• Tidak ada hasil yang ditemukan

jangan dihaPUs”

Dalam dokumen OKTOBER Majalah Digital ORARI (Halaman 52-57)

B. Implikasi Pasal 53 Permenkominfo No.17 Tahun 2018 :

Menurut Sugeng Supriyatna, YBØSGF Pj Ketua Umum ORARI Pusat, Oleh karena itu apa yang tertera dalam pasal 53 Permenkominfo 17/2018 adalah hal yang tidak dapat di rubah dan harus dipertahankan, sebab keberadaannya juga berimplikasi pada penerapan KODE ETIK AMATIR RADIO telah tercantum butir kalimat yang menyatakan bahwa AMATIR RADIO ADALAH SETIA , IA MENDAPAT IJIN DARI PEMERINTAH KARENA ORGANISASINYA , IA AKAN SETIA DAN PATUH KEPADA

NEGARA DAN ORGANISASINYA , Etika ini dibacakan oleh semua anggota dalam setiap awal kegiatan-kegiatan resmi ORARI dan mempunyai makna yang makna yang sangat dalam harus dipenuhi dan dilaksanakan oleh setiap amatir radio , ditetapkan oleh ORARI dan didjalankan oleh seluruh anggotanya tampa terkecuali.

Lebih lanjut Sugeng Supriyatna, YBØSGF Pj Ketua Umum ORARI Pusat , selain itu, seandainya Pasal 53 Permenkominfo No.17 Tahun 2018 di rubah maka akan berdampak pada timbulnya masalah konflik di kalangan amatir radio, karena akan memunculkan banyak amatir radio yang liar, dan tidak memahami tata laksana penggunaan frekwensi sehingga terjadilah kekacauan yang tidak terkendali dalam berkomunikasi menggunakan radio pemancar, padahal Frekuensi adalah sumber daya alam terbatas, maka harus dikelola dengan baik oleh satu wadah organisasi yang sudah mendapatkan pengakuan bukan hanya dari masyarakat Indonesia saja, melainkan juga masyarakat International.

Hal senada juga disampaikan oleh Wahyudi Hasbi YD1PRY Chairman of Direktors IARU Region 3, menanggapi mengenai masalah Pasal 53 Permenkominfo No.17 Tahun 2018, menurutnya keberadaan ketentuan tersebut, juga dapat berdampak pada kiprah ORARI di masyarakat International, bahwa dengan adanya ketentuan tersebut, menunjukkan bahwa Pemerintah Republik Indonesia sangat serius melakukan pembinaan terhadap para amatir radio, dengan memberikan kepastian hukum terhadap keberadaan amatir radio yang terorganisir, terkoordinasi dan terstruktur hingga memiliki basis sampai daerah dalam satu organisasi, bernama ORARI yang telah menjadi bagian dari International Amateur Radio Union (IARU) merupakan Organisasi Amatir Radio Dunia. Ketentuan yang mengatur kegiatan Amatir Radio diatur pula dalam Radio Regulation yang dikeluarkan oleh International Telecommunication Union (ITU). Selain itu, Secara internasional, tidak terbayangkan jika ada lebih dari 1 organisasi mewakili negara dalam organisasi amatir dunia.

“Di dalam IARU, biasanya 1 negara hanya diwakili 1 organisasi amatir. Kalau lebih dari 1 maka akan ada kebingungan organisasi mana yang seharusnya mewakili Indonesia di dalam organisasi amatir internasional seperti IARU. Juga hal ini terkait dengan penyelarasan alokasi frekuensi amatir dunia dalam alokasi frekuensi amatir nasional,”ucap Chairman of Direktors IARU Region 3.

Lebih lanjut Wahyudi Hasbi YD1PRY Chairman of Direktors IARU Region 3 mengatakan bahwa mengenai keanggotaan organisasi amatir di IARU telah di atur

a. The membership of the IARU shall consist of its Member-Societies.

b. There shall be only one Member-Society representing a country or separate territory._

c. The Constitution and Bylaws of the IARU, and proposals adopted by vote of the Member-Societies in accordance with Article VI of this Constitution, shall be binding upon Member-Societies. Member-Societies shall also adhere to the Constitution, Bylaws and Rules of their regional organizations.

“Jadi bisa terbayang kalau ada lebih dari 1 member society amatir di Indonesia, pertanyaan kemudian organisasi amatir Indonesia mana yang mewakili Indonesia di forum IARU? Ini dapat menimbulkan masalah tersendiri, dan hal tersebut juga sangat terkait dengan persoalan sinkronisasi regulasi frekuensi amatir dunia dgn frekuensi amatir lokal kita. Saat ini memang lebih banyak melakukan sinkronisasi frekuensi amatir lewat Fora. Jadi kita memang hanya butuh 1 organisasi amatir yang mewakili Indonesia dalam organisasi amatir dunia, sehingga sinkronisasi bisa berjalan baik,”

tukas Chairman of Direktors IARU Region 3

C. Pendapat dari ORDA :

Sementara itu, keberadaan Pasal 53 Permenkominfo No.17 Tahun 2018, rupanya juga mendapatkan respon dari kalangan ORDA, berkaitan dengan respon tersebut, eMag ORARI menyajikan pendapat beberapa ORDA sebagai berikut :

1. Pendapat dari DR. Drs. Yanuarius Resubun, MS.P YB9YZ Ketua ORDA Provinsi Papua : Sebagai salah satu anggota yg sdh cukup lama berkecimpung di dunia organisasi Orari kami sangat setuju pasal 53 tsb harus dipertahankan - jangan sampai dihilangkan karrna menyangkut eksistensi dan keberlanjutan ORARI. Kami tidak dapat membayangkan bagaimana semerawutnya frekwensi bilamana banyak bermunculan organisasi amatir radio dengan kualitas dan tingkat kesadaran pengguna frekqensi yang masih rendah. Dengan hanya satu organisasi amatir radio seperti sekarang tentu lebih mudah dilakukan monitoring dan pembinaan terhadap anggota walau harus diakui sampai saat inipun masih ada sebagian anggota ORARI yang bertindak tidak sesuai dengan kode etik amatir radio bahkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ORARI, saya juga berharap ORPUS membuat juklak dan juknis, bukan hanya tentang penjabaran pasal 53 Permenkominfo no.17 Tahun 2018 tetapi juga tentang penjabaran program kerja serta hal-hal yang berkaitan dengan tata kelola organisasi ORARI.

2. Pendapat dari Febrin Ida Pello -YB9MFP Ketua ORDA Provinsi Nusa Tenggara Timur : mengenai keberadaan Pasal 53 Pemenkominfo no.17 Tahun 2019, bahwa Setiap Amatir Radio Indonesia wajib menjadi anggota ORARI, paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja setelah IAR diterbitkan, menurut kami, pasal tersebut sudah sesuai, pasal yang menguatkan berdirinya/adanya Organisasi , tidak boleh ada tawar-menawar lagi, harus dipertahankan.

3. Pendapat dari Idham Helingo YE8RB Ketua ORDA Provinsi Gorontalo :

Mengenai Pasal 53 Permenkominfo No. 17 Tahun 2018, harus dipertahankan, jangan diubah, karena itu merupakan ketentuan yang mengatur dan mencegah terjadinya amatir radio liar.

4. Pendapat dari Ida Bagus Gde Arnawa YC9FAO Ketua ORDA Provinsi Bali : menurut kami, bahwa Pasal 53 Permenkominfo no.17 Tahun 2018, seharusnya tetap dipertahankan karena pemilik IAR harus dan wajib sebagai Anggota Amatir Radio (ORARI), memang ada isu bahwa agar pasal 53 dihapus karena ada keinginan agar mereka bisa bebas boleh masuk anggota ORARI ataupun tidak, apabila pemilik IAR tidak masuk sebagai anggota ORARI, bagaimana bisa pemerintah akan mengawasi mereka tersebut di dalam melakukan komunikasi dan jelas mereka tidak bernaung dalam wadah Organisasi, bagaimana kita organisasi akan melakukan pembinaan dan pengawasannya? Untuk itulah maka kami harapkan supaya pasal 53 tersebut tetap dipertahankan demi kelangsungan Organisasi.

5. Pendapat dari Anton Sutrisno YB2UFO Ketua ORDA Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta : menurut kami, persoalan keberadaan Pasal 53 Permenkominfo No.17 Tahun 2018, harus dipertahankan keberadaannya, jadi tidak ada alasan untuk merubahnya atau menghilangkannya, karena kalau ketentuan tersebut dihilangkan, maka pemerintah akan mengalami kesulitan membina amatir radio, dan yang harus diingat ketentuan tersebut tidak lepas dari jejak kesejarahan bersatunya para amatir radio di Indonesia ini, dalam satu wadah organisasi yaitu ORARI, “Jas Merah =Jangan sekali kali melupakan Sejarah”

6. Pendapat dari Sahat L. Tobing YB8XT Ketua ORDA Maluku : keberadaan Pasal 53 Permenkominfo no.17 Tahun 2018, kami sangat setuju agar pasal tersebut jangan diubah, dan bahkan jangan di harpus.

D. Kesimpulan :

Bahwa dari uraian yang telah di kemukakan mengenai keberadaan Pasal 53 Permenkominfo no.17 Tahun 2018, jelas nampak sekali keberadaan ketentuan tersebut sangat strategis untuk kepentingan efektifitas maupun kemudahan keberlangsungan tata laksana berkomunikasi antar amatir radio beserta

pembinaannya, monitoring maupun pengawasannya, sehingga dapat mencegah kekacauan berkomunikasi, namun demikian diperoleh informasi dari berbagai

sumber, menyebutkan adanya sinyalemen munculnya Gerakan yang ingin menghapus ketentuan tersebut dengan alasan agar ada kebebasan untuk melakukan komunikasi melalui pesawat radio pemancar tanpa terikat pada suatu organisasi atau pada satu organisasi.

Menanggapi hal tersebut, Sugeng Supriyatna, YBØSGF Pj Ketua Umum ORARI Pusat mengatakan bahwa gerakan tersebut merupakan Gerakan salah paham yang di indikasikan tidak menghayati atau tidak mengetahui sama sekali apa tujuan dan

Sekedar sebagai pengetahuan bahwa ORARI berdiri berdasarkan PP 21 tahun 1967 juncto PP 20 tahun 1980 , berinduk kepada International Amateur Radio Union [ IARU]

yang menjadi anggota International Telecomunication Union [ ITU] , dimana Indonesia menjadi salah satu anggotanya , oleh karenanya ORARI harus ikut kepada aturan main IARU dan disesuaikan dengan ketentuan ITU dengan International Telecomunication Convention [ ITC] nya , dimana pemerintah Indonesia ikut mendatangani serta telah diratifikasi dengan UU nomor 11 tahun 1985.

“Ya, kami sangat menghormati pendapat mereka, namun mereka pun harus memahami fakta sejarah lahirnya ORARI, kemudian harus juga mempertimbangkan dampaknya jika Pasal 53 Permenkominfo No.17 Tahun 2018 tersebut dihapus, yang dampaknya dapat mempengaruhi bukan hanya eksistensi dan aktivitas amatir radio dalam negeri saja melainkan juga amatir radio di kalangan masyarakat International,

‘Intinya untuk mendisiplinkan Amatir Radio, Pasal 53 Permenkominfo no.17/2018, jangan dihapus.’ pungkas Sugeng Supriyatna, YBØSGF Pj Ketua Umum ORARI Pusat.

Redaksi eMag-ORARI

daerah

JAYAPURA - Ada rasa bangga yang muncul di kalangan amatir radio wilayah Provinsi PAPUA, ketika mereka mendapatkan kepercayaan untuk turut menyukseskan pelaksanaan Pekan Olah Raga Nasional ke- 20 di Provinsi Papua. Rasa bangga yang membuncah itu, dengan penuh semangat dan antusias yang tinggi, para amatir radio yang tergabung di ORDA PAPUA tanpa banyak cakap, merancang berbagai kegiatan yang mengarah pada persiapan pelaksanaan PON XX di Papua. Demikian disampaikan Dr. John Resubun YB9YZ, Ketua ORDA PAPUA, saat dihubungi eMag ORARI, Minggu, 17 Oktober 2021 di Kota Jayapura, Provinsi Papua.

“PON XX merupakan sejarah bagi masyarakat Papua, khususnya bagi pengurus beserta anggota ORDA Papua dan juga Pengurus beserta anggota

ORLOK di wilayah Provinsi Papua. Karena itu tidak ada pilihan lain, kami ingin mencetak sejarah bahwa PON XX harus aman, damai, tertib dan sukses, itulah tekad kami,”ungkap Dr. John Resubun YB9YZ.

Oleh karena itu, lanjut Dr. John Resubun YB9YZ, dirinya bersama pengurus ORDA Papua dan juga pengurus ORLOK di wilayah Provinsi Papua, menggelar beberapa kali pertemuan, kemudian dilanjutkan mempersiapkan beberapa kegiatan, yang harus segera dilaksanakan, antara lain kegiatan pada tanggal Senin, 20 September 2021 yakni Rapat Koordinasi Tim Medis Pelayanan Kesehatan Dasar dan Gawat Darurat PON XX PAPUA 2021 dan Bimtek Penggunaan Radio HT yang diikuti oleh 125 Dokter dan Nakes yang akan bertugas di venue

“Orda PaPUa Cetak sejarah sUkseskan

Dalam dokumen OKTOBER Majalah Digital ORARI (Halaman 52-57)

Dokumen terkait