• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Materi Asas Pancasila terhadap UU Nomor 1/Pnps/1965 tentang

BAB III: HASIL KAJIAN ANALISIS DAN REKOMENDASI

3.4. Uji Materi Asas Pancasila terhadap UU Nomor 1/Pnps/1965 tentang

Pasal 1

“Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu”.

Setelah dilakukan pengkajian dan pengujian terhadap Undang-undang Nomor 1 Tahun 1965 Pasal 1, kami menyimpulkan bahwa materi muatannya sesuai dan selaras dengan asas-asas berikut:

1. Pengayoman

Pengkajian dan pengujian terhadap ketentuan Pasal 1 UU PNPS No. 1 Tahun 1965 menyimpulkan bahwa materi pasal tersebut mampu berfungsi memberikan perlindungan dan pengayoman sebagai modal terciptanya ketentraman masyarakat.

Secara normatif, Pasal 1 ini justru memberikan pengayoman bagi masyarakat Indonesia untuk memperoleh ajaran agama yang benar sesuai dengan ajaran pokok dari kitab suci masing-masing agama. Memang pada dasarnya penerapan ajaran agama diperoleh dari kegiatan penafsiran terhadap kitab suci tetapi untuk dapat dinilai sahih (benar atau tidaknya) hasil penafsirsan ini tetap harus merujuk pada kitab suci itu sendiri.

Tidak dapat dipungkiri dalam praktek beragama, banyak dijumpai berbagai macam hasil penafsiran terhadap kitab suci yang berbeda satu dengan lainnya. Akan tetapi harus dipahami dasarnya, bahwa perbedaan itu harus tetap berada dalam konteks ajaran yang benar dan tidak boleh menyimpang dari ajaran yang pokok. Bagi seseorang yang akan memahami suatu suatu teks kitab suci pun tidak boleh sembarangan menggunakan metode penafsiran. Seseorang ini harus benar-benar memahami dasar penafsiran yang benar sesuai dengan

kontekstual kitab suci masing-masing agamanya. Implikasinya, setiap orang dapat melakukan pemahaman terhadap ajaran agamanya dengan tetap mendasarkan diri pada pokok-pokok ajaran yang benar seperti tercantum dalam kitab suci-nya.

Ketentuan pasal ini juga memberikan batasan kepada seseorang untuk menafsirkan ajaran agamanya dan menjalankan peribadatan agamanya.

Artinya, tiap orang tidak diperkenankan melakukan pemahaman menurut sekehendak hatinya melainkan harus merujuk pada ajaran asli dari kitab suci masing-masing agamanya. Contoh kasus Lia Eden yang menawarkan aliran baru dalam lingkup agama Islam bahwa Lia Aminudin mengaku mendapatkan bimbingan gaib tentang Ketuhanan dengan nama salamullah (artinya keselamatan dari Tuhan) dan mengaku sebagai nabi sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Pasal ini secara tidak langsung juga memberikan pengaturan terhadap relasi antar umat beragama yang sangat rentan konflik terkait dengan masalah agama, kepercayaan dan pelaksanaan ibadahnya. Penyebaran sikap permusuhan, kebencian, dan penghinaan terhadap agama lain sangat dilarang meskipun dilakukan dalam rangka pendalaman ajaran agama tertentu jika ditujukan untuk memusuhi, menghina, dan merendahkan agama lain tetap dilarang.

2. Kemanusiaan

Pengkajian dan pengujian terhadap ketentuan Pasal 1 UU PNPS No. 1 Tahun 1965 menyimpulkan bahwa materi pasal tersebut mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak asasi manusia serta hartakat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional.

UU No. 1/PNPS/1965 pada dasarnya memang bertujuan melindungi kehormatan agama. Hal agama dan beragama merupakan hak asasi yang dimiliki manusia. Hak asasi bagi tiap manusia sebagai individu untuk beragama dan beribadah sesuai dengan agamanya tanpa pengekangan. Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, keinsyafan batin dan agama; hal ini meliputi pula kebebasan bertukar agama atau keyakinan, begitu pula kebebasan

menganut agamanya atau keyakinannya, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, dengan jalan mengajarkan, mengamalkan, beribadat, mentaati perintah dan aturan-aturan agama, serta dengan jalan mendidik anak-anak dalam iman dan keyakinan orang tua mereka.

Kebebasan untuk memeluk agama dan kemerdekaan beribadat menurut agama dan kepercayaan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk hak asasi manusia yang pada pelaksanaannya tidak boleh mengganggu hak asasi manusia lainnya. Pelaksanaan hak asasi manusia wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dan wajib tunduk pada pembatasan yang diberikan undang-undang. Berdasarkan ketentuan tersebut negara melakukan pembatasan atas hak asasi manusia untuk beragama dan beribadat menurut agamanya.

3. Kebangsaan

Pengkajian dan pengujian terhadap ketentuan Pasal 1 UU PNPS No. 1 Tahun 1965 menyimpulkan bahwa materi pasal tersebut mampu mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang majemuk dengan tetap menjaga prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Salah satu prasarat terwujudnya masyarakat modern yang demokratis adalah terwujudnya masyarakat yang menghargai kemajemukan bangsa.

Kemajemukan ini diapresiasi sebagai sunnatullah. Masyarakat majemuk ini tentu saja memiliki budaya dan aspirasi yang beraneka, tetapi mereka seharusnya memiliki kedudukan yang sama, tidak ada superioritas antara satu suku, etnis atau kelompok sosial dengan yang lainnya. Mereka juga memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan politik.

Dilihat dari segi etnis, bahasa, agama, dan sebagainya, Indonesia termasuk salah satu negara yang paling majemuk di dunia. Hal ini disadari betul oleh para founding fathers kita, sehingga mereka merumuskan konsep pluralisme ini dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika.” Munculnya Sumpah Pemuda pada tahun 1928 merupakan suatu kesadaran akan perlunya mewujudkan pluralisme ini yang sekaligus dimaksudkan untuk membina persatuan dalam menghadapi penjajah Belanda, yang kemudian dikenal sebagai cikal-bakal munculnya wawasan kebangsaan Indonesia yang

melahirkan sebuah masyarakat majemuk yang terbuka, multikultural dan demokratis

Ada berbagai opsi dalam masyarakat mengenai kemajemukan keagamaan: Pertama adalah sikap menerima kehadiran orang lain atas dasar konsep hidup berdampingan secara damai, yang diperlukan adalah sikap tidak saling mengganggu. Kedua adalah mengembangkan kerjasama sosial-keagamaan melalui berbagai kegiatan yang secara simbolik memperlihatkan dan fungsional mendorong proses pengembangan kehidupan beragama yang rukun. Ketiga adalah mencari dan mengembangkan dan merumuskan titik-titik temu agama-agama untuk menjawab problem, tantangan dan keprihatinan umat manusia. Opsi pertama adalah sekedar tahap awal dan kondisi minimal untuk membangun kebersamaan masyarakat. Opsi kedua merupakan perwujudan nyata dari kebersamaan, dan opsi ketiga merupakan landasan “teologis” bagi masing-masing umat untuk membangun sebuah masyarakat dimana semua orang dapat hidup bersama dalam semangat persamaan dan kesatuan umat manusia. Ketiga opsi itu merupakan asas kebangsaan dalam pasal ini.

4. Kenusantaraan

Pengkajian dan pengujian terhadap ketentuan Pasal 1 UU PNPS No. 1 Tahun 1965 menyimpulkan bahwa materi pasal tersebut mampu memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan peraturan perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Asas kenusantaraan berarti peraturan perundang-undangan harus mencerminkan kepentingan, dan mendengarkan pendapat dari seluruh wilayah Indonesia. Peraturan perundang-undangan tidak boleh hanya mementingkan satu wilayah saja. Jika demikian setiap peraturan perundang-undangan proses penyusunannya harus melibatkan seluruh elemen daerah melalui lembaga DPR atau utusan daerah (sekarang Dewan Perwakilan Daerah) termasuk UU PNPS No. 1 Tahun 1965. Dalam proses perumusannya, undang-undang ini

melibatkan semua stakeholder termasuk utusan atau perwakilan daerah. Jadi aturan ini telah merupakan kesepakatan bangsa Indonesia.

5. Bhineka Tunggal Ika

Pengkajian dan pengujian terhadap ketentuan Pasal 1 UU PNPS No. 1 Tahun 1965 menyimpulkan bahwa materi pasal tersebut mampu memperhatikan keragaman penduduk, agama, suku dan golongan, kondisi khusus daerah serta budaya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Indonesia memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika yaitu “berbeda-beda tetapi tetap satu”, yang berarti bahwa meskipun berbeda agama, suku, ras dan golongan namun merupakan satu kesatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdasar prinsip Bhineka Tunggal Ika tersebut, maka siapapun orangnya, tanpa melihat agama, suka, budaya, status sosial dan lain-lain, yang melakukan pelanggaran terhadap aturan ini maka harus ditindak tanpa pandang bulu. Demikian juga organisasi dan aliran apapun yang sengaja melanggar aturan ini juga harus ditindak sesuai aturan yang berlaku. Dalam penegakan hukum, pemerintah dengan segala perangkatnya diberi kewenangan untuk bertindak demi terciptanya kemaslahatan bagi semua warga negara.

6. Keadilan

Pengkajian dan pengujian terhadap ketentuan Pasal 1 UU PNPS No. 1 Tahun 1965 menyimpulkan bahwa materi pasal tersebut mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara.

Salah satu tujuan dari hukum adalah keadilan. Prinsip-prinsip keadilan menjadi tolok ukur apa yang baik dan benar dalam masyarakat, dan prinsip tersebut mengikat baik kepada masyarakat maupun penguasa. Dalam konteks negara, penguasa akan baik dan benar jika berdasarkan prinsip tersebut, dimana pemerintah harus mencintai masyarakat dengan salah satunya tidak membuat kebijakan yang menyakiti atau membuat masyarakat lebih menderita. Prinsip keadilan selanjutnya, ketika setiap orang mempunyai hak yang sama atas kebebasan dasar yang paling luas, seluas kebebasan yang sama bagi semua orang. Asas keadilan secara substantif telah mewarnai ketentuan pasal ini yang

tidak mengandung unsur diskriminasi dalam bentuk apapun.

7. Kesamaan Kedudukan dalam Hukum dan Pemerintahan

Pengkajian dan pengujian terhadap ketentuan Pasal 1 UU PNPS No. 1 Tahun 1965 menyimpulkan bahwa materi pasal tersebut tidak memuat hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang, antara lain, agama, suku, ras, golongan, gender, atau status sosial.

Konstitusi yang demokratis tidaklah menghalangi ekspresi dari sebuah pemahaman keagamaan. Oleh karena itu, konstitusi tersebut harus dapat diterima oleh setiap kelompok keagamaan, tanpa ada diskriminai dalam bentuk apapun. Jika dalam sebuah konstitusi tidak mengandung prinsip kebebasan dan kesetaraan bagi semua warga, maka konstitusi itu belumlah dinamakan sebagai democratic constitution. Konstitusi adalah wilayah publik, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa keagamaan yang universal, dan setiap warga negara dapat menempatkan ranah keagamaan secara universal, bukan partikular.

Konstitusionalisme dan hak asasi manusia adalah alat yang penting untuk melindungi status dan hak warga negara, tetapi fungsi tersebut dapat efektif justru karena peran warga negara sendiri. Karena itulah, proses klarifikasi terhadap dasar dan implikasi konsep kewarganegaraan menjadi penting.

Konsep-konsep tersebut dan institusi yang menyertainya tergantung satu sama lain dan harus saling berinteraksi jika ingin merealisasikan tujuannya masing-masing. Dengan kata lain, adalah penting untuk terus menjaga netralitas negara terhadap agama secara tepat karena manusia cenderung mengikuti pandangan pribadinya, termasuk agama. Tujuan pemisahan ini tidak bisa dicapai melalui usaha menempatkan agama dalam ruang privat, karena usaha seperti ini tidak penting

Bangsa Indonesia perlu mendorong tumbuhnya demokrasi yang sehat dimana kebebasan berpendapat, berekspresi benar-benar dijamin dan tidak ada diskriminasi berdasarkan agama, etnis maupun golongan, bukan semata-mata demokrasi prosedural. Karena demokrasi bila dipahami hanya sekedar prosedur maka bisa melahirkan apa yang disebut diktator mayoritas dan tirani

minoritas. Demokrasi memang tidak serta merta membawa keadilan dan kesejahteraan, tetapi sebagai bentuk pemerintahan, demokrasi memang lebih baik ketimbang yang lain.

8. Ketertiban dan Kepastian Hukum

Pengkajian dan pengujian terhadap ketentuan Pasal 1 UU PNPS No. 1 Tahun 1965 menyimpulkan bahwa materi pasal tersebut mampu mewujudkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan kepastian hukum.

Ketertiban dan kepastian hukum secara normatif adalah ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara nyata dan berisi ketentuan yang jelas dan logis. Jelas dalam artian tidak menimbulkan keragu-raguan (multi-tafsir) dan logis dalam artian ia menjadi suatu rangkaian di dalam sistem norma hukum sehingga tidak berbenturan dengan peraturan lain dan menimbulkan konflik norma. Konflik norma yang ditimbulkan dari ketidakpastian suatu peraturan perundang-undangan hadir dalam bentuk kontestasi norma, reduksi norma atau distorsi norma.

Ketertiban dan kepastian hukum merupakan keadaan dimana perilaku manusia, baik individu, kelompok, maupun organisasi, terikat dan sejalan dengan apa yang sudah digariskan oleh aturan hukum. Secara etis, padangan seperti ini lahir dari kekhawatiran bahwa manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Oleh karena itu, untuk menciptakan ketertiban diperlukan hukum yang bisa mengendalikan keberingasan manusia itu.

Diyakini bahwa ketentuan Pasal 1 ini telah mampu menjamin ketertiban dan sekaligus kepastian hukum. Dengan adanya aturan tersebut orang tidak akan sembarangan menafsirkan ajaran agama dan melakukan kegiatan atau perbuatan yang menaodai agama, baik agamanya sendiri maupun agama orang lain. Aturan ini sekaligus menjadi sandaran hukum bagi kehidupan beragama di Indonesia

9. Keseimbangan, Keseraaian, dan Keselarasan

Pengkajian dan pengujian terhadap ketentuan Pasal 1 UU PNPS No. 1 Tahun 1965 menyimpulkan bahwa materi pasal tersebut mampu mampu mencerminkan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan, antara kepentingan

individu, masyarakat dari kepentingan bangsa dan negara.

Agama merupakan hal yang paling asasi pada setiap orang. Oleh karena itu setiap individu, masyarakat dan negara sangat berkepentingan terhadap keberadaan suatu agama. Jika terjadi ketidakseimbagan terhadap agama, maka akan berakibat kekacauan. Kepentingan individu, masyarakat dan negara merupakan kepentingan-kepentingan yang mesti harus terpenuhi. Larangan untuk melakukan penafsiran terhadap ajaran agama secara tidak benar dan larangan melakukan tindakan apapun yang melecehkan agama adalah dalam rangka menciptakan keseimbangan dan keselarasan antara tiga kepentingan di atas.

Pasal 2

(1) Barang siapa melanggar ketentuan tersebut dalam pasal 1 diberi perintah dan peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya itu di dalam suatu keputusan bersama Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.

(2) Apabila pelanggaran tersebut dalam ayat (1) dilakukan oleh Organisasi atau sesuatu aliran kepercayaan, maka Presiden Republik Indonesia dapat membubarkan Organisasi itu dan menyatakan Organisasi atau aliran tersebut sebagai Organisasi/ aliran terlarang, satu dan lain setelah Presiden mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri.

1. Pengayoman

Pengkajian dan pengujian terhadap ketentuan Pasal 2 UU PNPS No. 1 Tahun 1965 menyimpulkan bahwa materi pasal tersebut mampu berfungsi memberikan perlindungan dan pengayoman sebagai modal terciptanya ketentraman masyarakat.

Konstitusi mengakui dan sekaligus memberikan jaminan atas eksistensi agama. Perlindungan terhadap ajaran agama dan merupakan refleksi bahwa Indonesia merupakan “nation state‟ yang “religious”. Semua agama yang diakui secara sah merupakan kepentingan hukum yang harus dilindungi oleh Negara.

Agama dan negara memiliki relasi yang erat dalam kehidupan bernegara di Indonesia. Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga menyatakan kemerdekaan

Indonesia adalah "atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa". Frasa tersebut adalah salah satu representasi pengakuan Negara terhadap eksistensi agama.

Indonesia sesuai dengan ideologi Pancasila tidak menganut paradigma sekularistik maupun integralistik, namun menganut paradigma simbiotik.

Paradigma simbiotik memandang agama dan Negara berhubungan secara simbiotik, yakni berlakunya hubungan timbal-balik dan saling memerlukan.

Karenanya, konstitusi maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku, dalam paradigma simbiotik tidak saja berasal dari adanya “social contract”, tetapi bisa saja diwarnai oleh hukum agama.

Dengan demikian, kebijakan-kebijakan politik memberikan tempat dan peranan yang terhormat kepada agama. Suatu keharusan jika kepentingan agama merupakan suatu hal yang penting untuk dilindungi oleh Negara.

Keberlakuan UU Nomor 1/PNPS/1965 memiliki landasan yuridis yang kokoh.

Pembentukannya didasarkan atas kaidah yang lebih tinggi tingkatannya. Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 menyebutkan “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Jika Pasal 28E merupakan hak setiap warga Negara, maka Pasal 29 ayat (2) merupakan kewajiban Negara untuk memberikan jaminan terhadap ketentuan Pasal 28E dimaksud. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang tetap melekat pembatasan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Atas dasar norma hukum konstitusi yang mengatur mengenai agama, merupakan mandat yang harus dilakukan oleh penyelenggara Negara, semisal menteri agama, jaksa agung dan menteri dalam negeri, untuk membuat norma hukum yang berisi jaminan bagi setiap orang untuk memperoleh pelindungan hukum terhadap agamanya. Diakui bahwa Negara tidak boleh mencampuri urusan doktrin agama, akan tetapi Negara justru harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjamin kebebasan dan kerukunan beragama.

Bahkan negara juga dapat melakukan pembatasan-pembatasan yang tidak dengan sendirinya berarti mendiskriminasi melainkan untuk menjamin hak-hak orang lain. Pembatasan pernyataan pikiran dan sikap sesuai hati nuraninya

di depan umum merupakan pembatasan hak-hak dasar seseorang didasarkan pada doktrin “due process of law", dan ini merupakan inti dari suatu negara hukum atau negara yang berdasarkan kepada "rule of law".

Menjadi suatu keharusan jika kepentingan agama merupakan suatu hal yang penting untuk dilindungi. Pengaturan kriminalisasi terhadap perbuatan yang menyerang kemurnian dan kemuliaan ajaran agama telah mendapatkan landasan filosofis, yuridis, sosiologis dan juga teoretis. Keberlakuan hukum pidana dalam upaya memberikan perlindungan terhadap agama sangat terkait dengan kepentingan publik dalam rangka mewujudkan ketertiban umum.

Penyalanggunan dan/atau penodaan terhadap agama dapat melahirkan konflik horizontal sehingga dan oleh karenanya memerlukan penegakan hukum.

Negara melalui perangkat-perangkat hukumnya diberi kewenangan untuk mengambil kebijakan apapun demi untuk mewujudkan kemaslahatan bagi rakyatnya. Kewenangan Negara ini semata-mata untuk mewujudkan keamanan, ketentraman dan kenyaman umat beragama dalam melaksanakan ajaran agamanya. Jika tidak demikian, maka akan muncul tirani mayoritas terhadap minoritas. Karena itu, penegakan hukum terhadap berbagai tindakan penyimpangan dan/atau penodaan agama harus dilakukan secara imparsial dengan mengacu kepada askiologi “kepastian hukum yang adil"

2. Kemanusiaan

Pengkajian dan pengujian terhadap ketentuan Pasal 2 UU PNPS No. 1 Tahun 1965 menyimpulkan bahwa materi pasal tersebut mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak asasi manusia serta hartakat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional.

Konsep negara hukum menempatkan ide perlindungan hak asasi manusia sebagai salah satu elemen penting. Dengan mempertimbangkan urgensinya perlindungan hak asasi manusia tersebut, maka setiap konstitusi harus memuat pengaturan hak asasi manusia agar ada jaminan negara terhadap hak-hak warga negara.

Jaminan perlindungan dan pemenuhan hak warga negara tersebut perlu didukung oleh kebijakan pemerintah dalam mengimplementasikan

norma-norma dasar dalam UUD 1945. Selain kewajiban dan tugas pemerintah, sebagai negara hukum yang demokratis, warga negara Indonesia harus diberikan ruang yang luas untuk berpartisipasi guna mempertahankan dan pemenuhan hak-hanya

Dalam kaitannya dengan penyusunan suatu konstitusi, segenap elemen negara hukum yang demokratis tersebut harus dijabarkan di dalam konstitusi.

Penempatan konstitusi sebagai sumber hukum tertinggi dalam suatu negara merupakan penjelmaan semangat demokrasi. Konstitusi kemudian diartikan sebagai benteng demokrasi. Bertitik tolak dari konstruksi berfikir demikian, maka para pemikir hukum mengaitkan ajaran demokrasi dalam kontelasi semangat hukum, atau sering diucapkan dalam satu istilah konsep negara hukum yang demokratis.

3. Kebangsaan

Pengkajian dan pengujian terhadap ketentuan Pasal 2 UU PNPS No. 1 Tahun 1965 menyimpulkan bahwa materi pasal tersebut mampu mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang majemuk dengan tetap menjaga prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Asas kebangsaan adalah serangkaian prinsip dasar yang diterapkan atau diberlakukan oleh negara kepada tiap-tiap warga negaranya. Asas ini didasarkan pada kekuasaan negara atas warga negaranya. Setiap warga negara dimanapun ia berada, tetap mendapatkan perlakuan hukum yang sama dari negaranya. Asas kebangsaan disebut juga asas nasionalitas yaitu asas yang menempatkan kepentingan dan keperluan sepenuhnya untuk negara. Asas ini mengandung suatu muatan yang mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang plural (kebhinnekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara.

Negara Indonesia adalah negara yang plural sehingga dibuat peraturan yang didasarkan atas asas pluralisme dan kebangsaan.

Bangsa merupakan solidaritas jiwa, asa, spiritual serta solidartas yang mampu tercipta akibat perasaan pengorbanan yang telah lampau dan bersedia dibuat untuk masa yang akan datang. Secara garis besar bangsa merupakan suatu kesatuan dari macam solidaritas yang terbentuk dari persaman bahasa,

ras, agama, peradaban, wilayah, negara, serta kewarganegaraan yang saling merekatkan satu dengan yang lainnya tanpa adanya batas geografis. Sementara itu, kebangsaan juga merupakan status pribadi yang perolehan serta pelepasannya diatur oleh hukum nasional dan hukum internasional. Peraturan atau tatanan hukum nasional berdampak pada setiap warga negara untuk mendapatkan hak dan kewajiban yang sama di manapun ia berada.

Adapun prinsip pada asas kebangsaan yang ada di dalam setiap negara, antara lain adalah prinsip keterbukaan, namun harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Sehingga, setiap warga negara yang ingin menetap di negara lain harus bisa menjadi warga negara yang sebelumnya. Tujuannya adalah untuk bisa menjaga dan memberikan hukum yang dipergunakan.

Negara menerapkan hukum nasional bagi setiap warga negara di manapun berada. Tujuannya adalah untuk kepentingan negara tersebut. Negara memberikan hak kepada setiap warga negara, namun juga membebankan kewajiban terhadap negara. Pada dasarnya, penerapan asas kebangsaan sesuai dengan ideologi negara. Hak dan kewajiban yang dibebebankan kepada warga negaranya diberikan sesuai dengan prinsip keadilan di manapun mereka berada.

4. Keadilan

Pengkajian dan pengujian terhadap ketentuan Pasal 2 UU PNPS No. 1 Tahun 1965 menyimpulkan bahwa materi pasal tersebut mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara.

Pengkajian dan pengujian terhadap ketentuan Pasal 2 UU PNPS No. 1 Tahun 1965 menyimpulkan bahwa materi pasal tersebut mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara.