G. PEMERIKSAAN HASIL EDITING PETA DATA RASTER
1. JADWAL KEGIATAN PEMBENTUKAN DAN/ ATAU PEMELIHARAAN BASIS DATA
1. JADWAL KEGIATAN PEMBENTUKAN DAN/ ATAU PEMELIHARAAN BASIS DATA
Jadwal pelaksanaan kegiatan pembentukan dan atau pemeliharaan basis data dapat disesuaikan dengan tersedianya :
- Dana
- Sumber daya manusia
- Sarana untuk memproses data, yaitu perangkat komputer dan kelengkapannya
- Sarana lainnya
sesuai dengan kebijaksanaan yang telah ditetapkan tersebut, maka Jadwal waktu pelaksanaan di daerah adalah sebagai berikut :
2. KELOMPOK BIAYA
Pembiayaan kegiatan pembentukan dan atau pemeliharaan basis data SISMIOP terdiri dari atas 5 (lima) kelompok, yaitu :
A. Pekerjaan Persiapan
Yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan kegiatan penelitian pendahuluan, penyusunan rencana kerja, pengadaan dan penggandaan peta kelurahan dan desa, pencocokan peta kelurahan dan desa dengan keadaan di lapangan untuk penentuan blok-blok dan konsep sket/ peta ZNT, pelatihan petugas dan penyuluhan.
B. Pekerjaan Lapangan
Yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan kegiatan yang dikeluarkan untuk melaksanakan kegiatan pendataan dengan penyampaian dan pemantauan pengembalian SPOP, verifikasi, identifikasi, pengukuran objek pajak, pengumpulan harga pasar, pembuatan konsep sket/ peta blok dan sket/ peta ZNT per blok.
C. Pekerjaan Kantor
Bulan Tahun Anggaran Berjalan
Jenis Kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Persiapan a.l. :
Penelitian pendahuluan Penyusunan Rencana Kerja
Pembuatan konsep sket/ peta kel., konsep sket/ peta ZNT, dsb.
Pelaksanaan Pengumpulan Data Lapangan
Perekaman data pencetakan DHR dan Validasi
Pembuatan peta blok, peta ZNT, dan peta kelurahan dan desa
Pencetakan SPPT, STTS dan DHKP Penyerahan SPPT, STTS, dan DHKP dari Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset kepada Petugas Kelurahan/ Kec. dan tempat pembayaran
Penyerahan SPPT dari Petugas Kelurahan/ Kec. kepada wajib pajak Wajib Pajak membayar PBB-nya (masa pembayaran sesuai dengan jatuh temponya)
Yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan pekerjaan di kantor, seperti : perekaman data, validasi, pencetakan DHR, pembuatan sket/ peta kelurahan dan desa, pembuatan sket/ peta blok, pembuatan sket/ peta ZNT, pembuatan peta digital, dan pembuatan usulan Surat Keputusan Walikota tentang Klasifikasi dan Besarnya NJOP.
D. Sarana Pendukung
Yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan alat tulis kantor dan sarana penunjang lainnya dalam rangka kegiatan pembentukan dan atau pemeliharaan basis data.
E. Kegiatan Pembinaan
Yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan rapat, honorarium dan biaya transportasi tim pengawas dan tim pelaksana harian.
BAB VIII
TATA CARA PEMBAYARAN, PENYETORAN, ANGSURAN DAN PENUNDAAN PEMBAYARAN PAJAK
Pasal 15
(1) Dalam hal tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur Nasional, pembayaran atau penyetoran pajak dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.
(2) Hari libur Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk hari yang diliburkan untuk Penyelenggaraan Pemilihan Umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama secara nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah.
Pasal 16
(1) Pembayaran dan penyetoran pajak harus dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD).
(2) SSPD/ STTS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi sebagai bukti pembayaran yang berwenang atau apabila telah mendapatkan validasi. (3) SSPD/ STTS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dianggap sah apabila
telah divalidasi dengan Nomor Transaksi Bank (NTB). Pasal 17
(1) Pembayaran dan penyetoran pajak dilakukan di Bank atau tempat yang ditunjuk oleh Walikota.
(2) Walikota setiap tahun menunjuk 1 (satu) tempat pembayaran untuk satu wilayah tertentu.
(3) Wilayah tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah wilayah administrasi pemerintahan yaitu Kelurahan/ Kecamatan dimana objek pajak berada.
(4) Penunjukkan tempat pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dituangkan dalam suatu dokumen tertulis yang ditandatangani oleh Walikota dan Pimpinan Bank atau tempat lain yang ditunjuk sebagai tempat pembayaran.
(5) Dokumen tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) sekurang-kurangnya memuat :
a. Wilayah kerja tempat pembayaran;
b. Kewajiban tempat pembayaran yang meliputi :
1. Setiap hari Jumat atau hari kerja berikutnya apabila hari Jumat libur, saldo penerimaan PBB pada :
a. Tempat pembayaran dipindahbukukan ke Kas Daerah;
b. Tempat pembayaran elektronik dipindahbukukan ke Bank Persepsi Elektronik.
1.1 Terhadap tempat pembayaran, tempat pembayaran elektronik, Bank, Bank Persepsi Elektronik yang terlambat atau tidak memindahbukukan dan atau melimpahkan penerimaan PBB P2 sesuai waktu yang telah ditentukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 3% (tiga persen) perbulan dari jumlah penerimaan PBB P2 yang terlambat atau tidak dipindahbukukan dan atau dilimpahkan. 2. Untuk Tempat Pembayaran PBB P2 :
2.1 Menerima STTS (Surat Tanda Terima Setoran) dan DHKP (Daftar Himpunan Ketetapan dan Pembayaran) PBB P2 dari Dinas Pendapatan Pengelolaan dan Asetdengan berita Acara;
2.2 Menerima Pembayaran PBB P2 terhutang dari Wajib Pajak;
2.3 Menyerahkan STTS (Surat Tanda Terima Setoran) lembar untuk Wajib Pajak yang PBB P2nya telah dibayar oleh Wajib Pajak kepada Wajib Pajak, dalam hal Wajib Pajak melakukan pembayaran melalui kiriman uang/ transfer, tempat pembayaran PBB P2 berkewajiban mengirimkan STTS (Surat Tanda Terima Setoran) lembar untuk Wajib Pajak dengan SPPG (Surat Pengantar Pengiriman) kepada Wajib Pajak yang bersangkutan;
2.4 Menerima Surat Setoran uang hasil penerimaan pembayaran PBB P2 dari petugas pemungut yang dilampiri dengan DPH (Daftar Penerimaan Harian) dalam rangkap 4 (empat) dan tanda terima setoran lembar kedua;
2.5 Meregistrasi DPH dan tanda terima setoran lembar 2 sebagaimana dimaksud dalam angka 7 (tujuh) yang diserahkan oleh petugas pemungut;
2.6 Menyerahkan surat tanda setoran lembar untuk Wajib Pajak serta DPH (Daftar Penerimaan Harian) dan tanda terima setoran lembar ke 2 (dua) yang telah diregistrasi kepada petugas pemungut;
2.7 Membukukan semua pembayaran/ penyetoran PBB P2 pada hari kerja yang sama;
2.8 Memindahbukukan saldo penerimaan PBB P2 ke Bank pada hari Jumat atau hari kerja berikutnya apabila hari Jumat libur;
2.9 Menyusun laporan mingguan penerimaan PBB P2 yang dirinci perKelurahan dan mengirimkannya ke Dinas Pendapatan Pengelolaan dan Asetselambat-lambatnya hari Jum’at atau hari kerja berikutnya apabila hari Jum’at libur dan menyampaikan tembusannya kepada Camat.
3. Untuk tempat pembayaran PBB P2 online :
3.1 Tidak menerima surat tanda setoran dan daftar himpunan ketetapan dan pembayaran PBB P2 dari Dinas Pendapatan, Pengelolaan dan Aset;
3.2 Mencetak surat tanda terima setoran untuk Bank, untuk Wajib Pajak pada saat Wajib Pajak membayar PBB P2 terhutang;
3.3 Membatalkan surat tanda setoran yang telah dicetak jika Wajib Pajak membatalkan pembayaran PBB P2 terutang pada saat pembayaran tersebut;
3.4 Membuat dan mengirimkan LPPM (Laporan Pembatalan Pencetakan Mingguan) kepada Dinas Pendapatan, Pengelolaan dan Aset.
4. Untuk tempat pembayaran PBB P2 elektronik :
4.1 Menerima daftar nama Bank Persepsi PBB P2 elektronik berikut nomor rekening kas Daerah PBB P2 dari Dinas Pendapatan Pengelolaan dan Asetdan sehubungan dengan pemindahbukuan hasil penerimaan PBB P2 melalui tempat pembayaran PBB P2 elektronik dimaksud;
4.2 Menerima pembayaran PBB P2 dari Wajib Pajak;
4.3 Mengeluarkan Resi/ Struk ATM/ Print Out Internet Bank, atau bukti pembayaran kepada Wajib Pajak;
4.4 Melakukan komunikasi data dengan Dinas Pendapatan Pengelolaan dan Asetuntuk transaksi pembayaran PBB P2 dengan :
1) Meminta data PBB P2 yang terutang yang akan dibayar Wajib Pajak dan Informasi terkait lainnya melalui NOP (Nomor Obyek Pajak) atau Nomor SPPT;
2) Menerima data PBB P2 terutang dan informasi terkait lainnya; 3) Mengirimkan data konfirmasi pembayaran.
4.5 Membukukan semua pembayaran PBB P2;
4.6 Memindahbukukan saldo penerimaan PBB P2 ke Bank Persepsi PBB P2 elektronik paling lambat pada hari Jumat atau hari kerja berikutnya apabila hari Jumat libur;
4.7 Melakukan rekonsiliasi data pembayaran PBB P2 secara harian dengan Dinas Pendapatan, Pengelolaan dan Aset.
5. Tata cara penyetoran penerimaan daerah oleh Wajib Pajak/ Wajib Bayar/ Wajib Setor/ Bendaharaan Penerimaan diatur sebagai berikut :
5.1 Pembayaran melalui loket/ teller Bank:
1. Mengisi formulir bukti setoran dengan data yang lengkap, benar dan jelas dalam rangkap 4;
2. Menyerahkan formulir bukti setoran kepada petugas Bank dengan menyertakan uang setoran sebesar nilai yang tersebut dalam formulir yang bersangkutan;
3. Menerima kembali formulir bukti penyetoran lembar ke 1 dan lembar ke 3 yang telah diberi NTB (Nomor Transaksi Bank)
serta dibubuhi tanda tangan/ paraf, nama pejabat Bank, Cap Bank, tanggal dan waktu/ jam setor sebagai bukti setor;
4. Menyampaikan bukti setoran kepada Unit terkait. 5.2 Pembayaran melalui electronik banking (e-banking) :
1. Melakukan pendaftaran pada sistem registrasi pembayaran via internet;
2. Mengisi data setoran dengan lengkap dan benar untuk mendapatkan Nomor Registrasi Pembayaran (NRP), masa berlaku NRP sampai dengan jangka waktu yang ditetapkan; 3. Untuk tagihan yang ditetapkan instansi pemerintah,
pendaftaran dilakukan oleh instansi terkait dan NRP tercantum pada surat tagihan dimaksud;
4. Melakukan pembayaran dengan menggunakan NRP;
5. Menerima NPTD (Nomor Transaksi Penerimaan Daerah) sebagai bukti pengesahan setelah pembayaran dilakukan;
6. Mencetak BPD melalui sistem registrasi pembayaran atau di Bank dengan menunjukan Nomor Transaksi Bank (NTB);
7. Menyampaikan BPD ke Unit terkait.
6. Tata cara penatausahaan penerimaan setoran:
a. Melalui loket/ teller bank diatur sebagai berikut :
1. Menerima surat setoran penerimaan daerah rangkap 4 (empat) dan meneliti kelengkapan pengisian dokumen dan uang yang disetorkan;
2. Mengkredit setoran ke rekening Kas Daerah sesuai setoran yang diterima;
3. Melakukan pengesahan dengan menerbitkan BPD setelah mendapatkan Nomor Transaksi Bank (NTB) rangkap 4 (empat), lembar 1 (satu) dan 3 (tiga) untuk penyetor, lembar ke 2 (dua) untuk Dinas Pendapatan, Pengelolaan dan Aset, lembar ke 4 (empat) untuk Bank;
2. Menerbitkan BPD atas setoran yang diterima melalui cabang atau cabang pembantu Bank yang online setelah mendapatkan NTB;
b. Melalui e-banking diatur sebagai berikut :
1. Mengkredit setoran ke rekening Kas Daerah yang diterima melalui fasilitas e-banking yang dilakukan oleh Wajib Pajak/ Wajib bayar/ Wajib setor berdasarkan NRP yang dihasilkan dari sistem registrasi pembayaran;
2. Menginformasikan NTB (Nomor Transaksi Bank) kepada pihak penyetor melalui media e-banking;
3. Mencetak BPD sesuai dengan kebutuhan;
4. Sanksi atas keterlambatan atau ketidak dilakukannya pemindahbukuan pembayaran PBB P2 sebagaimana diatur Pasal 16 Ayat (5) huruf b;
5. Tanggal berakhirnya penunjukkan. Pasal 18
(1) Pembayaran PBB P2 yang terutang dilakukan di tempat pembayaran yang ditunjuk atau tempat pembayaran Elektronik.
(2) Dalam hal tempat pembayaran, tempat pembayaran Elektronik, Bank dan Bank Persepsi Elektronik melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 16 ayat (5), diberi peringatan sesuai dengan jenis dan tingkat kesalahannya.
(3) Apabila peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah diberikan sampai dengan 3 (tiga) kali dan tidak diindahkan, maka dapat :
a. Dicabut penunjukkannya sebagai tempat pembayaran;
b. Dicabut penunjukkannya sebagai tempat pembayaran Elektronik; c. Dicabut penunjukkannya sebagai sebagai Bank dan Bank Persepsi
Elektronik.
Pasal 19
Pengawasan terhadap tempat pembayaran, tempat pembayaran Elektronik, Bank dan Bank Persepsi Elektronik dalam rangka pengelolaan penerimaan PBB P2 dilakukan oleh Dinas Pendapatan, Pengelolaan dan Aset.
Pasal 20
Tempat pembayaran yang telah ditunjuk melaporkan rekening yang digunakan untuk menampung dana pembayaran PBB P2 kepada Walikota.
BAB IX
TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN KEBERATAN Pasal 21
Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan kepada Walikota melalui Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan dan Asetatas :
a. SPPT; b. SKPD.
Pasal 22
(1) Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan dalam hal :
a. Wajib Pajak berpendapat bahwa luas objek Pajak Bumi dan/ atau Bangunan Perdesaan dan Perkotaan atau nilai jual objek Pajak Bumi dan/ atau Bangunan Perdesaan dan Perkotaan tidak sebagaimana mestinya; dan/atau
b. Terdapat perbedaan penafsiran Peraturan Daerah Kota Pariaman tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan.
(2) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diajukan secara : a. Perseorangan/ kolektif untuk SPPT;
b. Perseorangan untuk SKPD.
Pasal 23
(1) Pengajuan keberatan secara perseorangan sebagaimana dimaksud pada Pasal 22 ayat (2) huruf a dan b harus memenuhi persyaratan :
a. Satu surat keberatan untuk satu SPPT atau SKPD; b. Diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia;
c. Diajukan kepada Walikota melalui Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan dan Aset;
e. Dikemukakan jumlah PBB P2 yang terutang menurut perhitungan Wajib Pajak disertai dengan alasan yang mendukung pengajuan keberatannya;
f. Diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterimanya SPPT, dan atau SKPD kecuali apabila Wajib Pajak atau kuasanya dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya;
g. Surat Keberatan ditandatangani oleh Wajib Pajak;
h. Dalam hal surat keberatan ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak : 1. Harus dilampiri dengan surat kuasa khusus, untuk Wajib Pajak
orang pribadi dengan PBB P2 yang terutang lebih banyak dari Rp. 2.000.000,00 (dua juta rupiah) atau Wajib Pajak Badan;
2. Harus dilampiri dengan surat kuasa untuk Wajib Pajak orang pribadi dengan PBB P2 yang terutang paling banyak Rp. 2.000.000,00 (dua juta rupiah).
(2) Pengajuan keberatan secara kolektif sebagaimana dimaksud pada Pasal 22 ayat (2) huruf a harus memenuhi persyaratan :
a. Satu pengajuan untuk beberapa SPPT tahun pajak yang sama; b. Diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia;
c. PBB P2 yang terutang untuk setiap SPPT paling banyak Rp. 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah);
d. Diajukan kepada Walikota melalui Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan dan Aset;
e. Diajukan melalui Kepala Kelurahan setempat; f. Dilampiri asli SPPT yang diajukan keberatan;
g. Mengemukakan jumlah PBB P2 yang terutang menurut penghitungan Wajib Pajak disertai dengan alasan yang mendukung pengajuan keberatannya;
h. Diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterimanya SPPT, kecuali apabila Wajib Pajak melalui Kepala Kelurahan setempat dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya.
(3) Untuk memperkuat alasan pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dan ayat (2) huruf g, pengajuan keberatan disertai dengan :
a. Fotocopy identitas Wajib Pajak dan fotocopy identitas kuasa Wajib Pajak dalam hal dikuasakan;
b. Fotocopy bukti kepemilikan tanah; c. Fotocopy ijin mendirikan bangunan; d. Fotocopy bukti pendukung lainnya.
(4) Tanggal Penerimaan surat keberatan yang dijadikan dasar untuk memproses surat keberatan adalah :
a. Tanggal terima surat keberatan, dalam hal disampaikan secara langsung oleh Wajib Pajak/ Kuasanya kepada Dinas Pendapatan, Pengelolaan dan Aset;
b. Tanggal tanda Pengiriman surat keberatan, dalam hal disampaikan melalui Pos dengan bukti pengiriman surat.
BAB X
TATA CARA PENGURANGAN ATAU PENGHAPUSAN SAKSI ADMINISTRASI DAN PENGURANGAN ATAU PEMBATALAN KETETAPAN PAJAK
Pengurangan dapat diberikan kepada Wajib Pajak :
A. Karena kondisi tertentu Objek Pajak yang ada hubungannya dengan subjek pajak dan/ karena sebab-sebab tertentu lainnya :
1) Wajib Pajak Pribadi, meliputi
(a) Objek Pajak yang Wajib Pajaknya orang pribadi veteran pejuang kemerdekaan, veteran pembela kemerdekaan, penerima tanda jasa bintang gerilya, atau janda/ dudanya diberikan sebesar 75% dari PBB P2 yang terhutang.
(b) Objek Pajak berupa lahan pertanian/ perkebunan/ perikanan/ peternakan yang hasilnya sangat terbatas yang Wajib Pajaknya orang pribadi yang berpenghasilan rendah diberikan pengurangan sebesar paling tinggi 75%.
(c) Objek pajak yang Wajib Pajaknya orang pribadi yang penghasilannya semata-mata berasal dari pensiunan, sehingga kewajiban PBB P2nya sulit dipenuhi diberikan pengurangan sebesar paling tinggi 75%.
(d) Objek Pajak yang Wajib Pajaknya orang pribadi yang berpenghasilan rendah sehingga kewajiban PBB P2 sulit dipenuhi diberikan pengurangan sebesar paling tinggi 75%.
(e) Objek Pajak yang Wajib Pajaknya orang pribadi yang berpenghasilan rendah yang Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) per-meter perseginya meningkat akibat perubahan lingkungan dan dampak positif pembangunan diberikan pengurangan sebesar paling tinggi 75%.
(f) Objek Pajak yang Wajib Pajaknya orang pribadi yang berupa cagar budaya yang telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya diberikan pengurangan sebesar paling tinggi 75%.
2) Wajib Pajak badan meliputi :
Objek Pajak yang Wajib Pajaknya adalah Wajib Pajak Badan yang mengalami kerugian dan kesulitan liquiditas tahun Pajak sebelumnya sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban rutin diberikan pengurangan sebesar paling tinggi 75%.
B. Karena kondisi tertentu Objek Pajak yang ada hubungannya dengan Objek Pajak itu sendiri diberikan pengurangan sebesar paling tinggi 100%, meliputi :
1) Dalam hal objek pajak terkena bencana alam bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
2) Dalam hal objek pajak terkena sebab lain yang luar biasa, meliputi kebakaran, wabah penyakit tanaman dan/ wabah hama tanaman.
Pasal 25
(1) Pengurangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 diberikan kepada Wajib Pajak atas PBB P2 yang terhutang yang tercantum dalam SPPT dan/ atau SKP PBB P2.
(2) PBB P2 yang terhutang yang tercantum dalam SKP PBB P2 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pokok pajak ditambah dengan denda administrasi.
(3) SKP PBB P2 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang telah diberikan pengurangan tidak dapat dimintakan pengurangan denda administrasi.
(1) Pengurangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dapat diberikan berdasarkan permohonan Wajib Pajak.
(2) Permohonan pengurangan pajak terhutang Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diajukan secara :
a. Perseorangan, untuk PBB P2 yang terhutang yang tercantum dalam SKP PBB P2;
b. Perseorangan atau kolektif untuk PBB P2 yang tercantum dalam SPPT.
Pasal 27
Permohonan pengurangan yang diajukan secara perseorangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2) harus memenuhi persyaratan dan data pendukung.
Pasal 28
Persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 adalah : a. Satu permohonan untuk satu SPPT atau SKP PBB P2;
b. Diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia dengan mencantumkan besarnya persentase pengurangan yang dimohon disertai alasan yang jelas;
c. Diajukan kepada Walikota melalui Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan dan Aset;
d. Dilampiri fotocopy SPPT atau SKP PBB P2 yang dimohonkan pengurangan;
e. Surat permohonan harus ditandatangani oleh Wajib Pajak;
f. Dalam hal surat permohonan ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak, berlaku ketentuan sebagai berikut :
1. Surat permohonan harus dilampiri dengan surat kuasa khusus, untuk :
a) Wajib Pajak Badan;
b) Wajib Pajak Pribadi dengan PBB P2 yang terhutang lebih banyak dari Rp. 2.000.000,00 (dua juta rupiah).
2. Surat permohonan harus dilampiri dengan surat kuasa, untuk Wajib Pajak orang pribadi dengan PBB P2 yang terhutang paling banyak Rp. 2.000.000,00 (dua juta rupiah).
g. Diajukan dalam jangka waktu :
1. 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya SPPT.
2. 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya SPK PBB P2.
3. 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya Surat Keputusan Keberatan PBB P2.
4. 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal terjadinya bencana alam.
5. 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal terjadinya sebab lain yang luar biasa, kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukkan dalam jangka waktu tersebut tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaanya.
h. Tidak memiliki tunggakan PBB P2 tahun pajak sebelumnya atas objek pajak yang dimohonkan pengurangan, kecuali dalam hal objek pajak terkena bencana alam atau sebab lain yang luar biasa.
i. Tidak diajukan keberatan atas SPPT atau SKP PBB P2 yang dimohonkan pengurangan, atau dalam hal diajukan keberataan telah diterbitkan surat keputusan keberatan dan atas surat keputusan keberatan dimaksud tidak diajukan banding.
Pasal 29
Dokumen pendukung sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 untuk permohonan Wajib Pajak pribadi yang diajukan secara perseorangan dalam hal :
A. Wajib Pajak Pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf a angka 1 (satu), meliputi:
1. Objek Pajak yang Wajib Pajaknya orang pribadi veteran pejuang kemerdekaan, pembela kemerdekaan, penerima tanda jasa bintang gerilya, atau janda/ dudanya berupa :
a. Fotokopi kartu tanda anggota veteran, atau fotokopi surat keputusan tentang pengakuan, pengesahan dan penganugerahan gelar kehormatan dari pejabat yang berwenang; b. Fotokopi bukti pelunasan PBB P2 tahun pajak sebelumnya; c. Dokumen pendukung lainnya.
2. Objek Pajak yang Wajib Pajaknya orang pribadi yang penghasilannya semata-mata berasal dari pensiunan sehingga kewajiban PBB P2nya sulit dipenuhi berupa :
a. Fotokopi surat keputusan pensiun;
b. Fotokopi slip pensiun atau dokumen sejenis lainnya; c. Fotokopi kartu keluarga;
d. Fotokopi rekening listrik, air dan/ telepon;
e. Fotokopi bukti pelunasan PBB P2 tahun pajak sebelumnya; f. Dokumen pendukung lainnya.
3. Objek Pajak yang Wajib Pajaknya orang pribadi yang berpenghasilan rendah sehingga kewajiban PBB P2nya sulit dipenuhi berupa :
a. Surat pernyataan dari Wajib Pajak yang menyatakan bahwa penghasilan Wajib Pajak rendah;
b. Fotokopi kartu keluarga;
c. Fotokopi rekening tagihan listrik, air/ tagihan telepon; d. Fotokopi bukti pelunasan PBB P2 tahun pajak sebelumnya; e. Dokumen pendukung lainnya.
4. Objek Pajak yang Wajib Pajaknya orang pribadi yang berpenghasilan rendah yang nilai jual objek pajak per-meter persegi meningkat akibat perubahan lingkungan dan dampak positif pembangunan berupa :
a. Surat pernyataan dari Wajib Pajak yang menyatakan bahwa penghasilan Wajib Pajak rendah;
b. Fotokopi SPPT tahun sebelumnya; c. Fotokopi kartu keluarga;
d. Fotokopi rekening tagihan listrik, air/ tagihan telepon; e. Fotokopi bukti pelunasan PBB P2 tahun pajak sebelumnya; f. Dokumen pendukung lainnya.
5. Objek Pajak yang Wajib Pajaknya orang pribadi yang berupa cagar budaya yang telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya berupa surat ketetapan sebagai cagar budaya.
B. Wajib Pajak Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf a angka 2 (dua), yang mengalami kerugian dan kesulitan liquiditas tahun Pajak sebelumnya sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban rutin berupa : 1. Fotokopi laporan keuangan tahun sebelumnya;
3. Fotokopi bukti pelunasan PBB P2 tahun pajak sebelumnya; 4. Dokumen pendukung lainnya;
Pasal 30
Dokumen pendukung sebagaimana dimaksud pada Pasal 24 ayat (1) huruf b untuk permohonan Wajib Pajak yang diajukan secara perseorangan dalam hal objek pajaknya terkena bencana alam atau sebab lain yang luar biasa berupa : 1. Surat pernyataan dari Wajib Pajak yang menyatakan objek pajaknya
terkena bencana alam atau sebab lain yang luar biasa;
2. Surat keterangan yang mendukung alasan permohonan dari Kepala Kelurahan setempat atau instansi terkait;
3. Dokumen pendukung lainnya.
Pasal 31
Permohonan pengurangan yang diajukan secara kolektif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2) harus memenuhii persyaratan dan data pendukung.
Pasal 32
Permohonan Pengurangan secara kolektif dapat diajukan :
1. Sebelum SPPT diterbitkan dalam hal kondisi tertentu yaitu objek Pajak yang Wajib Pajaknya orang pribadi veteran pejuang kemerdekaan, veteran pembela kemerdekaan, penerima tanda jasa bintang gerilya, atau janda/ dudanya dengan PBB P2 yang terhutang paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
2. Setelah SPPT diterbitkan dalam hal :
a. Dalam hal kondisi tertentu yaitu objek Pajak yang Wajib Pajaknya orang pribadi veteran pejuang kemerdekaan, veteran pembela kemerdekaan, penerima tanda jasa bintang gerilya, atau janda/ dudanya dengan PBB P2 yang terhutang paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
b. Dengan PBB P2 yang terhutang paling banyak Rp 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) yaitu :