• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Teori-teori Terkait Variabel Penelitian

3. Islamicity Performance Index

Indeks merupakan sebuah metode yang digunakan supaya dapat menilai kinerja suatu organisasi, Meski pada saat ini terdapat sebagian indeks yang telah dikembangkan untuk melakukan evalusai terhadap kinerja organisasi, akan tetapi masih belum banyak pengembangan indeks yang dibuat supaya dapat melakukan penilaian terhadap kinerja lembaga keuangan islam. Hameed,dkk (2004) telah berupaya untuk mengambangkan indeks yang mampu supaya dapat mengukur kinerja lembaga keuangan islam, metode atau cara pengukuran ini disebut dengan Islamicity Performance Index. Indeks ini berkaitan dengan kinerja perusahaan, yang mana indeks ini mengkaji mengenai berbagai nilai

materialistik dan spiritual yang terdapat pada bank syariah, Indeks ini menilai kinerja keuangan yang bersumber pada informasi yang terdapat pada laporan tahunan keuangan industri (Rahmaniar, 2020).

Penggunaan Islamicity Performance Index dalam penelitian ini yaitu berguna untuk dapat melakukan penilaian terhadap kinerja syariah maupun kinerja keuangan bank umum syariah yang ada di Indonesia.

Pada penelitian ini menggunakan enam dari ketujuh rasio yang di gagas oleh Hameed dkk. Berikut rasio pada Islamicity Performance Index:

a. Profit Sharing Ratio

Perbankan syariah dalam kegiatan opersionalnya memiliki konsep dan tujuan yaitu untuk melakukan bagi hasil, dengan adanya hal tersebut yang mana bagi hasil menjadi tujuan dari bank syariah maka dianggap begitu penting, supaya dapat diketahui seberapa jauh bank syariah dapat menjalankan dan menggapai tujuannya, salah satunya yaitu mengalirkan dana ke sektor produktif dengan menggunakan skema bagi hasil. Pendapatan terhadap bagi hasil dapat diketahui hasilnya menggunakan cara dua akad, yaitu mudharobah dan musyarokah karena pada dasarnya kedua akad tersebut menggunakan skema bagi hasil dalam memperoleh keuntungannya.

Pengukuran pada profit sharing ratio ini bertujuan untuk supaya dapat mengetahui seberapa besar pembiayaan yang dilakukan dengan menggunakan skema bagi hasil, yakni pembiayaan mudharobah dan

pembiayaan musyarokah yang didistribusikan terhadap total pembiayaan yang dimiliki. Total pembiayaan dalam rumus perhitungan ini meliputi akad yang berdasarkan bagi hasil, sewa menyewa, jual beli, pinjam-meminjam serta multijasa. Berikut formula yang digunakan untuk menghitung profit sharing ratio:

𝑷𝑺𝑹 =𝑴𝒖𝒅𝒉𝒂𝒓𝒐𝒃𝒂𝒉+𝑴𝒖𝒔𝒚𝒂𝒓𝒐𝒌𝒂𝒉 𝑻𝒐𝒕𝒂𝒍 𝑷𝒆𝒎𝒃𝒊𝒂𝒚𝒂𝒂𝒏 b. Zakat Performance Ratio

Zakat memiliki muatan yang mengandung nilai sosial ekonomi dari kelima rukun islam. Kata zakat berasal dari kata az-zakah yang mempunyai makna berkah, tumbuh, bersih, baik dan bertambah.

Sementara pengertian zakat yakni sebagian harta yang telah memenuhi syarat tertentu, yang Allah SWT wajibkan bagi pemiliknya, supaya dapat disalurkan kepada orang-orang yang berhak mendapatkan zakat dengan syarat tertentu (Qhardawi, 1996). Perihal zakat harus tercantum dalam tujuan akuntansi Islam, karena zakat merupakan perintah dalam Islam. Oleh karena itu kinerja bank syariah harus berdasarkan pada zakat yang ditunaikan oleh bank, guna menggantikan indikator earning per share pada konsep kinerja bank konvensional. Formula perhitungannya yaitu sebagai berikut:

𝒁𝑷𝑹 = 𝐙𝐚𝐤𝐚𝐭

𝐍𝐞𝐭 𝐀𝐬𝐬𝐞𝐭

Perhitungan zakat menurut AAOIFI yaitu dengan menggunakan aset bersih, namun dalam penelitian ini peneliti mencoba melakukan perhitungan yang disesuaikan dengan perhitungan zakat di Indonesia yaitu dengan cara perhitungan zakat berbasis laba sebelum pajak, sehingga menggunakan formula sebagai berikut:

𝒁𝑷𝑹 =𝐏𝐞𝐧𝐲𝐚𝐥𝐮𝐫𝐚𝐧 𝐙𝐚𝐤𝐚𝐭 𝐏𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐋𝐚𝐛𝐚 𝐒𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐏𝐚𝐣𝐚𝐤 c. Equitable Distribution Ratio

Selain bagi hasil, dalam akuntansi syariah juga memperjuangkan hak kepada setiap masing-masing individu, oleh sebab itu indikator Equitable Distribution Ratio pada hakikatnya mencoba untuk dapat mengetahui sumber perolehan bank syariah yang telah digunakan untuk mendistribusikan keuntungannya kepada berbagai pemangku kepentingan. Elemen pada rasio ini diantaranya yaitu qardh dan donasi, beban pegawai, dividen, dan laba bersih. Setiap elemen tersebut akan dibagi dengan pendapatan bank setelah dikurangi dari zakat dan pajak. Berikut formula perhitungannya:

1) Qardh dan Donasi

𝑸𝒂𝒓𝒅𝒉+𝒅𝒐𝒏𝒂𝒔𝒊

𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏−(𝒛𝒂𝒌𝒂𝒕+𝒑𝒂𝒋𝒂𝒌)

2) Beban Tenaga Kerja

𝑩𝒆𝒃𝒂𝒏 𝑻𝒆𝒏𝒂𝒈𝒂 𝑲𝒆𝒓𝒋𝒂 𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏−(𝒛𝒂𝒌𝒂𝒕+𝒑𝒂𝒋𝒂𝒌) 3) Dividen

𝑫𝒊𝒗𝒊𝒅𝒆𝒏

𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏−(𝒛𝒂𝒌𝒂𝒕+𝒑𝒂𝒋𝒂𝒌) 4) Laba Bersih

𝑳𝒂𝒃𝒂 𝑩𝒆𝒓𝒔𝒊𝒉

𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏−(𝒛𝒂𝒌𝒂𝒕+𝒑𝒂𝒋𝒂𝒌) d. Directors – Employees Welfare Ratio

Gaji direktur sering menjadi masalah yang penting. Banyak orang yang mengklaim bahwa gaji direktur dibayar lebih besar dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan. Oleh karena itu menjadi sangat penting untuk menentukan seberapa besar pengeluaran yang dihabiskan untuk gaji direksi dibandingkan dengan pengeluran yang dilakukan untuk kesejahteraan karyawan tetap.

Kesejahteraan karyawan yang didapat di sini meliputi gaji, pelatihan dan lain-lain. Maka dari itu untuk dapat mengetahui nilai yang dikeluarkan dapat dilakukan dengan menggunakan formula yang digunakan yakni sebagai berikut:

𝑫𝑬𝑾𝑹 = 𝑹𝒂𝒕𝒂−𝒓𝒂𝒕𝒂 𝒈𝒂𝒋𝒊 𝒅𝒊𝒓𝒆𝒌𝒕𝒖𝒓

𝑹𝒂𝒕𝒂−𝒓𝒂𝒕𝒂 𝒌𝒆𝒔𝒆𝒋𝒂𝒉𝒕𝒆𝒓𝒂𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂𝒘𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑

e. Islamic Investment vs Non-Islamic Invesment

Sejauh yang kita ketahui, bahwasanya prinsip-prinsip yang diterapkan oleh islam sangat melarang transaksi yang masih menerapkan riba, gharar dan perjudian, akan tetapi dalam konsep islam mendorong untuk transaksi yang bersifat halal. Oleh sebab itu, bank syariah wajib untuk mengutarakan secara jujur setiap investasi yang diangap halal dan yang dilarang. Kegagalan dan ketidaksesuain terhadap mengungkapkan informasi ini secara eksplisit dapat menyebabkan situasi yang menyesatkan dan tidak akurat dalam kegiatan bisnis bank syariah. Rumusnya dapat dihitung sebagai berikut:

𝑰𝒏𝒗𝒆𝒔𝒕𝒂𝒔𝒊 𝑯𝒂𝒍𝒂𝒍

𝑰𝒏𝒗𝒆𝒔𝒕𝒂𝒔𝒊 𝑯𝒂𝒍𝒂𝒍+𝑰𝒏𝒗𝒆𝒔𝒕𝒂𝒔𝒊 𝑵𝒐𝒏 𝑯𝒂𝒍𝒂𝒍 f. Islamic Income vs Non-Islamic Income

Selain membagi investasi kedalam syariah dan yang tidak sesuai dengan syariah, pemisahan ini juga dibutuhkan untuk pendapatan yang masuk pada bank syariah, oleh sebab itu bank syariah wajib hanya memperoleh pendapatan dari sumber yang dijamin kehalalannya. Jika bank syariah menerima pendapatan dari transaksi yang dilarang atau tidak sesuai dengan syariat islam, maka bank wajib memberikan informasi tentang pendapatan tersebut terkait jumlah maupun sumber pemasukan yang didapat, bagaimana

proses pengelolaanya ketika sudah didapat, serta juga sangat perlu untuk mengantisipasi masuknya pendapatan non halal tersebut.

Dalam laporan keuangan bank syariah dana non halal tersebut berada pada laporan dana kebajikan. Berikut rumus yang digunakan:

𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏 𝑯𝒂𝒍𝒂𝒍

𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏 𝑯𝒂𝒍𝒂𝒍+𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒏𝒐𝒏 𝑯𝒂𝒍𝒂𝒍 g. AAOIFI Index

Indeks ini digunakan supaya dapat mengukur tingkat kepatuhan lembaga keuangan syariah sesuai dengan prinsip-prinsip yang tercantum pada AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution). AAOIFI ialah organisasi nirlaba internasional yang mempunyai kemampuan untuk menyiapkan standar-standar akuntansi keuangan dan audit untuk bank syariah serta lembaga keuangan syariah di seluruh dunia.

Tujuan organisasi ini ialah sebagai berikut:

1) Mengembangkan ide atau pola pikir akuntansi dan audit yang terkait dengan instansi keuangan.

2) Menyelaraskan gagasan dalam bidang akuntansi dan auditing yang relevan bagi lembaga keuangan dan implementasi yang dilakukan melalui pelatihan, seminar, publikasi jurnal yang merupakan hasil riset.

3) Menyediakan serta memberikan informasi dan menjelaskan

standar-standar akuntansi dan auditing bagi lembaga keuangan syariah.

4) Mengulas serta mengamandemen standar-standar akuntansi dan auditing terhadap lembaga keuangan syariah.

AAOIFI dalam menyususn tujuannya diselaraskan dengan ketentuan syariat islam yang merefleksikan suatu sistem yang komprehensif bagi seluruh aspek kehidupan manusia, serta diselaraskan dengan area kehidupan lembaga keuangan syariah yang dibentuk. Kegiatan ini difokuskan supaya dapat meningkatkan tingkat keyakinan pengguna laporan keuangan lembaga keuangan syariah dalam menekankan masyarakat supaya dapat menginvestasikan serta menitipkan dananya melalui bank serta lembaga keuangan syariah (Muhammad, 2015).

Dokumen terkait