dengan kata prestasi belajar, yakni hasil yang diperoleh setelah belajar. Sebagai gambaran, berikut ini adalah pendapat tentang prestasi belajar. Sunaryo (2001:63) berpendapat bahwa prestasi belajar adalah kemampuan seseorang dalam menguasai sejumlah program, setelah program itu selesai. Hasil prestasi ini dilambangkan dalam bentuk angka (nilai) sehingga mencerminkan keberhasilan belajar atau prestasi siswa dalam periode tertentu (Suherna, 2002:18).
2. Matematika
Matematika merupakan ratu dari ilmu
pengetahuan dimana materi matematika
diperlukan di semua jurusan yang di pelajari oleh semua orang. Berhitung merupakan aktifitas sehari-hari tiada aktifitas tanpa menggunakan Matematika. Istilah Mathematics
(Inggris), Mathematik (Jerman),
Mathematique (Perancis), Matematico (Itali), Matematiceski (Rusia), atau Mathematick (Belanda) berasal dari perkataan latin Mathematica, yang mulanya diambil dari perkataan Yunani yang berarti “relating to learning”.
Matematika berfungsi mengembangkan
kemampuan menghitung, mengukur,
menurunkan dan menggunakan rumus
matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui pengukuran dan geometri, aljabar, peluang dan statistik, kalkulus dan trigonometri. Matematika juga berfungsi
mengembangkan kemampuan
mengkomunikasikan gagasan melalui model matematika yang dapat berupa kalimat matematika dan persamaan matematika, diagram, grafik atau tabel.
3. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual
Pendekatan pembelajaran dengan
pendekatan kontekstual merupakan paham pembelajaran yang memandang pentingnya dorongan dan keterlibatan siswa untuk mampu menghubungkan konsep yang dipelajari dengan aplikasi dalam kehidupan nyata keseharian yang dialami sendiri. Dalam
pendekatan kontekstual pembelajaran
direncanakan sedemikian rupa sehingga siswa dapat memecahkan persoalan melalui kegiatan yang merefleksikan kejadian sebenarnya dalam kehidupan. Clifford dan Wildson (Depdiknas: 2005:20) mendeskripsikan karakteristik pemeblajaran kontekstual sebagai berikut: a. Merencanakanpembelajaransesuaidengan
kewajaranperkembangan mental siswa (developmentally appropriate)
b. membentuk group belajar yang saling ketergantungan (interdependent learning group)
c. Menyediakan lingkungan yang
mendukung pembelajaran mandiri (self regulated learning) yang mempunyai karakteristik: kesadaran berfikir, penggunaan strategi, dan motivasi berkelanjutan.
d. Mempertimbangkan keragaman siswa
(disversity of student)
e. Memperhatikan multi-intelegensi siswa (multiple intelligences), spasial-verbal, linguistic-verbal, interpersonal, musikal ritmik, naturalis, badan-kinestetika, intrapersonal, dan logismatematis.
(Gardner, 1993)
f. Menggunakan teknik-teknik bertanya
yang meningkatkan pembelajaran siswa, perkembangan pemecahan masalah dan keterampilan berfikir tingkat tinggi. g. Menerapkan penilaian autentik (authentic
assessment
1. Perbedaan Pembelajaran Kontektual
dan Konvensional
Pola pembelajaran kontekstual berbeda dengan pembelajaran konvensional yang selamaini dikenal. Perbedaan tersebut tergambar dalam tabel berikut. Perbandingan pola pembelajaran kontekstual dengan pembelajaran konvensional
2. Komponen Utama Pembelajaran
Kontekstual.
Pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen utama menurut Sumiati dkk,
(2007:14) yaitu konstruktivisme
(contructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan
kontekstual jika menerapkan ketujuh
komponen tersebut dalam pembelajarannya. Model pembelajaran kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Adapun ketujuh asas serta penjelasannya antara lain:
1) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengancara bekerja sendiri, menemukan sendiri,
100 | ISSN : 2459-9743
mengkonstruksi pengetahuan dan
keterampilan barunya
2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4) Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok)
5) Hadirkan model sebagai contoh
pembelajaran
6) Lakukan refleksi di akhir pertemuan 7) Lakukan penilaian yang sebenarnya
dengan berbagai cara
8) KarakteristikPembelajaranKontekstual Karakteristik pembelajaran kontekstual antara lain: adanya kerjasama, saling
menunjang, menyenangkan, tidak
membosankan, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan bebagai sumber, siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis, guru kreatif, laporan kepada orang tua berujud rapor, hasil karya siswa, laporan praktikum, karangan siswa, dan lain-lain.
3. Penilaian dalam Pembelajaran
Konstekstual.
Penilaian dilakukan dengan menggunakan
penilaian authentik, yang mempunyai
karakteristik sebagai berikut :
1) a). Penilaian dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaranberlangsung 2) b). Menggunakan penilaian formatif
maupun sumatif
3) c). Mengukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta 4) d). Berkesinambungan
5) e). Terintegrasi
6) f). Digunakan sebagai umpan balik.
4. Hipotesis Tindakan
Dari uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut: pendekatan pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas VIII-3 SMP Negeri 2 Sekayu dalam mata pelajaran Matematika.
C. Hasil Penelitian
Pelaksanaan penelitian dilakukan di tempat peneliti mengajar yaitu di SMP Negeri 2 Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin Tahun Pelajaran 2014/2015, dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 38 siswa. Pelaksanaan penelitian mulai dari perencanaan sampai refleksi dilaksanakan pada tanggal 2 Desember 2014 sampai dengan tanggal 25 Maret 2015. Sebelum pelaksanaan tindakan dilakukan, penulis melakukan perencanaan tindakan seperti menyiapkan, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa (LKS), soal tes, dan pedoman penskoran.
1. Pertemuan Pertama Siklus I
Pertemuan pertama di kelas eksperimen dilakukan pada hari Jumat tanggal 20 Pebruari 2015 dengan alokasi waktu 2 x 40 Menit pada materi unsur-unsur pada kubus dan balok dengan indikator yang harus dicapai siswa
adalah siswa dapat mengenal dan
menyebutkan titik sudut, rusuk, bidang sisi, diagonal ruang dan bidang diagonal. Dalam pertemuan ini, siswa yang hadir ada 38 siswa. Telah proses pembelajaran selesai, peneliti memberikan umpan balik kepada siswa yang kelompoknya mendapatkan nilai tertinggi, dan mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan
menyampaikan rencana belajar pada
pertemuan berikutnya.
2. Pertemuan Kedua Siklus I
Pertemuan kedua dengan materi
menentukan diagonal bidang dan diagonal ruang pada kubus dan balok. Pertemuan kedua ini dilaksanakan pada hari selasa tanggal 3 Maret 2015. Dalam pertemuan kedua ini siswa yang hadir sebanyak 38 siswa. Sebelum memulai pelajaran, peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada pertemuan ini yaitu mengenal diagonal sisi, diagonal ruang dan bidang diagonal, dan bagaimana pentingnya mempelajari sifat-sifat bangun ruang dalam mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Pertemuan Ketiga Siklus I
Pertemuan ke tiga dengan
materimenggambar kubus dan balok, materi ini dilaksakan dengan waktu tiga jam pelajaran dimana satu jam pertama digunakan untuk pembahasan materi dan dua jam berikutnya
untuk pelaksanaan tes akhir siklus
satudilaksakan pada hari jumat tanggal 6 maret 2015. Posisi tempat duduk siswa dikondisikan tidak berkelompok seperti biasanya, siswa diarahkan untuk dapat menggambar kubus dan balok dengan tepat serta benar, kemudian peneliti berkeliling melihat hasil gambaran siswa. Setelah satu jam berjalan peneliti meminta siswa menyimpan catatan, LKS, dan alat-alat yang tidak diperlukan kecuali pena atau pensil. Peneliti membagikan lembar soal dan lembar kosong sebagai lembar jawaban.
Kemudian peneliti mengoreksi dan
menganalisisnya.
4. Pertemuan Pertama Siklus 2
Pelaksanaan tindakan pada siklus kedua ini dengan materi menghitung luas permukaan kubus dan balok dengan waktu 4 Jam Pelajaran (2 kali Pertemuan) dan 2 Jam pelajaran untuk tes hasil belajar. Pertemuan pertama dengan materi luas sisi kotak kado yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 17 Maret 2015.