• Tidak ada hasil yang ditemukan

Interaksi Sosial di Perkebunan Kopi Banaran

C. Sistem Perburuhan di Perusahaan Perkebunan Kopi Banaran Dalam suatu perusahaan perkebunan tentu memiliki buruh yang berperan

4. Interaksi Sosial di Perkebunan Kopi Banaran

Manusia adalah makhluk Tuhan yang tidak bisa hidup sendiri, mereka membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan, baik kebutuhan fiik maupun rohani serta kebutuhan lain untuk kelangsungan hidupnya. Individu memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun potensi yang ada pada setiap individu sangat terbatas seingga harus meminta bantuan kepada individu lain yang sama-sama hidup di lingkungan sekitarnya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tersebut memunculkan suatu lembaga-lembaga sosial dalam masyarakat dalam mengadakan interaksi sosial agar dapat memberi perubahan atau corak kehidupan dalam kelompok masyarakat.40

Interaksi tersebut terjadi apabila individu atau kelompok saling bertemu kemudian melakukan kontak atau komunikasi. Bentuk interaksi tersebut tidak hanya bersifat asosiatif yang mengarah pada bentuk kerjasama, akomodasi untuk mencapai

39

Undang-Undang No 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial

40

Soeryono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: UI Pres, 1981). Hlm. 192.

kestabilan dan asimilasi tetapi dapat berupa tindakan disosiatif yang lebih mengarah pada hal yang bersifat persaingan, perlawanan dan sejenisnya.41

Sebagaimana yang dikutip oleh Soerjono Soekanto menurut Kingsley Davis, suatu interaksi sosial tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat. Pertama adanya kontak sosial, dalam hal ini kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, bentuk tersebut dapat bersifat positif yakni mengarah pada suatu kerjasama sedangkan negatif yakni mengarak kepada pertentangan. Kedua komunikasi, yang mempunyai makna bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain yang berwujud pembicaraan, gerak badan atau sikap rasa yang akan disampaikan oleh orang tersebut, kemudian orang yang bersangkutan memberikan reaksi terhadap orang tersebut.

Istilah kelompok sosial mempunyai pengertian sebagai suatu kumpulan dari orang-orang yang mempunyai hubungan dan berinteraksi, dan dapat mengakibatkan tumbuhnya perasaan bersama. Melalui kelompok sosial manusia dapat bersama-sama dalam usaha memenuhi berbagai kepentingannya. Di dalam suatu kelompok masyarakat seorang pribadi harus dapat membedakan dua kepentingan, yaitu sebagai makhluk individu dan sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individu pada dasarnya mempunyai hasrat yang besar untuk mengutamakan kepentingannya sendiri namun dengan demikian manusia mungkin dapat hidup layak tanpa berkelompok.42

41

Muhammad Basrowi dan Soenyono, Memahami Sosiologi, (Surabaya: Lutfansah Mediatama, 2004). Hlm. 172.

42

Abdulsyani, Sosiologi Sistematika, Teori dan Terapan (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), hlm. 98

Sumber pembentuk kelompok adalah adanya minat dan kepentingan berama dan keduanya dipuaskan melalui partisipasi kelompok. Kelompok merupakan suatu keatuan dalam dirinya sendiri, ia memiliki warna dan ciri yang berbeda dari yang lain bahkan berbeda dengan anggota-anggotanya secara pribadi. Kelompok tidak dapat dipahami dengan semata-mata memahami perbedaan kualitas dan ciri dari para anggota. Kelompok dapat dipahami melalui struktur yang ada di dalamnya sebagai suatu unit yang utuh serta tunduk terhadap berbagai norma atau kaidah sosial yang berlaku, sehingga setiap tindakan individu senantiasa mencerminkan kepentingan kelompoknya.43

Menurut Hobert Blumer interaksi merujuk pada hubungan khusus yang berlangsung antar manusia dengan cara menafsirkan setiap tindakan orang lain. Interaksi tersebut akan berlangsung selama pihak-pihak yang bersangkutan saling mendapatkan keuntungan dan mendapatkan tujuan tertentu atau adanya hubungan timbal balik dan kelangsungan proses tersebut.44 Selain itu, kecenderungan manusia untuk berhubungan menciptakan bentuk komunikasi melalui bahasa dan tindakan. Melalui interaksi manusia belajar memahami ciri-ciri yang ada dalam masyarakat.

Masyarakat sebagai community dapat dilihat dari dua sudut pandang, pertama: memandang masyarakat sebagai unsur statis, artinya masyarakat terbentuk dari suatu wadah atau tempat dengan batas-batas tertentu yang mkenunjukkan bagian dari suatu masyarakat sehingga dapat pula disebut masyarakat setempat, misalnya kampung,

43

Abdulsyani., Ibid, hlm 101.

44

Phil S Susanto, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial (Bandung, Bhineka Cipta, 1979), hlm. 44.

dusun, atau kota. Kedua: sebagai unsur dinamis, artinya menyangkut suatu proses yang terbentuk melalui faktor psikologis dan hubungan antar manusia yang di dalamnya terkandung unsur-unsur kepentingan, keinginan atau tujuan yang sifatnya fungsional.45

Dalam sebuah kehidupan pada umumnya masyarakat terbagi menjadi beberapa bentuk kelompok, sejajar dengan pembentukan struktur kelompok akan dapat menumbuhkan sikap emosi antar anggota. Sikap tersebut dapat dijumpai dalam kelompok in-group yang berkaitan usaha masing-masing dan orang-orang yang dipahami dan dialami oleh anggota di dalam kelompoknya. Sedangkan perasaan out-group merupakan sikap perasaan terhadap semua orang termasuk orang luar dan merasa berdiri pada lingkungan kelompok tertentu dan tiap individu perlu adanya identifikasi atau penyesuaian diri untuk masuk dalam sebuah kelompok.46

Hubungan antar individu dalam masyarakat didasari oleh sikap untuk saling membina hubungan baik dengan anggota masyarakat dengan tujuan untuk saling memberi dan menerima berbagai bentuk perbedaan. Kebersamaan tersebut nampak dalam kegiatan selalu di jalankannya sebuah bentuk praktek hubungan perusahaan dan para tenaga kerjanya. Bentuk interaksi tersebut tergambarkan dalam Perusahaan Perkebunan Kopi Banaran di kecamatan Bawen Kabupaten Semarang Jawa Tengah.

Adanya Perusahaan Perkebunan merupakan fenomena tersendiri dalam kehidupan sosial masyarakat. Ditempat itulah antar masyarakat sekitar Perkebunan

45

Abdulsyani., Opcit, hlm 30.

46

W. A. Gerungan, Dipl. Psych Psikologi Sosial (Bandung: Refika Aditama, 2004), Edisi ketiga cetakan pertama, hlm. 100-102.

saling bertemu dan berinteraksi dengan baik. Sebagai sistem perekonomian pertanian baru, sistem perkebunan kopi memperkenalkan berbagai pembaharuan dalam sistem perekonomian masyarakat, sehingga semakin berkembangnya usaha perkebunan diharapkan akan mampu menumbuhkan perekonomian secara rasial dan terbukanya modernisasi di kalangan masyarakat desa. Pengenalan tanaman kopi dan penyerapan tenaga kerja menjadi pintu masuknya peredaran uang ke daerah lebih luas yang besar pengaruhnya dalam membawa pergeseran perekonomian desa ke arah kehidupan ekonomi pasar. Peredaran uang itu melalui sistem pembayaran upah kerja. Perkebunan kopi mempunyai peranan penting dalam perubahan kehidupan ekonomi masyarakat khususnya kehidupan ekonomi buruh perkebunan kopi yang bekerja di perkebunan. Pengaruh yang langsung dirasakan oleh masyarakat adalah keberadaan Perkebunan kopi Banaran membuka peluang kerja yang sangat besar bagi masyarakat sekitar. Perkebunan kopi Banaran membuka kesempatan kerja bagi ribuan orang untuk bekerja di perkebunan. Adapun macam-macam pekerja perkebunan kopi Banaran yaitu :

a. Buruh Harian Lepas Insiden b. Buruh Harian Lepas

c. Buruh Harian Lepas Teratur

d. Pembantu Pelaksana (golongan IA-IV D)

Dengan adanya pemberian upah standar UMR ditambah dengan berbagai tambahan pendapatan seperti premi kualitas dan premi produksi, menjadikan kehidupan buruh perkebunan kopi lebih meningkat dari yang sebelumnya hanya mengandalkan hasil pertanian. Pihak perusahaan berharap dengan adanya kenaikan

upah buruh dari waktu ke waktu dapat menjadikan buruh lebih baik dalam melakukan pekerjaan sehingga tercipta keseimbangan dalam bekerja dan menerima upah.

Masuknya ekonomi perkebunan yang mencakup faktor produksi berupa tanah, tenaga kerja, perdagangan dan pajak di pedesaan menambah beban hidup petani. stratifikasi sosial dalam kehidupan masyarakat desa. Golongan yang berada di kelas atas dan kelas bawah, di kelas atas seperti pembesar desa, mandor perkebunan dan pabrik sedangkan di kelas bawah para buruh dan petani. Adanya stratifikasi tersebut banyak pemberontakan karena perbedaan kepentingan yang bersifat legal rasional. Lembaga tradisional tidak diberi hak hidup tetapi ditempatkan di bawah subordinasi lembaga kolonial sebab rendahnya tingkat kesejahteraan dan kepadatan penduduk yang membuat desa-desa menjadi miskin dan kurang sejahtera karena penduduk desa hanya mengandalkan pekerjaan dari perkebunan.

Di daerah Bawen memang penduduk banyak yang dialihkan menjadi petani kopi dengan tugas menanam, memelihara, memanen hingga pengangkutan ke pabrik kopi dan bekerja sebagai buruh di pabrik kopi Banaran. Peranan dari petani menjadi buruh yang tersebar di daerah perkebunan kopi Banaran menghadirkan pula pemukiman-pemukiman yang tersebar dan sekaligus membangun komunitas desa. Sistem perkebunan ini menciptakan pengelompakan batas-batas desa dengan memberikan keamanan dan kenyamanan bagi penduduk desa.

Sebagai desa yang dijadikan perkebunan, desa Assinan memiliki tatacara dalam mengatur kebutuhan desa. Tatacara yang pertama adalah dengan mengadakan ronda malam yang dilakukan oleh dua orang yang bertugas untuk menjaga keamanan penduduk dari hal-hal yang meresahkan warga seperti pencurian, perampokan dan

lainnya. Ronda biasanya ditempatkan dalam gardu yang berbatasan dengan keluar masuknya wilayah desa. Gardu adalah bagian dari kebudayaan pedesaan yang tradisional yang sering mengambil bentuk “komunitas tergerbang”

Gardu mencitrakan suatu batas teritorial yang nyata dan asal muasalnya dapat dilacak ke sejarah politik ruang ala negara kolonial Belanda. Gardu mempresentasikan munculnya negara kolonial di Jawa pada abad ke-19 yang mereorganisasi ruang kota dan desa. Gardu sangat terkait dengan politik ruang kolonial dan wacana pembentukan jati diri sebuah komunitas. Pada abad ke-19 memang desa sudah memiliki batas yang kompleks yang terkait dengan komunitas desa, batas tersebut merupakan batas dari keamanan, disiplin, kekuasaan, wilayah dan identitas. Tatacara yang kedua, membuat semacam jembatan dan bendungan (kalen) untuk kepentingan bersama warga desa, jembatan ini berfungsi sebagai penyeberangan aliran sungai yang deras dan bendungan digunakan untuk menampung air hujan saat musim hujan agar tidak terjadi banjir. Tatacara yang ketiga, adanya bersih desa atau kerja bakti atau gugur gunung yang dilakukan oleh seluruh warga desa demi kenyamanan dan kebersihan desa. Bersih desa ini dilaksanakan pada hari hari raya, suran, ruwah, mulud, gumbregan. Tatacara yang keempat, apabila warga desa ada yang punya acara pernikahan (gadhah damel mantu), tayuban, sunatan, membangun rumah maka warga diwajibkan untuk membayar uang kepada desa yang diwakilkan oleh kebayan, uang tersebut digunakan untuk keperluan desa. Hal ini

dilakukan agar terjadi keselarasan antar warga desa lain dan hal di atas dapat diubah oleh warga desa dengan kesepakatan kepala desa.47

D. Struktur Organisasi di Perkebunan Kopi Banaran Tahun 1996-2009

Dokumen terkait