KEBIJAKAN, STRATEGI, PROGRAM
1) Internalisasi Penganekaragaman Konsumsi Pangan
Internalisasi pentingnya penganekaragaman konsumsi pangan merupakan kunci utama dalam meningkatkan pengetahuan tentang pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman pada tingkat rumah tangga karena pengetahuan tentang penganekaragaman konsumsi pangan yang dimiliki oleh setiap individu, terutama wanita sangat penting dalam membentuk pola makan yang memenuhi kriteria gizi seimbang. Hasil akhir dari proses internalisasi ini adalah terwujudnya kesadaran setiap individu yang dituangkan dalam praktek pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang yang berbasis pada pangan lokal. Secara makro hal ini akan mendorong terjadinya peningkatan status gizi masyarakat, menurunkan peluang terjadinya gizi lebih dan penyakit degeneratif, dan di sisi lain mendorong berkembangnya penganekaragaman ketersediaan aneka ragam pangan baik secara vertikal maupun horizontal dan memperkokoh kemandirian pangan nasional dan wilayah.
Dalam kerangka mewujudkan pembangunan ketahanan pangan menuju kemandirian pangan, maka pelaksanaan kegiatan internalisasi penganekaragaman konsumsi pangan tidak terlepas dari ketiga aspek ketahanan pangan, yaitu pada (1) aspek ketersediaan pangan dilaksanakan melalui advokasi pengembangan agribisnis pangan, (2) aspek distribusi pangan dilaksanakan melalui penyebarluasan informasi pasokan dan harga bahan pangan melalui media cetak dan elektronik secara rutin, dan (3) aspek konsumsi pangan dilaksanakan melalui pengembangan materi advokasi, kampanye, promosi, serta sosialisasi pengembangan konsumsi dan keamanan pangan; optimalisasi pemanfaatan pekarangan; pengembangan aneka olahan berbasis pangan lokal yang memenuhi standar mutu dan keamanan pangan; serta pelatihan pengembangan konsumsi dan keamanan pangan. Dukungan kelembagaan yang diperlukan dilaksanakan melalui penyuluhan pertanian, dan pendampingan; penyebarluasan informasi melalui media massa; advokasi, kampanye, promosi, dan sosialisasi; serta pendidikan konsumsi pangan.
Proses internalisasi penganekaragaman konsumsi pangan dilakukan melalui kegiatan :
a. Advokasi, kampanye, promosi dan sosialisasi tentang konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman kepada aparat diberbagai tingkatan dan masyarakat.
Kegiatan advokasi dilaksanakan dalam rangka memberikan solusi untuk mempercepat proses penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal, kampanye dalam rangka penyadaran/awareness kepada aparat dan masyarakat untuk percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal. Promosi dan sosialisasi dalam rangka membujuk, menghimbau dan mengajak aparat dan masyarakat untuk melaksanakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.
b. Pendidikan konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang, dan aman melalui jalur pendidikan formal dan non formal/penyuluhan.
Pendidikan konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman melalui jalur pendidikan non formal untuk seluruh lapisan masyarakat khususnya kelompok wanita dan Tim Penggerak PKK dalam rangka mengubah perilaku sehingga mau dan mampu melaksanakan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal. Penyuluhan kepada ibu rumah tangga dan remaja, terutama ibu hamil, ibu menyusui, dan wanita usia subur tentang manfaat mengonsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang
dan aman, pemanfaatan pekarangan dan potensi pangan di sekitar lingkungan kita. Disamping itu pangan lokal juga perlu dibangun melalui kurikulum sekolah (SD sampai dengan SMU) dengan mengembangkan kebun sekolah untuk tanam sayur dan buah, dan juga pengembangan kantin sekolah dengan pangan yang diolah dari pangan lokal.
2)
Pengembangan bisnis dan industri pangan lokal
Pelaksanaan kegiatan pengembangan bisnis dan industri pangan mencakup: (1) aspek ketersediaan pangan, dilaksanakan melalui pengembangan agribisnis pangan lokal serta pengembangan produksi aneka olahan pangan lainnya, (2) aspek distribusi pangan, dilaksanakan melalui fasilitasi penumbuhan pasar pangan lokal, fasilitasi distribusi aneka produk pangan berbasis pangan lokal, serta stabilisasi harga aneka produk pangan berbasis pangan lokal, (3) aspek
konsumsi pangan, dilaksanakan melalui uji proksimat, uji dapur resep menu makanan, pelatihan menu dan keamanan pangan serta pendampingan mutu dan keamanan pangan pada industri olahan pangan lokal, penumbuhan kelompok tani/gapoktan bidang olahan pangan lokal dan pangan siap saji yang aman, serta pemberian penghargaan kepada individu/perorangan dan kelompok masyarakat yang telah berperan sebagai pelopor dalam upaya percepatan penganekaragaman, dan (4) dukungan kelembagaan dilaksanakan melalui penyuluhan dan pendampingan serta penyebarluasan informasi dalam rangka pengembangan bisnis dan industri pangan lokal.
Pengembangan bisnis dan industri pangan khas daerah dilakukan melalui dua cara, yaitu :
a. Fasilitasi kepada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)
Fasilitasi kepada kelompok wanita/gapoktan untuk pengembangan bisnis pangan segar, industri bahan baku, industri pangan olahan dan pangan siap saji yang aman berbasis sumber daya lokal melalui berbagai kegiatan antara lain melalui uji coba model pengembangan pangan pokok lokal (MP3L), dan pengembangan resep-resep aneka olahan pangan lokal, serta peningkatan keterampilan dalam pengembangan olahan pangan lokal. Kegiatan Lomba Cipta Menu Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) dilaksanakan bekerja sama dengan PKK berbasis pangan lokal dilaksanakan setiap tahun secara berjenjang mulai tingkat kabupaten/kota sampai tingkat nasional yang diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia tanggal 16 Oktober.
Pembinaan kepada industri rumah tangga guna meningkatkan kesadaran untuk memproduksi dan menyediakan aneka ragam pangan yang aman berbasis sumber daya lokal serta memfasilitasi pengembangan bisnis pangan, permodalan, dan pemasaran kepada pengusaha di bidang pangan baik segar, olahan maupun siap saji yang berbasis sumber daya lokal serta pengembangan dan diseminasi serta aplikasi paket teknologi terapan terhadap pengolahan aneka pangan.
Untuk memotivasi kepada kelompok wanita/gapoktan akan diberikan penghargaan kepada individu/perorangan dan kelompok masyarakat yang dinilai telah berperan sebagai pelopor dalam menjalankan dan memajukan upaya percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya pangan khas daerah.
b. Advokasi, sosialisasi dan penerapan standar mutu dan keamanan pangan
Kesadaran tentang keamanan pangan saat ini masih rendah, baik pada sisi konsumen maupun pada sisi produsen. Produsen pangan mempunyai kecenderungan menggunakan pestisida dan pupuk yang belum sesuai anjuran untuk mendapatkan produk yang tinggi dan mempunyai tampilan bagus. Sementara itu ditinjau dari sisi konsumen umumnya belum memiliki pengetahuan tentang bahaya mengonsumsi pangan yang tidak aman, karena masih rendahnya kesadaran konsumen untuk membeli produk pertanian yang berkualitas dan aman dengan harga yang lebih mahal, terlebih lagi bagi konsumen berpendapatan menengah ke bawah.
Sehubungan dengan hal tersebut pengawasan keamanan pangan yang beredar di pasaran sangat penting untuk dilaksanakan, yang didukung dengan peningkatan kesadaran masyarakat baik konsumen atau produsen. Pengawasan keamanan pangan beredar perlu dilakukan secara terus menerus mengingat jangkauan pengawasan yang sangat luas dan menghadapi permasalahan yang komplek dengan iklim global. Untuk memberikan jaminan terhadap pangan aman, perlu memperluas jangkauan pengawasan keamanan pangan dengan meningkatkan jumlah sumberdaya dan kompetensi pengawas keamanan pangan. Di samping itu perlu sosialisasi, advokasi dan penyebaran informasi tentang keamanan pangan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan.
Advokasi, sosialisasi dan penerapan standar mutu dan keamanan pangan dilaksanakan bagi pelaku usaha pangan, terutama kepada usaha rumah tangga
dan UMKM. Penerapan standar mutu dilaksanakan terhadap olahan pangan pada industri rumah tangga, dan pembinaan dan pengawasan keamanan diarahkan kepada keamanan pangan segar (sayuran dan buah-buahan).
Dalam kegiatan advokasi, sosialisasi dan penerapan standar mutu dan keamanan pangan dituntut peran aktif swasta dan dunia usaha dalam pengembangan industri dan bisnis pangan lokal. Untuk memberikan penghargaan sebagai upaya kegiatan tersebut, maka akan diberikan penghargaan kepada industri rumah tangga dan dunia usaha di bidang pangan berbasis sumber daya lokal.
Beberapa aspek atau faktor yang perlu dicermati dengan seksama antara lain: (1) kesesuaian dan peran produk bernilai tambah yang dihasilkan dengan kebutuhan masyarakat dan pasar, baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional, (2) situasi dan kondisi target pasar produk, (3) pertumbuhan ekonomi dan industri yang relevan, (4) kecenderungan perkembangan dan perubahan politik, budaya, sains, teknologi dan seni, yang berpengaruh terhadap kesuksesan produk bernilai tambah tersebut.
Beberapa strategi yang perlu dilaksanakan dalam pengembangan pangan lokal antara lain :
a. Pengembangan teknologi bagian hulu yang dilakukan adalah untuk memecahkan masalah-masalah di sektor produksi bahan baku (on farm) yang dapat menjamin kontinuitas bahan baku yang berkualitas dan berharga terjangkau yang berpihak pada petani, yaitu dengan mengidentiikasi varietas-varietas yang cocok untuk bahan baku tepung, serta mengembangkan teknik budidaya yang baik untuk varietas tersebut. b. Peningkatan nilai tambah sebagai penggerak dasar hampir semua jenis
bisnis sehingga menarik para investor untuk menanamkan modalnya. Dengan makin ketatnya persaingan bisnis, maka dunia usaha selalu mencari keunggulan kompetitif berdasarkan nilai tambah yang diciptakan. Penumbuhan industri penghasil nilai tambah dengan berbasiskan kepada
potensi lokal merupakan strategi yang paling tepat untuk menggerakkan ekonomi daerah berdasarkan potensi yang dimilikinya. Nilai tambah yang didapat inilah yang diharapkan dapat menumbuhkan lapangan kerja dan pendapatan bagi masyarakat setempat. Era otonomi daerah dan keragaman potensi di Indonesia makin membuka peluang dilaksanakannya strategi ini. Dengan demikian seluruh potensi lokal diramu sedemikian rupa sehingga menguatkan agroindustri yang dibangun di daerah tersebut. Istilah lain yang juga sering dikaitkan dengan potensi/sumberdaya lokal adalah indigenous resources yang dideinisikan sebagai “set of knowledge and technology existing and developed in, arround and by speciic indigenous communities (people) in an speciic area (environment)”.
c. Perkembangan kuliner di masyarakat perlu menjadi perhatian dalam membuat kebijakan diversiikasi pangan, terkait dengan perubahan pola konsumsi dan selera masyarakat. Lebih lanjut penggunaan istilah yang tepat dalam pangan juga penting karena akan mempengaruhi mindset masyarakat atau konsumen. d. Mengingat pengembangan komoditas sumber karbohidrat selain beras masih bersifat skala kecil sehingga diperlukan adanya dukungan pemerintah dalam bentuk subsidi pemerintah atau insentif kepada UKM.
e. Perlu memperhatikan segmentasi demograi dan geograi dalam menjalankan kebijakan pangan. Dari sisi demograi dibagi menjadi 3 segmen yaitu : Kelompok Usia Lanjut (di atas 55 tahun) yang membutuhkan healthy food; Kelompok Usia Produktif (20 – 55 tahun) yang umumnya termasuk golongan ekonomi menengah ke bawah yang membutuhkan pangan murah; dan Kelompok Usia Muda (di bawah 20 tahun) yang termasuk dalam masa pertumbuhan dan memerlukan makanan yang bergizi. Dari sisi geograi dibagi 2 segmen yaitu : Indonesia Timur yang memiliki potensi sumber daya alam yang masih belum banyak dikembangkan dan kurang didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki kemampuan yang diperlukan; sedangkan Indonesia Barat memiliki sumber daya manusia yang relatif lebih baik namun potensi sumber daya alam sudah sulit dikembangkan.
f. Untuk menjamin kontinuitas produksi pendekatan dengan pengembangan food estate sangat diperlukan. Oleh karena itu keterlibatan BUMN dan perusahaan besar swasta dalam penyediaan pangan lokal perlu digiatkan terus.
g. Perlu melibatkan secara aktif pihak industri pengolahan (sektor hilir) dalam menyusun kebijakan agar terjadi harmonisasi dengan sektor hulu (produsen).
h. Melakukan kampanye dan sosialisasi pangan lokal yang intensif untuk meningkatkan image dan citra pangan lokal.