Kebijakan dan Strategi
BAB 4 KEBIJAKAN DAN STRATEGI
4.2. Isu dan Permasalahan
Isu dan permasalahan pengembangan teknologi pangan berbasis minyak
1. Perang dagang global
Kebijakan dan Strategi 67
Sebagai negara yang menguasai pasar minyak nabati dunia, Indonesia dihadapkan pada berbagai isu global. Berbagai isu dalam perang dagang (global trade war) muncul dari negara pesaing yang juga ingin memimpin pasar global minyak nabati dan turunannya.
sawit tidak lepas dari berbagai isu yang menimpa industri minyak sawit dalam negeri, yaitu:
Subtitusi impor dilakukan paralel dengan promosi ekspor. Tahap pertama strategi subtitusi impor SI-1 adalah menghasilkan produk antara yang selama ini masih diimpor Indonesia. Kemudian masuk tahap ke 2 SI-2 dengan menghasilkan sendiri produk jadi untuk menggantikan produk jadi yang selama ini diimpor. SI-2 lebih kepada produk-produk energi seperti olekimia dan energi.
Strategi hilirisasi mendorong industri minyak sawit dari EP-1 SI-1 menuju EP-2 SI-2. Teknologi diharapkan mampu mendukung strategi tersebut melalui 3 jalur, yakni hilirisasi oleopangan, oleokimia, dan energi.
Hilirisasi minyak sawit dalam negeri merupakan perpaduan strategi promosi ekspor (export promotion) dengan subtitusi impor (import subtitution).
Kombinasi antara promosi ekspor (EP) dengan subtitusi impor (SI) menghasilkan empat kombinasi strategi. Tahap pertama adalah strategi EP-1, merubah ekspor minyak sawit mentah menjadi produk hilir setengah-jadi seperti RBD olein, RBD stearin, PFAD, fatty acid, fatty alcohol, glycerol dan lainnya. Tahap ke 2 adalah EP-2 dengan menjadikan produk setengah-jadi menjadi produk jadi seperti minyak goreng dan margarin.
2. Fortifikasi minyak goreng
Isu bukan saja muncul dari pasar global akan tetapi juga dari dalam negeri sendiri. Industri pangan berbasis minyak sawit dalam negeri saat ini menghadapi permasalahan kebijakan pemerintah yang mewajibkan minyak goreng sawit difortifikasi vitamin A (SNI 7709:2012). Kebijakan ini didasarkan pertimbangan bahwa minyak goreng sawit adalah bahan makanan yang paling tepat sebagai pengantar vitamin A kepada masyarakat, dan terbukti efektif pada anak balita dan meningkatkan daya tahan anak terhadap penyakit.
Permasalahan bagi industri karena sifat Vitamin A yang tidak stabil dalam minyak goreng. Buah sawit memiliki kandungan βkaroten (Pro vitamin A) yang tinggi namun hilang saat proses pembuatan minyak goreng. Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan menambahkan vitamin A (sintetik) pada produk. Akan tetapi, cara ini membuat industri harus menambah pengeluaran ekstra yang relatif mahal, minyak gorengpun jadi mahal.
Vitamin A selama ini masih impor dan belum ada informasi pengganti vitamin A lain yang efektif. Permasalahan lainnya adalah aspek penegakan hukum terhadap kebijakan ini belum mendukung, dan butuh waktu bagi industri kemas (Repacker) jika SNI Wajib diberlakukan.
Kebijakan dan Strategi68
Proteksi terhadap komoditas domestik memunculkan isu negatif bagi komoditas lainnya termasuk minyak sawit, kampanye negatif yang dituduhkan dalam perang dagang antara minyak kedelai (USA) dengan minyak sawit, dan kebijakan Uni Eropa yang saat ini dikhawatirkan akan berdampak pada pengurangankonsumsi minyak nabati dunia.
4. Kontaminan 3-MCPD
Kontaminasi merupakan isu global yang melanda industri minyak sawit dalam negeri dan industri turunannya. Beberapa jenis kontaminan yang dituduhkan terkandung dalam produk sawit antara lain logam berat, polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH), dioxin, polychlorinated biphenyls (PCB), residu pestisida, dan terbaru adalah kandungan 3-monochlorpro-pandiol ester (3-MCPD Ester) dan glycidol esters (GE) pada minyak sawit Indonesia.
Kebijakan dan Strategi 69
Isu 2 kontaminan terbaru tersebut di atas bermula dari hasil penelitian di Eropa yang mengemukakan bahwa minyak sawit mengandung 3-MCPD Ester dan GE yang tertinggi diantara minyak nabati lainnya. Ditemukan kandungan 3-MCPD Ester dan GE pada minyak sawit yakni masing-masing sebesar 3-7 ppm sebesar 3-11 ppm. Senyawa 3-MCPD merupakan senyawa hasil hidrolisis 3-MCPD Ester yang memiliki efek negatif terhadap ginjal, sistem syaraf pusat, dan sistem reproduksi pada hewan Bagi industri, kewajiban menjual dalam kemasan membutuhkan sarana mesin pengemasan yang mencukupi. Masalah lain adalah kemasan minyak goreng sawit umumnya menggunakan plastik yang mana saat ini banyak mendapatkan pertentangan karena menambah limbah plastik.
3. Wajib kemasan
Untuk menjamin mutu dan keamanan minyak goreng yang beredar, Kementerian Perdagangan akan memberlakukan kebijakan minyak goreng wajib kemas mulai 2020. Tercatat masih sekitar 60% minyak goreng sawit curah beredar dipasar dalam negeri.
Kebijakan dan Strategi70
percobaan. Bahkan International Agency for Research on Cancer (IARC) mengemukakan bahwa senyawa 3-MCPD kemungkinan juga dapat menyebabkan kanker bagi manusia.
5. Limbah Spent Bleaching Earth (SBE)
Spent Bleaching Earth (SBE) merupakan salah satu limbah padat terbesar yang dihasilkan oleh industri refinery dan minyak goreng sawit. SBE dihasilkan pada proses pemurnian dengan bleaching earth (BE) untuk menghilangkan pigmen warna yang terdapat di dalam minyak sawit sehingga dihasilkan minyak yang lebih jernih.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014, limbah SBE masuk dalam kategori berbahaya (B3) karena dapat mengakibatkan pencemaran berat pada tanah dan perusakan lingkungan hidup. SBE adalah limbah B3 dengan kode limbah B413, dengan sumber limbah berasal dari proses industri oleochemical dan pengolahan minyak hewani atau nabati dengan kategori limbah berbahaya level 2.
Sementara itu, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengusulkan agar limbah hasil penyulingan minyak sawit yakni Spent Bleached Earth (SBE) tidak dikategorikan sebagai bahan berbahaya dan beracun atau B3. SBE tidak mengandung muatan berbahaya kendati volume yang dihasilkan cukup banyak.
Kebijakan dan Strategi 71
Berdasarkan data Balitbang Kementerian Pertanian bahwa pengolahan tandan buah segar kelapa sawit menjadi minyak goreng memberikan nilai tambah 50%, fatty acid 100%, ester 150-200%, biodiesel 66%, surfaktan 300-400% dan kosmetik 600-1000%. Diantara industri pengolahan perkebunan, industri minyak goreng memiliki nilai tambah bruto tertinggi. Oleh karena itu minyak goreng merupakan industri yang paling menonjol di Indonesia.
Bagi industri minyak sawit, diversifikasi produk membantu mengoptimalkan peluang pasar ditengah dinamisnya kondisi pasar minyak sawit dunia. Industri minyak sawit perlu memperbanyak produk hilirnya, mengubah produk mentah menjadi produk setengah-jadi, dan mengolah produk setengah-jadi menjadi produk jadi yang bernilai tambah tinggi.
6. Diversifikasi produk
Diversifikasi produk berbahan baku minyak sawit masih terus berlangsung, menjadi bahan baku dalam berbagi produk makanan, farmasi, dan energi. Diversifikasi sendiri merupakan maksud dari hilirisasi minyak sawit dalam negeri, oleh karena itu telah lama diharapkan pemerintah melalui program dan kebijakan hilirisasi Kementerian Perindustrian (Permenperin Nomor 13/M-Ind/Per/1/2010).