Rasionalitas Islam tidak lagi perlu dipersoalkan, sebab Islam memanglah agama rasional. Persoalannya merupakan implementasi rasionalitas Islam itu sendiri dalam menyikapi isu-isu kontemporer selama era, paling utama untuk kehidupan pemeluk Islam, baik selaku orang ataupun selaku kelompok warga mikro serta makro. Oleh sebab itu, menguasai rasionalitas Islam, tercantum dalam soal politik Islam, masih terus butuh memperoleh terjemahan-terjemahan pembaruan supaya tidak cuma terlena dengan konsep-konsep normatifnya saja yang malah cuma hendak membuat perilaku statis, berjalan di tempat, tanpa melaksanakan perubahan-perubahan yang lebih realistis serta urgen (Hasan, 2015).
Perlu dimengerti bahwa Islam dan negara ialah dua entitas yang bermuatan politik. Politik ini setelah itu membentuk teori politik Islam serta politik negeri. Oleh sebab itu, baik memisahkan ataupun menyandingkan agama (Islam) dan negara bukan perkara mudah. Dalam wacana politik, dua entitas tersebut senantiasa terletak dalam ketegangan serta tetap terjalin perdebatan yang lumayan Panjang (Hasan, 2015).
Bagi Hasan (2015), guna hukum waḍ’i (buatan manusia), yang lebih diketahui dengan hukum positif di satu sisi, serta guna hukum samawī (ajaran Tuhan), pada sisi yang lain, belum bisa dibumikan secara optimal dalam suatu komunitas seperti negara. Metode kerja rasionalitas Islam juga masih tetap dipertanyakan dalam berhubungan dengan negeri di mana mereka hidup, sementara itu umat Islam sudah melahirkan sesuatu disiplin yang diketahui dengan fiqh al-siyāsī (fikih politik), yang pada gilirannya melahirkan fatwa-fatwa politik. Mengenai fikih politik yang mempunyai cakupan begitu luas dalam khazanah Islam yang disederhanakan jadi tiga bagian, sebagai berikut.
1. Fikih politik yang mengulas bagaimana ikatan pemimpin dengan rakyat, yang umum diucap sebagai dustūriyyah, tercantum dalam jenis ini misalnya mengenai ikatan negara dengan agama, hukum mengangkut pemimpin, pemilihan pemimpin serta bay’at (pengambilan sumpah).
2. Fikih politik yang mengulas tentang ikatan antara negara ataupun dawliyyah, misalnya mengenai pola ikatan antara negara, termasuk ikatan dengan negara-negara non-Muslim.
3. Fikih politik yang mengulas tentang harta ataupun māliyyah.
Abdul Wahab Khallaf menarangkan cakupan fikih siyāsah māliyah jadi: (a) politik keuangan; (b) pajak ataupun kharaj; (c) pendayagunaan keuangan; (d) pemungutan keuangan serta penggunaannya, dan kas negeri (bayt al-māl).
Kemudian, bagaimana dengan konsep negara modern bagi Islam?
Sepanjang 14 abad Islam masih dialami sangat jarang, apalagi belum sempat menawarkan konsep kenegaraan modern serta implementasinya, sebab sepanjang itu umat Islam tidak menciptakan konsep model nation state, melainkan yang ditemui merupakan model-model kepemimpinan kekhilafahan yang berupa monarkhis dalam format khilāfah, amīr, ṣulṭān, serta al-mamlakah. Hingga dikala ini, belum pula ditemui apalagi bisa jadi tidak hendak ditemui pola bernegara yang sangat sempurna buat orang Islam, sebab memanglah Islam sangat besar buat dihadapkan dengan negeri. Oleh sebab itu, pengalaman panjang sejarah Islam dalam bersentuhan dengan lembaga kekuasaan, dengan bermacam model serta wujud kekuasaan yang sudah terterapkan di daerah komunitas warga Islam, sebaiknya jadi modal besar dalam menguasai kenyataan negara modern yang tumbuh sampai dikala ini (Hasan, 2015).
Di Indonesia, ikatan agama dengan negara sudah banyak ditulis serta dipaparkan oleh para ahli lewat beberapa kajian serta riset, utamanya pada tiga dekade terakhir, semenjak tahun 70-an sampai 90-an. Di antara mereka merupakan Nurcholis Madjid, Dawam Raharjdo, Ahmad Wahib,
Djohan Effendy, Din Syamsuddin, Bahtiar Effendy, Fakhri Ali, M. Syafi’i Anwar, Marzuki Wahid, Rumadi, dan sebagainya (Hasan, 2015).
Negara bangsa (nation state) ialah realitas sejarah yang tidak bisa dihindari oleh bangsa mana pun, termasuk bangsa Indonesia. Tidak hanya sebab tuntutan global, negara-bangsa ialah konsep negeri modern yang menjanjikan penyelesaian untuk tiap bangsa dalam mengalami kenyataan-kenyataan pluralisme, toleransi, serta demokrasi. Dari itu, menguasai dengan baik fenomena negeri modern merupakan sesuatu keniscayaan untuk tiap akademisi, pemikir maupun praktisi negeri, sebab semenjak lahirnya konsep negara-bangsa ataupun nation state pada abad ke-19, dunia Islam kembali mengalami perkara baru yang tidak sempat terbayangkan tadinya. Semenjak awal abad ke-20, kala mulai mencuat bermacam gerakan kebangsaan dalam suasana kolonial, pusat atensi gerakan Islam lebih banyak tertuju pada soal-soal kemasyarakatan, spesialnya pembelajaran, perbaikan sosial ekonomi serta dakwah, dalam rangka menyiarkan agama Islam, cocok dengan aliran keagamaan tiap-tiap organisasi pergerakan (Raharjo, 1998).
Bagi Dawam Raharjo (1998), ada tiga konsep negara. Tiga konsep itu sebagai berikut.
1. Negara dinilai sebagai seperangkat kelembagaan yang terdiri dari lembaga eksekutif, legislatif, serta administrasi di pusat ataupun di wilayah, peradilan polisi serta tentara.
2. Konsep negara secara struktural, yang pengertiannya ditafsirkan Marx kalau negara tidak lain merupakan wadah untuk eksekutif yang melakukan kepentingan kelas.
3. Memandang negeri sebagai penumbuhan ilham yang sempurna dalam warga. Model ini memandang negara sebagai kekuatan yang independen serta berdiri di atas seluruh kalangan serta menanggulangi segala kepentingan warga.
Bagi Hasan (2015), pada dasarnya, ikatan Islam dan negera merupakan ikatan fungsional, ialah bagaimana supaya Islam bisa melaksanakan gunanya dalam daerah serta komunitas suatu negara di
satu sisi, serta demikian pula, bagaimana supaya negara bisa melaksanakan gunanya sebagai tubuh organisasi yang masyarakat serta wilayahnya merupakan komunitas kebanyakan pemeluk Islam, di sisi yang lain. Diskursus kedekatan fungsional antara Islam serta negeri diklasifikasikan ke dalam sebagian wujud yang jabarannya selaku berikut.
1. Unified paradigm (paradigma integralistik)
Unified paradigm (paradigma integralistik) melaporkan kalau agama dan negeri ialah satu kesatuan yang intergrated, serta politik atas nama negara ialah bagian dari agama, serta negara merupakan lembaga politik serta lembaga agama sekalian. Pemikiran ini setelah itu melahirkan teori kalau Islam merupakan dīn wa dawlah (Islam merupakan agama dan sekaligus negeri). Pada gilirannya setelah itu, tercetuslah sebutan negara agama ataupun negara Islam.
Bersumber pada konsep ini, bisa ditarik sebagian penafsiran dilematik, antara lain sebagai berikut.
a. Kehidupan negara bisa diatur oleh agama
b. Kepala negara merupakan pemegang kekuasaan agama sekaligus kekuasaan politik
c. Taat kepada negara, berarti taat kepada agama d. Melawan negara berarti melawan agama (Tuhan)
e. Negara selaku lembaga politik sekaligus selaku lembaga agama Sebagian pemikir kontemporer Indonesia, semacam Rumadi, Marzuki dan Jaih Mubarak memandang model ini selaku peninggalan pola pemikiran Islam tradisional serta fundamentalis di masa negara-negara modern serta kontemporer. Golongan tradisional merupakan Rasyid Ridha (1865-1935), sebaliknya golongan fundamentalis merupakan Khursyid Ahmad, Muhammad Asad, Muhammad Husayn Fadlullah, Sayyid Qutb, Abu al-A’la al-Maududi serta Hasan Turabi.
2. Symbiotic paradigm (paradigma simbiotik)
Agama dan negara berhubungan secara simbiotik ialah ikatan saling menguntungkan serta bertabiat timbal balik. Maksudnya, agama
membutuhkan negara, begitu pula negeri membutuhkan agama. Agama memerlukan negara sebab negara bisa dijadikan media buat meningkatkan agama, sedangkan negara membutuhkan agama sebab negara bisa tumbuh atas tutorial serta etika moral agama.
Ikatan simbiosis ini bisa mencerminkan paling tidak tiga wujud ikatan yang mungkin hendak terjalin, ialah dominasi agama, dominasi negara, ataupun penyeimbang antara agama serta negara. Sebab itu, al-Mawardi (1058 M) yang walaupun pada masanya belum diketahui negara kebangsaan sudah mempunyai sesuatu pemikiran kalau penegakan negara ialah tugas suci yang dituntut oleh agama sebagai salah satu fitur untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Inti paradigma ini merupakan terdapatnya ikatan simbiosis mutualisme ataupun ikatan yang saling menguntungkan serta saling memenuhi sehingga bisa secara bersama mempertahankan eksistensi masing-masing. Ada pula pemrakarsa dari paradigma model simbiosis ini, antara lain merupakan Husayn Haykal (1888-1956), Muhammad Abduh (1849-1905), Fazlurrahman (1919-1988) serta Qamaruddin Khan.
3. Secularistic paradigm (paradigma sekularistik)
Paradigma ini ialah wujud penolakan terhadap kedua paradigma sebelumnya. Konsep ini melaporkan gagasan pembelahan agama dari negara (politik). Agama tidaklah di bawah negara, namun agama lebih bertabiat sebagai urusan individual semata. Penganjur aliran ini semenjak lahirnya negeri kebangsaan sampai dikala ini, antara lain didominasi para pemikir dari Mesir, semacam Ali Abdur Raziq (1888-1872), Thaha Husein (1889-1973), Ahmad Lutfi al-Sayyid (1872-1963), serta terakhir merupakan Muhammad Sa’ id Asymawi (1932).
Ali Abdur Raziq melaporkan kalau Islam merupakan agama serta tidak mencakup urusan negara. Sementara Thaha Husein, yang aktif menulis semenjak tahun 50-an sampai 80-an, berpendirian kalau menurutnya, agama itu ialah perkara dirinya dengan Tuhan. Lebih jauh, dia berpandangan kalau semenjak dulu konsep waḥdat al-dīn (kesatuan
agama), waḥdat al-lughāt (kesatuan bahasa), serta waḥdat al-siyāsī (kesatuan politik), tidak bisa dijadikan dasar serta pilar untuk pembuatan pemerintahan. Baginya, sebetulnya politik merupakan suatu, serta agama merupakan suatu yang lain, serta sebetulnya sistem pemerintahan dan pembentukan negeri merupakan atas dasar manfaat-manfaat amaliyah, bukan atas suatu yang lain.
Mengkritisi pemikiran Thaha Husein, Harun Nasution berkomentar kalau proses-proses diri dari jalinan agama disebut sekularisasi, serta proses ini tidak cuma ada dalam warga Barat, namun pula dalam warga Islam. Sekularisasi di Barat bawa pemeluk agama membebaskan diri secara total, dari segala jalinan agama, sehingga orang cenderung tidak beragama lagi, sedangkan dalam Islam pelepasan diri itu cuma dari ikatan-ikatan tertentu dari agama serta orang masih senantiasa beragama.
Sekularisasi dalam Islam tidak hingga pada sesi di mana umat Islam merasa tidak lagi terikat dengan ajaran-ajaran dasar serta mutlak, yang oleh karenanya dia meninggalkan agama. Dengan demikian, sekularisasi dalam Islam cuma terjalin dalam ajaran-ajaran hasil ijtihad ulama, serta ini hendak terus berjalan cocok dengan pergantian era.
Dari ketiga model paradigma kedekatan Islam dan negara di atas, tiap-tiap dari ketiga paradigma kedekatan integralistik, simbiosis, serta sekularistik mempunyai kelebihan serta kekurangan. Maksudnya, ketiganya saling memenuhi dalam kondisi-kondisi tertentu. Oleh karenanya, pantas dipertimbangkan dalam memberlakukan paradigma kedekatan Islam dan negeri, supaya baik negara ataupun agama, keduanya tidak dikorbankan oleh suatu idealisme paradigma tertentu (Hasan, 2015).
Polemik ketiga paradigma kedekatan Islam serta negeri diakibatkan oleh tidak terdapatnya uraian secara tegas, baik Al-Qur’an ataupun hadis, selaku sumber utama hukum Islam, baik berkaitan dengan konsep kekuasaan, kedaulatan, konstitusi, struktur, ataupun sistem pemerintahan. Tidak mengherankan jika dalam pentas ekspedisi sejarah umat Islam pasca Nabi Muhammad saw. hingga di abad modern ini, umat
Islam menunjukkan bermacam sistem serta wujud pemerintahan, mulai dari wujud kekhalifahan yang demokratis hingga ke wujud yang monarki mutlak (Pulungan, 2018).