BAB 4 MASTERPLAN KAWASAN INDUSTRI
D. Jaringan Air Bersih
Kawasan industri Seradang direncanakan seluas 200,3 Ha membutuhkan air bersih untuk menjalankan segala aktivitasnya, baik aktivitas kawasan secara keseluruhan maupun aktivitas operasional pada setiap industri. Untuk melayani kebutuhan air bersih kawasan industri Seradang, direncanakan supply air bersih dari sumber mata air yang disalurkan melalui pipa PDAM kabupaten Tabalong. Selain itu, pengambilan air permukaan dari sungai yang berada di sekitar kawasan dan dari embung buatan yang dirancang untuk selanjutnya diolah menjadi air bersih menjadi opsi lain dengan tetap memerlukan pengolahan air bersih. Air bersih ditampung di dalam reservoir kemudian didistribusikan melalui pipa distribusi ke seluruh kavling-kavling dalam kawasan secara gravitasi.
Air bersih ditampung di dalam reservoir kemudian didistribusikan ke setiap industri. Apabila diperlukan pengolahan terhadap air tanah/baku maka dilakukan pengolahan terlebih dahulu di lokasi Water Treatment Plant untuk memenuhi standar mutu air bersih dan selanjutnya dimasukkan ke dalam reservoir. Distribusi air bersih direncanakan dengan menggunakan sistem gravitasi ke seluruh kawasan menggunakan Pipa PVC dengan variasi diameter disesuaikan dengan kebutuhan. Sistem water supply didesain agar memiliki tekanan minimal 1 bar.
Penentuan kebutuhan air bersih dihitung berdasarkan luas area terbangun dikalikan standar kebutuhan air per luas area terbangun. Selain daripada itu, jenis industri yang berlokasi di kawasan industri Seradang juga sangat mempengaruhi jumlah kebutuhan air bersih. Seperti misalnya kebutuhan air pada industri karet tentunya akan lebih besar dibandingkan dengan industri kayu. Penyediaan kebutuhan air bersih dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan perkembangan kawasan industri serta jenis-jenis industri yang akan dikembangkan nantinya. Untuk tahap awal pembangunan dibutuhkan kapasitas awal sebesar 1500 m3/hari.
102 E. Jaringan Ketenagalistrikan
Perhitungan kebutuhan daya listrik kawasan industri Seradang seusai dengan standar SNI untuk kebutuhan listrik di kawasan industri 100 KVA sampai dengan 200 KVA untuk setiap Ha.
Untuk industri besar / berat sampai 300 KVA per Ha. Dari analisa dan perhitungan yang dilakukan, konsumsi daya listrik untuk luasan 220,3 Ha diperlukan 24.85 MVA, namun kebutuhan aktualnya sangat tergantung kepada jenis industri yang masuk ke kawasan industri Seradang nantinya.
F. Jaringan Telekomunikasi
Kriteria perencanaan jaringan telekomunikasi merujuk kepada standar dan Peraturan Pemerintah Negara Indonesia yang berlaku. Perencanaan jaringan telekomunikasi fiber optik pada kawasan industri Seradang menggunakan jaringan Fiber Optik dari gerbang utama kawasan sampai ke tenant. Pilihan teknologi dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa kriteria yaitu:
1) Jenis layanan dan kapasitas yang handal.
2) Operasional dan Maintenance yang lebih sederhana.
3) Konfigurasi dan sistem yang lebih handal.
4) Penyesuaian antar perangkat yang kompatibilitas sesuai standar.
5) Material tidak memudar dan produksi terjamin.
6) Biaya yang lebih efektif.
7) Sebagai cadangan jika jaringan nirkabel memiliki masalah G. Sanitasi dan Pengolahan Limbah
Air limbah yang dihasilkan oleh kegiatan industri harus diolah agar memenuhi standar baku mutu air limbah yang dipersyaratkan sebelum dapat dibuang ke badan air, yaitu sungai.
Waste Water Treatment Plant (WWTP) diperlukan untuk mengolah air limbah agar memenuhi baku mutu air limbah sebelum dibuang ke badan air. Air limbah yang akan diolah di WWTP ini adalah air limbah yang berasal dari kegiatan industri dan kegiatan domestik.
Sistem Pengolahan Air Limbah yang akan diterapkan akan dikoordinasikan dengan konsultan ahli WWTP. Pilihan yang diambil bergantung pada jenis buangan limbah yang ada dan diproses dari masing-masing industri.
Kapasitas WWTP dihitung berdasarkan jumlah air limbah yang dihasilkan oleh kawasan industri Seradang. Dibutuhkan satu unit WWTP untuk melayani kawasan seluas 220,3 Ha ini.
Desain untuk WWTP menggunakan sistem Activated Sludge Extended Aeration untuk mengurangi BOD, COD dan amonia sebelum air buangan dibuang ke sungai terdekat.
103
BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1. Kesimpulan
Kabupaten Tabalong memiliki keinginan kuat menetapkan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Seradang menjadi Kawasan Industri (KI) dengan harapan akan menjadi sebuah pusat pertumbuhan dan memberi manfaat bagi perekonomian. Pemerintah daerah, telah menetapkan beberapa kebijakan terkait pembangunan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Seradang menjadi Kawasan Industri (KI). Langkah mengembangkan kegiatan industri di Kabupaten Tabalong merupakan program strategis agar perekonomian daerah dapat tumbuh berdasar potensi ekonomi yang ada dan tidak bertumpu pada sektor primer yang selama ini ada. Potensi ekonomi yang dimiliki Kabupaten Tabalong perlu upaya agar terjadi hilirasasi yang pada akhirnya akan memberikan manfaat kepada masyarakat. Pembangunan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) menjadi Kawasan Industri (KI) merupakan program strategis yang dapat meningkatkan nilai tambah potensi sektor primer, selain itu makin terbuka kesempatan kerja bagi tenaga kerja lokal termasuk terjadinya percepatan pembangunan wilayah. Kawasan Industri (KI) yang akan dibangun di wilayah Seradang, Kabupaten Tabalong adalah suatu wilayah fungsional yang ditujukan untuk kegiatan pelayanan bagi aktivitas industri. Berdasar pemahaman tersebut maka dibutuhkan informasi yang dapat dijadikan dasar membangun Kawasan Industri (KI). Selain itu daya saing Kabupaten Tabalong perlu didorong melalui peran pemerintah daerah dengan memfasilitasi kegiatan pelaku usaha di dalam Kawasan Industri (KI) berupa kemudahan-kemudahan yang mengarah pada efisiensi.
Tahapan pembangunan Kawasan Industri (KI) di Kabupaten Tabalong (berlokasi di desa Seradang) harus didasarkan pada rencana induk atau yang dikenal sebagai “masterplan”.
Rencana induk atau masterplan, menguraikan dan menggambarkan bentuk suatu kawasan perkotaan yang diusulkan, umumnya berupa rencana transportasi dan lalu lintas, rencana fasilitas umum, lingkungan sekitar dan perumahan, taman dan ruang terbuka, penggunaan lahan dan pembangunan ekonomi. Pembangunan Kawasan Industri (KI) juga didasarkan pada arahan kebijakan tata ruang (RTRW Kabupaten Tabalong maupun RDTR KPI Seradang yang telah ditetapkan). Secara aspek ekonomi perencanaan pembangunan Kawasan Industri (KI) perlu mempertimbangkan cakupan bisnis lebih luas, termasuk pemanfaatan potensi sumber daya lokal. Pertimbangan untuk meningkatkan nilai ekonomi atas kelimpahan potensi sumber daya lokal perlu difasilitasi, salah satu upaya yang dapat dilakukan dengan menginisiasi pembangunan Kawasan Industri (KI). Dengan harapan keberadaan Kawasan Industri (KI) akan memberikan manfaat berupa peningkatan kegiatan industri, kesejahteraan masyarakat, penyerapan tenaga kerja lokal.
Potensi Kabupaten Tabalong berdasar perhitungan analisis Location Quotient (LQ) memberikan hasil, sektor pertambangan dan penggalian merupakan sektor paling dominan dalam perekonomian. Namun hasil perhitungan dari analisis LQ, tahun 2016 sektor informasi dan komunikasi mulai menjadi sektor yang menggerakkan perekonomian Kabupaten Tabalong. Dengan terjadinya penurunan peran sektor pertambangan dan penggalian sebagai
104 dampak tidak langsung pandemi COVID 19, maka perubahan tersebut perlu dimaknai dengan bijak. Menumbuhkan aktivitas sektor lain perlu terus diupayakan agar ketergantungan terhadap sektor primer berkurang dan mendorong tumbuhnya aktivitas sektor sekunder (dalam hal ini kegiatan sektor industri pengolahan). Langkah untuk mendorong berkembangnya kegiatan industri pengolahan dapat dilakukan dengan mendorong hilirasi potensi unggulan daerah. Sebagai daerah yang memiliki hasil perkebunan yang sebagian besar menjadi mata pencaharian masyakarat, perlu kebijakan yang memberikan manfaat peningkatan nilai tambah melalui kegiatan industri.
Pengembangan ekonomi Kabupaten Tabalong berdasar hasil analisis Shift Share (SS), selama tahun 2011 hingga 2019 cukup bervariasi. Sektor pertambangan masih menjadi sektor penting, walaupun pada tahun 2020 aktivitas sektor pertambangan mengalami penurunan.
Dampak tersebut juga berpengaruh pada sektor lain, namun demikian ada beberapa sektor yang masih memberikan nilai positif antara lain sektor pengadaan listrik dan gas; pengadaan air; informasi dan komunikasi; jasa keuangan; real estat dan jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Beberapa sektor tersebut memiliki peran penting dalam menggerakkan kegiatan perekonomian Kabupaten Tabalong.
Perekonomian wilayah baik tingkat Provinsi, khususnya Kabupaten Tabalong berdasar analisis LQ dan SS dapat menjadi dasar dalam melihat kebijakan pembangunan kedepan (khususnya dalam upaya pengembangan kegiatan industri). Langkah pengembangan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Seradang menjadi Kawasan Industri (KI) perlu didasarkan pada beberapa hal. Pertama, wilayah Provinsi dan Kabupaten Tabalong secara umum mempunyai kemiripan sektor unggulan. Spesialisasi tersebut relatif homogen dimana dapat dimaknai sebagai wilayah dengan faktor endowment sama. Kedua, upaya penguatan sektor industri berdasar analisis SS memberikan gambaran perlunya strategi khusus agar pengembangan sektor industri memiliki keunggulan dari wilayah lain. Berdasar dua hal tersebut perencanaan pendirian Kawasan Industri di wilayah Seradang, Kabupaten Tabalong disarankan basis kegiatan agrobisnis, tidak hanya menambah kontribusi nilai tambah, melainkan juga berpotensi memberikan limpahan ekonomi bagi Provinsi Kalimantan Selatan dan Provinsi sekitar.
Kegiatan industri di Kabupaten Tabalong untuk menjadi pionir dalam industri agribisnis kan dikuatkan dengan adanya rencana pembangunan kawasan industri. Langkah pengembangan agribisnis di Kabupaten Tabalong, berdasarkan hasil survei Industri Besar dan Sedang (IBS) tahun 2015 menjadi niscaya karena bahan baku karet remah (crumb rubber) sangat besar potensinya. Selain itu ada beberapa kegiatan industri yang telah ada di Kabupaten Tabalong, antara lain industri semen, kayu lapis, industri minyak mentah kelapa sawit, reparasi produk logam siap pasang dan reparasi mesin untuk keperluan khusus yang menjadi modal dasar mendorong berkembangnya kegiatan industri. Potensi besar bahan baku karet menjadi penting untuk menarik investor menanamkan modal di Kabupaten Tabalong. Kebijakan untuk pengembangan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Seradang menjadi Kawasan Industri (KI) menjadi strategis dan perlu dibangun kesepakatan bersama antar pemangku kepentingan yang ada.
105 Tahapan industrialisasi di Kabupaten Tabalong telah dijabarkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan selaras dengan Rencana Pembangunan Industri Nasional. Selain itu peraturan daerah Kabupaten Tabalong No. 2 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Industri Tahun 2019 – 2039, pada pasal 7 ayat 1, mengamanatkan pengembangan kegiatan industri unggulan berbasis industri agro; sandang; kimia dan bahan bangunan; serta logam dan elektronika. Perda No. 9 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun 2014-2034 juga menjadi dasar pengembangan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Seradang menjadi Kawasan Industri (KI) termasuk juga peraturan daerah RTRWP, RPIP, dan RTRWK.
Pengembangan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Seradang menjadi Kawasan Industri (KI) menghadapi permasalahan multi-criteria decision-making. Artinya, perlu upaya, menyusun dan melakukan prioritas dari setiap instansi yang terlibat agar program pembangunan Kawasan Industri terlaksana. Bentuk sinergi program berupa strategi bersama penciptaan iklim bisnis yang kondusif dan peningkatan sarana prasarana (infrastruktur). Pemangku kepentingan di Kabupaten Tabalong perlu ditanamkan visi bisnis pembangunan Kawasan Industri, yaitu “Kawasan Industri Berbasis Produk Turunan untuk Perkebunan dan Hasil Tambang”. Agar visi bisnis dapat terwujud maka perlu disusun skala prioritas. Pertama, penguatan sektor perkebunan, (secara intensif dan ekstensif) dan regulasi pengelolaan pertambangan. Kedua, promosi investasi skala nasional bahkan internasional untuk menarik perusahaan yang sesuai dengan visi kawasan industri sekaligus perusahaan pengelola kawasan. Ketiga, percepatan pengembangan kuantitas dan kualitas jalan termasuk jalan kabupaten, provinsi (Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan) dan jalan negara (berkoordinasi dengan Kementerian PUPR).
Kawasan yang akan dikembangkan untuk kegiatan industri di Kabupaten Tabalong mengusung tema dan tujuan perancangan berdasar Peraturan Bupati Tabalong Nomor 01 Tahun 2021. Berdasarkan hal tersebut tujuan penataan BWP KPI Seradang adalah untuk mewujudkan “Kawasan Seradang sebagai Kawasan Industri Unggul dari Sektor Primer yang Berbasis Eco-Spasial dan Berintegritas”. Rancangan dan rencana pengembangan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Seradang dalam bentuk masterplan mempertimbangkan beberapa aspek teknis, antara lain:
▪ Kondisi topografi Kawasan Industri Seradang yang akan dirancang didominasi oleh kelerengan rendah (0-2 %) kemudian kelerengan sedang (2-8%) dan kelerengan tinggi (8-15%). Syarat pada kriteria teknis Kawasan Peruntukan Industri (KPI) berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 30 Tahun 2020 adalah kawasan dengan kemiringan kurang dari 15 persen. Pada kawasan delineasi yang akan dirancang memang didominasi oleh kawasan kemiringan rendah (0-2 persen). Walaupun demikian kemiringan ini akan berpengaruh pada kebutuhan lokasi yang perlu dilakukan cut and fill pada proses perancangan.
▪ Aksesibilitas transportasi darat ke dan dari Kabupaten Tabalong khususnya Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Seradang masih perlu untuk ditingkatkan karena hanya dilalui oleh jaringan jalan arteri primer yang lebar jalannya masih belum memadai sesuai standar yang ada. Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Seradang direncanakan akan dilewati trase
106 kereta api trans Kalimantan yang menghubungkan Kalimantan Timur (Penajem Paser Utara) dengan Banjarbaru.
▪
Selain itu visi Pembangunan Industri Kabupaten Tabalong adalah untuk mewujudkan “Industri yang Maju, Berdaya Saing dan Terintegrasi Berbasis Sumber Daya Lokal serta Berkelanjutan dan Bertanggungjawab Sosial”. Dalam substansi visi pembangunan industri Kabupaten Tabalong memuat beberapa kata kunci, yaitu Industri yang Maju, Berdaya Saing, dan Terintegrasi; Sumber Daya Lokal; serta Berkelanjutan dan Bertanggungjawab Sosial. Sehingga tema perancangan dirumuskan sebagai Smart Industrial Park.
Tema tersebut merupakan kombinasi antara smart city dan juga konsep green development.
Konsep green development secara operasional merupakan konsep Eco-Industrial Parks, dikaitkan dengan kerangka pembangunan global akan menjawab tujuan dari SDG’s. Dimana pada tahun 2030 komunitas bisnis (pelaku industri) secara bersamaan mencapai peningkatan kinerja lingkungan, ekonomi, dan sosial melalui kolaborasi dalam mengelola masalah lingkungan dan sumber daya lokal. Melalui konsep pengembangan industri yang akan dikembangkan di Kabupaten Tabalong ini juga didasarkan atas keunggulan kompetitif sehingga mampu mendorong pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Industri ramah lingkungan yang akan dikembangkan di wilayah Kabupaten Tabalong juga akan mendorong ekosistem yang lebih baik, melalui inovasi untuk praktik bisnis yang bertanggung jawab. Praktik yang dapat dilakukan dengan dasar eco-industrial parks yang mengutamakan efisiensi sumber daya dan praktik sirkuler ekonomi, serta menjembatani kesenjangan antara kota dan industri dengan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kota yang berkelanjutan. Sehingga pengembangan wilayah yang diusung berkaitan dengan smart city dimana inti dari konsep pengembangan ini adalah penggunaan database yang terintegrasi berbasis ICT sehingga kegiatan mobilitas barang dan manusia akan berbasis pada smart mobility yang akan mendukung smart living yang akhirnya akan membangun semangat smart branding. Selain itu pengembangan wilayah yang ditujukan untuk kegiatan industri mengusung konsep “yin” dan “yang” dengan meletakkan kawasan hijau yang mudah diakses oleh setiap clusternya. Konsep ini dilakukan dengan menetapkan area buffer untuk menjadi pembatas antara kegiatan yang berbasis agroindustri dengan kegiatan industri yang ada saat ini (industri semen).
5.2. Rekomendasi
Kebijakan untuk mendorong kegiatan industri di Kabupaten Tabalong melalui pengembangan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Seradang menjadi Kawasan Industri (KI) perlu dilakukan langkah konkrit, antara lain :
1. Tindaklanjut penyusunan perda pembangunan Kawasan Industri (KI) yang akan menjadi dasar untuk melakukan clear dan clean sesuai tata ruang yang telah ditetapkan. Masalah lahan menjadi krusial, agar nilai ekonomi kawasan dapat bersaing dibandingkan dengan kawasan lain di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan.
107 2. Pengurusan perijinan Ijin Usaha Kawasan Industri (IUKI) yang diterbitkan pemerintah pusat (Kementerian Perindustrian). Pemerintah daerah berperan kunci dalam menjembatani berbagai syarat administrasi. Ijin Usaha Kawasan Industri (IUKI) menjadi dasar bagi pengelola kawasan (perusahaan). Pengelola kawasan adalah perusahaan yang mengusahakan pengembangan dan pengelolaan kawasan industri baik pada saat persiapan maupun dalam pengelolaan kedepan.
3. Melakukan sinkronisasi program kerja antar pemangku kepentingan daerah. Kegiatan industri perlu mendapat support sehingga daya dukung (sumber daya manusia, infrastruktur) dapat mengarah pada daya saing. Salah itu mengoptimalkan penerapan
“Online Single Submission (OSS) terus dilakukan agar terwujud kemudahan berinvestasi bagi investor di wilayah Tabalong.
4. Insentif dan promosi daerah, dijalankan dengan melakukan inovasi kebijakan tingkat daerah yang memiliki kaitan dengan upaya peningkatan kegiatan industri (khususnya dalam Kawasan Industri). Insentif yang dapat dilakukan berupa penerbitan peraturan daerah yang mempermudah kegiatan investasi, khususnya investasi dalam kawasan.
Insentif lain berupa fasilitasi yang menjamin kapasitas sumber daya manusia daerah memiliki kemampuan sesuai kebutuhan industri, pendidikan berbasis vokasi menjadi penting. Promosi daerah dapat dilakukan dengan melakukan komunikasi insentif dengan pelaku usaha yang memiliki kantor pusat di luar negeri. Selain itu kegiatan promosi dagang dan investasi langsung ke negara yang menjadi mitra potensial melalui mekanisme sister city.
108
Daftar Pustaka
Acemoglu, D. (2009). Introduction to modern economic growth. Princeton, Princeton University Press.
Annen, K. (2003). "Social capital, inclusive networks, and economic performance." Journal of economic behavior & organization 50(4): 449-463.
Aspiansyah and A. Damayanti (2019). "Model Pertumbuhan Ekonomi Indonesia: Peranan Ketergantungan Spasial." Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia 19(1): 62–83 Bappeda. 2019. “ Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tabalong 2019-2024”,
Tabalong.
Bappeda. 2020. “Peraturan Daerah No. 2 Tahun 2020 Tentang Rencana Pembangunan Industri Kabupaten Tabalong 2019-2039”, Tabalong
Bappenas. 2015. "Seri Analisis Pembangunan Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan 2015." In.
Jakarta.
Bappenas. 2020. “Rancangan Teknokratik: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024”. Jakarta
Barro, R. J. (1997). Macroeconomics. Cambridge, Mass, MIT Press.
Blanchard, O. and J. R. Sheen (2009). Macroeconomics: Australasian edition. Frenchs Forest, NSW, Pearson Australia.
Cahyoputra, 2019. “Percepatan Infrastruktur Topang Industrialisasi: Kemenperin usulkan 19 Kawasan Industri prioritas”, Investor daily, 11 Desember 2019.
Cipta Karya PU, 2017. “Arahan Kebijakan dan Rencana Strategis Infrastruktur Bidang Cipta Karya Kabupaten Tabalong Tahun 2017 – 2021”, Jakarta
Coelli, T.J., dan Perelman, S. 1999. ‘A Comparison of Parametric and Non-parametric Distance Functions: With Application to European Railways’. European Journal of Operational Research. No. 117, hal. 326-39
Dornbusch, R. (2006). Macroeconomics. North Ryde, N.S.W, McGraw-Hill Australia.
Heimler, A. 1991. ‘Linkages and Vertical Integration in the Chinese Economy’. The Review of Economics and Statistics. Vol. 73, No. 2, hal. 261-267
Izzati, Nurul. 2018. “Pengrauh Pertumbuhan ekonomi dan Pengeluaran Pemerintah terhadap Angka Kemiskinan di Kabupaten Tabalong”. Jurnal kebijakan Pembangunan, Vol. 13 No. 1.
Jeffrey G. Williamson, J.G. 1965. ‘Regional Inequality and the Process of National Development: A Description of the Patterns’. Economic Development and Cultural Change. Vol. 13, No. 4, hal. 1-84
Nelson, Richard R., and Howard Pack. 1999. "The Asian Miracle and Modern Growth Theory."
The Economic journal (London) 109 (457):416-436. doi: 10.1111/1468-0297.00455.
109 O’Farrell, P. N., dan O’Loughlin, B. 1981. ‘New Industri Input Linkages in Ireland: An
Econometric Analysis’. Environment and Planning A, Vol. 13, No. 3, hal. 285–308 Pierre Bourdieu (1986 ). The Forms of Capital. Handbook of Theory and Research for the
Sociology of Education,. J. G. Richardson. New York Greenwood.
Pietrobelli, C. and A. Sverrison (2004). Linking Local and Global Economies: The Ties that Bind.
Florence, Routledge.
Porter, M. E. (1998). The competitive advantage of nations: with a new introduction. New York, Free Press.
Rabellotti, R. (1997). External economies and cooperation in industrial districts: a comparison of Italy and Mexico. New York, St. Martin's Press.
Robert D.Putnam (1993). "The prosperous community." The American Prospect 4(13): 35-42.
Romer, P. M. (1996). "Why, Indeed, in America? Theory, History, and the Origins of Modern Economic Growth." The American economic review 86(2): 202-206.
Saaty, T. L. 1990. ‘How to make a decision: The analytic hierarchy process’. European Journal of Operational Research. Vol. 48, No. 1, hal. 9–26
van Dijk, M. P. and R. Rabellotti (1997). Enterprise Clusters and Networks in Developing Countries. London, Routledge.
Vidyattama, Y. (2014). "Issues in applying spatial autocorre- lation on Indonesia’s provincial income growth analysis. ." Australasian Journal of Regional Studies 20(2): 375-402.