Radikalisme Sebagai Gerakan Sosial
A. Jalan Menjadi Radikal: from Seeker to Joiner
Munculnya gerakan radikal sering kali beriringan dengan usaha-usaha pencarian identitas keislaman di tengah arus transformasi global yang dianggap menghantam identitas Islam secara tajam.
Oleh karenanya, salah satu entry point dari gerakan radikal Islam ada-lah hendak menerapkan Islam dalam konteks penuh dan literal sesuai dengan al-Quran dan Sunnah (tradisi berdasarkan contoh Nabi Muhammad SAW).
Mereka mengabaikan pemahaman kontekstual tentang Islam itu sendiri. Oleh karenanya, umumnya mereka bersikap reaktif ter-hadap dinamika pemikiran yang bersumber tidak dari al-Quran dan Sunnah. Mereka menginginkan Islam yang murni, yang tidak
“ter-Islam Kontra Radikal
memandang ajaran Islam yang fundamental sebagai dasar untuk membangun kembali masyarakat dan negara.
Usaha-usaha kontra radikalisme perlu memperhatikan proses-proses yang berlangsung, yang mendorong seseorang terlibat dalam gerakan atau memilih menjadi radikal. Oleh karena itu, selain memetakan kerangka makro juga perlu dicermati level mikro dan in-dividual, tentang jalan yang ditempuh seseorang menjadi radikal, atau bahkan teroris.
Dengan kata lain, proses radikalisasi merupakan aspek penting untuk diatasi, karena radikalisasi merupakan rute yang menjelaskan momen-momen yang harus dicegah, yang di dalamnya terkandung kompleksitas masalah yang dihadapi oleh seseorang dalam men-jalani kehidupannya, dan berhadapan dengan realitas sosial yang tidak sederhana pula. Perkembangan-perkembangan terkini yang menunjukkan keterlibatan perempuan dan bahkan anak-anak dalam aksi-aksi terorisme semakin menuntut penjelasan terhadap proses radikalisasi.4
Radikalisasi merupakan istilah yang diliputi banyak perdebatan, dan perdebatan itu sering kali bukan hanya bersifat akademis, tetapi juga bersifat politis. Artinya, definisi-definisi radikalisme dan radikalisasi bersifat posisional, tergantung pada posisi orang-orang yang memberikan definisi. Oleh karenanya, posisi seseorang menen-tukan penggambaran makna realitas dari suatu fenomena radikalisme. Dalam studi kebudayaan, makna dan pengetahuan merupakan hasil dari produksi budaya.
Neumann (2013: 873-893) misalnya, menjelaskan bahwa radikalisasi sebagai proses dengannya individu-individu memeluk
4 Untuk studi mengenai radikalisasi perempuan di Indonesia, pembaca dapat membaca lebih spesifik hasil penelitian Nava Nuraniyah. 2018. Not Just Brainwashed:
Understanding The Radicalization of Indonesian Female Supporters of the Islamic State, Terrorism and Political Violence, Volume 30, Issue 6, 2018, DOI: 10.1080/0954-6553.2018.1481269
Radikalisme Sebagai Gerakan Sosial
ideologi-ideologi (baik sekuler maupun religius) yang menolak prin-sip-prinsip demokrasi dan Hak-Hak Asasi Manusia. Proses-proses itu, menurut Cragin (2014: 337-353), meliputi kondisi-kondisi pikiran (state of mind) yang disebut sebagai radikalisasi kognitif (cog-nitive radicalization) dan tindakan yang disebut dengan radikalisasi perilaku (behavioral radicalization).
Meskipun demikian, harus disadari bahwa tidak semua orang yang memiliki ideologi radikal melakukan tindakan kekerasan sep-erti teror, dan tidak semua pelaku teror memahami secara cermat tentang ideologi yang mereka anut. Bahkan, di antara mereka justru bukanlah orang-orang yang digambarkan saleh secara religius.
Namun seperti yang diungkapkan Neumann (2013), ke-banyakan kelompok radikal itu “memiliki pandangan yang baik dan komitmen terhadap ide-ide dan inti dari prinsip mengenai apa yang salah dengan masyarakat, siapa yang harus disalahkan, dan apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah itu. Pengertian dan pemahaman mengenai situasi-situasi dan para pihak yang dipan-dang salah itu biasanya didapatkan melalui kelompok yang menghubungkan dan menjadi tempat berinteraksi, sehingga mem-iliki pemahaman yang sama mengenai realitas sosial dam politik yang mereka hadapi (Neumann, 2013: 873-893).
Proses radikalisasi yang lebih kompleks ditunjukkan oleh Quin-tan Wiktorowicz (2005). Ia menyebut bahwa proses radikalisasi ter-jadi melalui four-staged radicalization pathway (empat tahap jalan radikalisasi), yakni: pembukaan kognisi (cognitive opening), pen-carian keagamaan (religious seeking), ketertarikan dan keterikatan kerangka (frame alignment) dan sosialisasi (socialization).5
5 Untuk studi kasus tentang radikalisasi perempuan (mujahidat), lihat Quintan
Islam Kontra Radikal
Asumsi dasar teori Wiktrowizc tersebut adalah bahwa bergabung dengan kelompok ekstremis adalah pilihan mahal dan beresiko, karena tindakan radikal ektrimis itu berlawanan dengan hukum, dan secara sosial juga “terkutuk”. Oleh karena itu, sesungguhnya tidak mudah bagi seseorang untuk terjatuh ke dalam persuasi ektrimis, sehingga yang dibutuhkan pertama kali adalah ter-buka terhadap ide-ide alternatif yang meyakinkan seseorang untuk mau terlibat memperjuangkannya.
Tentu saja proses pembukaan kognisi itu tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Sebaliknya, melalui proses dan waktu yang pan-jang dan melibatkan berbagai faktor seperti krisis identitas, pengelaman terdiskriminasi, kematian anggota keluarga dan berbagai krisis kehidupan lainnya (Wiktorowicz, 2014: 100). Na-mun demikian, pembukaan kognitif juga sangat Na-mungkin karena persentuhan dengan kelompok-kelompok salafi jihadis. Interaksi dan komunikasi berbagai kelompok melalui berbagai forum seperti daurah dan komunikasi online bisa menjadi salah satu jalan bagi pembukaan kognisi.
Jalan untuk mengatasi krisis yang dialami diantaranya adalah melalui pencarian agama (seeking religiosity), karena agama merupa-kan bagian yang sangat dalam bagi kehidupan masyarakat beragama yang ditanamkan melalui lingkungan keluarga dan pendidikan. Pada sebagian pencari yang sedang mengalami krisis pribadi, mereka mendapati versi ajaran agama yang ditanamkan orang dan sekolah tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan, baik karena terlalu ritualistik ataupun tidak bersentuhan dengan pemecahan persoalan sosial, ekonomi dan politik yang mereka hadapi. Oleh karena itu, ek-perimentasi pengalaman melalui penerimaan interpretasi dan prak-tik keberagamaan yang berbeda yang berasal dari kelompok ekstrem menjadi cara yang tempuh oleh para religious seeker (pencari agama) dalam memecahkan krisis pribadi.
Radikalisme Sebagai Gerakan Sosial
Para pencari itu tersambung ke dalam pemikiran-pemikiran al-ternatif radikal. Biasanya melalui jejaring sosial kelompok radikal yang sudah ada. Di bawah para pembimbing yang terpercaya dari ke-lompok radikal ini, para pencari identitas keagamaan (religious iden-tity) itu diajak terlibat di dalam kegiatan-kegiatan publik kelompok radikal, dan dengan halus dan fokus membicarakan masalah-masa-lah yang menjadi concern masyarakat muslim pada umumnya, sep-erti masalah sosial dan masalah moral dan mengajukan alasan keha-rusan penerapan khilafah dan syari’ah sebagai satu-satunya solusi.
Pada tahap ini juga terjadi berbagai bentuk variasi persuasi sep-erti diskusi, debat dan komunikasi interpersonal. Dengan demikian, proses ini bukan sekedar indoktrinasi tidak langsung, tetapi juga proses penyambungan kerangka gerakan (frame alignment) dari group kepada individu. Proses itu terjadi secara efektif ketika skema gerakan beresonansi terhadap individu dan kemudian menjadi kerangka penafsiran mereka sendiri meskipun secara parsial.
Penyambungan atau pentautan frame bukanlah momen tera-khir. Meskipun melalui momen itu para pencari pada akhirnya me-rasa menemukan kebenaran. Tetapi hal itu hanyalah petunjuk awal yang memungkinkan mereka untuk berpartisipasi lebih dalam ke berbagai aktivitas dan event. Setelah mereka mau bergabung, maka mereka terekspose ke dalam sosialisasi yang lebih dalam melalui se-rangkaian aktivitas mobilisasi mikro, termasuk pembelajaran inten-sif dengan pemimpin kharismatik dan pertemuan-pertemuan infor-mal untuk membentuk dan menguatkan ikatan kelompok (Wiktorowicz, 2014: 39). Pada akhirnya pencari (seeker) menjadi peserta (joiner) yang secara gradual menginternalisasi identitas, tujuan dan kepercayaan kelompok, menjadi milik mereka sendiri (Nuraniyah. 2018: 7).
Memperhatikan prevalensi interaksi online dalam kasus radikalisasi, maka bisa dipastikan jaringan sosial online juga dapat
Islam Kontra Radikal
dan sosialisasi. Tentu saja berbeda dengan rekrutmen tradisional, ka-rena proses radikalisasi yang difasilitasi internet tidak selalu membu-tuhkan perekrut formal atau pimpinan kharismatik sebagai pem-bimbing.
Dalam radikalisasi online, peran perekrut dan pemimpin khar-ismatik diganti secara online oleh simpatisan yang mengembangkan hubungan dekat dengan calon peserta. Dengan demikian, media so-sial online dalam konteks radikalisasi membentuk radikalisasi peer-to-peer sebagai lawan dari perekrutan top-down. Sebagaimana diungkapkan Nuraniyah (2018: 7) bahwa media sosial semakin mengaburkan batas antara pemaparan awal yang memfasilitasi bing-kai keselarasan dan sosialisasi yang lebih dalam. Faktanya, proses so-sialisasi dapat dipercepat karena komunitas online ekstremis men-gurangi risiko partisipasi (bergabung grup online tidak memiliki risiko yang sama seperti menghadiri pertemuan bawah tanah), menurunkan standar untuk joiner baru (misalnya, tidak ada induksi formal atau proses pemeriksaan yang rumit), dan memfasilitasi in-teraksi yang lebih intens dengan "ruang-eko" virtual yang beroperasi 24 jam setiap hari”.
Dengan mengkritisi pendekatan-pendekatan dominan ter-hadap radikalisme dan kemudian melakukan revisi dengan melengkapi kekurangan melalui pendekatan-pendekatan alternatif, maka saya berharap bisa diperoleh pemahaman multi perspektif yang lebih komprehensif dan koheren mengenai radikalisme. Pada akhirnya memang harus disadari penjelasan-penjelasan harus terus dikembangkan seiring dengan dinamika radikalisme yang semakin kompleks.