HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF
A. Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana 1.Pengertian Tindak Pidana
4) Jarimah Masyarakat dan Jarimah Perorangan
Jarimah masyarakat adalah suatu jarimah di mana hukuman
terhadapnya dijatuhkan untuk menjaga kepentingan masyarakat, baik jarimah itu mengenai perseorangan atau mengenai ketentranman masyarakat dan keamananya.
Jarimah perseorangan adalah suata jarimah di mana hukuman
terhadapnya dijatuhkan untuk melindungi kepentingan perseorangan, meskipun sebenarnya apa yang menyingung perseorangan juga berarti menyinggung masyarakat.34
b. Menurut Hukum Positif dan menurut KUHP dan doktrin
Dalam hukum positif, tindak pidana dibagi menjadi:
1) Menurut KUHP, tindak pidana dibedakan menjadi dua, yaitu kejahatan
dan pelangaran. Di dalam KUHP dibagi menjadi tiga buku, yaitu buku I yang berisikan tentang aturan-aturan umum, buku II yang berisikan tentang tindak pidana yang termasuk dalam tindak pidana kejahatan, dan dalam buku III berisikan tentang tindak pidana yang termasuk dalam pelangaran.35 Dalam hal ini undang-undang hanya membagi penggolangan saja tanpa memberikan arti yang jelas.
34
Abdul Qadir Audah, Al-Tasyri‟ Al-Jina‟i Al-Islami (Beirut: Muatsatsah Al-Risalah, 1998), h. 14.
35
Adami Chawawi, Pelajaran Hukum Pidana Bag I (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 118.
Manfaat pembagian tindak pidana menjadi kejahatan dan pelangarn: a) Pada pasal 5 kejahatan yang dilakukan di luar negeri dapat dijatuhkan
hukuman sedangkan pelanggaran tidak.
b) Pada pasal 10 hukuman kejahatan lebih berat daripada hukuman pelaggaran.
c) Kesalahan dalam kejahatan harus dibuktikan dengan tegas sedangkan pelanggaran tidak perlu dibuktikan dengan tegas.
d) Pada pasal 53 percobaan melakukan tindak kejahatan dapat dikenakan hukuman sedangkan percobaan dalam pelanggaran tidak.
e) Pada pasal 56 membantu dalam kejahatan dihukum sedangkan dalam pelanggaran tidak.
f) Pada pasal 65 dan 66 mengenai pengabungan tindak pidana hanya dijatuhkan satu hukumn tersebut sedangkan pada pasal 70 jika terjadi pengabungan terhadap pelanggaran maka dihukum sendiri-sendiri.
Namun demikian oleh ilmu pengetahuan hukum mencoba lebih lanjut memberikan ukuran perbedaan kejahatan dan pelanggaran sebagai berikut:
a) Kejahatan adalah recht delict, yakni perbuatan yang bertentangan dengan kepentingan hukum. Dan pelanggaran adalah wet delict, perbuatan yang tidak menaati larangan atau keharusan yang ditentukan oleh penguasa Negara.
b) Kejahatan adalah memperkosa suatu kepentingan hukum (krenkings
delicten) seperti pembunuhan, pencurian dan sebagainya. Sedangkan
pelanggaran adalah perbuatan yang hanya membahayakan kepentingan hukum, seperti menabrak dan melewati lampu merah, dan lain-lain.
2) Menurut cara merumuskannya, dibedakan antara tindak pidana formil
(formil delicten) dan tindak pidana materiil (materiel delicten).
Tindak pidana formil adalah tindak pidana yang dirumuskan sedemikian rupa, sehingga memberikan arti bahwa inti larangan yang dirumuskan itu adalah melakukan perbuatan tertentu. Perumusan tindak pidana formil tidak memperhatikan dan atau tidak memerlukan timbulnya sesuatu akibat tertentu dari perbuatan sebagai syarat penyelesaian tindak pidana, melainkan semata-mata pada perbuatannya. Sedangkan tindak pidana materiil, inti larangan adalah pada menimbulkan akibat yang dilarang, karena itu siapa yang menimbulkan akibat yang dilarang itulah yang dipertanggungjawabkan dan dipidana.36
3) Berdasarkan bentuk kesalahannya, dibedakan antara tindak pidana
sengaja (doleus delicten) dan tindak pidana tidak dengan sengaja (culposi delicten).
Tindak pidana sengaja adalah tindak pidana yang dalam rumusannya dilakukan dengan kesengajaan atau mengandung unsur kesengajaan.
36
Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bag I (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 122.
Sedangkan tindak pidana culpa adalah tindak pidana yang dalam rumusannya mengandung unsur culpa dan tindak pidana culpa adalah tindak pidana yang unsur kesalahannya adalah berupa kelalaian, karena kurang hati-hati, dan tidak karena kesengajaan.37
4) Berdasarkan macam perbuatannya, dapat dibedakan antara tindak pidana
aktif/positif dapat juga disebut tindak pidana komisi (delicta comissionis)
dan tindak pidana pasif/negative, disebut juga tindak pidana omisi (delicta
ommissionis).
Tindak pidana aktif adalah tindak pidana yang perbuatannya merupakan perbuatan aktif (positif). Perbuatan aktif adalah perbuatan yang untuk mewujudkanya disyaratkan adanya gerakan dari anggota tubuh orang yang berbuat. Perbuatan aktif ini terdapat baik dalam tindak pidana yang dirumuskan secara formil maupun secara materiil. Sedangkan tindak pidana pasif adalah di dalam tindak pidana pasif ada suatu kondisi atau keadaan tertentu yang mewajibkan seseorang dibebani kewajiban hukum untuk berbuat tertentu, yang apabila ia tidak melakukan perbuatan itu maka ia telah melanggar kewajiban hukumnya tadi. Di sini ia telah melakukan tindak pidana pasif. Tindak pidana ini dapat juga disibut juga tindak pidana pengabaian suatu kewajiban hukum.38
37
Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana bag I (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 124-125.
38
Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bag. I (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 125-126.
5) Berdasarkan sumbernya, dapat dibedakan antara tindak pidana umum dan tindak pidana khusus.
Tindak pidana umum adalah semua tindak pidana yang dimuat dalam KUHP sebagai kodifikasi hukum pidana materiil (buku II dan buku III KUHP), sedangkan tindak pidana khusus adalah semua tindak pidana yang terdapat di luar kodifikasi tersebut, misalnya tindak pidana korupsi, tindak pidana psikotropika, dan lain-lain.39
6) Dilihat dari sudut hukumnya, dapat dibedakan antara tindak pidana
communia (delicta communia, yang dapat dilakukan oleh siapa saja), dan tindak pidana propria (dapat dilakukanhanya oleh orang yang memiliki kualitas pribadi tertentu).
Pada umumnya tindak pidana itu dibentuk dan dirumuskan untuk berlaku pada semua orang, dan memang sebagian tersebar tindak pidana itu dirumuskan dengan maksud yang demikian, akan tetapi ada perbuatan-perbuatan yang tidak patut tertentu yang khusus hanya dapat oleh orang berkualitas tertentu saja, misalnya pegawai negeri (pada kejahatan jabatan) atau nahkoda (pada kejahatan pelayaran dan sebagainya). Di samping itu ada juga tindak pidana yang berdiri sendiri, misalnya seorang ibu melakukan pembunuhan bayinya.40
39
Adami chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bag. I (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 127.
40
Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bag. I (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 128.
B. Pengertian Penyertaan