• Tidak ada hasil yang ditemukan

Investasi Permanen Penyertaan Modal Negara

Dalam dokumen Laporan Keuangan Pemerintah Pusat 2012 A (Halaman 138-146)

ER POS LAP egara dan H

PENAMBAHAN STOK

C.2.24 Investasi Permanen Penyertaan Modal Negara

Jumlah Investasi Permanen Penyertaan Modal Negara (PMN) per 31 Desember 2012 dan 31 Desember 2011 sebesar Rp912.877.699.396.801 dan Rp736.991.554.233.014 merupakan nilai penyertaan modal negara pada BUMN, Non BUMN, BHMN, Lembaga Keuangan Internasional, Badan Usaha Lainnya, BI, dan LPS dengan jumlah:

(dalam rupiah)

PMN 31 Desember 2012 (audited) 31 Desember 2011 (audited)

1. BUMN 677.338.383.256.170 589.766.661.926.137 2. BHMN 1.904.129.212.677 1.168.034.176.846 3. Non BUMN 5.178.641.951.881 4.261.956.608.163 4. Lembaga Internasional 38.497.052.327.727 35.495.913.032.610

Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2012 (audited)

Catatan atas Laporan Keuangan -127-

PMN pada BUMN

5. Badan Usaha Lainnya 434.267.346 224.634.258 6. Bank Indonesia 166.468.468.000.000 89.572.275.000.000 7. Lembaga Penjamin Simpanan 23.490.590.381.000 16.726.488.855.000

Jumlah 912.877.699.396.801 736.991.554.233.014

1. Nilai PMN pada BUMN per 31 Desember 2012 dan 31 Desember 2011 sebesar

Rp677.338.383.256.170 dan Rp589.766.661.926.137 disajikan berdasarkan metode ekuitas (equity method), yaitu dihitung dari penjumlahan total ekuitas masing-masing BUMN setelah dikalikan dengan persentase kepemilikan Pemerintah pada BUMN yang bersangkutan. Nilai PMN pada BUMN per 31 Desember 2012 tersebut merupakan nilai PMN pada 141 BUMN sebesar Rp656.663.652.845.436 dan lima BUMN/Lembaga dibawah pembinaan Kementerian Keuangan sebesar Rp20.674.730.410.734. Status laporan keuangan pada 141 BUMN adalah sebagai berikut.

(dalam rupiah)

Status Laporan Keuangan Jumlah BUMN Jumlah

Audited 2012 129 660.681.516.511.192 Unaudited 2012 8 (3.952.371.613.911) PP Pendirian 1 97.952.690.300 Prognosa 2012 1 (100.305.000.000) Unaudited 2010 1 7.247.892.217 Audited 2005 1 (70.387.634.362) Jumlah 141 656.663.652.845.436

Terdapat laporan keuangan BUMN yang disajikan dalam mata uang Dollar Amerika, yaitu PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk.; PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.; PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.; dan PT. Pertamina. Dalam melakukan konversi ke dalam mata uang Rupiah, digunakan kurs tengah BI pada tanggal 28 Desember 2012, yaitu Rp9.670/1USD untuk akun-akun selain nilai modal disetor, mengingat akun modal disetor menggunakan historical cost untuk konversinya.

Rincian PMN pada BUMN dapat dilihat pada Daftar 18.

Nilai PMN pada BUMN 31 Desember 2012 tersebut termasuk Bantuan Pemerintah yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) pada 21 BUMN dengan nilai sebesar Rp38.575.956.501.883. (Daftar 19)

Nilai PMN pada BUMN per 31 Desember 2012 termasuk PMN pada lima BUMN sebesar Rp20.674.730.410.734 yang berada di bawah pembinaan Kementerian Keuangan yaitu Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia sebesar Rp7.550.047.000.000, PT Sarana Multigriya Financial sebesar Rp2.647.607.277.078, PT Sarana Multi Infrastruktur sebesar Rp4.310.317.058.916, PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia sebesar Rp4.917.117.265.000, dan PT Geo Dipa Energi sebesar Rp1.249.641.809.740. (Daftar 20)

Penambahan nilai PMN pada Perusahaan Negara antara lain disebabkan oleh:

a. Perubahan Nilai Ekuitas pada masing-masing Perusahaan Negara dari Aktivitas Operasi.

Perubahan ekuitas Perusahaan Negara terutama disebabkan atas pembentukan cadangan yang dilakukan perusahaan, yang bersumber dari laba bersih yang tidak disetorkan menjadi dividen. Cadangan yang dibentuk akan menambah nilai ekuitas masing-masing Perusahaan Negara. Selain karena pembentukan cadangan, perubahan nilai ekuitas dapat disebabkan adanya saldo laba tahun berjalan yang belum ditetapkan penggunaannya.

b. Penambahan Nilai PMN

Selama periode 1 Januari 2012 sampai dengan 31 Desember 2012, Pemerintah memberikan tambahan Penyertaan Modal Negara yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2012 kepada beberapa Perusahaan Negara, yaitu:

1) penambahan PMN kepada PT Dirgantara Indonesia (Persero), sebesar Rp1.400.000.000.000;

2) penambahan PMN kepada PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) sebesar Rp831.000.000.000;

3) penambahan PMN kepada Perum Jaminan Kredit Indonesia sebesar

Rp1.169.000.000.000;

4) penambahan PMN kepada PT PAL Indonesia sebesar Rp600.000.000.000; 5) penambahan PMN kepada PT Pindad sebesar Rp300.000.000.000;

6) penambahan PMN kepada PT Industri Kapal Indonesia, sebesar

Rp200.000.000.000;

7) penambahan PMN kepada PT Garam sebesar Rp100.000.000.000. c. Perubahan persentase kepemilikan negara

1) Penerbitan saham baru PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk 2) Initial Public Offering PT Waskita Karya (Persero)

d. Perubahan jumlah komposisi Perusahaan Negara

1) Penggabungan PT Pradnya Paramita (Persero) ke dalam PT Balai Pustaka (Persero). Besarnya nilai kekayaan Negara pada PT Pradnya Paramita (Persero) yang akan dialihkan ke dalam PT Balai Pustaka (Persero) telah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 82/KMK.06/2006.

2) Pengambilan bagian saham oleh Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Pengelola Aset mengakibatkan kepemilikan saham Negara secara langsung pada Perusahaan Perseroan (Persero) PT Nindya Karya menjadi 1% (satu persen) dan kepemilikan saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Pengelola Aset pada Perusahaan Perseroan (Persero) PT Nindya Karya menjadi 99% (sembilan puluh sembilan persen).

3) Dengan transaksi tersebut, PT Nindya Karya berubah statusnya dari BUMN menjadi Non-BUMN, karena kepemilikan negara pada PT Nindya Karya terdilusi menjadi 1%.

4) Pendirian Perum Layanan Penyelenggaran Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia, dengan modal awal sebesar Rp97.952.690.300 yang berasal dari pengalihan barang milik negara pada Kementerian Perhubungan yang pengadaannya bersumber dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2010 dan 2011. Pada tahun 2012, perusahaan belum beroperasi, karena perangkat perusahaan baru terbentuk pada tahun 2013, dan mulai beroperasi pada tahun 2013.

5) Pemerintah melakukan pengurangan PMN pada PT Perusahaan Pengelola Aset sebesar Rp804.671.584.634 yang antara lain sebesar Rp474.992.100.000 merupakan tambahan modal disetor PT Perusahaan Pengelolaan Aset (Persero) pada PT Waskita Karya. Awalnya komposisi kepemilikan modal PT Waskita Karya adalah PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) sebesar 99% dan Pemerintah sebesar 1%, setelah ditetapkannya Peraturan Pemerintah

Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2012 (audited)

Catatan atas Laporan Keuangan -129-

PMN pada BHMN

Nomor 86 Tahun 2012 tentang Pengurangan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia Pada Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Pengelola Aset, maka kepemilikan Pemerintah menjadi 100% pada PT Waskita Karya, sehingga status PT Waskita Karya menjadi Perusahaan Negara PT Waskita Karya (Persero).

Sesuai dengan ketentuan Pasal 30 ayat (2) UU Nomor 17 Tahun 2003 dan Pasal 22 ayat (1) PP Nomor 8 Tahun 2006, LKPP dilampiri dengan ikhtisar laporan keuangan perusahaan negara yang memuat informasi lebih rinci tentang aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan, beban, dan laba (rugi) bersih yang disajikan dalam Daftar 18.

2. PMN pada Badan Hukum Milik Negara (BHMN) per 31 Desember 2012 dan 31 Desember 2011 masing-masing sebesar Rp1.904.129.212.677dan Rp1.168.034.176.846 dengan merupakan nilai ekuitas pada BHMN dengan rincian sebagai berikut.

(dalam rupiah)

BHMN 31 Desember 2012

(audited)

31 Desember 2011 (audited)

a. Institut Pertanian Bogor (IPB) 874.896.460.513 879.080.915.526 b. Universitas Airlangga 437.711.135.427 412.443.985.336 c. BP MIGAS 591.521.616.737 (123.490.724.016)

Jumlah 1.904.129.212.677 1.168.034.176.846

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP), seluruh penyelenggara pendidikan harus berbentuk BHP, untuk itu seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) BHMN harus mengubah bentuk dan menyesuaikan tata kelolanya sebagai BHP sesuai ketentuan UU tersebut. Namun, sebelum dilakukannya penyesuaian perubahan bentuk dan tata kelola menjadi BHP, telah ditetapkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 11-14-21-126 dan 136/PUU-VII/2009 tanggal 31 Maret 2010 dalam sidang putusan uji materi Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) yang memutuskan antara lain bahwa Penjelasan Pasal 53 ayat (1) UU Nomor 20 Tahun 2003 yang memberikan landasan hukum penyelenggara pendidikan dalam bentuk BHMN tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dan juga menyatakan UU BHP bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat.

Sebagai tindak lanjut Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut, telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan yang menetapkan antara lain PTN BHMN ditetapkan sebagai perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah yang menerapkan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, semua Perguruan Tinggi eks Badan Hukum Milik Negara (BHMN) berubah status hukumnya menjadi Satuan Kerja Badan Layanan Umum, dengan klausul masa transisi untuk pengalihan aset Perguruan Tinggi Eks BHMN dilakukan paling lambat pada tanggal 28 September 2013.

Mengingat pengalihan aset dilakukan paling lambat pada tanggal 28 September 2013, telah diambil kebijakan bahwa aset Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara yang telah ditetapkan menjadi kekayaan negara dipisahkan, yaitu pada Universitas Airlangga dan Institut Pertanian Bogor, per 31 Desember 2012 tetap dicatat sebagai investasi permanen pada Laporan Keuangan BA 999.03 Tahun 2012, dengan cut off pencatatan

per 31 Desember 2010, dengan dilakukan beberapa penyesuaian. Kebijakan ini diambil dalam masa transisi, sambil menunggu selesainya proses pengalihan kekayaan negara dipisahkan menjadi kekayaan negara tidak dipisahkan/barang milik negara pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Nilai penyertaan modal negara/kekayaan negara dipisahkan pada Universitas Airlangga menggunakan data Laporan Keuangan Universitas Airlangga Tahun 2012 audited dengan dilakukan beberapa penyesuaian atas aset-aset lancar dan aset-aset yang telah dicatat atau dialihkan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Nilai penyertaan modal negara/kekayaan negara dipisahkan pada Institut Pertanian Bogor per 31 Desember 2012 masih menggunakan data Laporan Keuangan BA 999.03 Tahun 2012 unaudited.

Sesuai dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 36/PUU-X/2012 tanggal 13 November 2012 tentang Pembubaran BPMIGAS, Mahkamah Konstitusi telah mencabut dasar hukum yang mengatur dan menetapkan BPMIGAS, sehingga per 31 November 2012 BPMIGAS telah dibubarkan.

Menindaklanjuti putusan Mahkamah Konstitusi tersebut, telah diterbitkan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2012 tentang Pengalihan Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pengelolaan Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi, dan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 3135 K/08/MEM/2012 dan Nomor 3136 K/73/MEM/2012 tentang Pengalihan Tugas, Fungsi dan Organisasi Dalam Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi.

Dalam Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2013 telah diatur hal-hal antara lain:

a. penyelenggaraan pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi sampai dengan diterbitkannya undang-undang baru di bidang minyak dan gas bumi, dilaksanakan oleh satuan kerja khusus pelaksana kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi (SKK Migas);

b. dalam rangka Penyelenggaraan pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi, SKK Migas memanfaatkan aset eks BPMIGAS dengan prinsip optimalisasi dan efisiensi;

c. biaya operasional dalam rangka pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi berasal dari jumlah tertentu dari bagian negara dari setiap kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi; dan

d. biaya operasional yang diperlukan dalam pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi untuk tahun 2012 menggunakan sisa anggaran BPMIGAS tahun 2012.

Sesuai dengan surat Menteri Keuangan kepada Menteri ESDM Nomor S-33/MK.05/2013 tanggal 16 Januari 2013 hal Penyajian Laporan Keuangan BPMIGAS pada LKPP Tahun 2012, telah diambil kebijakan sebagai berikut.

a. BPMIGAS menyusun Laporan Keuangan per 13 November 2012;

b. Pendanaan BPMIGAS tanggal 13 November 2012 sampai dengan 31 Desember 2012 diungkapkan dalam Catatan Atas Laporan Keuangan Bendahara Umum Negara (BUN) BA 999.03;

c. LKPP Tahun 2012 menyajikan BPMIGAS sebagai investasi permanen PMN sebesar

net equity per 13 November 2012; dan

d. Laporan Keuangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Tahun 2012 mengungkapkan BPMIGAS dan Satuan Kerja Sementara Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2012 (audited)

Catatan atas Laporan Keuangan -131-

PMN pada perusahaan minoritas (non BUMN)

Atas kebijakan yang telah diambil terkait BPMIGAS tersebut, nilai investasi permanen pada BPMIGAS yang dicatat pada Laporan Keuangan BA 999.03 Tahun 2012 adalah nilai aset bersih yang dimiliki oleh BPMIGAS per 13 November 2012, berdasarkan Laporan Keuangan BPMIGAS (unaudited) per 13 November 2012 yang telah disusun oleh BPMIGAS. Sampai dengan LKPP Tahun 2012 (audited) diserahkan kepada BPK, proses audit terhadap neraca tersebut belum selesai dilakukan.

Ekuitas BPMIGAS per 13 November 2012 naik sebesar Rp715.012.340.753 dari posisi per 31 Desember 2011. Kenaikan tersebut akibat dari peningkatan Surplus Kinerja Bersih sebesar Rp437.907.203.984 dan kenaikan Ekuitas Lainnya sebesar Rp277.105.136.769.

Terkait transaksi yang terjadi setelah tanggal 13 November 2012 sampai dengan 31 Desember 2012, tidak terdapat pendapatan yang diperoleh melainkan terdapat belanja sebesar Rp393.006.130.829. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan nilai ekuitas menjadi sebesar Rp97.314.910.162. Transaksi setelah tanggal 13 November 2012 dilaporkan di Badan Lainnya sebagai Aset Lainnya dari Unit Pemerintah Lainnya.

3. PMN pada perusahaan minoritas (non BUMN) sebesar Rp5.178.641.951.881, merupakan penyertaan pemerintah pada perusahaan dengan prosentase kepemilikan kurang dari 51%. Nilai penyertaan pada perusahaan minoritas dengan kepemilikan 20% sampai dengan 50% disajikan dengan menggunakan metode ekuitas (equity method), sedangkan kepemilikan kurang dari 20% menggunakan metode biaya (cost method).

Perubahan nilai kepemilikan negara pada Non-BUMN per 31 Desember 2012 disebabkan oleh:

a. Perubahan total ekuitas pada Non-BUMN dengan kepemilikan Pemerintah antara 20% sampai dengan 50%, karena perhitungan Pemerintah menggunakan metode ekuitas;

b. Perubahan komposisi Non-BUMN, yaitu PT Waskita Karya yang berubah statusnya menjadi BUMN, dikarenakan peningkatan kepemilikan Negara Republik Indonesia, PT Nindya Karya berubah status menjadi non-BUMN, dikarenakan penambahan modal yang dilakukan oleh PT Perusahaan Pengelolaan Aset dalam rangka restrukturisasi perusahaan, penambahan Asean Infrastructure Fund sebagai salah satu non-BUMN, yang merupakan perusahaan bentukan negara-negara Asean dalam bidang pembiayaan infrastruktur dan pengurangan Asean Aceh Fertilizer, karena berdasarkan penelitian lebih lanjut, keterwakilan Indonesia dilakukan oleh PT Pupuk Indonesia, sehingga penyertaan telah tercatat pada LK konsolidiasi PT Pupuk Indonesia (Persero);

c. Adanya perubahan kurs tengah BI untuk nilai tukar Dollar Amerika. Per tanggal 28 Desember 2012 kurs tengah BI adalah 1 USD=Rp9.670, sedangkan per tanggal 30 Desember 2011 adalah 1 USD=Rp9.068. Perubahan kurs tengah BI berpengaruh pada kepemilikan Pemerintah pada PT Freeport, PT Prasadha Pamunah Limbah Industri, Asean Infrastructure Fund, dan PT Indonesia Asahan Alumunium. Pada ketiga perusahaan tersebut, Laporan Keuangan disajikan menggunakan mata uang Dollar Amerika Serikat, sehingga harus dikonversi ke dalam mata uang Rupiah, untuk menghitung kepemilikan Pemerintah;

d. Adanya perubahan kurs tengah BI untuk nilai tukar Ringgit Malaysia per tanggal 28 Desember 2012 kurs tengah BI adalah 1 MYR=Rp3.159,625, sedangkan per tanggal 30 Desember 2011 adalah 1 MYR= Rp2.852,925. Perubahan kurs tengah BI untuk Ringgit Malaysia berpengaruh pada kepemilikan di Asean Bintulu Fertilizer, mengingat Laporan Keuangan penyertaan modal negara dan Laporan Keuangan

Penyertaan pada Lembaga Internasional

AseanBintulu Fertilizer menggunakan mata uang Ringgit Malaysia; dan

e. keikutsertaan Negara Republik Indonesia dalam Pendirian Asean Infrastructure Fund, yang merupakan perusahaan patungan negara-negara Asean bersama Asean Development dalam bidang pembiayaan infrastruktur. Kepemilikan negara-negara Asean pada perusahaan tersebut secara total adalah sebesar 68,10% dan kepemilikan ADB adalah sebesar 31,90%. Indonesia sendiri mempunyai kepemilikan sebesar 25,52% pada Asean Infrastructure Fund. Karena sampai dengan saat ini Perusahaan tersebut belum beroperasi, karena masih dalam proses penyempurnaan organisasi, nilai penyertaan Indonesia masih menggunakan nilai penyertaan yang diberikan, yang disesuaikan dengan nilai tukar per 31 Desember 2012.

Pada non-BUMN dengan kepemilikan negara di bawah 20%, nilai penyertaan negara pada Non-BUMN tersebut tetap, sepanjang tidak ada penambahan penyertaan yang dilakukan Pemerintah, mengingat perhitungan kepemilikan negara menggunakan metode biaya. Berdasarkan hal tersebut, nilai kepemilikan negara pada Non-BUMN tersebut tidak tergantung pada status laporan keuangan non-BUMN tersebut, atau perubahan ekuitas. Rincian kepemilikan negara pada Non-BUMN dapat dilihat pada Daftar 21.

4. Penyertaan pada Lembaga Internasional per 31 Desember 2012 sebesar

Rp38.497.052.327.727 merupakan Penyertaan Modal Pemerintah Indonesia dalam rangka keanggotaan pada beberapa organisasi/lembaga keuangan internasional/regional baik yang telah disetor maupun yang masih dalam bentuk promissory notes. PMN ini dikonversikan ke dalam rupiah berdasarkan kurs tengah BI pada tanggal 28 Desember 2012. Rincian PMN pada Lembaga Internasional dapat dilihat pada Daftar 22.

Dari total penyertaan pada Lembaga Internasional sebesar Rp38.497.052.327.727, termasuk penyertaan dalam bentuk promissory notes sebesar Rp26.569.686.370.533 di antaranya sebesar Rp26.550.675.238.720 kepada International Monetary Fund (IMF). Rincian promissory notes per Lembaga International adalah sebagai berikut.

(dalam rupiah)

No. Nama Lembaga Jumlah (Rp)

1. International Monetary Fund 26.550.675.238.720 2. International Development Association 5.173.139.668 3. Multilateral Investment Guarantee Agency 10.975.624.060 4. Common Fund for Commodities 2.862.368.085

Jumlah total 26.569.686.370.533

Promissory notes pada IMF disajikan berdasarkan revaluasi IMF yang dilakukan pada bulan April tahun berjalan, bukan pada tanggal 31 Desember 2012.

Nilai penyertaan yang masih merupakan promissory notes dapat berkurang, yang disebabkan:

a. pembayaran atas promissory notes; dan

b. pengurangan/penghapusan promissory notes, yang dapat disebabkan antara lain adanya apresiasi nilai tukar Rupiah.

Penyertaan dalam bentuk Promissory Notes disajikan sebagai bagian utang. Lihat Catatan C.2.40 dan Catatan C.2.46.

Pada tanggal 15 Desember 2010, Board of Governor’s IMF mengadopsi Resolusi Nomor

66-2 perihal 14th General Review of Quotas. Salah satu isi dari resolusi tersebut adalah kesepakatan tentang kenaikan kuota ke-14. Untuk Indonesia, kenaikan kuota ke-14 dimaksud setara dengan Rp38.182.006.333.240 (kurs tanggal 28 Desember 2012), yakni dari SDR 2.079 juta menjadi SDR 4.648,4 juta atau dari 0,872% menjadi 0,975%

Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2012 (audited)

Catatan atas Laporan Keuangan -133-

PMN pada Badan Usaha Lainnya

PMN pada BI

PMN pada LPS

(peringkat 1 di konstituen South East Asia Voting Group/SEAVG). IMF mensyaratkan persetujuan atas pembayaran kenaikan kuota ke-14 harus telah disampaikan oleh masing- masing negara anggota paling lambat 31 Desember 2011. Pemerintah dan BI telah melakukan koordinasi yang antara lain menyepakati untuk mengalihkan pembayaran kuota tersebut kepada Bank Indonesia. Akan tetapi masih terdapat kendala hukum dikarenakan UU BI tidak mengatur secara eksplisit mengenai pembayaran keanggotaan di lembaga internasional dan berdasarkan Pasal 3 ayat (1) PP Nomor 1 Tahun 1967, bahwa Menteri Keuangan diberi kuasa, dengan mengadakan pinjaman atau cara-cara lain yang layak, untuk mendapatkan dan membayarkan atas nama Pemerintah Republik Indonesia jumlah-jumlah yang sewaktu-waktu harus dibayar kepada IMF, menurut persetujuan IMF, dan berdasarkan resolusi-resolusi dari Dewan Gubernur IMF. Pemerintah dan BI sepakat untuk melakukan pembahasan terkait revisi PP Nomor 1 Tahun 1967 untuk memberikan kewenangan bagi BI untuk mewakili Negara Republik Indonesia dan melakukan pembayaran kuota untuk dan atas nama Negara.

5. Penyertaan pada Badan Usaha Lainnya sebesar Rp434.267.346 merupakan Investasi Permanen Pemerintah pada perusahaan penerbit SBSN. Perusahaan penerbit SBSN terdiri atas enam perusahaan, yaitu Perusahaan Penerbit SBSN, Perusahaan Penerbit SBSN I, Perusahaan Penerbit SBSN II, Perusahaan Penerbit SBSN III, Perusahaan Penerbit SBSN IV, dan Perusahaan Penerbit SBSN V. Nilai kepemilikan Negara pada masing-masing perusahaan tersebut sebesar Rp10.000.000, Rp10.000.000, Rp109.507.903, Rp104.759.443, Rp100.000.000, dan Rp100.000.000.

6. Penyertaan pada Bank Indonesia per 31 Desember 2012 dan 31 Desember 2011 adalah sebesar Rp166.468.468.000.000 dan Rp89.572.275.000.000. Modal Bank Indonesia dicatat dan dilaporkan sebagai bagian dari investasi permanen sesuai dengan penjelasan pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, modal Bank Indonesia merupakan kekayaan negara dipisahkan. Ikhtisar laporan keuangan Bank Indonesia dapat dilihat pada Daftar 23.

7. Penyertaan pada Lembaga Penjamin Simpanan per 31 Desember 2012 dan 31 Desember 2011 adalah sebesar Rp23.490.590.381.000 dan Rp16.726.488.855.000. Modal Lembaga Penjamin Simpanan dicatat dan dilaporkan sebagai bagian dari investasi permanen sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, modal Lembaga Penjamin Simpanan merupakan kekayaan negara dipisahkan. Ikhtisar laporan keuangan Lembaga Penjamin Simpanan dapat dilihat pada Daftar 24.

Nilai PMN pada Lembaga Penjamin Simpanan per 31 Desember 2012 menggunakan data Laporan Keuangan Lembaga Penjamin Simpanan per 31 Desember 2012. Laporan Keuangan Lembaga Penjamin Simpanan tahun 2012 mendapatkan opini Disclaimer oleh BPK yang disebabkan terdapat penyertaan modal sementara (PMS) pada Bank Mutiara, Tbk (d.h. PT Bank Century, Tbk) per 31 Desember 2012 sebesar harga perolehan yaitu Rp6.762.361.000.000 yang tidak dapat diyakini kewajarannya. Nilai tercatat PMS pada Neraca LPS tidak memperhitungkan jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable amount), hal ini akan berpengaruh terhadap Laporan Surplus Defisit, Cadangan Tujuan dan Cadangan Penjaminan pada Laporan Perubahan Modal LPS.

Investasi Permanen BLU Rp134,16 miliar

Dalam dokumen Laporan Keuangan Pemerintah Pusat 2012 A (Halaman 138-146)