• Tidak ada hasil yang ditemukan

Islamisme dan Toleransi keberagamaan 1. Islamisme

POTRET RELIGIUSITAS DAN KOMITMEN KEAGAMAAN MUSLIM LANGSA

3.3. Islamisme dan Toleransi keberagamaan 1. Islamisme

Islamisme atau orientasi politik Islamis merupakan sesuatu yang krusial dalam mendefinisikan sejauhmana seseorang dianggap Islamis atau tidak. Para ahli tentang masyarakat Muslim seperti Bernard Lewis dan Ernest Gelner ataupun sarjana politik seperti Samuel P Huntington mencoba membuktikan bahwa Islamisme merupakan hal yang universal bagi kaum Muslim. Untuk melihat seberapa kuat klaim ini pada kasus masyarakat Muslim di Langsa, maka peneliti menggunakan indikator-indikator yang biasa digunakan para ahli untuk mengukur Islamisme.

Menurut Mujani, satu cara untuk mengukur Islamisme adalah menelusuri bagaimana para ideologi Islamis mendefinisikan Islam sebagai ideologi sosial politik. Setelah itu, baru definisi tersebut diverifikasi melalui data empirik, dengan melihat sejauh mana muslim kebanyakan mengikuti interpretasi mereka. Untuk sekedar contoh, ideologi Islamis seperti Maududi, Qutb dan Khumaini mengklaim bahwa Islam mengakui kedaulatan Ilahi di atas manusia. Muslim Liberal di sisi lain mengklaim sebaliknya, bahwa Tuhan telah

27 memberikan kepada manusia hak otonom untuk menyelesaikan hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan politik sehari-hari.8

Peneliti menggunakan indikator-indikator berikut untuk mengukur dimensi Islamisme pada masyarakat Langsa: (1) Pemerintahan Islam yang terbaik untuk Langsa, (2) Negara mewajibkan pelaksanaan syariat Islam, (3) pemilu harusnya hanya untuk memilih wakil rakyat yang memperjuangkan syariat Islam, (4) aksi kekerasan dalam menegakkan syariat Islam sejalan dengan ajaran Islam, (5) setuju terorisme atas nama agama, (6) haram menabung di bank konvensional, dan (7) hanya Islamlah agama yang benar. Berdasarkan indikator tersebut responden diminta melaporkan mereka apakah

sangat setuju,

setuju, tidak setuju, atau sangat tidak setuju dengan

ide-ide tersebut.

Peneliti lalu

mengkategorisasika n jawaban sangat setuju dan setuju sebagai tendensi

Islamis, dan

jawaban tidak setuju atau sangat tidak setuju sebagai tendensi penolakan Islamisme.

Hasil sebagaimana penelitian terlihat dalam diagram berikut menunjukkan bahwa sebanyak 82% orang Langsa setuju atau sangat setuju dengan ide pemerintahan Islam, sebanyak 90% setuju atau sangat setuju dengan pelaksanaan syariat Islam oleh negara, dan sekitar pemilu harusnya hanya untuk memilih wakil rakyat yang memperjuangkan syariat Islam. Angka ini jauh melampaui temuan Mujani tentang sikap muslim Indonesia terhadap gagasan yang sama. Menurut temuan Mujani, sebanyak 63 persen orang Indonesia menyetujui pemerintahan Islami, dan 66% setuju atau sangat setuju dengan penegakan syariat Islam oleh negara.9

Terkait dengan data yang ditemukan pada kasus Langsa, angka-angka ini menurun secara drastik ketika dikaitkan dengan dukungan terhadap aksi dakwah melalui kekerasan.

8Saiful Mujani, h. 99-100 9

Tidak sampai separoh orang Langsa yang setuju atau sangat setuju dengan metode dakwah melalui aksi kekerasan dalam menegakkan syariat Islam sejalan dengan ajaran Islam sebagaimana yang dilakukan FPI, dan hanya minoritas atau sekitar 11% yang setuju atau sangat setuju dengan terorisme sebagaimaa yang menjadi metode perjuangan Noordin Top. Demikian pula, hanya 28% orang Langsa yang mendukung pandangan haramnya menabung di bank konvensional. Pandangan bahwa hanya Islamlah agama yang benar didukung oleh 81% orang Langsa, dan dukungan terhadap superioritas laki-laki sebesar 64%, dan setara dengan dukungan terhadap gagasan laki-laki lebih diutamakan dalam soal kesempatan mendapatkan pendidikan. Menarik dicatat bahwa pandangan yang mendukung superioritas laki-laki ini tidak hanya muncul dari laki-laki saja, tetapi didukung juga oleh perempuan.

Kecenderungan kalangan Islamis untuk melibatkan pemerintah dalam masalah agama dapat diukur dengan banyak item termasuk kewajiban yang secara khusus disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah. Sebagian besar orang Islam dimana saja akan sepakat bahwa mereka diwajibkan menunaikan lima rukun Islam. Shalat lima waktu dan puasa Ramadan adalah dua dari lima rukun Islam tersebut. Kalangan Islamis berpendapat bahwa pemerintah harus bertanggung-jawab atas pelaksanaan rukun itu. Dalam survey ini, peneliti menemukan sebanyak 70,2% orang Langsa setuju agar orang yang tidak melaksanakan puasa Ramadan dihukum oleh pemerintah. Ini menegaskan sikap sebelumnya mengenai dukungan terhadap intervensi Negara dalam pelaksanaan ajaran Islam.

3.3.2. Toleransi Keberagamaan

Toleransi, dalam tradisi Islam dirumuskan dalam kaitan dengan hubungan Muslim dengan kaum Yahudi dan Kristen. Corak hubungan tersebut mengambil bentuk beragam, sejalan dengan pola hubungan sosial politik yang terjalin. Keragaman itu pula yang antara lain mewarnai pemaknaan Islam, sebagaimana tersurat dalam al-Qur’an, terhadap mereka yang didefinisikan sebagai non-Muslim. Beberapa ayat al-Quran memberikan batas demarkasi yang tegas antara orang non-Muslim dan Muslim yang berujung pada pernyataan“untukmu agamamamu, untukku agamamaku”(Qs:109:5).

Ayat-ayat dengan kecenderungan serupa akan banyak ditemukan dalam al-Qur’an. Beberapa ayat al-Qur’an menyediakan kaum Muslim suatu ajaran untuk bersikap tidak toleran terhadap non-Muslim, tepatnya Yahudi dan Kristen. Paling tidak ayat-ayat tersebut

29 membekali kaum Muslim untuk merumuskan Yahudi dan Kristen sebagai komunitas keagamaan yang berbeda, dan selanjutnya memiliki sikap sosial politik berlainan.

Namun di pihak lain, al-Qur’an juga memiliki persediaan melimpah terkait dengan ayat-ayat yang menekankan toleransi. Salah satu istilah dalam al-Qur’an yangmenekankan aspek toleransi adalah penggunaan istilah ahlu kitab untuk merujuk pada Yahudi dan Kristen. Istilah ahlu kitab digunakan dalam al-Qur’an antara lain sebagai ungkapan penghargaan tinggi terkait konsistensi mereka berpegang pada ketuhanan yang monotheistik. Al-Qur’an dengan demikian mengandung ajaran yang menekankan baik toleransi maupun intoleransi sekaligus.

Toleransi keberagamaan merupakan indikator penting untuk mengukur dimensi keberagamaan seorang Muslim. Toleransi adalah sikap individu yang muncul ketika seseorang berhadapan dengan sejumlah perbedaan, dan bahkan pertentangan baik di tingkat sikap, pandangan, keyakinan, dan juga tindakan yang tumbuh di tengah masyarakat.10 Para ahli politik Islam seperti Huntington dan Lewis selalu berpandangan bahwa toleransi di kalangan Muslim sangat rendah. Kedua sarjana ini bahkan mengklaim unversitas intoleransi Islam terhadap penganut agama lain atau kebudayaan selain Islam. Untuk membuktikan kebenaran ataupun barangkali bantahan atas pandangan sarjana ini, peneliti akan mengemukakan sejumlah data empirik dalam skala Langsa.

Namun sebelum lebih jauh menelusuri toleransi beragama di kalangan Muslim Langsa, studi tentang toleransi biasanya tidak mengarah pada suatu kelompok tertentu, seperti katakanlah non-Muslim atau Kristen, tetapi lebih mengarah pada kelompok manapun yang tidak disukai.11 Strategi “pengukuran dengan isi berkontrol” ini lebih merupakan strategi untuk mengukur toleransi keagamaan orang Langsa terhadap orang non-Muslim atau Kristen. Berdasarkan pertimbangan ini, peneliti menggunakan delapan indikator untuk mengidentifikasi kecenderungan toleransi di kalangan Muslim Langsa, dengan meminta responden melaporkan sejauh mana mereka setuju dengan dengan ide-ide berikut, apakah sangat setuju, setuju, tidak setuju atau sangat tidak setuju.

Delapan indikator tersebut adalah: (1) membina hubungan pertemanan dengan non-Muslim mengurangi iman dan takwa, (2) nilai budaya masyarakat non-non-Muslim tidak boleh mempengaruhi budaya masyarakat Muslim, (3) dalam membangun mesjid dibenarkan menerima sumbangan dari umat non-Muslim, (4) seorang Muslim diperbolehkan

10John L. Sullivan, James Pierson dan George E. Marcus, Political Tolerance and American Democracy, (Chicago: University of Chicago Press, 1982), h. 82

mengucapkan selamat natal, (5) belajar di lembaga pendidikan yang dikelola non-Muslim, (6) pembangunan gereja di lingkungan pemukiman mereka, (7) mengusir dari kampung terhadap orang asli Aceh yang murtad atau keluar dari Islam.

Diagram berikut ini memperlihatkan sikap Muslim Langsa yang sangat setuju atau setuju dengan ide-ide sebagaimana yang menjadi indikator toleransi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa mayoritas orang Langsa (66%) tidak mempersoalkan pertemanan dengan dengan non-Muslim. Mereka dengan kata lain menolak pandangan bahwa membina hubungan pertemanan dengan umat non-Muslim mengurangi iman atau takwa.

Meskipun tidak mempersoalkan pertemanan dengan non-Muslim, orang Langsa mayoritas menolak indikator toleransi yang dirumuskan dalam penelitian ini. Terhadap pengaruh budaya non-Muslim, hanya 20% orang Langsa tidak mempersoalkan terjadinya adaptasi budaya

non-Muslim. Sebanyak

64,2% responden

menolak secara tegas. Angka ini tampaknya

sejalan dengan

anggapan yang

berkembang luas di kalangan masyarakat Aceh, Langsa serta kalangan skripturalis bahwa selama ini sumber kemunduran umat Islam adalah pengaruh budaya asing di kalangan masyarakat Muslim. Khutbah yang disampaikan dalam pengajian atau momen-momen keagamaan lainnya selalu berisi peringatan kepada masyarakat agar bersikap waspada terhadap pengaruh budaya dari luar. Hasilnya, sebagaimana yang dikemukakan dalam penelitian ini.

Demikian pula, dukungan terhadap toleransi di kalangan Muslim Langsa sangat rendah apabila menggunakan indikator-indikator lainnya. Hanya 38% orang Langsa mentoleransi pembangunan mesjid dari dana yang sumbernya berasal dari sumbangan non-Muslim. Hanya 29% orang Langsa yang tidak mempermasalahkan mengucapkan selamat natal kepada non-Muslim, sebanyak 27% membolehkan orang Islam sekolah atau kuliah di lembaga pendidikan yang dikelola non-Muslim, dan 13% bisa memahami kehadiran gereja

Dokumen terkait