Ada jalan kecil menuju kebunmu: ada hujan mungil merayap pelan ke liang kuburku.
Sajak-sajak 1980-1991
Layang-layang
Dulu pernah kaubelikan aku sebuah layang-layang pada hari ulang tahun.
Aku pun bersorak sebagai kanak-kanak tapi hanya sejenak.
Sebab layang-layang itu kemudian hilang, entah ke mana ia terbang.
Seperti aku pun tak pernah tahu kapan kau hilang dan kembali kutemu.
Lehermu masih hangat meskipun selalu dikikis waktu. Sekarang umur pun tak pernah lagi dirayakan
selain dibasahkuyupkan di bawah hujan.
Tapi kutemukan juga layang-layang itu di sebuah dahan meskipun tanpa benang dan tinggal robekan.
Aku ingin berteduh di bawah pohon yang rindang. (1980)
Pohon Bungur
: anno 1968 - 1973
Pohon bungur di puncak bukit dalam naungan senja.
Bunga-bunganya berceceran dihirup angin selatan.
Pohon bungur di puncak bukit dalam belaian usia.
Kuingat selalu bunga merahnya yang ranum diguyur hujan menjelang malam turun. (1990)
Penyair Tardji
Tardji minta bir buat pesta di malam buta. “Sampai tuntas pahit-asamnya.
Sampai pecah ini botolnya.”
Dalam mabuk ia minta tuak dari jantungMu. “Mana kapak? Biar kutetak leher panjangMu.” Sampai huruf habislah sudah.
Sampai nganga luka dibelah.
“Ya Allah, sajak terindah kutemu dalam Kau darah.” (1986)
Tengah Malam
Badai menggemuruh di ruang tidurmu. Hujan menderas, lalu kilat, petir
dan ledakan-ledakan waktu dari balik dadamu. Sesudah itu semuanya reda.
Musim mengendap di kaca jendela. Tinggal ranting dan dedaunan kering berserakan di atas ranjang. Hening. Waktu itu tengah malam. Kau menangis.
Tapi ranjang mendengarkan suaramu sebagai nyanyian. (1989)
Bulu Matamu: Padang Ilalang Bulu matamu: padang ilalang. Di tengahnya: sebuah sendang.
Kata sebuah dongeng, dulu ada seorang musafir datang bertapa untuk membuktikan apakah benar wajah bulan bisa disentuh lewat dasar sendang.
Ia tak percaya, maka ia menyelam.
Tubuhnya tenggelam dan hilang di arus mahadalam. Arwahnya menjelma menjadi pusaran air berwarna hitam. Bulu matamu: padang ilalang.
(1989)
Tukang Cukur
Ia membabat padang rumput yang tumbuh subur di kepalaku. Ia membabat rasa damai
yang merimbun sepanjang waktu.
“Di bekas hutan ini akan kubangun bandar, hotel, dan restoran. Tentunya juga sekolah,
rumah bordil, dan tempat ibadah. Ia menyayat-nyayat kepalaku.
Ia mengkapling-kapling tanah pusaka nenekmoyangku. “Aku akan mencukur lentik lembut bulu matamu. Dan kalau perlu akan kupangkas daun telingamu.” Suara guntingnya selalu mengganggu tidurku. (1989)
Hutan Karet
in memoriam: Sukabumi
Daun-daun karet berserakan. Berserakan di hamparan waktu. Suara monyet di dahan-dahan. Suara kalong menghalau petang.
Di pucuk-pucuk ilalang belalang berloncatan. Berloncatan di semak-semak rindu.
Dan sebuah jalan melingkar-lingkar. Membelit kenangan terjal.
Sesaat sebelum surya berlalu
masih kudengar suara bedug bertalu-talu. (1990)
Pada Lukisan Monalisa
Di rambutmu burung-burung membuat sarang. Burung-burung yang terbang dari khasanah senja;
yang sudah berapa lama terkurung dalam himpian Hawa. Burung-burung yang memintal benang-benang cahaya dengan kepak lembut sayap-sayapnya yang luka. Burung-burung yang menggurat padang langit hijau dengan cakar-cakar perih dan kicau-kicaunya yang parau. Dan engkau adalah pohon yang dahan-dahannya
menjulur lentur karena adalah kenangan.
Yang akar-akarnya menjuntai ke wilayah malam. Yang ranting-rantingnya lembut karena adalah igauan. Yang daunnya rimbun menghalau kobaran jaman. Yang pucuk-pucuknya menjulang karena adalah jeritan. (1990)
Senandung Becak
Ada becak melenggang sendirian di sebuah gang. Pemiliknya, katanya, telah mati di tiang gantungan. Ada becak hanyut di sungai.
Sungainya keruh, mengalir ke laut yang jauh. Orang-orang berkumpul di atas jembatan, mengira si pemiliknya telah mati tenggelam. Tapi ada yang berbisik kepada saya:
“Akulah yang menghanyutkannya
Ada juga yang berkata:
“Sesampainya di laut, becak itu akan menjelma menjadi sebuah perahu yang harus bertarung sendirian melawan badai, ombak dan malam.” (1990)
Di Kulkas: Namamu Di kulkas masih ada
gumpalan-gumpalan batukmu
mengendap pada kaleng-kaleng susu. Di kulkas masih ada
engahan-engahan nafasmu
meresap dalam anggur-anggur beku. Di kulkas masih ada
sisa-sisa sakitmu
membekas pada daging-daging layu. Di kulkas masih ada
bisikan-bisikan rahasiamu
tersimpan dalam botol-botol waktu. (1991)
Ranjang Kematian
Ranjang kami telah dipenuhi semak-semak berduri. Mereka menyebutnya firdaus yang dicipta kembali oleh keturunan orang-orang mati.
Tapi kami sendiri lebih suka menyebutnya dunia fantasi. Jasad yang kami baringkan beribu tahun telah membatu. Bantal, guling telah menjadi gundukan fosil yang dingin beku. Dan selimut telah melumut. Telah melumut pula
mimpi-mimpi yang dulu kami bayangkan bakal abadi. Para arwah telah menciptakan sendang dan pancuran
Semalaman mereka telanjang, meniup seruling,
hingga terbitlah purnama. Dan manusia terpana, tergoda. (1991)
Perjalanan Pulang
Kadang ingin sangat aku pulang ke rumahmu. Setidaknya kubayangkan suatu senja aku datang ke ambang jendelamu, melongok wajah seseorang yang sedang melukis matahari di telapak tangan. Halte. Aku terdampar di sebuah halte.
Menunggu bus yang sebenarnya telah lama lewat. Mengulur-ulur waktu agar tidak cepat sampai ke arah jantung atau erangan bisu.
Lihatlah, setiap orang memasang halte di tempat persinggahan.
Menunggu dan menanti tak henti-henti.
Mengangankan masih ada bus yang bakal datang membawanya pulang atau mungkin pergi jauh sekali. Demikianlah musafir: kita takut menjadi tua
namun juga tak pernah bisa kembali menjadi bayi, menjadi kanak-kanak
kecuali bila kita ciptakan lagi kelahiran
di saat halte mau membimbing kita ke peristirahatan. Rindu. Aku ini memang selalu rindu untuk pulang tapi saban kali juga tak betah.
Petualang sekaligus pencinta rumah.
Di saat lelap sering kulihat bayangan tubuhmu berjalan terbungkuk-bungkuk dengan gaun putih, menyibak dan menutup kembali kelambu mimpi. Halte. Aku ingat sebuah halte di ujung kota yang entah. Perhentian tempat penantian dikekalkan
dan sekaligus diakhiri.
Alamat kepada siapa kaukirimkan aduhan bernama surat. Rendezvous yang kepadanya kautujukan persediaan waktu. Tak bosan-bosan. Jendela selalu membukakan dirinya untuk dimasuki dan ditinggalkan.
Seakan seseorang selalu siap di atas ampunan, menerima dan melepaskan salam.
Seperti juga telapak tanganmu: selalu terbuka untuk dilayari dan disinggahi.
Mengapa kita takut pada ketakutan? Mengira tak ada yang bisa diabadikan? Tengah malam kita sering terbangun lalu berdiri di depan cermin.
Merapikan rambut yang kusut. Membelai wajah yang membangkai. Memugar mata yang nanar.
Andaipun langit memperpendek batas, tak berarti jangkauan begitu saja lepas. Siapa tahu tatapan malah meluas, memburu sinyal-sinyal baru
yang memberitakan atau menyembunyikan pesanmu. Tergambar jelas di potret lama:
wajah yang dingin dihangati usia. Burung-burung pipit mengurung senja, matahari beringsut pada lingkaran biru. Kemudian malam terlipat di pelupukmu
dan sebuah himne menggema di lintasan alismu. Berapa lama kata-kata berbincang tentang artian? Uban-uban tak mau bicara tentang ketuaan. Almanak tak menyiratkan tanggal dan bulan. Garis-garis tangan tak menuliskan suratan. Dinding-dinding tak membatasi ruang. Berapa lama ucapan tak mau bungkam? Ah padang pasir.
Panasmu ingin menghanguskan perkemahan. Kau pikir para pengungsi mau dilumat kelaparan? Lihatlah, sungai itu tetap saja hijau.
Kematian dienyahkan ke bukit-bukit karang,
kanak-kanak bermain terompet di lubang persembunyian. Katakan pada ibu, si buyung mau lebih lama merantau. Rumah itu mungkin akan selalu menanyakan kepulangan, pintu-pintu minta kiriman kisah petualangan.
Aduh sayang, jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.
Hari itu jam bergerak lambat.
Malam mengingsut seperti siput mengusut kabut. Di jauhan anjing-anjing bertengkar berebut kucing. Kalender menangis melengking-lengking.
Apakah waktu sudah sangat bosan menghuni jam dinding? Aduh sayang, detik-detik berjatuhan ke lantai dingin, diserbu semut-semut hitam untuk pesta persembahan. Lalu kau merapat ke kaca almari:
mengganti baju, menyempurnakan kecantikan. Matamu menyala serupa lilin.
Keningmu berkobar dibantai sinar.
Apakah kau sedang berkemas ke kuburan? Alamak, beri aku sedikit waktu.
Nyawaku tertinggal di rumah sakit.
Baju usang yang kusayang tergantung riang di tali jemuran. Sudah rapuh, sudah kumal, sudah pula penuh jahitan. Seperti kujahit leher yang retak, leher yang koyak dirobek-robek kemiskinan.
Salam bagimu peziarah muda.
Hatimu telah mencatat peristiwa-peristiwa kecil yang dilupakan dunia.
Ke mana nyerimu melangkah, ke sana jantungmu mencari. Lonceng gereja mengepung rindumu di malam buta, membangunkan si sakit dari ranjang beku
di kamar-kamar mati. Salam bagimu pasien abadi. Suatu hari aku ingin mengajak si mayat berburu singa di hutan purba. Melacak jejak sejarah nenek moyang yang melahirkan nama-nama. Merunut silsilah gelap dari mana aku datang ke mana aku pulang.
Senja hampir layu. Burung-burung berarak pulang menuju lingkaran biru. Gaun siapa tertinggal
di bangku taman, dibawa kupu-kupu ke pucuk cemara? Musim bunga tergesa-gesa pergi diburu musim
yang kehilangan cuaca.
Jika benar air mancur itu tak ingin tidur, barangkali bisa kutitipkan kebosanan padanya. Angin dan angan menyurutkan malam,
menyibakkan tirai pagi sebelum surya ungu berayun di ambang pintu:
Halte. Aku terdampar kembali di sebuah halte.
Melupakan bus yang tak akan lewat atau sudah lama lewat. Memilih saat terbaik untuk pulang ke rumah, ke dunia entah. Untuk datang ke ambang jendelamu, melongok wajah seseorang yang sedang melukis matahari di telapak tangan. Seperti pada saat keberangkatan.
(1991)
Penyanyi yang Pulang Dinihari Ia melewati jalan yang sudah bosan menghitung langkahnya.
Rambutnya menyimpan kunang-kunang. Matanya ingin menggapai bintang-bintang. Tak ada yang benar-benar mengenalinya
selain angin yang masih menyebutnya perempuan. Perempuan itu tak mau menangis.
Air matanya sudah hanyut di sungai.
Dan meskipun sungai berulangkali meriuhkan keperihan, arus air tak mau kembali mengulang detak jam.
Malam sekarat di balik gaun transparan dan sisa waktu dilumatkan di ujung lengan. Letupkan penyanyi, letupkan nada terakhir yang belum sempat dihunjamkan.
Siapa tahu dada montok itu masih merindukan jeritan. Tersaruk-saruk ia menyeret bayangan tubuhnya. Gerimis hitam mengguyur wajahnya yang beku sehingga bedak dan lipstik luntur
melumuri gaunnya yang putih. Rambut coklatnya meleleh pekat. Tapi singa luka itu tak mau pedih. Mungkin hatinya merintih.
Maka kunang-kunang menggeremang di rambutnya, bintang-bintang berkerlapan di matanya.
Ia menyanyi dan menari dan pinggulnya yang hijau mengibaskan bayangan hitam orang-orang mati. Tersuruk ia di sebuah tikungan
Tapi singa luka itu menggeram nyalang dan para lelaki dihardiknya pergi.
Hai perempuan, rumah mana bakal kautuju? Awas hati-hati, di ujung jalan banyak polisi. Ah sialan, dasar pemberani, sudah luka masih juga menggoda. Tampaknya ia percaya sebuah rumah setia menanti.
Seperti tamu asing, ia berhenti di depan pintu besi. Plat nomor telah rusak, tak lagi mencantumkan angka. Ia ragu apakah benar itu rumahnya.
Tapi ia masih ingat beha usang yang tergantung di atas pintu, tanda sebuah dunia
atau sepenggal kehidupan masih menunggu. Pintu besi telah mengunci diri,
menutup hati bagi tamu yang ingin singgah. Daripada kaku dibalut embun pagi,
dipanjatnya pagar halaman berduri. Seekor anjing menyalak nyaring
menggonggongi bau keringatnya yang asin. Kembali ia termangu.
Ia ragu membuka pintu. Ia takut pada pintu.
Baru setelah diketuk tujuh kali, pintu hitam membukakan diri. “Bukankah ini rumahmu?
Apakah engkau takut atau lupa samasekali?” “Ya, ini memang rumahku.
Saban kali aku meninggalkannya,
saban kali pula harus mengenalinya kembali.” Ia tertegun. Dadanya mengkerut
disepak dentang lonceng jam tiga pagi. “Ah pintu, engkau lebih mengenal rumahku
ketimbang aku sendiri yang saban waktu merindukannya dan kemudian meninggalkannya.
Barangkali studio-studio suara dan panggung-panggung hiburan
telah membuatku jadi pelupa, jadi serba alpa.” Perlahan ia melangkah ke ambang pintu.
Angin jahat menyingkap ujung gaunnya yang tipis. Kakinya yang lembab melekat di lantai dingin.
Terasa dunia jadi lain, terasa dunia jadi lain. Di dinding hitam sebuah topeng terkekeh-kekeh, menyeringai menertawakan tamu asing
yang bertandang ke rumahnya sendiri.
Apakah ada malaikat yang selalu membawa anak kunci? Kamar sudah menganga sebelum ia buka pintunya. Dan di atas meja rias yang porak poranda
sebuah boneka masih menari-nari.
Astaga, ranjang hitam menggoyang-goyangkan diri. Kelambu telah habis dibakar mimpi.
Sebuah radio tertidur pulas di bantal biru, tak henti-hentinya mengigau dan meracau.
Wah, tampaknya ia tengah bercumbu dengan orang mati yang menciptakan gelombang siaran dinihari.
Ah perempuan, yang merindukan kebangkitan musim semi, kini tubuhmu tegak di hadapan cermin retak.
Bibirmu hangus dan mengelupas. Berdarah.
Berdarah-darahlah leher hijau yang diterkam musim panas. Kau mengaduh. Aduh. Kepada siapa kau mengaduh? Kepada tatapan yang hancur luluh?
Kepada cermin yang tak lagi utuh?
Wah, jidatmu yang legam dilayari kupu-kupu hitam, diarungi cicak-cicak hitam. Serba hitam.
Perempuan itu samasekali tidak gila.
Tidak lupa pada jagad kata yang dihuninya seorang diri tanpa cinta. Tidak sangsi dan benci pada janji-janji baik yang diucapkan para kekasih yang mengurungnya dalam lingkaran ilusi. Ia tidak gila.
Hanya sepi berkepanjangan, barangkali.
Dan ia benar-benar perempuan. Terbukti ia tabah, tidak mudah menyerah pada keinginan murahan untuk mencekik leher, memotong urat nadi. Memang ia mengambil pisau dari laci almari, tapi bukan untuk bunuh diri.
Ia cuma ingin menyembelih bayangan-bayangan hitam yang berbondong-bondong di dinding legam.
Sebuah kamar bisa menjadi salon kecantikan. Di sana ia bersolek, mengganti model rambut, alis dan bulu mata agar setiap orang tergoda untuk pura-pura
tak mengenalnya sehingga ia bisa mendapatkan cinta baru di atas kecantikan lama.
Demikian pula para lelaki
akan mendapatkan kejantanan kembali pada tatapan yang sesilau kerlip api
setelah sekian lama dunia mereka miliki sendiri.
Ah lelaki, wajahmu tersipu malu disambar rayuan baru. Lalu ia menyanyi di depan kaca almari.
Lagu-lagu lama disenandungkan kembali.
Kadang lebih merdu dari yang dinyanyikan di masa lalu, lebih baru dari lagu-lagu terbaru.
Perempuan, kau memang hanya berlomba dengan waktu. Tak usah ditunda lebih lama.
Bibir pedas sudah siap menerima lumatan.
Dan jika dada kenyal itu menggembung mengempiskan hasrat-hasrat terpendam, kamar sempit siap menampung gemuruh topan dan lalu badai kehampaan.
Tapi tak ada saat untuk menangis menggigit-gigit tangan. Penyanyi, jangan meraung memukul-mukul dinding. Ranjang hitam sudah menggeliat minta dekapan. Cermin retak sudah kembali berdandan.
Tanggalkan gaun usang, cobalah menggelinjang. Dentang lonceng jam tiga pagi tergelak-gelak menyaksikan tubuhmu, sakitmu, yang telanjang. (1991)
Anjing
Di depan rumah saya ada sebuah rumah kosong yang dinding sampingnya berbatasan langsung dengan gang. Dinding rumah itu tak pernah sepi dari coretan. Kemarin baru saja dicat putih dalam rangka menyongsong 17 Agustus-an, malamnya sudah belepotan lagi dengan berbagai macam coretan berisi umpatan. Ada coretan puitis berbunyi “asu” yang ditulis besar-besar dengan cat semprot berwarna merah. Itu pasti kelakuan Kasbulah, seorang remaja kampung yang hobinya mencoreti tembok rumah tetangga.
Kasbulah adalah bajingan kecil yang rajin membolos sekolah dan memalak
teman-temannya. Bahkan bapaknya, seorang guru Sekolah Dasar (merangkap tukang ojek) yang tekun dan gigih, sering diperasnya pula. Ia suka meminta uang dengan ancaman tak akan masuk sekolah kalau permintaannya tidak dikabulkan. Pernah permintaannya tidak dipenuhi dan ia marah besar. Diam-diam ia menghunus spidol besar, kemudian menodai saku belakang celana bapaknya dengan tulisan “pelit”.
Saya sedang membaca dengan seksama coretan-coretan nakal di dinding rumah kuno itu ketika seekor anjing cerdas lewat. Melihat tulisan “asu” di tembok bercat putih itu, si anjing mendadak berhenti, kemudian menggonggong lantang tak henti-henti dan gonggongannya membuat orang-orang berhamburan keluar. Anjing itu melotot ke arah saya – mungkin ia mengira sayalah yang membubuhkan kata “asu”. Segera saya tutup pintu, takut ia menyerang saya. Aha, anjing keren itu malah tersenyum manis kepada saya, kemudian melanjutkan perjalanannya entah ke mana.
Hampir tengah malam, Kasbulah baru pulang dari keluyuran. Dengan gaya seorang jagoan ia berjalan gagah sambil bersiul-siul menyusuri gang gelap menuju rumahnya. Dari arah berlawanan muncul seekor anjing besar, tinggi dan hitam. Kasbulah berlagak tenang dan terus melangkah ke depan. Si hitam besar mencoba meruntuhkan mental bajingan kecil itu dengan meletuskan lolongannya dan lolongannya sungguh sangat mengerikan, seperti suara maut dari lembah kegelapan nun jauh di seberang. “Biarkan Kasbulah berlalu, anjing tetap menggonggong,” kata si anjing dalam hati. Belum sampai berpapasan, mental Kasbulah sudah rontok. Sambil gemetar ia segera berlari berbelok arah, mencari jalan lain menuju rumah bapaknya. Dengan girang si hitam besar mengejarnya. Kasbulah berhasil mencapai rumahnya saat lawannya hampir saja menerkamnya. Sebelum Kasbulah menutup pintu rumahnya, si hitam besar berhasil meraih saku belakang celananya dan merobek-robeknya. Ayah Kasbulah sedang duduk manis di depan televisi, menonton siaran pertandingan sepak bola sambil merokok dan minum kopi
Sajak-sajak 1994-1995
Kisah Seorang Nyumin
Demonstrasi telah bubar. Kata-kata telah bubar. Juga gerak, teriak, gegap, gejolak.
Tak ada lagi karnaval.
Bahkan pawai dan gelombang massa telah menggiring diri ke dataran lengang, tempat ilusi-ilusi ringan
masih bisa bertahan dari serbuan beragam ancaman. Siapa masih bicara? Bendera, spanduk, pamflet
telah melucuti diri sebelum dilucuti para pengunjuknya. Tak ada lagi karnaval.
Di pelataran yang mosak-masik yang tinggal hanya koran-koran bekas, berserakan, kedinginan
diinjak-injak sepi.
Tapi di atas mimbar, di pusat arena unjuk rasa Nyumin masih setia bertahan, sendirian. Lima peleton pasukan mengepungnya. “Sebutkan nama partaimu.”
“Saya tak punya partai dan tak butuh partai.” “Lalu apa yang masih ingin kaulakukan?
Mengamuk, mengancam, menggebrak, melawan?” “Diam, itu yang saya inginkan.”
“Lakukan, lakukan dengan tertib dan sopan. Kami akan pulang, mengemasi senjata, mengemasi kata-kata. Pulang ke rumah yang teduh tenang.”
Sayang Nyumin tak bisa diam. Nyumin terus bicara, menghardik, menghentak, meronta, meninju-ninju udara. Dan para demonstran bersorak: “Hidup Nyumin!”
Suasana serasa senyap, sesungguhnya. (1992)
Kisah Senja
Telah sekian lama mengembara, lelaki itu akhirnya pulang ke rumah. Ia membuka pintu, melemparkan ransel, jaket,
dan sepatu. “Aku mau kopi,” katanya
sambil dilepasnya pakaian kotor yang kecut baunya. Isterinya masih asyik di depan cermin, bersolek menghabiskan bedak dan lipstik, menghabiskan sepi dan rindu. “Aku mau piknik sebentar ke kuburan. Tolong jaga rumah ini baik-baik. Kemarin ada pencuri masuk mengambil buku harian dan surat-suratmu.” Tahu senja sudah menunggu, lelaki itu bergegas masuk ke kamar mandi, gebyar-gebyur, bersiul-siul, sendirian. Sedang isterinya berlenggak-lenggok di cermin,
mematut-matut diri, senyum-senyum, sendirian. “Kok belum cantik juga ya?”
Lelaki itu pun berdandan, mencukur jenggot dan kumis, mencukur nyeri dan ngilu, mengenakan busana baru. Lalu merokok, minum kopi, ongkang-ongkang, baca koran. “Aku minggat dulu mencari hidup. Tolong siapkan
ransel, jaket, dan sepatu.” Si isteri belum juga rampung memugar kecantikan di sekitar mata, bibir, dan pipi. Ia masih mojok di depan cermin, di depan halusinasi. (1994)
Bayi di Dalam Kulkas
Bayi di dalam kulkas lebih bisa mendengarkan pasang-surutnya angin, bisu-kelunya malam dan kuncup-layunya bunga-bunga di dalam taman. Dan setiap orang yang mendengar tangisnya mengatakan: “Akulah ibumu. Aku ingin menggigil dan membeku bersamamu.”
“Bayi, nyenyakkah tidurmu?”
“Nyenyak sekali, Ibu. Aku terbang ke langit
ke bintang-bintang ke cakrawala ke detik penciptaan bersama angin dan awan dan hujan dan kenangan.” “Aku ikut. Jemputlah aku, Bayi.
Bayi tersenyum, membuka dunia kecil yang merekah di matanya, ketika Ibu menjamah tubuhnya
yang ranum, seperti menjamah gumpalan jantung dan hati yang dijernihkan untuk dipersembahkan di meja perjamuan. “Biarkan aku tumbuh dan besar di sini, Ibu.
Jangan keluarkan aku ke dunia yang ramai itu.”