• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

A. Interpretasi dan Hasil Diskusi

1. Karakteristik Gejala Fisik Pada Sindrom Pra Haid

Gejala fisik pada sindrom pra haid dengan karakteristik sakit pada payudara, timbulnya jerawat di wajah, sakit perut, sakit kepala dan sakit pada bagian kaki dan punggung.

Daerah yang paling sakit pada daerah payudara yang dialami partisipan sesuai dengan pernyataan Shreeve (1989) bahwa gejala pra haid yang terjadi adalah pembengkakan buah dada disertai nyeri. Tingkat ketidaknyamanan yang dimulai dengan meningkatkan kesensitifan sampai nyeri tekan akut. Kepekaan pada buah dada yang berhubungan dengan sindrom pra haid disebabkan karena retensi cairan pada jaringan-jaringan dan meningkatnya persediaan darah sehingga aliran darah dalam jumlah yang meningkat melalui kulit dan jaringan di bawahnya. Sakit pada buah dada yang berlangsung pada setiap bulan akan menghilang segera setelah haid tiba. Pembesaran buah dada menimbulkan rasa sakit yang lebih hebat sehingga wanita cenderung gelisah.

Retensi cairan pada tubuhlah yang menyebabkan pembesaran atau benjolan pada buah dada.

Partisipan menyatakan bahwa pada saat sindrom pra haid mengakibatkan timbulnya jerawat di wajah dan kulit pada bagian punggung berjerawat seperti keringat buntat dan rasanya gatal seperti alergi kulit. Pernyataan partisipan tersebut sesuai dengan pernyataan Shreeve (1989) bahwa wanita merasa bahwa kulitnya makin cenderung berjerawat selama minggu pra haid. Wajah penuh dengan jerawat, bintik-bintik, dan tampak tak sehalus biasanya. Kulit juga tampak membengkak, karena keadaan kulit lemah, maka cenderung untuk alergi pun meningkat. Akibat yang paling buruk dari gangguan kulit ini adalah efeknya pada mora penderita. Perasaan depresif, mudah marah, malas, kikuk, dan melihat wajah yang tampak bengkak dan kasar.

Sindrom pra haid mengakibatkan partisipan sakit perut yang hebat sesuai dengan pendapat Shreeve (1989) bahwa pegal dan nyeri merupakan rasa sakit terdapat pada punggung bawah dan bagian perut bawah, dan perut terasa tertarik-tarik dan semua rasa sakit yang timbul dapat mempengaruhi pra haid tiba.

Hal ini juga dinyatakan Shreeve (1989) bahwa nyeri yang ditimbulkan pada saat menstruasi adalah Dismenore spasmodic yang merupakan rasa sakit atau nyeri yang dialami bersamaan dengan perdarahan yang terjadi. Dismenore spasmodic merupakan perasaan nyeri yang berat, pegal, dan tak putus-putus pada bagian perut atau pada bagian pinggang yang sempit. Rasa sakit tersebut disebabkan karena penyumbatan pada pembuluh darah daerah genital dan panggul. Perut terasa kejang, makin lama makin kuat lalu berkurang dan tak lama kemudian terasa kembali dan begitu seterusnya seperti otot rahim yang berkontraksi, mengencang, mengendur dan mengencang kembali. Selain itu

rasa nyeri itu bersangkutan biasanya dengan defresi, pusing, lemah, malas pada dua atau tiga hari pertama menstruasi.

Partisipan yang menyatakan kepala sakit, berdenyut dan seperti migren sesuai dengan pernyataan Shreeve (1989) bahwa rasa sakit pada bagian kepala yang hebat terasa pada kepala atas, dahi, tulang pipi, mata dan kadang-kadang terasa pada gigi atas. Sakit kepala jenis ini merupakan gejala dari tertimbunnya cairan dan sebagian karena sinus tertutup sel-sel yang membengkak. Jalan udara melalui hidung juga tersumbat sehingga dapat mengalami kesulitan bernafas. Sakit kepala kedua berpengaruh pada ketegangan. Pada sakit kepala jenis kedua ini dahi terasa berdenyut-denyut. Serangan migren dan nyeri disebabkan karena kontraksi pembuluh darah yang memasok otak, diikuti dengan fase relaksasi. Nyeri yang mula-mula dirasakan adalah rasa tertusuk pada salah satu sisi kepala, dan semakin lama makin kuat sampai terasa pada seluruh kepala. Rasa tertusuk yang dirasakan menimbulkan rasa sakit yang terus menerus, yang intensitasnya dapat bervariasi mulai dari hanya rasa tidak enak sampai menyiksa.

Hal ini sesuai dengan pendapat Baziad (2007) bahwa masalah bagi sebagian kaum wanita, pada saat haid akan muncul, dan selalu disertai dengan rasa ketakutan. Biasanya 7 sampai 10 hari menjelang haid, timbul rasa cemas, cepat marah, mudah tersinggung, rasa takut atau gelisah yang berlebihan, badan lemas, perut kembung, nyeri payudara, susah tidur, nafsu makan berkurang, sulit berkonsentrasi. Keluhan-keluhan tersebut di atas merupakan suatu kelainan, yang dikenal dengan istilah sindrom pra haid berat, atau Premenstrual Dysphoric Disorder.

2. Karakteristik Gejala Psikologis Pada Sindrom Pra haid

Gejala psikologis yang dialami partisipan pada saat menjelang haid yaitu emosi partisipan akan lebih meningkat. Peningkatan emosi itu bagi partisipan terjadi secara spontan, yang kadang partisipan tidak sengaja dan merasa gampang tersinggung dan mudah sekali marah. Peningkatan emosi pada saat sindrom pra haid merujuk pada pendapat Shreeve (1989) bahwa rasa marah dapat merupakan cetusan dari ketegangan di dalam diri dan dapat mengakibatkan percekcokan dalam rumah tangga dan kesengsaraan bagi diri sendiri. Kemarahan dapat juga timbul dalam bentuk kekerasan fisik.

Hal ini sesuai dengan pendapat Elizabeth (2007) bahwa Sindrom Pra-haid (Pre Menstrual Syndrome) yang sering dialami wanita antara lain depresi, mudah marah, gangguan konsentrasi, nafsu makan bertambah, gejala fisik (payudara sensitif, kembung, sakit kepala, nyeri haid atau kram perut, perdarahan banyak serta anemia dapat mengganggu aktifitas wanita terutama wanita aktif dengan mobilisasi tinggi.

3. Dampak Pada Sindrom Pra Haid

Dampak/keluhan yang terjadi dari sindrom pra haid adalah dampak psikologis yaitu sulit berkosentrasi ketika mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan dari sekolah, selera makannya menjadi bertambah saat menjelang haid, otot-otot terasa sakit dan pegal, juga mengganggu aktivitas partisipan sehari-hari.

Pernyataan partisipan dampak sindrom haid mengakibatkan kurangnya kosentrasi dalam belajar itu merujuk pada pendapat Shreeve (1989) bahwa kurangnya konsentrasi dan daya ingat adalah gejala yang umum dari sindrom pra haid dan dapat disembuhkan bila diobati penyebab yang mendasarinya.

Hal ini sesuai dengan pendapat Ragawaluya (1997) yaitu di sekolah kemungkinan guru akan menemukan seorang anak yang sehari - hari normal, pintar dan rajin sekolah, selama beberapa hari berturut - turut tampak terlambat ke sekolah dan prestasinya tidak sebaik biasanya. Ada kemungkinan bahwa guru tersebut tidak mengetahui atau menyadari bahwa penyebabnya terjadi penurunan prestasi belajar akibat sindrom pra haid

Nafsu makan yang berlebih pada saat menjelang sindrom haid sesuai dengan pernyatan Shreeve (1989) bahwa pada saat pra haid wanita akan memiliki nafsu makan yang berlebihan. Perubahan-perubahan pada masa pra haid menyebabkan kadar gula turun. Sistem saraf dan otak perlu untuk meningkatkan kadar gula pada tubuh, sehingga menimbulkan keinginan untuk makan.

Otot-otot tubuh terasa sakit dan pegal merujuk pada pendapat Shreeve (1989) bahwa ketegangan akibat sindrom pra haid dapat menimbulkan sejumlah gejala fisik seperti menyebabkan sejumlah besar tekanan mental, seperti pegal dan nyeri. Ketegangan mental dapat mengakibatkan ketegangan pada otot-otot sehingga menimbulkan kekakuan, kecanggungan, dan pegal pada anggota gerak serta persendian. Ketegangan otot yang meningkat merupakan aspek mekanisme reflek karena banyaknya pengeluaran adrenalin oleh kelenjar adrenalin. Kadar adrenalin yang meningkat dalam darah juga bertanggung jawab atas peningkatan denyut jantung, mulut kering, nafas terasa sesak dan cepat.

Mengganggu aktivitas pada saat menjelang haid sesuai dengan pernyataan Baziad (2007) bahwa penurunan produktivitas kerja akibat peningkatan absensi kehadiran, kegiatan di tempat kerja terganggu selama 7 sampai 10 hari, dan ini sama dengan 84 -

120 hari per tahun, dan merupakan suatu kehilangan personal dan sosial yang bermakna

4. Penanganan pada Sindrom Pra Haid

Penanganan pada sindrom haid yang dapat dilakukan partisipan yaitu dengan istirahat, merubah pola makan dan melakukan pengobatan baik secara medis maupun alternatif.

Partisipan yang menyatakan bahwa penanganan sindrom haid dengan istirahat merujuk pada pendapat Shreeve (1989) yaitu Perbanyak waktu istirahat untuk menghindari kelelahan. Selain itu menghindari situasi yang bisa membuat stres.

Partisipan yang merubah pola makan untuk penanganan sinrom pra haid yaitu dengan mengkonsumsi susu ini merujuk pada pendapat Shreeve (1989) yaitu membatasi konsumsi makanan produk susu dan olahannya (keju, es krim, dan lainnya) dan gunakan kedelai sebagai penggantinya.

Hal ini sesuai pendapat Ragawaluya (1997) bahwa intensitas gejala sindrom pra haid dapat dikurangi dengan mengubah pola makan dan minum selama kurang lebih satu minggu menjelang menstruasi. Untuk itu diperlukan strategi - strategi untuk mengurangi konsumsi makanan. Menahan keinginan untuk makan makanan manis dan berlemak, dan memasukkan nutrisi bergizi tinggi ke dalam menu untuk meringankan sakit kepala dan migren, kesulitan buang air, perut kembung, dan tubuh yang terlalu sensitif.

Partisipan yang banyak mengkonsumsi buah-buahan dan sayur dalam penanganan sindrom pra haid ini sesuai dengan pernyataan Shreeve (1989) yaitu Mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung banyak serat, menambah makanan yang mengandung

potassium (buah, makanan laut, kacang-kacangan) juga makanan dan minuman ekstra atau suplemen yang mengandung vitamin B dan C dapat mengurangi sindrom pra haid.

Hal ini juga sesuai dengan pendapat Wijaya (2003) bahwa meningkatkan asupan asam lemak linoleat yang merupakan salah satu jenis asam lemak esensial. Essensial harus diproleh dari makanan karena tubuh tidak mensintesa sendiri. Jenis asam lemak ini terdapat pada banyak sayuran dan bahan nabati lainnya ketimbang pada bahan hewani. Untuk meningkatkan efesiensi penggunaan asam lemak di dalam tubuh sebaiknya mengkonsumsi makanan yang mengandung mineral seng, magnesium, seleniuum. Vitamin B1, C dan E. Seng banyak terdapat pada daging sapi, telur atau susu nonfat. Mangnsium banyak terdapat pada kacang-kacangan, sayuran hijau, apel, atau jeruk nipis.

Pengobatan medis yang dilakukan dalam menanggani sindrom pra haid ini merujuk pada pendapat Shreeve (1989) bahwa tindakan medis yang dapat dilakukan yaitu mengatasi rasa nyeri yang hebat, seperti dysmernorrhoea, dengan mengkonsumsi obat-obatan medis untuk meringankannya.

Pengobatan alternatif yang dilakukan dalam mengurangi sindrom pra haid ini merujuk pada pendapat Ragawaluya (1997) bahwa Terapi alami juga akan mengusir rasa nyeri dan gangguan di bagian tubuh tertentu seperti punggung dan perut.

Dokumen terkait