KAJIAN PUSTAKA 2.1 Paradigma Kajian
2.2 Kajian Pustaka
2.2.1 Komunikasi Antar Budaya
2.2.1.1 Interaksi Simbolik
Komunikasi verbal maupun non verbal yang terjadi dalam proses komunikasi antarbudaya terkandung dalam teori interaksi simbolik. Interaksi sombolik ini dipengaruhi oleh Max Weber. Weber mendefenisikan tindakan sosial sebagai perilaku manusia saat individu memberikan suatu makna subjektif terhadap perilaku tersebut. Menurut Weber tindakan manusia pada dasarnya bermakna, melibatkan penafsiran, berpikir dan kesengajaan. Bagi Weber masyarakat merupakan suatu wujud yang aktif, terdiri dari individu-individu berpikir dan melakukan tindakan sosial yang bermakna. Perilaku mereka yang tampak hanyalah sebagian dari keseluruhan tindakan mereka. Itulah mengapa pendekatan ilmu alam hanya mempertimbangakan gejala yang tampak dan mengabaikan kekuatan yang tersembunyi seperti emosi, gagasan, maksud, motif, perasaan, maupun tekad yang juga menggerakkan manusia (Mulyana, 2001: 60- 61).
Ada beberapa ahli perintis teori interkasi simbolik, namun hanya Goerge Herbet Mead yang paling populer. Mead mengembangkan teori ini sekitar tahun 1920-an dan 1930-an ketika menjadi Profesor di Universitas Chicago (Mulyana, 2001: 68). Esensi teori ini ciri khas manusia adalah komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Interaksi simbolik memahami perilaku manusia secara subjektif. Perspektif teori ini menyarankan untuk melihat proses manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspetasi orang lain saat berinterkasi.
Interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjektivitas. Perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk serta mempertimbangkan ekspektasi orang lain saat berinteraksi. Apa yang mereka berikan kepada orang lain, mereka jugalah yang menentukan perilakunya dengan orang lain bahkan dengan diri sendiri.
Perilaku mereka tidak bisa digolongkan sebagai kebutuhan, dorongan impuls, tuntutan budaya atau tuntutan peran.
Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan siri khas manusia, seperti komunikasi dan pertukaran simbol yang diberi makna. Selain interaski simbolik Mazhab Iowa dan Mazhab Chicago juga termasuk dalam pendekatan ini. Meski mengacu pada prinsip dasar pemikiran teori interaksi simbolik, aliran Iowa yang dikembangkan Manford H. Kuhn ini banyak menganut tradisi epistemologi dan metode post-positivis (Ardianto dan Q-Anees, 2007: 135). Kuhn menggunakan hukum positivistik yaitu untuk menemukan hukum yang universal. Pendekatan Kuhn dikenal dengan self thory atau teori diri yang bersifat struktural. Kuhn berpandangan bahwa inividu merencanakan tindakannya berdasarkan peran yang mereka mainkan dan status yang dimiliki dalam kelompoknya (Mulyana, 2001: 69).
Karya Mead (1943) yang paling terkenal berjudul Mind, Self, dan Society. Ketiga hal tersebut saling mempengaruhi satu sama lain dalm interaksi simbolik. Melalui pikiran (mind) dan interaksi sosial (self) yang digunakan untuk menginterpretasikan dan memediasi masyarakat (society) dimana individu tersebut hidup. Seperti yang dicatat oleh douglas (1970) makna berasal dari interaksi dan tidak dari catatan yang lain, pada saat yang sama pikiran dan diri timbul dalam konteks sosial masyarakat. Pengaruh timbal balik masyarakat, pengalaman individu dan interaksi menjadi bahan penelaah teoritis dalam teori interaksi sombolik. Selanjutnya Hoisten dan Gubrium dalam Miller (2002), menjelaskan dalam ringkasannya seperti berikut :
“Teori interaksionisme simbolik berorientasi pada prinsip bahwa orang- orang merespon makna yang mereka bangun sejauh mereka berinteraksi satu sam lain. Setiap individu merupakan agen aktif dalam dunia sosial, yang tentu saja dipengaruhi oleh budaya dan organisasi sosial, bahkan ia juga menjadi instrumen penting dalam produksi budaya, masyarakat dan hubungan yang bermakna yang mempengaruhi mereka” (Ardianto dan Q- Anees, 2007: 136).
Menurut teoritis interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah “interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol” (Mulyana, 2001: 71). Komunikasi melibatkan proses verbal dan nonverbal. Komunikaasi verbal adalah proses penyampaian makna secara lisan atau tulisan yaitu berupa kata, frase atau
kalimat yang diucapkan dan didengar. Komunikasi nonverbal adalah proses yang dijalani seseorang saat menyampaikan makna dengan isyarat nonverbal yang akan dimaknai oleh orang lain. Proses nonverbal meliputi isyarat, ekspresi wajah, kontak mata, postur dan gerakan tubuh sentuhan, pakaian, artefak, diam, temporalitas dan ciri paralinguistik (Mulyana, 2001; 79).
Proses verbal dan nonverbal dalam komunikasi sama pentingya, apalagi untuk komunikasi antarbudaya. Proses verbal yang terlihat atau terdengar secara langsung memudahkan untuk seseorang untuk menangkap makna. Memungkinkan untuk merekam dan menyimpannya sehingga dapat digunakan dimasa depan bahkan dapat ditransmisikan kepada generasi berikutnya (Lubis, 2012: 115). Komunikasi verbal sedikit lebih unggul, karena proses verbal merupakan isyarat yang signifikan. Selain itu juga dapat isyarat verbal dapat mempengaruhi dan mengendalikan pembicara sebagaimana ia mempengaruhi pendengar. Misalnya seseorang yang minta sesuatu secara lisan atau tulisan akan lebih mudah ditangkap pesannya oleh orang lain (Mulyana, 2001: 78).
Komunikasi nonverbal memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia. Sadar atau tidak manusia banyak melakukan proses nonverbal, bahkan membuat keputusan berdasarkan data-data nonverbal. Pesan atau perilaku nonverbal menyatakan bagaimana menginterpretasikan pesan-pesan lain yang terkandung didalamnya. Misalnya seseorang yang menyampaikan pesan, dengan isyarat nonverbal, penerima pesan atau makna dapat mengartikannya dengan benar atau berbohong, yang bisa dilihat dari bahasa tubuhnya (Lusiana, 2012: 118).
Menurut interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol, dan interaksi simbolik itu didasarkan pada premis-premis yaitu :
1. Individu merespon suatu situasi simbolik.
2. Makna adalah produk interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat pada objek, melainkan negosiasi dengan bahasa.
3. Makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu kewaktu, sejalan dengan perubahan situasi dalam interaksi sosial (Mulyana, 2001: 71-72).
Manusia merespon lingkungan baik itu objek fisik maupun objek sosial berdasarkan makna yang ada pada komponen lingkungan tersebut. Individu-lah yang aktif untuk menetukan atau memaknai lingkungan mereka sendiri. Makna adalah hasil dari inetarksi sosial, merupakan negosiasi. Negosiasi melalui bahasa itu dikarenakan manusia mampu menamai segala sesuatu bukan hanya objek fisik bahkan gagasan yang abstrak sekalipun.
Penamaan tersebut kadang bersifat sembarang. Melalui simbol itulah manusia dapat berbagi pengalaman maupun pengetahuan tentang dunia. Pemaknaan tersebut juga dapat berubah dari waktu-kewaktu. Perubahan interpretasi dimungkinkan karena individu melakukan proses berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu manusia dapat merencanakan apa yang akan mereka lakukan. Dapat mengantisipasi reaksi orang lain, serta mencari alternatif ucapan ataupun tindakan yang akan dilakukan. Manusia dengan cerdas dapat membayangkan bagaimana orang lain akan merespon ucapan ataupun tindakan mereka.
Budaya merupakan gaya hidup unik suatu kelompok manusia dan merupakan wujud dari interaksi simbolik dari individu yang berbeda budaya. Budaya bukanlah sesuatu hal yang dimiliki sebagian individu saja, namun budaya dimiliki oleh seluruh manusia yang seharusnya menjadi pemersatu. Manusia- manusia menciptakan budaya atau lingkungan sosial sebagai adaptasi pada lingkungan fisik dan biologis mereka. Para individu cenderung menerima dan mempercayai budaya mereka. Mereka dipengaruhi adat dan pengetahuan dimana mereka tinggal, dibesarkan terlepas dari bagaimana penanaman budaya pada dirinya (Lubis, 2012: 168).
Setiap budaya memberi identitas kepada sekelompok orang tertentu hingga dapat lebih mudah memahami perbedaan yang terdapat dalam masing-masing budaya. Selain itu juga harus mampu untuk mengidentifikasi dari masing-masing budaya tersebut terlihat pada antara lain :
1. Komunikasi dan bahasa. Sistem komunikasi verbal dan nonverbal yang dapat membedakan kelompok yang satu dengan yang lainnya.
2. Pakaian dan penampilan meliputi pakaian yang dipakai serta aksesoris atau dekorasi pada tubuh yang sangat berbeda secara kultural.
3. Makanan dan kebiasaan. Mulai dari pemilihan, penyiapan dan penyajian makanan juga sangat berbeda antara budaya yang satu dengan lainnya. 4. Waktu dan kesadaran waktu. Bisa dianalisis dari bagian ini, karena ada
budaya yang sangat menghargai waktu tapi ada juga yang tidak.
5. Penghargaan dan pengakuan. Salah satu yang bisa diperhatikan dalam pemberian pujian, perbuatan baik.
6. Hubungan-hubungan budaya juga mengatur hubungan dengan manusia dan organisasi, berdasarkan usia, jenis kelamin, status, kekeluargaan, kekayaan, kekuasaan dan kebijaksanaan.
7. Nilai dan norma. Berdasarkan nilai dan norma yang dianutnya suatu budaya menentukan norma-norma perilaku bagi masyarakat yang bersangkutan.
8. Rasa diri dan ruang kenyamanan yang dimiliki seseorang atas dirinya bisa diekspresikan secara berbeda oleh masing-masing budaya.
9. Proses mental dan belajar. Bisa dilihat dai cara berpikir dan saat proses pembelajaraan (Lubis, 2012: 169-170).
Manusia berkomunikasi, termasuk itu komunikasi antarbudaya, memiliki fungsi dan tujuan untuk memenuhi panggilan relasi melalui cara menyatakan isi. Fungsi komunikasi antarbudaya ada dua. Pertama fungsi pribadi yaitu 1) identitas sosial 2) integrasi sosial 3) kognitif 4) melepaskan diri/jalan keluar. Kedua adalah fungsi sosial, yaitu 1) pengawasan, 2) menjembatani 3) sosialisasi 4) menghibur (Liliweri, 2004: 36).
Membahas komunikasi antarbudaya, sangat penting untuk mencapai komunikasi yang efektif seperti yang diharapkan antara komunikator dengan komunikan. Selain itu juga mengurangi tingkat ketidakpastian termasuk salah satu tujuan dari komunikasi antarbudaya. Komunikasi yang efektif tergantung pada tingkat kesamaan makna yang didapat saat bertukar pesan. Agar dapat berkomunikasi secara efektif peserta komunikasi harus meraih makna yang relatif sama dari pesan yang dikirim dan diterima. Artinya mereka menginterpretasikan pesan secara sama.
Gudykunstt dan Kim (1984) memperlihatkan orang-orang yang kita tidak kenal akan selalu berusaha mengurangi tingkat ketidakpastian yang dapat dilakukan dengan tiga tahap interaksi yaitu :
1. Pra-kontak atau tahap pembentukan kesan melalui simbol verbal maupun nonverbal.
2. Initial contact and imppresion, tanggapan lanjutan atas kesan yang muncul dari kontak awal.
3. Closure mulai membuka diri dari yang tertutup melalui atribusi dan pengembangan kepribadian implisit (Liliweri, 2004: 19).
Istilah komunikasi efektif (effetive communication) merujuk pada proses mengurangi kesalahpahaman. Menurut Gudykunts komunikasi efektif antara individu yang berbeda latarbelakang budaya tercipta bukan karena rasa akrab, memiliki sikap yang sama, atau pun karena dapat berkomunikasi dengan jelas. Namun lebih bagaimana pelaku komunikasi antarbudaya dapat dengan akurat menjelaskan perilaku masing-masing. Seperti yang ditambahkan oleh Triandis (dalam Gudykunts & Kim, 1997) efektivitas dalam komunikasi antarbudaya merupakan usaha untuk menciptakan apa yang disebut sebagai isomorphic attribution, yaitu penetapan kualitas atau karakteristik terhadap sesuatu supaya menjadi sama (Rahardjo, 2005: 68-69).
Berbicara tentang efektivitas komunikasi, akan bisa tercapai tergantung situasi dan hubungan sosial antara komunikator dengan komunikan, terutama dalam lingkup kerangka rujukan maupun pengalaman diantara mereka. Lebih lanjut Schramm dalam Mulyana (1990) mengemukakan, komunikasi antarbudaya yang efektif harus memperhatikan, yaitu :
(1) Menghormati anggota budaya lain sebagi manusia.
(2) Menghormati budaya lain sebagaimana apa adanya dan bukan sebagaiman kita yang kehendaki.
(3) Menghormati hak anggota budaya yang lain utnuk bertindak berbeda dari cara kita bertindak.
(4) Komunikator lintas budaya yang kompeten harus belajar menyenangi hidup bersama orang dari budaya lain (Liliweri, 2004: 171).
Menurut Samovar, komunikator yang efektif adalah mereka yang memiliki motivasi, mempunyai kerangka pengetahuan, memiliki kemapuan komunikasi yang diperlukan, dan memiliki karakter yang baik ( Samovar, dkk, 2007: 314). Demikian pula dengan proses komunikasi antarbudaya yang efektif sangat tergantung pada komunikasi antarbudaya. Tujuan tersebut akan tercapai jika bentuk hubungan antarbudaya menggambarkan usaha yang disadari untuk memperbaruhi relasi komunikator dengan komunikan, menciptakan komunikasi yang efektif, yang akhirnya akan mengurangi konflik.