• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jarak Outer Canthus Mata Kiri ke Meatus Auditori Eksternus (E-E)58

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

3.8 Cara Penelitian

3.8.2 Pengukuran VDO dan Jarak Landmark Wajah

3.8.2.1 Pengukuran Jarak VDO

3.8.2.2.4 Jarak Outer Canthus Mata Kiri ke Meatus Auditori Eksternus (E-E)58

a. Subjek diinstruksikan untuk duduk di atas kursi yang telah disediakan dan instruksikan subjek untuk menyandarkan kepala dan punggung ke dinding sehingga sejajar kemudian perhatikan garis chamfer (ala nasi-tragus) harus sejajar dengan lantai.

b. Subjek diinstruksikan untuk untuk kedua menutup mata dengan rileks.

c. Dilakukan pengukuran dari sudut luar (outer canthus) mata kiri sampai titik tengah meatus auditori eksternus telinga kiri dengan menggunakan kaliper digital.

d. Lakukan pencatatan hasil pengukuran jarak outer canthus mata kiri ke meatus auditori eksternus kiri (E-E).

Gambar 27. Pengukuran Jarak OC-RO

3.8.2.2.5 Jarak Panjang Telinga Kiri (EH)

a. Subjek diinstruksikan untuk duduk di atas kursi yang telah disediakan dan instruksikan subjek untuk menyandarkan kepala dan punggung ke dinding sehingga sejajar kemudian perhatikan garis chamfer (ala nasi-tragus) harus sejajar dengan lantai.

b. Dilakukan pengukuran permukaan superior (super-aurale) telinga kiri sampai permukaan inferior (sub-aurale) telinga kiri dengan menggunakan kaliper digital.

c. Lakukan pencatatan hasil pengukuran jarak panjang telinga kiri (EH).

Gambar 29. Pengukuran Jarak EH Gambar 28. Pengukuran

Jarak E-E

3.9 Analisis Data

Data yang diperoleh berupa data numerik yang akan diolah menggunakan sistem komputerisasi dengan aplikasi SPSS. Data kemudian dilakukan analisis uji T-Independent, Uji T-Dependent, Uji Oneway Anova untuk mendapatkan nilai rerata jarak VDO dan jarak landmark wajah (RO-Pu, OC-RO, OC-IC, E-E, dan EH) berdasarkan usia dan jenis kelamin. Selanjutnya dianalisis dengan Uji Korelasi Pearson antara jarak VDO dengan lima jarak landmark wajah yang akan mendapatkan nilai koefisien korelasi (r) untuk melihat derajat kekuatan (kuat/lemahnya) hubungan dengan melihat tingkat signifikansinya (p-value<0,05).

Menurut Colton, tingkat kekuatan hubungan dua variabel secara kualitiatif, yaitu:46

 r = 0,00 – 0,25  tidak ada hubungan atau hubungan lemah

 r = 0,26 – 0,50  hubungan sedang

 r = 0,51 – 0,75  hubungan kuat

 r = 0,76 – 1,00  hubungan sangat kuat atau sempurna

Setelah mengetahui derajat keeratan hubungan antara jarak VDO dan lima jarak landmark wajah, maka dilakukan analisis Uji Regresi Linear untuk mendapatkan persamaan regresi nilai suatu variabel (jarak VDO) melalui variabel yang lain (jarak landmark wajah).46

3.10 Contoh Cara Perhitungan

Setelah mendapatkan persamaan regresi dari uji analisis regresi linier, maka nilai jarak VDO didapatkan dengan memasukkan nilai jarak RO-Pu, OC-RO, OC-IC, E-E, dan EH.

Y = Jarak VDO

RO-Pu = Jarak rima oris ke pupil mata laki-laki Batak Toba usia 19 tahun (76,4 mm)

Jadi, jarak VDO laki-laki suku Batak Toba usia 19 tahun tersebut adalah 74,11 mm.

Y = [22.694 + (0,673 x RO-Pu)]

Y = [22.694+ (0.673 x 76,4)]

Y = [22.694 + 51,42] = 74,11 mm

3.11 Alur Penelitian

Populasi Penelitian

Subjek Penelitian

Informed Consent Kuesioner

Subjek duduk tegak pada kursi yang disediakan kemudian diinstruksikan untuk rileks dan mengoklusikan gigi geligi

Penentuan titik pengukuran dan mengukur dengan kaliper digital yang dimodifikasi

VDO RO-Pu OC-IC OC-RO E-E EH

Laki-laki Perempuan

Data

Pengolahan dan analisis data Nilai Koefisien Korelasi Pearson (nilai r)

Nilai Regresi Linier Nilai Konversi

BAB 4

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini telah dilakukan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi USU, suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun di Medan dengan jumlah subjek penelitian 30 orang yang terdiri dari 15 orang laki-laki dan 15 orang perempuan sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Cara pengambilan sampel pada subjek penelitian diperoleh dengan teknik purposive sampling.

Prosedur penelitian ini meliputi pengisian kuesioner, pemeriksaan intra oral pemeriksaan profil wajah, dan pengukuran jarak landmark wajah, yaitu jarak VDO, Rima Oris ke Pupil mata (RO-Pu), Outer Canthus ke Inner Canthus (OC-IC), Outer Canthus ke Rima Oris (OC-RO), Outer Canthus mata kiri ke Meatus Auditori Eksternus (E-E), serta tinggi vertikal telinga (EH). Hasil jarak titik landmark wajah yang diperoleh dianalisa dengan uji statistik uji T-Independent, Uji T-Dependent, Uji Oneway Anova, Uji Korelasi Pearson, dan Uji Regresi Linear untuk memperoleh nilai rerata jarak VDO, nilai rerata jarak landmark wajah, dengan demikian diperoleh nilai hubungan Korelasi Pearson (r), nilai konversi, dan persamaan regresi VDO dari masing-masing jarak landmark wajah. Seluruh hasil yang diperoleh akan dianalisis berdasarkan usia dan jenis kelamin pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle.

4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Umum Subjek Penelitian

Dari hasil kuesioner diperoleh data distribusi frekuensi karakteristik umum pada subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin, usia, dan suku (Tabel 1).

Berdasarkan Tabel 1, pada penelitian ini seluruh subjek penelitian terdiri dari laki-laki (50%) dan perempuan (50%). Berdasarkan usia, persentase tertinggi dijumpai pada usia 20 tahun (36,7%) diikuti dengan usia 21 dan 22 tahun (16,7%), 19 tahun (13,3%), 23 tahun (10%), dan persentase terendah dijumpai pada usia 24 tahun (6,7%).

Tabel 1. Distribusi frekuensi karakteristik umum subjek penelitian

Karakteristik n (orang) Persentase (%)

Jenis Kelamin

Laki-laki 15 50

Perempuan 15 50

Usia

19 4 13,3

20 11 36,7

21 5 16,7

22 5 16,7

23 3 10,0

24 2 6,7

4.2 Nilai Rerata Jarak VDO Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Usia 19-24 Tahun di Kota Medan

4.2.1 Nilai Rerata Jarak VDO Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Usia

Pengukuran jarak VDO diukur dari titik anatomis pada wajah, yaitu titik paling menonjol pada hidung (Nasal) dan titik yang paling menonjol pada dagu (Gnation) ketika gigi geligi maksila dan mandibula dalam posisi oklusi interkuspal maksimum.1,5 Berdasarkan pengukuran jarak VDO pada wajah subjek diperoleh nilai rerata jarak VDO pada suku Batak Toba oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun (Tabel 2).

Tabel 2 menunjukkan Hditolak, dimana tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rerata jarak VDO antara masing-masing kelompok usia 19, 20, 21, 22, 23 dan 24 tahun (p-value > 0,05).

Tabel 2. Nilai rerata jarak VDO pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19- 24 tahun

Karakteristik Usia (Tahun) N X±SD (mm)P-Value

VDO

19-24 30 69,10±5,90

0,451

19 4 70,84±8,31

20 11 68,61±4,73

21 5 64,83±6,69

22 5 69,87±5,67

23 3 73,52±4,98

24 2 70,43±7,14

Uji Oneway Anova, *signifikansi p<0,05

Uji Oneway Anova, *signifikansi p<0,05

4.2.2 Nilai Rerata Jarak VDO Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan pengukuran jarak dari VDO pada wajah subjek diperoleh nilai rerata jarak VDO suku Batak Toba oklusi Klas I Angle pada laki-laki dan perempuan (Tabel 3).

Tabel 3 menunjukkan Hditerima, dimana terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rerata jarak VDO antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan (p-value < 0,05).

4.3 Nilai Rerata Lima Jarak Landmark Wajah Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Usia 19-24 Tahun di Kota Medan

4.3.1 Nilai Rerata Lima Jarak Landmark Wajah Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Usia

Berdasarkan pengukuran jarak landmark wajah pada subjek penelitian diperoleh nilai rerata lima jarak landmark wajah suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle pada usia 19-24 tahun (Tabel 4).

Karakteristik Jenis Kelamin N X ± SD (mm) P-Value

VDO Laki-laki 15 72,96 ± 3,75

0,0001*

Perempuan 15 65,24 ± 5,12

Tabel 3. Nilai rerata jarak VDO suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle berdasarkan jenis kelamin

Uji Independent T-Test, *signifikansi p<0,05

Tabel 4. Rerata lima jarak landmark wajah pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun

Karakteristik Usia (Tahun) X ±SD (mm) P-Value

RO-Pu

Uji Oneway Anova, *signifikansi p<0,05

Tabel 4 menunjukkan Hditolak, dimana tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rerata lima jarak landmark wajah antara masing-masing kelompok antar usia 19-24 tahun (p-value > 0,05).

4.3.2 Nilai Rerata Lima Jarak Landmark Wajah Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan pengukuran jarak landmark wajah pada subjek penelitian diperoleh nilai rerata lima jarak landmark wajah suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle pada laki-laki dan perempuan (Tabel 5).

Tabel 5. Nilai rerata lima jarak landmark wajah pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle berdasarkan jenis kelamin

Karakteristik Laki-laki

Tabel 5 menunjukkan pada nilai rerata jarak landmark wajah yang terdiri dari jarak RO-Pu, OC-IC, OC-RO, dan E-E Hditerima, dimana terdapat perbedaan yang signifikan antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan (p-value < 0,05) dan pada nilai rerata jarak EH Hditolak yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan (p-value > 0,05).

4.4 Kekuatan Hubungan atau Nilai Koefisien Korelasi Pearson (r) Antara Jarak VDO dengan Lima Jarak Landmark Wajah Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Usia 19-24 Tahun di Kota Medan

Berdasarkan pengukuran jarak landmark wajah pada subjek penelitian diperoleh nilai Koefisien Korelasi Pearson (r) yang menunjukkan keeratan hubungan

Uji Independent T-Test, *signifikansi p<0,05

antara jarak VDO dan lima jarak landmark wajah suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle pada usia 19-24 tahun (Tabel 6).

Tabel 6. Nilai Koefisien Korelasi Pearson (r) antara jarak VDO dan lima jarak landmark wajah suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle pada usia 19-24 tahun

Karakteristik N Koefisien Korelasi

Pearson (r) P-Value

RO-Pu 30 0,789 0,0001*

OC-IC 30 0,487 0,001*

OC-RO 30 0,789 0,0001*

E-E 30 0,463 0,011*

EH 30 0,456 0,011*

Tabel 6 menunjukkan menunjukkan Hditerima, dimana terdapat hubungan yang paling kuat dan signifikan antara jarak VDO dan jarak landmark wajah RO-Pu dan OC-RO, diikuti dengan OC-IC dan E-E yang memiliki hubungan yang kuat, dan EH yang memiiliki hubungan sedang pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun (p-value < 0,05).

4.4.1 Kekuatan Hubungan atau Nilai Koefisien Korelasi Pearson (r) Antara Jarak VDO dengan Lima Jarak Landmark Wajah Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan pengukuran jarak landmark wajah pada subjek penelitian diperoleh nilai Koefisien Korelasi Pearson (r) yang menunjukkan kekuatan hubungan antara jarak VDO dan lima jarak landmark wajah suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle pada usia 19-24 tahun pada laki-laki dan perempuan (Tabel 7).

Uji Bivariate Correlations, *signifikansi p<0,05

Tabel 7. Nilai Koefisien Korelasi Pearson (r) antara jarak VDO dan lima jarak landmark wajah suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle berdasarkan jenis kelamin

Karakteristik

Laki-laki Perempuan

Koefisien Korelasi

Pearson (r) P-Value Koefisien Korelasi

Pearson (r) P-Value

Tabel 7 menunjukkan Hditerima, dimana terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara jarak VDO dan jarak landmark wajah menurut kriteria Colton yang memiliki kriteria hubungan kuat (r = 0,50-0,75), yaitu jarak RO-Pu (laki-laki = 0,723 dan perempuan = 0,650) dan OC-RO (laki-laki = 0,689 dan perempuan = 0,615), sedangkan untuk kriteria hubungan sedang (r = 0,26-0,50) diperoleh pada jarak OC-IC (laki-laki = 0,476 dan perempuan = 0,458), E-E (laki-laki = 0,435 dan perempuan = 0,437), dan EH (laki-laki = 0,398 dan perempuan = 0,414) pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun (p-value < 0,05).

4.5 Nilai Konversi Jarak VDO dan Lima Jarak Landmark Wajah Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Usia 19-24 Tahun di Kota Medan

4.5.1 Nilai Konversi Jarak VDO dan RO-Pu Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin

Berdasarkan analisis statistik Uji Independent T-test diperoleh nilai konversi antara jarak VDO dengan jarak RO-Pu suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle kelompok usia 19-24 tahun pada laki-laki dan perempuan (Tabel 8).

Uji Bivariate Correlations, *signifikansi p<0,05

Tabel 8. Nilai konversi jarak VDO dengan jarak RO-Pu pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle kelompok usia 19-24 tahun dan jenis kelamin Usia

(Tahun)

Nilai Konversi Nilai Konversi Laki-laki

Nilai Konversi

Perempuan P-Value

X ±SD (mm) X ±SD (mm) X ±SD (mm)

19-24 69,10±4,93 72,97±2,71 65,24±3,33 0,0001*

19 69,35±6,33 74,61±0,70 64,09±3,04 0,041*

Tabel 8 menunjukkan bahwa berdasarkan kelompok antar usia tanpa membedakan jenis kelamin Hditolak, dimana tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rerata hasil konversi jarak VDO dengan jarak RO-Pu untuk masing-masing antar kelompok usia 19-24 tahun (p-value > 0,05). Sementara, pada seluruh antar kelompok usia 19-24 tahun Hditerima, dimana terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rerata hasil konversi jarak VDO dengan jarak RO-Pu antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan (p-value < 0,05).

4.5.2 Nilai Konversi Jarak VDO dan OC-IC Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin

Berdasarkan analisis statistik Uji Independent T-test diperoleh nilai konversi VDO suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle dengan jarak OC-IC wajah kelompok usia 19-24 tahun pada laki-laki dan perempuan (Tabel 9).

Uji Independent T-Test, *signifikansi p<0,05

Tabel 9. Nilai konversi jarak VDO dengan jarak OC-IC pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle kelompok usia 19-24 tahun dan jenis kelamin Usia

(Tahun)

Nilai Konversi Nilai Konversi Laki-laki

Nilai Konversi

Perempuan P-Value

X ±SD (mm) X ±SD (mm) X ±SD (mm)

19-24 69,09±4,60 72,96±2,16 65,23±2,70 0,0001*

19 69,71±4,79 73,74±1,69 65,68±1,06 0,029*

Tabel 9 menunjukkan bahwa berdasarkan kelompok antar usia tanpa membedakan jenis kelamin Hditolak, dimana tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rerata hasil konversi jarak VDO dengan jarak OC-IC untuk masing-masing antar kelompok usia 19-24 tahun (p-value > 0,05). Sementara, pada seluruh antar kelompok usia 19-24 tahun Hditerima, dimana terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rerata hasil konversi jarak VDO dengan jarak OC-IC antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan (p-value < 0,05).

4.5.3 Nilai Konversi Jarak VDO dan OC-RO Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin

Berdasarkan analisis statistik Uji Independent T-test diperoleh nilai konversi VDO suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle dengan jarak OC-RO wajah kelompok usia 19-24 tahun pada laki-laki dan perempuan (Tabel 10).

Uji Independent T-Test, *signifikansi p<0,05

Tabel 10. Nilai konversi jarak VDO dengan jarak OC-RO pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle kelompok usia 19-24 tahun dan jenis kelamin Usia

(Tahun)

Nilai Konversi Nilai Konversi Laki-laki

Nilai Konversi

Perempuan P-Value

X ±SD (mm) X ±SD (mm) X ±SD (mm)

19-24 69,10±4,82 72,94±2,58 65,26±3,15 0,0001*

19 69,63±6,48 75,01±0,05 64,26±3,20 0,042*

Tabel 10 menunjukkan bahwa berdasarkan kelompok antar usia tanpa membedakan jenis kelamin Hditolak, dimana tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rerata hasil konversi jarak VDO dengan jarak OC-RO untuk masing-masing antar kelompok usia 19-24 tahun (p-value > 0,05). Sementara, pada seluruh antar kelompok usia 19-24 tahun Hditerima, dimana terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rerata hasil konversi jarak VDO dengan jarak OC-RO antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan (p-value < 0,05).

4.5.4 Nilai Konversi Jarak VDO dan E-E Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin

Berdasarkan analisis statistik Uji Independent T-test diperoleh nilai konversi VDO suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle dengan jarak E-E wajah kelompok usia 19-24 tahun pada laki-laki dan perempuan (Tabel 11).

Uji Independent T-Test, *signifikansi p<0,05

Tabel 11. Nilai konversi jarak VDO dengan jarak E-E pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle kelompok usia 19-24 tahun dan jenis kelamin

Usia (Tahun)

Nilai Konversi Nilai Konversi Laki-laki

Nilai Konversi

Perempuan P-Value

X ±SD (mm) X ±SD (mm) X ±SD (mm)

19-24 69,10±4,58 72,98±1,98 65,23±2,69 0,0001*

19 70,57±4,66 74,44±0,05 66,71±2,29 0,041*

Tabel 11 menunjukkan bahwa berdasarkan kelompok antar usia tanpa membedakan jenis kelamin Hditolak, dimana tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rerata hasil konversi jarak VDO dengan jarak E-E untuk masing-masing antar kelompok usia 19-24 tahun (p-value > 0,05). Sementara, pada seluruh antar kelompok usia 19-24 tahun Hditerima, dimana terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rerata hasil konversi jarak VDO dengan jarak E-E antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan (p-value < 0,05).

4.5.5 Nilai Konversi Jarak VDO dan EH Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin

Berdasarkan analisis statistik Uji Independent T-test diperoleh nilai konversi VDO suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle dengan jarak EH wajah kelompok usia 19-24 tahun pada laki-laki dan perempuan (Tabel 12).

Uji Independent T-Test, *signifikansi p<0,05

Tabel 12. Nilai konversi jarak VDO dengan jarak EH pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle kelompok usia 19-24 tahun dan jenis kelamin

Usia (Tahun)

Nilai Konversi Nilai Konversi Laki-laki

Nilai Konversi

Perempuan P-Value

X ±SD (mm) X ±SD (mm) X ±SD (mm)

19-24 69,12±4,54 72,98±1,90 65,25±2,63 0,0001*

19 70,86±4,12 74,36±0,44 67,37±1,32 0,019*

Tabel 12 menunjukkan bahwa berdasarkan kelompok antar usia tanpa membedakan jenis kelamin Hditolak, dimana tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rerata hasil konversi jarak VDO dengan jarak EH untuk masing-masing antar kelompok usia 19-24 tahun (p-value > 0,05). Sementara, pada seluruh antar kelompok usia 19-24 tahun Hditerima, dimana terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rerata hasil konversi jarak VDO dengan jarak EH antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan (p-value < 0,05).

4.5.6 Perbandingan Nilai Jarak VDO yang Diukur dan Nilai Konversi Jarak VDO Dengan Lima Jarak Landmark Wajah Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan analisis statistik Uji Dependent T-test diperoleh perbandingan antara nilai jarak VDO yang diukur dengan nilai konversi jarak VDO berdasarkan lima jarak landmark wajah pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle dengan jarak EH wajah kelompok usia 19-24 tahun pada laki-laki dan perempuan (Tabel 13).

Uji Independent T-Test, *signifikansi p<0,05

Tabel 13. Nilai rerata jarak VDO asli dan konversi VDO dengan lima jarak landmark wajah pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle berdasarkan jenis

kelamin

Tabel 13 menunjukkan Hditolak, dimana tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rerata jarak VDO yang diukur dengan hasil konversi jarak VDO berdasarkan lima jarak landmark wajah antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan pada kelompok usia 19-24 tahun (p-value > 0,05).

4.6 Analisis Regresi Antara Jarak VDO dengan Lima Jarak Landmark Wajah Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan analisis statistik Regresi Linear diperoleh rumus persamaan regresi antara jarak VDO terhadap lima jarak landmark wajah pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle pada laki-laki dan perempuan (Tabel 14).

Uji Dependent T-Test, *signifikansi p<0,05

Tabel 14. Analisis regresi antara jarak VDO dengan lima jarak landmark wajah suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle berdasarkan jenis kelamin

Jenis Kelamin Variabel Dependent

Variabel

Independent Persamaan Regresi

Laki-laki VDO

RO-Pu Y=22,694+0,673(RO-Pu) OC-IC Y=24,593+0,659(OC-IC) OC-RO Y=24,371+0,642(OC-RO)

E-E Y=19,373+0,669(E-E) EH Y=38,254+0,588(EH)

Perempuan VDO

RO-Pu Y=23,017+0,616(RO-Pu) OC-IC Y=24,210+0,603(OC-IC) OC-RO Y=21,795+0,632(OC-RO)

E-E Y=22,534+0,566(E-E) EH Y=34,910+0,522(EH)

Tabel 14 menunjukkan hasil uji Regresi Linear didapatkan persamaan regresi berdasarkan jenis kelamin. Diperoleh persamaan sebagai berikut: pada laki-laki VDO=[22,694 + 0,673(RO-Pu)], VDO=[24,593 + 0,659(OC-IC)], VDO=[24,371 + 0,642(OC-RO)], VDO=[19,373 + 0,669(E-E)], dan VDO=[38,254 + 0,588(EH)].

Pada perempuan VDO=[23,017 + 0,616(RO-Pu)], VDO=[24,210 + 0,603(OC-IC)], VDO=[21,795 + 0,632(OC-RO)], VDO=[22,534 + 0,566(E-E)], dan VDO = [34,910 + 0,522(EH)].

Uji Regression Linear

BAB 5 PEMBAHASAN

Secara klinis, jarak Vertikal Dimensi Oklusi (VDO) merupakan jarak vertikal sepertiga wajah bagian bawah ketika gigi geligi pada maksila dan mandibula berada dalam oklusi interkuspal maksimum dengan demikian VDO mempengaruhi panjang dan bentuk wajah. Jarak VDO dipengaruhi oleh pertumbuhan tulang rahang dan kepala, erupsi gigi geligi, oklusi gigi geligi, dan posisi TMJ. Semua faktor ini akan menghasilkan keseimbangan biomekanik orofasial dan fungsi TMJ yang baik pada saat fungsi mastikasi, fonetik, dan estetik. Jarak VDO dapat berubah karena atrisi fisiologis, namun masih dapat dikompensasi oleh neuromuskular sehingga dampaknya terhadap fungsi mastikasi, fonetik, dan esetetik tidak terlalu besar.8,10 Namun, jika terjadi atrisi patologis yang parah, tidak ada kontak antara gigi geligi rahang atas dan rahang bawah (edentulus penuh), bahkan kecelakaan yang mengenai daerah sepertiga wajah bagian bawah menyebabkan terjadi pengurangan jarak interkuspal yang akan memberikan dampak langsung terhadap fungsi mastikasi, fonetik, bahkan estetik yang membuat tinggi wajah keseluruhan menjadi lebih pendek dan bentuk wajah berubah menjadi lebih brachyfacial.2,5 Oleh karena itu, pentingnya dilakukan pengukuran VDO untuk mengembalikan fungsi mastikasi, fonetik, dan estetik. Penentuan jarak VDO harus tepat sehingga tidak mengganggu biomekanik fungsi orofasial dan TMJ.

Untuk mendapatkan jarak VDO yang tepat khususnya akibat kecelakaan memiliki kesulitan. Terdapat beberapa metode yang dapat membantu untuk menentukan jarak VDO, yaitu metode foto wajah, siluet wajah, metode Swensons, metrode Niswonger, elektromiografi, bimeter, Willis, panjang jari, dan jarak landmark wajah. Penelitian ini adalah mengukur jarak VDO pada suku Batak Toba usia 19-24 tahun dengan menggunakan nilai konversi jarak landmark wajah.

5.1 Karakteristik Umum Subjek yang Diteliti

Penelitian ini dilakukan terhadap 30 orang terdiri dari 15 orang laki-laki dan 15 orang perempuan sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi dengan teknik Purposive Sampling. Dasar pemilihan sampel yang berusia 19-24 tahun adalah pada usia ini jarak VDO sudah stabil. Hal ini dikarenakan pada gigi dewasa yang merupakan gigi permanen telah erupsi sempurna dari gigi Insisivus 1 hingga gigi Molar 2. Selain itu, menurut Laksmapappa (2010) bahwa pertumbuhan tulang pada manusia telah berhenti pada usia 18 tahun dan tidak akan terjadi pertambahan ukuran tulang. Pada penelitian ini juga dilakukan pada subjek dengan Oklusi Klas I Angle dianggap posisi kondilus tepat berada di sentral fossa mandibula dan pada kondisi ini semua fungsi otot maupun inervasi berfungsi dengan baik dan pola pertumbuhan tulang mandibula normal sehingga menghasilkan tinggi sepertiga wajah bawah yang merupakan jarak VDO menjadi normal. Menurut Khanehzad M (2018), pada usia 25 tahun ke atas diduga sudah mulai terjadi atrisi akibat dari pemakaian pada permukaan insisal dan oklusal gigi geligi sehingga telah terjadi penurunan jarak VDO.13,16,43

Berdasarkan teknik purposive sampling pada penelitian ini distribusi usia yang paling banyak berada pada usia 20 tahun yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Maka dari itu, subjek penelitian ini dilakukan pada usia 19-24 tahun.

5.2 Nilai Rerata Jarak VDO Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Usia 19-24 Tahun di Kota Medan

Jarak VDO adalah jarak vertikal tinggi sepertiga wajah bagian bawah yang diukur dari titik anatomis pada wajah, yaitu titik paling menonjol pada hidung (Nasal) dan titik yang paling menonjol pada dagu (Gnation) ketika gigi geligi maksila dan mandibula dalam posisi oklusi interkuspal maksimum.1,5 Pada penelitian ini dilakukan pengukuran jarak VDO sebanyak tiga kali kemudian dihitung rata-ratanya.

5.2.1 Nilai Rerata Jarak VDO Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Usia

Berdasarkan Uji Oneway Anova (Tabel 2) penelitian ini menunjukkan dimana tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rerata jarak VDO suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle pada masing-masing kelompok usia 19-24 tahun dengan demikian H ditolak maka H0 diterima, artinya jarak VDO antar masing-masing kelompok usia 19-24 tahun adalah sama dan secara umum untuk seluruh usia 19-24 tahun jarak VDO sebesar 69,10±5,90 mm. Tidak terdapatnya perbedaan jarak VDO pada masing-masing kelompok usia ini dapat terjadi karena berdasarkan teori Laksmapappa (2010) bahwa laju pertumbuhan tulang maksimal dan akan berhenti

Berdasarkan Uji Oneway Anova (Tabel 2) penelitian ini menunjukkan dimana tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai rerata jarak VDO suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle pada masing-masing kelompok usia 19-24 tahun dengan demikian H ditolak maka H0 diterima, artinya jarak VDO antar masing-masing kelompok usia 19-24 tahun adalah sama dan secara umum untuk seluruh usia 19-24 tahun jarak VDO sebesar 69,10±5,90 mm. Tidak terdapatnya perbedaan jarak VDO pada masing-masing kelompok usia ini dapat terjadi karena berdasarkan teori Laksmapappa (2010) bahwa laju pertumbuhan tulang maksimal dan akan berhenti