HASIL DAN PEMBAHASAN
6. Interaksi yang tetap
Tidak semua responden melakukan perubahan interaksi dengan hutan. Sebanyak 7,1% responden di kedua dusun penelitian tidak merubah interaksinya dengan hutan. Responden ini tidak terpengaruh oleh berbagai faktor-faktor pendorong perubahan yang terjadi pada sebagian responden lainnya.
Masyarakat tersebut dari sebelum kawasan dikelola oleh taman nasional sampai saat ini masih melakukan interaksi yang sama. Terdapat masyarakat yang melakukan aktifitas pertanian di hutan dari awal sampai saat ini. Perubahan pengelolaan kawasan dan peraturan tidak mempengaruhi kegiatan pertanian yang dilakukan. Selain itu, masyarakat yang tinggal tidak terlalu jauh dari kawasan hutan masih memanfaatkan hasil hutan dari dulu sampai saat ini. Hasil hutan yang
masih dimanfaatkan antara lain adalah kayu bakar. Tindakan-tindakan ini dimungkinkan karena pihak taman nasional sampai saat ini tidak melakukan tindakan tegas meskipun pelarangan pertanian di dalam kawasan sudah dilakukan.
5.1.3 Hubungan Antara Variabel Sosial Ekonomi dengan Luas Penggunaan Lahan Hutan
Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, didapatkan hasil bahwa masing- masing petani yang menggunakan lahan hutan untuk pertanian memiliki luas lahan yang berbeda-beda. Dari seluruh responden di kedua dusun yakni Pandan Arum dan Cisarua terdapat sebanyak 47 responden yang menggarap lahan di hutan. Dalam analisis hubungan antara faktor sosial ekonomi dengan luas penggunaan lahan hutan yang akan digunakan adalah data masyarakat yang menggarap lahan di hutan. Persamaan regresi yang dihasilkan dari analisis regresi linier berganda dari faktor sosial ekonomi dengan luas penggunaan lahan hutan di TNGHS adalah sebagai berikut:
Y= -540,172 + 22,87X1 + 30,845X2 + 0,145X3– 28,922X4– 47,151X5 + 0,001 X6
Keterangan: Y = luas penggunaan lahan hutan oleh masyarakat X1 = umur
X2 = lama bermukim di desa
X3 = luas lahan pertanian di luar hutan
X4 = lama menggarap di hutan
X5 = jumlah anggota keluarga
X6 = pendapatan per bulan
Nilai P-value dari persamaan regresi tersebut adalah < 0,05 yakni sebesar 0,02 yang berarti tolak H0. Ini berarti secara keseluruhan faktor sosial ekonomi
masyarakat petani yang menggunakan lahan hutan berpengaruh terhadap luas penggunaan lahan pertanian pada tingkat kepercayaan 95%. Besarnya pengaruh dari faktor-faktor sosial ekonomi masyarakat petani hutan terhadap luas penggunaan lahan hutan ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 30,1 %, sedangkan sisanya disebabkan oleh faktor lain di luar faktor sosial ekonomi masyarakat. Untuk mengetahui variabel peubah bebas yang terpilih dilakukan dengan metode regresi stepwise. Persamaan yang dihasilkan dari analisis regresi dengan metode stepwise adalah sebagai berikut:
Y= 405,955 + 36,135 X2 + 0,143X3
Keterangan: Y = luas penggunaan lahan hutan oleh masyarakat X2 = lama bermukim di desa
X3 = luas lahan pertanian di luar hutan
Nilai P-value dari persamaan regresi tersebut adalah 0,002 yakni <0,05 yang berarti tolak H0 pada tingkat kepercayaan 95%. Besarnya hubungan dari faktor
sosial ekonomi dari variabel bebas terpilih dengan luas penggunaan lahan hutan oleh masyarakat ditunjukkan oleh besarnya koefisien determinasi sebesar 24,5%. Hal ini berarti bahwa luas penggunaan lahan hutan oleh masyarakat dipengaruhi oleh faktor lama bermukim di desa dan kepemilikan lahan pertanian di luas hutan sebesar 24,5% , sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lainnya.
Jika pada beberapa penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya didapatkan indikasi bahwa semakin luas lahan pertanian di luar hutan maka semakin sempit lahan garapan di hutan, maka di dalam penelitian ini tidak demikian hasilnya. Luas lahan garapan di luar hutan justru menunjukkan semakin luas pula lahan garapan di dalam hutan meski tidak terlalu besar.
Hal ini disebabkan karena terdapat responden dengan lahan garapan relatif luas di dalam hutan juga memiliki lahan garapan yang luas di luar hutan. Terdapat dua orang responden yang memiliki lahan garapan di dalam hutan seluas >5000 m2, memiliki pula lahan garapan di luar hutan seluas lebih dari 10.000 m2. Rata- rata luas lahan hutan yang digarap oleh responden adalah 2113 m2. Mereka dengan luas lahan luas adalah warga yang mempunyai hubungan baik dengan pengelola sebelumnya yaitu Perhutani. Mereka yang berhubungan baik dengan Perhutani sebagian besar adalah mantan pegawai di Perhutani atau orang terpandang di desa yang pada umumnya juga memiliki lahan pertanian yang luas di luar desa. Mereka menggarap lahan hutan sudah sejak lama dan saat ini masih diteruskan. Variabel lama mukim adalah variabel paling dominan dalam mempengaruhi luas lahan garapan masyarakat di dalam hutan. Semakin lama seseorang tinggal di desa maka semakin luas lahan garapan di hutan.
Nilai koefisien determinasi yang dihasilkan dari persamaan regresi tersebut terbilang cukup kecil (kurang dari 50%). Hal ini berarti bahwa faktor di luar faktor sosial ekonomi terpilih yang lebih banyak berpengaruh dalam luas garapan lahan di hutan. Dari penelitian di lapangan didapatkan bahwa luas lahan hutan
yang digarap oleh masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor-faktor lain yang saling terkait. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah tekanan dari pihak pengelola dan pengawasan yang dilakukan oleh pihak TNGHS. Beberapa responden menerangkan bahwa pada beberapa lokasi terlebih di dekat koridor (di Dusun Cisarua), pengawasan dan penjagaan lebih ketat oleh pihak TNGHS. Pada daerah ini masyarakat yang mengerjakan lahan hutan untuk pertanian merasa lebih tertekan oleh pihak taman nasional sehingga mereka jarang yang memperluas lahan garapan atau bahkan beberapa masyarakat mengurangi atau meninggalkan lahan garapan mereka meskipun sebenarnya mereka merasa membutuhkannya.
5.2 Faktor-Faktor Penyebab Perubahan Pola Interaksi Masyarakat dengan Hutan
Perubahan pola interaksi antara masyarakat dengan hutan merupakan respon dari suatu perubahan yang terjadi di dalam berbagai hal yang terkait dalam hubungan interaksi itu. Dalam penelitian ini perubahan pola interaksi yang terjadi tidak hanya dalam satu pola saja. Suatu perubahan pada satu hal tidak selalu menyebabkan satu pola perubahan saja. Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan pola interaksi tersebut. Tabel 10 berikut ini menjelaskan tentang pola- pola perubahan interaksi beserta penyebabnya masing-masing berdasarkan data yang didapatkan dari responden di kedua dusun penelitian.
Tabel 10 Perubahan pola interaksi dan penyebabnya Perubahan Pola Interaksi Penyebab Penggunaan lahan menjadi
pemanfaatan hasil hutan
a.Lahan hutan berkurang kesuburan b.Gangguan binatang (babi dan
monyet)
c.Hasil panen kecil dan kurang menguntungkan
d.Konflik dengan pihak pengelola (TNGHS)
e.Luas lahan pertanian di luar hutan yang mencukupi
f. Faktor usia Penggunaan lahan menjadi tanpa
interaksi
a.Lahan hutan berkurang kesuburan b.Gangguan binatang
c.Hasil panen kecil dan kurang menguntungkan
d.Konflik dengan pihak pengelola (TNGHS)
e.Luas lahan pertanian di luar hutan yang mencukupi
f. Mendapatkan lahan pertanian baru yang lebih baik
g.Pendapatan yang meningkat h.Faktor usia
i. Jarak lahan hutan yang jauh Pemanfaatan hasil hutan menjadi
penggunaan lahan
a.Lahan pertanian sempit / tidak memiliki lahan pertanian b.Kebutuhan hidup yang semakin
banyak Pemanfaatan hasil hutan menjadi tanpa
interaksi
a.Adanya peraturan dari pihan TNGHS yang ketat
b.Perubahan gaya hidup c.Faktor usia
Tanpa interaksi menjadi penggunaan lahan
a.Pekerjaan pertanian dianggap lebih menguntungkan
b.Lahan pertanian sempit / tidak memiliki lahan pertanian c.Kebutuhan hidup yang semakin
banyak
Faktor pendorong terjadinya perubahan interaksi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam masyarakat yaitu faktor-faktor yang muncul dari kondisi di dalam masyarakat sendiri yang menyebabkan masyarakat secara sukarela melakukan perubahan interaksi dengan hutan di sekitarnya.
Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor pendorong terjadinya perubahan interaksi masyarakat dengan hutan yang berasal dari luar masyarakat yang bersangkutan.