• Tidak ada hasil yang ditemukan

IPM Kabupaten/Kota dan Provinsi 2018-2021

2018 2019 2020 2021

IV-4 angka 0,365, walaupun ini masih masuk dalam kategori ketimpangan yang rendah tapi masih harus diwaspadai. Gini Ratio di daerah perkotaan pada Maret 2021 tercatat sebesar 0,369 naik sebesar 0,008 poin dibanding Gini Ratio September 2020 yang sebesar 0,361. Hal lainnya yang harus menjadi perhatian adalah, relatif lambatnya penurunan Gini Rasio di wilayah perdesaan dibandingkan dengan wilayah perkotaan. Bahkan jika periodesasi data Gini Rasio dibagi menjadi dua kelompok yakni data maret 2010- maret 2015 serta september 2015 – maret 2021, data gini rasio wilayah perdesaan pada periode 2015-2021 menunjukan peningkatan.

• Tingkat kesejahteraan masyarakat relatif masih rendah dilihat dari Angka kemiskinan penduduk terutama akibat Pandemi Covid-19. Data Badan Pusat Statistik menunjukan bahwa pada bulan maret 2021 persentase tingkat kemiskinan mencapai 6,66 persen, mengalami peningkatan dibanding periode periode yang sama (Maret 2020) yakni sebesar 5,92 persen.

0,4190,404

0,388 0,387 0,3810,402

0,3760,401 0,435

0,411

0,39 0,402 0,399 0,381 0,38 0,386

0,362 0,36 0,355 0,36 0,361 0,369

0,289 0,295 0,321

0,303 0,308

0,287 0,276 0,28 0,2940,2690,261 0,264 0,2480,2670,27 0,2830,299 0,294 0,292 0,296 0,2960,28 0,419

0,404 0,3940,3870,3840,399 0,38 0,3950,424

0,4010,386 0,394 0,392 0,382 0,379 0,3850,367 0,365 0,361 0,363 0,365 0,365

0

Maret Maret September Maret September Maret September Maret September Maret September Maret September Maret September Maret September Maret September Maret September Maret

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021

Perkembangan Gini Rasio Periode 2010-2021

Perkotaan Perdesaan Perkotaan+perdesaan

Linear (Perkotaan) Linear (Perdesaan)

Berdasarkan dambar diatas terlihat bahwa akibat kejadi Pandemi Covid-19, terjadi peningkatan kemiskinan yang cukup tajam mulai maret 2020. Kondisi ini meskipun masih dibawah persentase kemiskinan nasional, namun kondisi ini memerlukan penanganan yang yang lebih intensif mengingat penigkatannya terus berlanjut sampai data bulan Maret 2021. Hal lainnya yang harus menjadi perhatian adalah trend persentase kemiskinan di wilayah perdesaan. Berbeda dengan kondisi trend kemiskinan di tingkat nasional, data tahun 2014 sampai dengan 2021 kondisi kemiskinan di wilayah perdesaan di Provinsi Banten menunjukan trend peningkatan.

2. Pertumbuhan ekonomi yang belum optimal disebabkan oleh:

• Masih rendahnya kompetensi dan daya saing tenaga kerja.

Kurangnya selarasnya kompetensi yang dimiliki dengan kualifikasi yang sesuai dengan pasar tenaga kerja berakibat pada masih tingginya persentase tingkat pengangguran di Provinsi Banten. Menurut data BPS Provinsi Banten, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada bulan Agustus 2021 sebesar 8,98 persen, turun 1,66 persen poin dibandingkan dengan Agustus 2020, namun merupakan peringkat 3 tertinggi secara nasional setelah Kepulauan Riau dan Jawa Barat, serta masih lebih tinggi dari rata-rata nasional yang sebesar 6.49 persen.

Permasalahan lainnya terkait kompetensi dan daya saing tenaga kerja dalah kondisi tingkat pengagguran di wilayah Perdesaan dibandingkan dengan perkotaan.

Kondisi ini tentu saja menjadi anomali ketika melihat data pengangguran di tingkat nasional sekaligus menjadi paradoks ketika melihat wilayah perdesaan dengan segala potensi yang dimilikinya.

5,35 5,51 5,9 5,75 5,42 5,36 5,45 5,59 5,24 5,25 5,09 4,94 5,92 6,636,66 11,25 10,96 11,22 11,13 10,86 10,7 10,64 10,12 9,82 9,66 9,41 9,22 9,78 10,19 10,14

0

Maret September Maret September Maret September Maret September Maret September Maret September Maret September Maret

2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021

Persentase Kemiskinan 2014-2021

Perdesaan Perkotaan Banten

Nasional Linear (Perdesaan) Linear (Banten ) Linear (Nasional)

IV-6 Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa persentase TPT wilayah perdesaan di Provinsi Banten relatif selalu lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pengangguran di wilayah Perkotaan, sementara kondisi pengangguran secara nasional menunjukan hal sebaliknya. Hal ini menggambarkan bahwa potensi sumber daya yang terdapat di wilayah perdesaan belum secara optimal dimanfaatkan untuk membuka peluang kerja, atau dapat pula dikatakan penduduk di wilayah perdesaan belum secara optimal memanfaatkan sumber daya yang ada sebagai mata pencahariannya. Kurang optimalnya pemanfaatan sumber daya yang di wilayah perdesaan pada akhirnya akan berhubugan pula dengan permasalahan ketimpangan penghadilan serta persentase kemiskinan.

• Williamson Index pada tahun 2020 masih sebesar 0,65 yang artinya ketimpangan antar daerah masih tergolong tinggi.

Indeks williamson memberikan gambaran ketimpangan antar daerah yang berdasrkan distribusi perekonomian. Nilai Indeks Williamson 0,65 berdasarkan distribusi PDRB tahun 2020 menunjukan bahwa perekonomian provinsi Banten masih terkonsentrasi di beberapa wilayah saja dan belum merata sepenuhnya diantara delapan kabupaten/Kota yang ada. Perekonomian Provinsi Banten selama ini masih didominasi oleh Kabupaten Kota Tagerang, Kabupaten Tangerang dan Kota Cilegon. Pada tahun 2020, Kota Tangerang memberikan kontribusi terbesar dalam perekonomian Provinsi Banten dengan sumbangsih 23,1%, Kabupaten Tangerang 20,99% dan Kota Cilegon 16,51%. Persentase tersebut sangat jauh dibandingkan degan dua wilayah lainnya yang memberikan kontribusi terendah yakni Kabupaten Pandeglang 4,40% dan Kabupaten Lebak 4,63%.

9,4 10,92 10,56 11,24 10,54 10,73 10,77

9,48 10,65 9,24

4,72 5,14 4,81 4,93 4,51 4,01 3,97 3,92 4,71 4,17

0

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022

Persentase TPT Banten dan Nasional Menurut Wilayah

Perkotaan Banten Perdesaan Banten Perkotaan Nasional Perdesaan Nasional Linear (Perkotaan Banten) Linear (Perdesaan Banten ) Linear (Perkotaan Nasional) Linear (Perdesaan Nasional)

Sumber: diolah dari https://banten.bps.go.id/indicator/52/312/3/pdrb-adhk-menurut-kabupaten-kota-di-provinsi-banten.html

Berdasarkan gambar diatas, terlihat bahwa ketimpangan kontribusi perekonomian antar wilayah sudah terjadi beberapa tahun kebelakang. Karena itu, Pemerintah Provinsi Banten perlu menyusun kebijakan agar kondisi ini dapat diminimalisir pada periode yang akan datang.

• Belum optimalnya kontribusi sektor unggulan daerah, Hal ini dapat dari data menurunnya PDRB Provinsi Banten dari 661.651,64 Juta Rupiah pada Tahun 2019 menjadi 626.437,44 Juta Rupiah pada Tahun 2020.

Data BPS Provinsi Banten tahun 2020 menunjukan adanya penurunan Produk Domestik Regional Bruto sebagai bagian dari ibas terjadinya Pandemi Covid-19.

Sektor Industri yang selama ini menjadi kontributor terbesar bagi perekonomian Banten mendapatkan pukulan ketika negara tujuan eksport menerapkan pembatasan (lockdown) di negaranya yang tentu saja berimbas pada penurunan konsumsi. Selain itu, keluarnya Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/249/2020 tentang Penetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten Dalam Rangka Percepatan Penangangan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dan Keputusan Gubernur Banten Nomor 443/Kep.114-Huk/2020 tentang Penetapan Kejadian Luar Biasa Corona (Covid-19) di Wilayah Provinsi Banten tentu saja berimbas pada roda perekonomian di ketiga wilayah tersebut.

Distribusi PDRB ADHK Kabupaten/Kota

2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

IV-8 Dominasi sektor industri dalam perekonomian memerlukan tindak lanjut dengan upaya peningkatan diversifikasi produk serta perluasan negara tujuan Import agar pembatasan negara tertentu tidak menjadikan kendala pemasaran produk. Selain itu, adanya kebutuhan import bahan baku juga perlu diantisipasi melalui peningkatan ketersedian bahan baku lokal sehingga ketergantungan akan baku import tidak menjadi kendala.

• Masih terbatasnya pembangunan industri dan pembangunan pariwisata Rencana pengembangan industri daerah mengacu pada regulasi Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015 Tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional Tahun 2015-2035 Peraturan Daerah Provinsi Banten nomor 5 tahun 2020 Tentang Rencana Pembangunan Industri Provinsi Banten. Kedua regulasi tersebut menyebutkan tentang arah pengembagan kawasan dan komoditas industri yang perlu dikembangkan di wilayah Provinsi Banten. Untuk itu, agar pengembangan industri lebih optimal, diperlukan langkah implementasi yang lebih intensif serta didukung oleh peningkatan intensitas promosi dan publikasi agar menarik investasi.

Selain perlunya strategi peningkatan investasi, hal lain yang harus mendapat perhatian adalah penentuan sasaran pengembangan sub sektor industri yang menjadi fokus perhatian pengembangan di masa yang akan datang. Hasil olahan data pertumbuhan subsektor industri selama sepuluh tahun kebelakang sebagaimana disajikan pada gambar diatas menunjukan perkembangan total yang berbeda-beda. Dibutuhkan perhatian lebih pada sub sektor industri yang secara

agregat menunjukan penurunan seperti industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki, dan industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik. Peningkatan hubungan industrial antara Perusahaan, Pekerja dan Pemerintah Daerah perlu terus ditingkatkan untuk mencegah kemungkinan adanya relokasi perusahaan yang bergerak dalam sub sektor tersebut ke lokasi yang dianggap lebih menguntungkan dilihat dari input produksi. Hal ini penting dilakukan mengingat industri-industri tersebut termasuk kategori Footlose industri yang berarti perusahaan cenderung tidak terikat lokasi sehingga lebih fleksibel untuk dipindahkan ke wilayah atau daerah yang dirasa lebih menguntungkan dan dianggap dapat mengakomodir tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan tersebut.

Dalam bidang Pariwisata, pengembangan yang dilakukan selama ini lebih mengarah kepada intensifikasi objek wisata yang sebelumnya terkelola dan sudah berkembang. Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 6 Tahun 2019 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Banten Tahun 2018–2025 menyebutkan bahwa pembangunan Pariwisata di Provinsi Banten dilakukan melalui pendekatan perwilayahan, yakni Destinasi Pariwisata Provinsi (DPP) adalah destinasi pariwisata yang berskala Provinsi Banten, Kawasan Strategis Pariwisata Provinsi (KSPP) dan Kawasan Pengembangan Pariwisata Provinsi (KPPP). Kawasan Strategis Pariwisata Provinsi adalah kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata Provinsi Banten yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan ekonomi, social dan budaya, pemberdayaan sumberdaya alam dan daya dukung lingkungan hidup.Kawasan Pengembangan Pariwisata Provinsi adalah suatu ruang pariwisata yang mencakup luasan area tertentu sebagai suatu kawasan dengan komponen kepariwisataannya, serta memiliki karakter atau tema produk wisata tertentu yang dominan dan melekat kuat sebagai komponen pencitraan kawasan tersebut.

IV-10 Jumlah Kunjungan Wisatawan Ke Provinsi Banten Tahun 2014-2020

Sumber: BPS Provinsi Banten 2021

Gambar diatas menunjukan adanya trend penurunan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Provinsi Banten. Pandemi Covid-19 berimbas pada penurunan jumlah wisman secara tajam di tahun 2020. Meskipun demikian, jika dilihat lebih mendalam, penurunan jumlah wisman terjadi mulau tahun 2018 sebelum masa andemi Covid-19. Kejadian bencana alam terutama tsunami, diduga menjadi faktor utama penurunan kunjungan Wisman ke Banten yang mengandalkan objek wisata berbasis panorama alam. Untuk itu diperlukan pendekatan diversifikasi usaha wisata yang tidak semata-mata mengandalkan kepada objek alam sebagai daya tarik wisata.

3. Terbatasnya daya dukung lingkungan dan belum optimalnya pengelolaan sumber hutan dan penanganan ketahanan iklim dan pengendalian emisi GRK serta belum optimalnya mitigasi resiko bencana, yang disebabkan oleh:

• Penurunan kualitas air, udara, air laut, akibat pencemaran dan kerusakan lingkungan hal ini dilihat berdasarkan masih rendahnya

• Belum optimalnya mitigasi, kesiapsiagaan, dan tanggap darurat bencana.

Terkait dengan isu permasalahan penurunan GRK, Pemerintah Provinsi Banten telah melakukan Kaji Ulang GRK 2018-2018. Hasil perhitungan nilai baseline dan perkiraan penurunan emisi pada tahun 2030 menunjukkan bahwa dari berbagai kegiatan mitigasi yang diusulkan diproyeksikan dapat menurunkan emisi hingga 14,48% dari BAU baseline pada tahun 2030. Hal ini menunjukkan perlunya upaya yang lebih keras dari seluruh stake holder yang memiliki peranan dalam aksi bersama penurunan emisi gas rumah kaca mengingat target Permerintah Pusat

171.821 187.951

2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Jumlah Wisatawan Mancanegara

2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Jumlah WisatawanDomestik

Dokumen terkait