersebut terlihat bahwa sejumlah 69% penduduk di Desa Cipeuteuy berusia diatas 15 tahun atau bisa dikatakan sebagai usia produktif. Sedangkan sisanya sebesar 31% adalah penduduk usia non produktif muda yaitu berusia dibawah 15 tahun.

Tabel 3 Jumlah penduduk Desa Cipeuteuy menurut kelas umur tahun 2011

Umur Jumlah Persen

0 – 5 575 8,4 6 – 12 1136 16,6 13 – 15 438 6,4 16 – 18 506 7,4 > 18 4187 61,2 Total 6842 100,00

Berdasarkan Data Potensi Desa Cipeuteuy Tahun 2011, terdapat sekitar 1.256 penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani atau sekitar 31,4% dari total penduduk di desa yang bekerja. Sedangkan sejumlah 1.256 penduduk atau sekitar 31,4% bermata pencaharian sebagai buruh tani. Hal ini berarti bahwa mayoritas penduduk desa atau sejumlah 62,8% penduduk tergantung dari bidang pertanian. Tabel 4 menunjukkan jumlah penduduk Desa Cipeuteuy menurut jenis pekerjaannya.

Tabel 4 Jumlah penduduk Desa Cipeuteuy menurut jenis pekerjaan tahun 2011

Jenis pekerjaan Jumlah Persen

Petani 1256 31,4 Buruh tani 1256 31,4 Pedagang/Pengusaha/Wiraswasta 628 15,7 Karyawan swasta 419 10,5 Tukang 209 5,2 Jasa 209 5,2 PNS 12 0,3 Pensiunan 7 0,2 Total 3996 100

Sumber: Data Potensi Desa Cipeuteuy 2011

Tidak semua petani di Desa Cipeuteuy menggarap lahan milik sendiri atau lahan yang memiliki sertifikat tanah. Dari keterangan aparat desa, banyak warga desa yang menggarap lahan eks HGU Perkebunan Intan Hepta. Lahan status quo tersebut mulai digarap oleh masyarakat sejak sekitar tahun 1996 – 1997 sebelum masa HGU (Hak Guna Usaha) habis pada tahun 2002. Saat ini, hampir seluruh lahan eks HGU PT Intan Hepta telah menjadi lahan garapan masyarakat.

Tingkat pendidikan masyarakat Desa Cipeuteuy tergolong masih rendah yaitu mayoritas adalah sampai tingkat Sekolah Dasar (SD). Hal ini terkait dengan jumlah sarana dan prasarana pendidikan yang kurang memadai di desa ini. Tabel 5 berikut menunjukkan jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikannya dan Tabel 6 menunjukkan tingkat pendidikan Kepala Keluarga di Desa Cipeuteuy.

Tabel 5 Jumlah penduduk Desa Cipeuteuy berdasarkan tingkat pendidikan

Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%)

Tidak sekolah 2315 33,83

Pra sekolah (PAUD, TK) 35 0,51

SD 3078 44,99

SMP, MTs 769 11,24

SMA, SMK, MA 613 8,96

Perguruan Tinggi 32 0,47

Total 6842 100

Sumber: Data Potensi Desa Cipeuteuy 2011

Tabel 6 Jumlah Kepala keluarga Desa Cipeuteuy berdasarkan tingkat pendidikan

Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%)

Tidak tamat SD 179 10,07 SD 870 48,96 SMP 523 29,43 SMA 175 9,85 Perguruan Tinggi 30 1,69 Total 1777 100

Sumber: Data Potensi Desa Cipeuteuy 2011

Dari total jumlah kepala keluarga di desa, sejumlah 48,96% adalah lulusan Sekolah Dasar, 29,43% lulusan Sekolah Menengah Pertama, dan sejumlah 9,85% adalah lulusan Sekolah Menengah Atas. Jumlah Kepala Keluarga yang tamatan Perguruan Tinggi hanya berjumlah 30 orang atau sekitar 1,69% saja dari jumlah total kepala keluarga. Sisanya sebesar 10,07% adalah kepala keluarga yang tidak tamat SD atau tidak mengenyam pendidikan formal sama sekali.

3.2.5 Aksesibilitas

Desa ini dapat dicapai melalui dua jalur, yaitu: jalur yang melewati Jalan Raya Sukabumi dan jalan alternatif melalui Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Jalur Sukabumi dapat ditempuh dengan menggunakan mobil colt jurusan Sukabumi atau bus jurusan Sukabumi-Bogor hingga terminal Parung Kuda.

Setelahnya hanya terdapat angkutan khusus menuju Desa Cipeuteuy yang akan mengantarkan hingga terminal Desa Cipeuteuy. Kondisi jalan dari terminal Parung Kuda menuju desa ini adalah jalan aspal yang sudah mengalami beberapa kerusakan, namun masih cukup baik untuk jalur transportasi.

Sedangkan jalur dari Leuwiliang hanya dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi karena jalur ini tidak dilewati kendaraan umum. Jalur Leuwiliang ini melewati kawasan TNGHS dan PT Perkebunan Nusantara VIII Cianten. Kondisi jalan ini kurang baik dan berbatu-batu, sehingga jika menggunakan kendaraan harus kendaraan yang kuat. Jalur ini cukup sering digunakan sebagai jalur transportasi alternatif karena jalur utama Sukabumi – Bogor sering mengalami kemacetan. Jalur ini merupakan jalur utama distribusi hasil pertanian dari desa ke daerah Bogor.

Antar dusun di Desa Cipeuteuy dihubungkan dengan jalan aspal yang pada beberapa tempat sudah mulai rusak, kecuali pada jalan utama menuju Dusun Pandan Arum yang memiliki jalan yang cukup baik. Jalan tersebut baru dibangun beberapa tahun lalu dengan didanai oleh bantuan pemerintah. Selain jalan aspal utama yang menghubungkan dusun-dusun, banyak pula jalan-jalan kecil yang menghubungkan antara kampung-kampung yang merupakan permukiman yang sebagian besar letaknya menyebar menjadi kelompok-kelompok kecil. Jalan penghubung permukiman tersebut sebagian besar merupakan jalan tanah atau jalan berbatu yang cukup sulit dilalui kendaraan. Gambar 5 menunjukkan kondisi jalan Desa Cipeuteuy.

Gambar 5 Kondisi Jalan Desa Cipeuteuy. Ket: (A) Jalan utama penghubung antar dusun yang sudah rusak; (B) Jalan penghubung permukiman- permukiman di satu dusun.

Di desa ini dijangkau oleh sinyal telepon seluler dari berbagai operator, namun jika di kampung-kampung yang terletak di dekat hutan, hanya sinyal- sinyal operator tertentu saja yang dapat menjangkaunya. Di pusat desa terdapat sebuah warnet (warung internet) yang biasa digunakan oleh warga desa yang umumnya kaum muda.

3.2.6 Sejarah desa

Desa Cipeuteuy adalah desa Sunda Lokal di sekitar TNHGS. Pada awalnya masyarakat desa Cipeteuy adalah komunitas pendatang yang berasal dari beberapa daerah, seperti Bogor, Sukabumi, Garut dan sebagainya. Mereka datang sebagai buruh pekerja pada perkebunan teh Pandan Arum pada jaman penjajahan Belanda.

Cantika 2008 menyebutkan bahwa Desa Cipeuteuy mengalami dinamika penguasaan sumberdaya agraria yang secara periodisasi dapat dibagi menjadi lima periode, yakni masa Perkebunan Pandan Arum pada jaman Belanda, masa penjajahan Jepang, masa kemerdekaan, perkebunan Intan Hepta, dan masuknya program-program kemasyarakatan.

Pada masa Belanda, semua orang yang ada di desa adalah pekerja perkebunan teh. Mereka tidak membuka lahan untuk pertanian, terlebih membuka hutan. Mereka tinggal pada bedeng-bedeng yang telah disediakan dan kebutuhan sehari-hari dipenuhi oleh perkebunan. Pihak perkebunan telah menyediakan areal tersendiri untuk tanaman kayu bakar, bambu, dan kayu bangunan, sehingga pada saat itu tidak ada orang yang diperbolehkan untuk masuk ke dalam hutan, terlebih lagi dengan membawa golok ataupun kapak.

Pada masa pendudukan Jepang selama periode tahun 1942-1945, masyarakat mengalami perubahan kehidupan. Perkebunan teh dibakar dan dirusak dan masyarakat dipaksa untuk membuka lahan-lahan pertanian, berhuma, tanam jagung dan umbi-umbian dengan hasil yang harus diserahkan kepada Jepang. Pada saat itulah banyak kampung-kampung mulai dibuka. Rumah-rumah mulai banyak dibangun, sawah-sawah dan pemukiman mulai muncul.

Pada jaman kemerdekaan, banyak masyarakat yang membuka lahan-lahan bekas perkebunan teh Pandan Arum untuk berhuma dan berkebun. Sampai pada tahun 1975 lahan bekas perkebunan kembali digunakan untuk kawasan perkebunan dengan dimulainya Hak Guna Usaha (HGU) PT Intan Hepta yang

bergerak dalam bidang perkebunan cengkeh. Pada masa ini, masyarakat kembali menjadi buruh dan pekerja. Tidak semua masyarakat bekerja di perkebunan, sebagian yang lain bekerja di bidang pertanian atau bekerja dikota, sehingga masyarakat tidak sepenuhnya lagi tergantung dengan perkebunan.

Pada sekitar awal tahun 1990, perkebunan PT Intan Hepta mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkrutan sebelum HGU habis pada tahun 2002. Pada tahun-tahun itu pula mulai banyak lahan-lahan perkebunan yang terlantar. Sekitar tahun 1996-1997 masyarakat desa mulai menggarap lahan perkebunan yang terlantar dan masih berlangsung sampai saat ini.

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Kerangka Pemikiran

Hubungan interaksi masyarakat dengan hutan selalu berjalan dinamis yaitu perubahan merupakan suatu hal yang wajar. Hal ini sejalan dengan perubahan sosial budaya yang menurut Lauer (1989) merupakan sesuatu yang normal dan berkelanjutan. Perubahan terjadi sebagai tanggapan atas kekuatan eksternal yang menimpa suatu masyarakat dan perubahan tersebut diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan (Lauer 1989).

Interaksi yang terjalin antara masyarakat dengan hutan merupakan wujud dari aktivitas sosial ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Menurut Alikodra (1987) interaksi masyarakat desa dengan hutan tergantung pada beberapa faktor, antara lain: adat-istiadat dan budaya masyarakat, jenis mata pencaharian, tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, dan tingkat pertumbuhan penduduk. Perubahan pada faktor-faktor tersebut dapat mendorong terjadinya perubahan interaksi.

Masyarakat Desa Cipeuteuy merupakan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan TNGHS dan memiliki interaksi yang cukup tinggi dengan hutan di sekitarnya. Berbagai perubahan yang terjadi di dalam lingkungan masyarakat dan kawasan hutan telah mendorong terjadinya perubahan interaksi antara masyarakat dengan hutan.

Interaksi yang terjalin antara masyarakat dengan hutan membentuk pola- pola interaksi yang khas. Pola yang digunakan dalam penelitian di Desa Cipeutuey adalah berdasarkan penggunaan lahan, sehingga ada tiga pola interaksi, yaitu: pola dengan penggunaan lahan, pola tanpa penggunaan lahan, pola tanpa interaksi. Pola tanpa penggunaan lahan dapat disebut sebagai pola pemanfaatan atau pemungutan hasil hutan karena masyarakat berinteraksi dengan hutan hanya melalui pemanfaatan hasil hutan tanpa menduduki lahan yang bersangkutan. Perubahan pola interaksi yang terjadi dapat berarti bahwa interaksi yang dilakukan berubah dari satu pola ke pola yang lain.

Interaksi yang terjalin antara masyarakat dengan hutan sangat berpengaruh terhadap kelestarian suatu kawasan hutan. Perubahan interaksi yang terjadi di Desa Cipeuteuy penting untuk diketahui untuk menghindari interaksi yang bersifat negatif karena dapat mengancam kelestarian hutan. Gambar 6 menunjukkan kerangka pemikiran penelitian ini.

Gambar 6. Bagan alir kerangka pemikiran

4.2 Definisi Operasional

1. Pola Interaksi adalah pola yang terbentuk dari interaksi yang terjadi antara masyarakat dengan hutan yang di dalam penelitian ini didasarkan pada penggunaan lahan hutan oleh masyarakat. Terdapat tiga pola yang digunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut:

a. Pola penggunaan lahan: adalah penggunaan lahan oleh masyarakat untuk keperluan tertentu yang permanen/menahun. Contoh dari pola ini adalah penggunaan lahan hutan untuk pertanian menetap dan pemukiman.

Masyarakat

Kawasan TNGHS

Interaksi, 3 pola: 1. Penggunaan lahan 2. Pemanfaatan hasil hutan 3. Tanpa interaksi

Faktor pendorong perubahan (perubahan sosial, ekonomi, budaya, dan pengelolaan kawasan)

Perubahan pola interaksi: dari pola satu ke pola lain

b. Pola pemanfaatan atau pemungutan hasil hutan: adalah pemanfaatan lahan hutan oleh masyarakat tanpa menggunakan/menduduki lahan hutan yang bersangkutan. Contoh dari pola ini adalah pengambilan hasil hutan kayu atau non kayu.

c. Pola tanpa interaksi: yaitu masyarakat tidak menggunakan lahan hutan dan tidak mengambil hasil hutan sama sekali.

2. Perubahan pola interaksi adalah perubahan yang terjadi pada pola interaksi. Perubahan pola interaksi dalam penelitian ini, sebagai berikut:

a. Perubahan dari pola penggunaan lahan menjadi pemanfaatan/pemungutan hasil hutan, atau tanpa interaksi.

b. Perubahan dari pola pemanfaatan/pemungutan hasil hutan menjadi

Dokumen terkait