• Tidak ada hasil yang ditemukan

IR dan CFD DBD Kabupaten Kendal Tahun 2011 s/d 2018

24

penyakit DBD adalah Nyamuk Aedes Aegipty yang mempunyai habitat di genangan air bersih dan lebih banyak ditemukan beristirahat di dalam rumah yaitu di pakaian yang menggantung, kelambu dan tempat lembab atau tempat teduh lainnya. Oleh sebab itu, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan pemberdayaan masyarakat memegang peranan yang sangat penting dalam penanganan dan pemberantasan penyakit DBD. Selama ini, di Kabupaten Kendal, anggaran upaya penanganan dan pemberantasan penyakit DBD masih bersifat reaktif, dalm arti apabila ditemukan adanya kasus di suatu tempat akan langsung direspon oleh tim Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal untuk melakukan Penyelidikan Epidemiologi (EP), apabila diperlukan akan dilakukan upaya fogging. Upaya yang bersifat promotif dan preventif masih sangat minim, oleh sebab itu, untuk upaya penanganan dan pemberantasan penyakit DBD ke depannya sebaiknya dititikberatkan lebih kepada promotif dan preventif.

b. Malaria

Malaria adalah penyakit menular yang dapat ditularkan oleh nyamuk Anopheles. Nyamuk ini membawa pesan parasit plasmodium dan menggigit orang sekaligus menyebarkannya melalui peredaran darah.

Malaria merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian, selain itu malaria dapat langsung menyebabkan anemia dan menurunkan produktivitas kerja. Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia dan ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles) betina, malria dapat menyerang siapapun dan dari semua golongan umur.

Bersama dengan HIV AIDS dan TB, malaria menjadi komitmen global dalam Millenium Development Goals. Upaya menekan angka kesakitan dan kematian malaria dilakukan melalui program pemberantasan malaria yang kegiatannya antara lain meliputi diagnosis dini, pengobatan cepat dan tepat, surveilans dan pengendalian vektor yang kesemuanya ditujukan untuk memutus mata rantai penularan malaria. Ditjen PP dan PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan stratifikasi endemisitas malaria suatu wilayah di Indonesia sebagai berikut:

a. Endemis tinggi bila API > 5/1000 penduduk

b. Endemis sedang bila API berkisar antara 1-5/1000 penduduk c. Endemis rendah bila API 0-1/1000 penduduk

d. Non endemis, adalah daerah yang tidak terdapat penularan malaria atau API = 0

25

API (Annual Paracite Incidents) merupakan indikator untuk mengukur angka kejadian malaria pada satu daerah selama satu tahun. Pada tahun 2018, jumlah kasus malaria di Kabupaten Kendal sebanyak 12 kasus.

9. Penyakit Tidak Menular (PTM)

Penyakit tidak menular (PTM) kurang lebih mempunyai kesamaan dengan beberapa sebutan lainnya, seperti:

a. Penyakit kronis b. Penyakit noninfeksi

c. New communicable diseases d. Penyakit degeneratif

e. Penyakit perilaku

Kesamaan penyebutan ini tidaklah sepenuhnya memberi kesamaan penuh antara satu dengan lainnya. Penyakit kronis dapat dipakai untuk PTM karena kelangsungan PTM biasanya bersifat kronis (menahun) atau lama. Namun demikian ditemukan juga penyakit tidak menular yang kelangsungannya mendadak / akut, misalnya keracunan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mempergunakan istilah penyakit kronis untuk penyakit-penyakit tidak menular. Yang dimaksud dengan penyakit kronis ini memang jenis-jenis penyakit yang bersifat kronis, dan itdak memperhatikannya dari segi apakah menular atau tidak.

Nama penyakit kronis non infeksi dipakai karena proses patologi PTM bukanlah suatu proses infeksi yang dipicu oleh mikroorganisme. Hanya saja tidak berarti bahwa kejadian PTM tidak ada hubungannya dengan peranan mikroorganisme. Proses patologi PTM mempunyai karakteristik tersendiri sesuai dengan jenis penyakit masing-masing.

Disebut juga sebagai penyakit degeneratif karena kejadiannya bersangkutan dengan proses degenerasi atau ketuaan, sehingga PTM banyak ditemukan pada usia lanjut. Karena perlangsungannya yang lma, menyebabkan PTM berkaitan dengan proses degeneratif yang berlangsung sesuai waktu / umur.

Sementara itu ada yang secara populer ingin menyebutnya sebagai „new communicable disease‟ karena penyakit ini dianggap dapat menular, yaitu melalui gaya hidup. Gaya hidup dalam dunia modern dapat menular dengan caranya sendiri, tidak seperti penularan klasik penyakit menular yang lewat suatu rantai penularan tertentu. Gaya hidup di dalamnya dapat menyangkut pola makan, kehidupan seksual, dan komunikasi global. Perubahan pola makan telah mendorong perubahan peningkatan penyakit jantung yang berkaitan dengan makan berlebih atau kolesterol tinggi.

26

Berbeda dengan penyakit menular, PTM mempunyai beberapa karakteristik tersendiri seperti:

f. Memerlukan biaya tinggi dalam upaya pencegahan maupun penanggulangannya

g. Faktor penyebab bermacam-macam (multi kausal), bahkan tidak jelas Saat ini di negara berkembang telah terjadi pergeseran penyebab kematian utama yaitu dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Kecenderungan transisi ini dipangaruhi oleh adanya perubahan gaya hidup, urbanisasi, dan globalisasi.

Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga diidentifikasikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrien. Salah satu indikator yang dijadikan dalam tolok ukur keberhasilan pencapaian Millenium Development Goals. Status gizi balita diukur berdasarkan umur,

27

Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan (TB). Status gizi dipengaruhi oleh konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi di dalam tubuh. Bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi dan digunakan secara efisien akan tercapai status gizi optimal yang memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Jika keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrien tadi terganggu, misalnya pengeluaran energi dan protein lebih banyak dibandingkan pemasukan maka akan terjadi kekurangan energi protein, dan jika berlangsung lama akan timbul masalah yang dikenal dengan KEP berat atau gizi buruk.

Perkembangan keadaan gizi masyarakat dapat dipantau melalui hasil pencatatan dan pelaporan program perbaikan gizi masyarakat yang tercermin dalam hasil penimbangan bayi dan balita setiap bulan di posyandu. Menurut laporan puskesmas pada tahun 2018 Kabupaten Kendal menunjukkan jumlah Bayi Lahir Hidup sebanyak 15.396 bayi. Untuk kasus bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada tahun 2018 yaitu sebanyak 682 yang terdiri dari 323 bayi laki-laki dan 359 bayi perempuan.

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir. BBLR termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas, dan disabilitas neonatus, bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya di masa depan.

Sedangkan jumlah balita yang dilaporkan (S) yaitu sejumlah 73.124 anak dengan rincian jumlah balita yang ditimbang (D) 62.107 atau D/S sebesar 84,9% dan balita di bawah garis merah (BGM) sebanyak 1.325 anak (2,1%). Pada tahun 2018, jumlah balita gizi buruk Kabupaten Kendal sebanyak 22 balita sedangkan pada tahun 2017 jumlah balia gizi buruk sebanyak 25 kasus.

Dari 22 kasus balita gizi buruk di Kabupaten Kendal, cakupan terhadap penanganan balita gizi buruk mendapatkan perawatan sebesar 100%, hal ini berarti semua balita gizi buruk yang ditemukan sudah mendapatkan penanganan medis baik di tingkat puskesmas maupun rujukan di tingkat rumah sakit. Berikut merupakan grafik kasus gizi buruk dari tahun 2011 samapu dengan tahun 2018,

28

Grafik 16

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kendal Tahun 2011-2018

Permasalahan gizi buruk di Kabupaten Kendal setiap tahunnya mengalami tren yang cukup variatif, seperti dilihat pada grafik di atas, untuk tahun 2018 terdapat penurunan kasus balita gizi buruk. Menurut UNICEF, faktor yang mengakibatkan terjadinya gizi buruk terdapat dua penyebab langsung, diantaranya:

a. Kurangnya asupan gizi dari makanan. Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan karena alasan sosial dan ekonomi yaitu kemiskinan.

b. Akibat terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi. Hal ini disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik.

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Gizi Buruk 14 24 23 30 28 21 25 22

0 5 10 15

Dokumen terkait