• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jalan Tengah ( Middle Way )

Dalam dokumen Buku Riset Kebijakan Agama (Halaman 159-169)

M Adlin Sila

6. Jalan Tengah ( Middle Way )

Bagaimana menemukan solusi jalan tengah antara kebebasan beragama dengan kerukunan? Di Indonesia walaupun ada kebebasan dalam menjalankan agama tetapi bagi warganegara yang melaksanakan ajaran agama tersebut diharapkan untuk tidak berbuat hal-hal yang melanggar norma-norma agama yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia, norma kesusilaan dan perbuatan kriminal. Artinya, pelaksanaan ajaran agama adalah masalah privat dan itu dilindungi oleh UU yaitu pasal 22 ayat 1 dan

2 UU Nomor 39 Tahun 1999. Tapi ketika ajaran agama itu dieskpresikan di ruang publik maka harus menaati peraturan yang mengutamakan ketertiban sosial. Setiap pemeluk agama meyakini bahwa agama yang dianutnya adalah yang paling benar. Keyakinan bahwa agamanya yang paling benar, menimbulkan prasangka (prejudice) bahwa di luar agama yang dipeluknya dianggap sesat.

Bagaimana dengan hubungan intern umat beragama? Walaupun setiap agama memiliki teks atau kitab suci yang sama, penafsiran dan pemahaman terhadap kitab sucinya pun bisa berbeda. Mengapa? Karena masing- masing individu memiliki latar belakang sosial budaya yang berbeda dan memengaruhi konstruksi sosial mereka terhadap segala sesuatu, termasuk dalam penafsiran teks-teks keagamaan. Sikap saling menyesatkan antara satu dengan yang lainnya adalah akibat langsung dari perbedaan tersebut. Keberadaan berbagai kelompok dalam satu agama telah memungkinkan terjadinya konlik intern dan juga antar umat agama. Dalam hal ini, pemerintah harus mengambil sikap apakah negara harus campur tangan dalam menentukan sebuah Majelis Agama yang diberikan otoritas dalam mengeluarkan fatwa tentang kasus-kasus agama tertentu (seperti MUI dalam Islam), atau forum-forum kerukunan (seperti FKUB) jika kaitannya dengan agama yang lain? Atau pertanyaannya bisa diperluas; apakah masyarakat memerlukan fatwa untuk memperoleh kepastian hukum atas masalah agama tertentu? Ataukah negara memberikan otonomi seluas- luasnya kepada masyarakat untuk memilih dan mengikuti tokoh agama atau lembaga agama otoritatif tertentu yang sesuai dengan kepentingannya masing-masing?

Untuk menjawab pertanyaan ini, pemerintah harus mengacu kepada kajian-kajian empiris dan contoh-contoh terbaik (best practices) yang ada

sebelum mengambil sebuah kebijakan (research-based policymaking).

Indeks KUB tahun 2016 telah menyediakan data untuk itu, misalnya, tentang kepercayaan umat beragama terhadap “Tokoh Agama”, sebagian besar atau sebesar 68.65, masyarakat masih percaya pada tokoh agama mereka. Sementara itu, dibalik keberatan beberapa pihak terhadap

keberadaan peraturan pemerintah seperti UU PNPS 1965, SKB Tahun 1979, PBM Tahun 2006 dan peraturan lainnya, indeks KUB menunjukkan bahwa masyarakat yang mengetahui peraturan tersebut cenderung memiliki nilai indeks KUB lebih tinggi (Untuk UU PNPS 1965 sebesar 69.38% dibanding yang tidak tahu 67.51, untuk SKB Tahun 1979 sebesar 70.42 dibanding yang tidak tahu sebesar 67.51, untuk PBM Tahun 2006 sebesar 70.79 dibanding yang tidak tahu sebesar 67.33). Begitupun pengetahuan masyarakat atas keberadaan FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) yang ada di setiap propinsi memiliki nilai indeks KUB lebih tinggi sebesar 71.84, dibandingkan mereka yang tidak tahu, sebesar 66.94.

Dengan titik fokus pada perlindungan dan kebebasan bagi kelompok minoritas keagamaan ini, pemerintah mencoba menawarkan sebuah terobosan baru yang senafas dengan Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil (ICCPR), yang telah diratiikasi oleh pemerintah Indonesia tahun 2005. Dalam Kovenan itu dinyatakan bahwa tidak seorang pun dapat dipaksa sehingga mengurangi kebebasannya untuk menganut atau menetapkan agamanya atau kepercayaannya sesuai dengan pilihannya (Pasal 18 ayat 2). Intinya, pemerintah bertujuan untuk menghilangkan diskriminasi bagi setiap warganegara apapun agama dan keyakinannya. Namun demikian, dalam Pasal 18 ayat 3 ICCPR dinyatakan bahwa dalam mengekspresikan keyakinan agama yang berbeda-beda itu, termasuk hak beribadah, menyebarkan dan mendirikan tempat ibadah, negara dapat membatasinya dengan alasan-alasan tertentu. Seperti yang disampaikan sebelumnya, yaitu untuk menjaga keteraturan sosial.

Intinya, pemerintah mutlak memperhatikan asas bahwa setiap orang memiliki hak, baik sendiri maupun bersama-sama, untuk menentukan pilihan-pilihan mandiri (otonom) sesuai dengan pikiran, sikap, dan hati nuraninya. Asas ini bermakna bahwa kebebasan seseorang dalam wilayah pribadi (forum internum) harus dijamin oleh negara dan dilindungi dari intervensi pihak manapun. Sedangkan ekspresi kebebasan tersebut dalam wilayah publik (forum eksternum) harus dijamin oleh negara dan dilindungi dari intervensi pihak manapun. Namun ini dapat dibatasi oleh negara atas

nama kepentingan keamanan, ketertiban, kesehatan, moral masyarakat, nilai-nilai agama, atau hak-hak dan kebebasan dasar orang lain.

Kemajemukan merupakan realitas alamiah dan sosial bangsa Indonesia. Fakta sosial ini adalah identitas alamiah. Tapi pengaturan kehidupan beragama/ berkeyakinan diperlukan untuk mewujudkan dan menjaga harmoni dan toleransi dalam bingkai keanekaragaman tersebut. Meskipun demikian, model toleransi semacam ini tetap harus memberikan ruang bagi keterlibatan kewargaan (civic engagement) bagi seluruh unsur keanekaragaman tersebut.

7. Kesimpulan

Sebagaimana dinyatakan di awal bahwa tulisan ini diharapkan menjadi pemantik untuk merancang sebuah penelitian lanjutan yang lebih serius tentang pentingnya menjadikan agama sebagai sumber nilai dalam pengelolaan keragaman. Dengan pendekatan antropologi, penulis berpendapat bahwa agama telah menjadi sumber nilai-nilai dominan dan telah menjadi bagian utama dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Struktur dominan ini terbentuk secara sosial (socially constructed). Artinya,

suatu aturan adalah merupakan suatu proses sosial yang terbentuk di masyarakat untuk menyelesaikan perselisihan-perselisihan dan menjamin ketertiban dalam masyarakat. Akibat dari itu maka timbul beraneka macam sistem aturan yang berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya, atau antara satu negara dengan negara lainnya.

Mengapa? Karena tiap masyarakat mempunyai kebutuhan yang berbeda dan setiap negara mempunyai persoalan yang berbeda pula yang timbul dari kebutuhan-kebutuhan sosial di negara itu. Dengan demikian, peraturan atau kebijakan terkait pengaturan kebebasan beragama di Indonesia, misalnya, harus berdasarkan pada kebutuhan-kebutuhan dan realitas sosial yang ada di Indonesia. Sekali lagi, dalam pendekatan antropologi, sebagaimana yang digunakan dalam tulisan ini, peraturan merupakan fakta atau petunjuk yang mencerminkan kehidupan masyarakat. Sumber-sumber hukum berasal dari masyarakat yang mewujud dalam sistem kosmologi,

sistem kepercayaan dan agama, kebiasaan-kebiasaan, perbuatan-perbuatan dan adat istiadat. Dari kenyataan etnograis ini, faktor masyarakat menjadi sangat penting untuk mengetahui efektiitas sebuah hukum.

Gagasan pluralisme agama yang menghargai dan menghormati hak-hak sipil, termasuk hak-hak kelompok minoritas, ketika konsep ini diterapkan di Indonesia, harus disesuaikan dengan konsep negara dan karakteristik masyarakat Indonesia yang menjadikan Sila Pertama Pancasila yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”, sebagai nilai-nilai dominan yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia. Artinya, ketika sebuah ideologi diberlakukan di Indonesia seyogyanya memperhatikan norma- norma dalam masyarakat dan posisi negara Indonesia sebagai negara yang berdasarkan Pancasila.63

Kerukunan umat beragama dapat terwujud manakala kebebasan beragama kelompok masyarakat tertentu berbasis pada penghormatan atas nilai-nilai dominan yang dianut bersama, dan pengutamaan terhadap hak-hak komunal pada masyarakat Indonesia. Dalam istilah Suparlan,64

sikap seperti ini sebanding dengan penghormatan terhadap budaya dominan (dominant culture). Kasus-kasus intoleransi keagamaan yang

terjadi di Sampang, Tolikara, Aceh Singkil dan terakhir di Tanjung Balai, juga menunjukkan adanya sikap pengabaian dari kelompok minoritas (baca: demograis maupun teologis) terhadap nilai-nilai dominan di daerah-daerah tersebut. Interaksi sosial antar kelompok masyarakat seperti antara kelompok minoritas dengan kelompok masyarakat setempat yang mayoritas tidak berjalan sesuai dengan pendekatan Parsudi di atas. Sepintas memang upaya penghormatan terhadap nilai-nilai dominan ini bermakna kelompok minoritas harus mengalah dan tunduk. Tapi sikap seperti ini merupakan hukum pergaulan yang biasa dan dapat ditemukan dimana saja ketika kelompok minoritas cenderung mengalah demi menjaga keharmonisan masyarakat yang ada.

Penulis berpendapat bahwa konsep budaya dominan (dominant

63 Op.Cit., Dr.H. Saleh Partaonan Daulay, 2014. 64 Op.Cit., Parsudi Suparlan, 2006.

culture) semestinya menjadi acuan dalam membangun hubungan antar

kelompok masyarakat di Indonesia, sehingga tercipta hubungan sosial yang harmonis. Konsep ini sudah pernah diterapkan semasa pemerintahan Orde Baru sehingga dapat mengatasi konlik yang melibatkan kelompok masyarakat yang berbeda (baik kelompok mayoritas maupun minoritas, atau masyarakat pendatang maupun asli). Tentunya, penerapan konsep budaya dominan yang sangat kental selama Orde Baru itu perlu diberikan catatan-catatan kritis ketika diterapkan di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini. Salah satunya adalah dengan pelibatan partisipasi masyarakat (public participation) yang lebih luas, sesuatu yang kurang dilakukan selama

pemerintahan Orde Baru. Tujuannya adalah agar masyarakat memiliki kesadaran yang genuine, dan bukan kepura-puraan, dalam menciptakan

kerukunan itu.

Singkat kata, ketika penghormatan terhadap budaya dominan itu diabaikan maka konflik sosial akan sulit untuk dihindarkan. Model pengelolaan keragaman yang di dalamnya adalah pemberian jaminan kebebasan beragama dengan merujuk pada agama sebagai nilai dominan, seperti yang ditawarkan dalam tulisan ini mungkin tidak konvensional. Tapi, merujuk Hefner, di dunia ini tidak ada model tunggal pelaksanaan kebebasan beragama dan pengelolaan keragaman.65 Dan mengelola

kebebasan beragama tidak selalu berdasarkan pada prinsip sekular- liberal. Tapi yang jauh lebih penting adalah, bagaimana menjadikan warga Indonesia tetap beragama dan menghargai keragaman sekaligus. Dapatkah kita menyebut ini sebagai pluralisme religius? Yaitu menghargai keragaman dengan bersandar pada nilai-nilai keagamaan. Jawabannya adalah “iya”. Jika ini disepakati maka pekerjaan selanjutnya adalah bagaimana menghilangkan potret suram dan seram agama yang kerapdipertontonkan oleh aktor-aktor gerakan keagamaan Islam tertentu di jalanan. Penulis kira, itulah tugas pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama untuk mengutamakan kegiatan moderasi gerakan-gerakan keagamaan Islam agar nantinya potret wajah agama yang ramah lebih menonjol dan dominan.*** 65 Op.Cit., Robert W Hefner, 2014.

referensi

Adeney, Bernard. 2009. “Religion, Violence and Diversity: Negotiating the Boundaries of Indonesian Identity”, dalam Carl Sterkens, Muhammad Machasin, and Frans Wijzen, Religion, civil society and conlict in Indonesia.

Zurich, 2009, Lit Verlag, hal. 25.

Adji, Oemar Seno. 1983. Perkembangan Hukum Pidana dan Hukum Acara Pidana Sekarang dan di masa jang akan Datang. Jakarta: Pantjuran Tujuh.

Ali-Fauzi, Ihsan. ‘Agama, Kekerasan, Perdamaian: Dari Riset Kekerasan ke Riset Bina-Damai’, dalam Workshop Peningkatan Budaya Damai di Kalangan Pemuka Lintas Agama, yang diselenggarakan Puslitbang Kehidupan

Keagamaan, Badan Litbang dan DIklat Kementerian Agama, Bogor, 11-13 Agustus 2015.

Atkinson, Jane Monnig. 1987. “Religions in Dialogue: he Construction of an

Indonesian Minority Religion”, dalam Rita Smith Kipp dan Susan Rodgers (eds.), Indonesian Religions in Transition. Tucson: he University of Arizona

Press.

Azra, Azyumardi dan Saiful Umam (ed.). 1998. Menteri-Menteri Agama RI: Biograi Sosial Politik. Jakarta: INIS, PPIM, dan Balitbang Departemen Agama.

Bagir, Zainal Abidin (ed.). Pluralisme Kewargaan: Arah Baru Politik Keragaman di Indonesia. Yogyakarta: Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Sekolah

Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, 2011.

Bagir, Zainal Abidin dkk. 2015. Studi Agama di Indonesia, Releksi Pengalaman.

Yogyakarta: Penerbit CRCS.

Bagir, Zainal Abidin. 2014. ‘Memetakan Masalah dan Advokasi untuk Keragaman Agama’, dalam Zainal Abidin Bagir (ed.)Mengelola Keragaman dan Kebebasan Beragama di Indonesia: Sejarah, Teori dan Advokasi. Program Studi Agama

dan Lintas Budaya. Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS)

Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada.

Bagir, Zainal Abidin. 2013. “Defamation of Religion Law in Post-Reformasi Indonesia: Is Revision Possible?” Australian Journal of Asian Law 13 (2):

1–16).

Bell, Daniel A. dan Yingchuan Mo. Harmony in the World 2013: he China Model: Harmony in the World 2013: he Ideal and the Reality (Appendix 1).

Hasbullah Bakri. 1983. Pendekatan Dunia Islam dan Dunia Kristen. Jakarta: PT.

Bordieu, Pierre. 1993. he Field of Cultural Production: Essays on Art and Literature.

Cambridge: Polity Press.

Bruner, E.M. 1974. “he Expression of Ethnicity in Indonesia”, dalam Abner Cohen (ed.) Urban Ethnicity. London: Tavistock.

Crouch, Melissa. 2013. “Shiting Conceptions of State Regulation of Religion: he Indonesian Drat Law on Inter-Religious Harmony”, 25(2) Global Change, Peace and Security 1-18.

Crouch, Melissa. 2012. “Law and Religion in Indonesia: he Constitutional Court and the Blasphemy Law” 7(1) (May) Asian Journal of Comparative Law 1-46.

Daulay, Saleh Partaonan “Pelindungan Pemerintah Terhadap Pemeluk Agama”, dalam rangka menyambut Hari Amal Bhakti Kementerian Agama RI ke 69, 18 Desember 2014, Kementerian Agama RI, Jl.M.H. hamrin, No. 6, Jakarta. Grim, B.J. and Roger Finke. 2006. “International Religion Indexes: Government Regulation, Government Favoritism and Social Regulation of Religion”.

Interdiciplinary Journal of Research on Religion. 2/1: 2-40.

Hasani, Ismail dan Naipospos, Bonar Tigor (eds.). 2011. Mengatur Kehidupan Beragama; Menja min Kebebasan Beragama? Urgensi Kebutuhan RUU Jaminan Kebebasan Beragama/ Berkeyakinan. Pustaka Masyarakat Setara. Hayat, Bahrul. 2012. Mengelola kemajemukan umat beragama. Jakarta: PT. Saadah

Cipta Mandiri.

Hefner, Robert W. 2014. “Negara Mengelola Keragaman: Kajian mengenai Kebebasan Beragama di Indonesia”, dalam Zainal Abidin Bagir (ed.)

Mengelola Keragaman dan Kebebasan Beragama di Indonesia: Sejarah, Teori dan Advokasi. Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS) Sekolah

Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada.

Hefner, Robert W. 2013. “he Study of Religious Freedom in Indonesia”. he Review of Faith & International Afairs, 11(2), 18-27.

Hurd, Elizabeth Shakman. 2015. Beyond Religious Freedom: he New Global Politics of Religion. Princeton University Press.

Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. 2016. Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB), Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan.

Kemenkopolhukkam & BPS. 2015. Indeks Demokrasi Indonesia 2014: Ketimpangan antara Institusi dan Kultur Demokrasi. Jakarta: Kemenkopolhukkam & BPS.

Tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama.

Kurzman, Charles. 1998. Liberal Islam: A Sourcebook. New York: Oxford University

Press.

Kymlicka, Will dan Baogang He (ed.). 2005. Multicultarlism in Asia. New York:

Oxford University Press.

M. Nuh, Nuhrison (ed.). 2011. Dimensi-DimensiKehidupan Beragama: Studi tentang Paham/Aliran Keagamaan, Dakwah dan Kerukunan. Jakarta:

Kementerian Agama RI, Badan Litbang dan Litbang, Puslitbang Kehidupan

Keagamaan.

Marshal, Paul dan Nina Shea. 2011. Silenced: How Apostasy and Blasphemy Codes are Choking Freedom Worldwide. Oxford University Press.

Menchick, Jeremy. 2016. Islam and Democracy in Indonesia: Tolerance Without Liberalism. Cambridge University Press.

Mukti Ali. 1975. Agama dan Pembangunan di Indonesia VI. Jakarta: Biro Hukum

dan Humas Departemen Agama.

Munawar-Rachman, Budhy (ed.). 2010. Membela Kebebasan Beragama: Percakapan tentang Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme. Jakarta: Lembaga Studi

Agama dan Filsafat [LSAF] dan Yayasan Wakaf Paramadina.

Munawar-Rachman, Budhy (ed.). 2006. Ensiklopedi Noercholish Madjid. Jakarta:

Mizan dan Paramadina.

Munhanif, Ali. 1998. “Prof. Dr. A. Mukti Ali: Modernisasi Politik-Keagamaan Orde Baru,” dalam Azyumardi Azra dan Saiful Umam (eds.), Menteri-Menteri Agama RI: Biograi Sosial-Politik.

Naskah Kademik RUU PUB (Tidak dipublikasikan).

Suparlan, P. 2006. “Kemajemukan, Hipotesis Kebudayaan Dominan dan Kesukubangsaan”, Jurnal Antropologi Indonesia (JAI), 2006.

Suparlan, P. 1999a. Laporan Kerusuhan Ambon. Laporan Terbatas disampaikan

kepada Kapolri.

Suparlan, P. 1999b. Laporan Kerusuhan Sambas. Laporan Terbatas disampaikan

kepada Kapolri.

Suparlan, P. 1972. he Javanese in Bandung: Ethnicity in a Medium Sized Indonesian City. Tesis M.A. University of Illinois.

Tim Peneliti PUSAD Paramadina. 2016. Mengukur Kebebasan Beragama di Jawa Barat 2014: Catatan dari Indeks Demokrasi Indonesia. Jakarta: PUSAD

Paramadina.

Pasal 18 UU 12/2005 Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil (ICCPR) dan Komentar Umur Komite HAM PBB No. 22.

Putnam, Robert D. Putnam. 2000. Bowling Alone: he Collapse and Revival of American Community. New York: Simon & Schuster.

Ropi, Ismatu. 2017. Religion and Regulation in Indonesia. Palgrave Macmillan.

Setara Institute. 2009. Berpihak dan Bertindak Intoleran: Intoleransi Masyarakat dan Restriksi Negara dalam Kebebasan Beragama/ Berkeyakinan di Indonesia.

Jakarta: Setara Institute.

Sofyan, Dicky (ed.). 2016. Religion, Public Policy and Social Transformation in Southeast Asia: managing Religious Diversity Vol. 1. Yogyakarta: ICRS.

Syarifuddin, Amir. Transkrip ceramah pembekalan KKN IAIN Imam Bonjol Padang,

Januari 1991, h.1 24.

Taher, Tarmizi. 2001. “Mewujudkan Kerukunan Sejati Dalam Konteks Masyarakat Majemuk Indonesia Menyonsong Abad ke -21”. Dalam Weinata Sairin (ed.).

Kerukunan Umat Beragama Pilar Utama Kerukunan Berbangsa: Butir-butir Pemikiran. BPK Gunung Mulia.

Tim Peneliti PUSAD Paramadina. Mengukur Kebebasan Beragama di Jawa

Barat 2014: Catatan dari Indeks Demokrasi Indonesia. PUSAD Paramadina

bekerjasama dengan READY dan EIDHR, 2016: pp. 24-15.

Varshney, A. 2012. Ethnic Conflict and Civic Life: Hindus and Muslims in

India, London: Yale University Press.

Koran

Ahmad, Rumadi. ‘RUU Pelindungan Umat Beragama’, Kompas, Desember 2014.

Melissa, Ayu. ‘he threat from the blasphemy law’, he Jakarta Post, 5-12-2014. Website

http://www.thejakartapost.com/news/2014/11/11/ministry-drats-legal-basis- tolerance.html, diakses pada 4-12-2014).

https://www.kemenag.go.id, diakses pada 12 Maret 2017.

“Penganut Kepercayaan Tolak Pilih Agama”, Kamis, 28 Nopember 2013, Tempo. co, https://m.tempo.co/read/news/2013/11/28/058533044/penganut- kepercayaan-tolak-pilih-agama, diakses pada 11 Maret 2017.

159

Indonesia: Menuju Praktik Terbaik

Dalam dokumen Buku Riset Kebijakan Agama (Halaman 159-169)