• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jalur Pelayaran

Dalam dokumen Sejarah Maritim Dunia (Halaman 113-116)

PERDAGANGAN MARITIM DAN TRANSFORMASI BUDAYA

C. Jalur Pelayaran

lkpp

Perdagangan, menurut Robert Gilpin, adalah hubungan ekonomi yang tertua dan terpenting, bahkan dapat dikatakan bahwa perdagangan telah menjadi sejarah dari evolusi hubungan internasional, meskipun pada perkembangan awalnya senantiasa diikuti oleh perang. Perang yang terjadi itu pada dasarnya berkaitan dengan usaha untuk mempertahankan sumber pendapatan dan kesejahteraan penguasan dan elite politik yang berkaitan dengan pajak perdagangan. Dalam hal inilah tampak bahwa perang yang menyertai perdagangan itu lebih umum terjadi dalam rangka pengusaan jalur perdagangan. Keberhasilan dalam penguasaan jalur perdagangan akan memberikan kesempatan yang terbaik bagi peningkatan pendapatan negeri itu.

Dampak dari perang itu juga memungkinkan adanya usaha mengikuti ataupun mencari jalur baru, munculnya kekuasaan baru sehubungan dengan pengaruh keuntungan pelayaran niaga, dan pengenalan sumber-sumber ekonomi baru. Hal ini dapat juga terjadi berkat hubungan niaga yang selama itu terjalin merupakan alih pengetahuan dan teknologi. Hal-hal itu tampak jelas dalam perkembangan pelayaran niaga di kawasan kepulauan Asia Tenggara ini.

Karya yang mengungkapkan pelayaran niaga di kawasan ini umumnya memberitakan jalur pelayaran ke Maluku senantiasa mengikuti jalur selatan: dari Malaka, menyusuri pesisir timur Sumatera, pesisir utara Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, hingga Solor atau Alor kemudian berlayar di Maluku. Dalam pelayaran balik, sejumlah pedagang kembali mengikuti jalur itu ke kota pelabuhan di Jawa atau terus memasuki zona perdagangan Selat Malaka. Selain itu, menurut kajian Hall (1985), pedagang Jawa dalam melakukan pelayaran balik menyusuri jazirah Selatan Sulawesi terus ke utara menyusuri kota pelabuhan di pesisir barat Sulawesi memasuki zona perdagangan Sulu, dan balik menyusuri pesisir timur Kalimantan terus ke zona perdagangan Selat Malaka dan menyusuri pesisir Timur Sumatera kembali ke pelabuhan di pesisir utara Jawa.

Kegiatan pelayaran penduduk Sulawesi Selatan sebelum paruh kedua abad ke-16, seperti yang telah digambarkan secara ringkas dalam pembahasan terdahulu, terbagi dalam dua daerah kegiatan. Pertama adalah pelayaran niaga ke barat; pelaut dan pedagang ini

lkpp

berlayar menyusuri pesisir barat Kalimantan terus memasuki zona perdagangan Laut Cina Selatan, kemudian ke selatan memasuki zona perdagangan Selat Malaka kemudian kembali ke negeri mereka masing-masing. Kedua adalah pelayaran ke kota pelabuhan pesisir Utara Jawa kemudian terus menelusuri jalur selatan ke Maluku dan kembali ke negeri mereka atau kembali menelusuri jalur selatan ke Solor, Bima, dan Sumbawa atau terus ke pelabuhan di Jawa kemudian memanfaatkan angin muson tenggara ke negeri mereka. Terakhir adalah jalur tambahan bagi mereka yang berniaga ke arah barat kembali menelusuri kota pelabuhan pesisir timur Sumatera atau terus ke pelabuhan di Jawa baru kemudian kembali ke negeri mereka. Jika perhatian jalur pelayaran niaga mereka ini tampak bahwa mereka memiliki pengetahuan yang memadai dalam menggunakan perubahan angin darat dan laut serta perubahan angin muson yang bertiup di kawasan ini: muson barat laut, timur laut, tenggara dan utara.

Pengetahuan yang dimiliki itu yang mendasari pedagang Portugis mengikuti mereka dalam pelayaran kapal niaganya. Menurut kajian Stapel, keterangan tentang pelayaran ke Makassar yang diperoleh pedagang Belanda adalah dari pelaut Makassar yang ikut dalam kapal dagang Portugis yang dirampas oleh kapal dagang Belanda. Keikutserataan pelaut Makassar itu membuka juga peluang mereka untuk mengambil alih pengetahuan kemaritiman dari pedagang Eropa. Itulah sebabnya dalam perkembangan kemudian, perahu dagang mereka juga telah berlayar ke Manila (koloni Spanyol di Philipina) dan ke Makao (koloni Portugis di daratan Cina). Bahkan menurut catatan Speelman, kerajaan Makassar memiliki negeri di dua kota dagang itu.

Keterlibatan penduduk Sulawesi Selatan dalam dunia pelayaran niaga itu yang memungkankan kemajuan yang dicapai Makassar, setelah Malaka jatuh diduduki Portugis dan pelabuhan pesisir utara Jawa oleh VOC. Bahkan keuntungan pusat-pusat kegiatan itu membuka peluang bagi ketenaran pelaut dan pedagang daerah ini. Itulah sebabnya ketika VOC ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah, ia harus berjuang keras mengimbangi pelaut dan pedagang Makassar. Stapel menyatakan bahwa pertentangan dan perang yang terjadi antara Makassar dan VOC itu sesungguhnya berakar pada keinginan masing-masing untuk tampil sebagai pihak yang menguasai perdagangan dengan andalan pelaut dan pedagang

lkpp

ulung mereka; masing-masing mereka memiliki kemaunan yang keras dan berpenderitaan “menang atau kalah engkau atau saya” (er op of er onder, jij of ik). Namun pada akhirnya keterlibatan pelaut dan pedagang Sulawesi Selatan dalam dunia niaga di Maluku berhasil dimonopoli oleh VOC setelah perang Makassar.

Pelaut dan pedagang daerah ini, setelah kejatuhan kerajaan Makassar, mengembara mencari daerah niaga yang tidak berada dalam pengawasan VOC. Seperti ke Kalimantan dan dunia Melayu. Berpangkalan pada tempat-tempat itu, mereka menggiatkan terus kegiatan pelayaran niaga mereka dengan mengembangkan pengetahuan kemaritiman mereka yang mereka peroleh dari berbagai kontak niaga dengan pihak lain. Jalur utara melalui pesisir utara Sulawesi yang sebelumnya lebih umum digunakan oleh pedagang Portugis (meskipun menyita waktu lebih lama dalam pelayaran ke Maluku) ditelusuri oleh mereka. Hal itu karena jalur selatan dan utara melalui Buton dalam pengawasan VOC. Kegiatan itu menyebabkan kelompok ini dipandang telah memberikan andil dalam pertukaran niaga antara perdagangan Sulu dan zona perdagangan Selat Malaka, pada abad ke-18 hingga paruh pertama abad ke-19.

Penelusuran daerah produksi baru mulai berkembang ketika terbuka kembali hubungan dagang antara VOC dan Cina. Permintaan akan produksi laut seperti teripang, agar-agar, kerang mutiara, sisik (kulit penyu) dan sebagainya telah membawa mereka hingga ke perairan Australia Utara. Wilayah produksi laut itu seperti Maluku Selatan, Nusa Tenggara, dan perairan Australia Utara, disamping wilayah perairan disekitar Sulawesi dan kepulauan merupakan wilayah kegiatan mereka. Bahkan pada periode paruh kedua abad ke-18 hingga abad ke-19, mereka dipandang menguasai pemasaran produksi laut. Peranan mereka ini menyebabkan Inggris dan Belanda bersaing untuk dapat menjalin hubungan niaga dengan mereka pada satu sisi untuk mendapatkan produksi laut demi meningkatkan hubungan niaga dengan Cina dan pada sisi lain untuk memasarkan produksi industri mereka. Perdagangan dengan Cina ketika itu penting bagi bangsa Eropa dalam kaitannya dengan produksi itu (sutera, porselin, dll), khususnya teh yang mendapat pasaran yang layak di Eropa, dan sekaligus telah daerah pasar bagi produksi industri Eropa.

Dalam dokumen Sejarah Maritim Dunia (Halaman 113-116)