BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 A NALISIS T EMA P ENELITIAN
4.3.2 Jaringan Usaha
Faktor kunci keberhasilan UMKM kreatif kedua adalah jaringan usaha. Jaringan usaha memberikan banyak kontribusi bagi pengembangan dan kinerja terhadap UMKM dalam menjalankan kegiatan usahanya. Menurut Irawan (2020), Jaringan usaha (business networks) merupakan kerjasama usaha, akses dan hubungan-hubungan dengan pihak ketiga (perusahaan lain, lembaga keuangan, dan lainnya) yang dibutuhkan oleh sebuah usaha agar dapat berjalan secara efektif dan efisien, sehingga produktivitas usaha yang diharapkan dapat tercapai. Istilah jaringan sendiri memiliki banyak definisi, namun sebagian besar orang setuju bahwa jaringan dapat mengatasi permasalahan permodalan, membantu proses pemasaran, dan mendorong
52
kedisiplinan pelaku usaha. Dalam hal ini, jaringan usaha perlu melibatkan unit usaha lain dalam menjalankan kegiatan usaha nya yang dilakukan oleh produsen bagi kegiatan produksi dan pemasaran produknya melalui kontak, pengalaman, spesialisasi, dan skala operasi (Wijanarko
& Susila, 2016). Irawan (2020) membagi jaringan usaha menjadi beberapa fungsi yaitu:
1. Jaringan pemasaran, dibagi menjadi 2 yaitu jaringan inti dan penunjang. Jaringan inti terdiri dari para perantara pemasaran seperti grosir, pengecer, agen dan perantara pemasaran lainnya. Sedangkan jaringan penunjang, yaitu lembaga/pihak ketiga yang berperan menjadi penunjang kesuksesan pemasaran seperti perusahaan/lembaga yang bergerak dalam bidang promosi, ekspedisi, transportasi, informasi pasar, pembiayaan kegiatan pemasaran, memberikan jaminan dalam pemasaran, dan lain-lain.
2. Jaringan produksi/operasi, meliputi kerjasama usaha dan hubungan dengan berbagai pihak (produsen, pemasok, dan pihak lainnya) yang dibutuhkan untuk menjamin proses produksi/operasi dapat berjalan dengan baik. Dengan jaringan produksi yang kuat maka kapasitas produksi perusahaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan (fleksibilitas dalam kapasitas), dapat dilakukan lebih efisien, dan dapat melakukan produksi yang besar melalui subkontrak sehingga dapat memenuhi permintaan yang besar dengan cara ekonomis.
3. Jaringan keuangan/pembiayaan, menyangkut kerjasama, hubungan-hubungan dan akses ke sumber pembiayaan, baik lembaga keuangan bank, maupun non-bank.
Jaringan keuangan/pembiayaan ini tentunya diperlukan perusahaan terutama untuk pemenuhan kebutuhan modal perusahaan secara efektif dan efisien. Selain itu, jaringan dengan lembaga keuangan diperlukan untuk kemudahan-kemudahan dalam melakukan transaksi bisnis.
53
Unik Batik memiliki jaringan usaha dalam melaksanakan kegiatan usahanya.
Berdasarkan temuan hasil penelitian di lapangan, Keberadaan jejaring usaha berperan aktif dalam membantu UMKM dalam memproduksi, memasarkan serta membantu Unik Batik Bayat meningkatkan kinerja usaha yang dimiliki. Peneliti melihat bahwa UMKM yang dijalankan saat ini memiliki 2 fungsi jaringan yaitu jaringan pemasaran dan juga jaringan produksi/operasi.
Adapun jaringan usaha yang dimiliki oleh Unik Batik Bayat, sebagai berikut:
1. Jaringan pemasaran terdiri dari jejaring dinas, perkantoran, dan jejaring butik yang tersebar di Kota Yogyakarta, Klaten, Surakarta, dan beberapa kota diluar Pulau Jawa seperti Bali. Ketiga jejaring yang dimiliki oleh Unik Batik saat ini mengambil peran penting bagi usaha yang sedang dijalankan dalam menyalurkan produk usahanya.
Adapun peningkatan jaringan usaha Unik Batik tahun ke tahun ditunjukkan pada tabel berikut:
Tabel 2. Jaringan Usaha UMKM Unik Batik
Tahun Jaringan Usaha Yang Dimiliki
1995 - 2007 Produksi Rumahan (fokus mengerjakan pesanan orang lain)
2015 Awal berkerjasama dengan Batik Soga
2015-2017 Kerjasama dengan beberapa butik seperti Batik Amerta, Batik Keris, Batik Semar
2018 - saat ini Jejaring pemasaran pada kalangan dinas dan perkantoran
Berdasarkan data temuan di lapangan, Unik Batik tidak memiliki jaringan usaha yang cukup pada masa awal merintis dari tahun 1995-2007. Usaha yang dijalankan masih
54
berfokus pada pengerjaan pesanan orang lain. Seiring dengan berjalannya waktu dan didukung dengan pertambahan jumlah kain batik yang diproduksi Unik Batik dari tahun ke tahun, UMKM ini memiliki peluang untuk memperluas jangkauan pasarnya.
Terbukti sejak tahun 2015, pemilik sekaligus pengelola Unik Batik konsisten membangun hubungan kerjasama dimulai dari Batik Soga. Di tahun yang sama, jejaring pemasaran mengalami peningkatan seperti bekerjasama dengan Batik Amerta, Batik Semar, dan Batik Keris. Hingga pada tahun 2018, Unik Batik mampu menembus pasar Dinas dan Perkantoran di Kab. Klaten. Hingga saat ini, jejaring pemasaran yang dimiliki oleh Unik Batik membawa keuntungan yang terlihat dari penambahan jumlah konsumen, peningkatan volume produksi, dan peningkatan volume penjualan.
2. Keberadaan konsumen tergolong dalam jaringan pemasaran. Berdasarkan temuan informasi di lapangan, peneliti melihat bahwa konsumen secara tidak langsung turut mengambil peran dalam kegiatan pemasaran. Konsumen yang telah membeli produk pada UMKM ini melakukan promosi mulut ke mulut (Word of Mouth) dengan memberikan testimonial terkait barang yang dibeli. Penelitian Finanda dan Wiwaha (2017) mengatakan bahwa word of mouth dilakukan seseorang terlebih dahulu memiliki pengalaman pribadi mengenai suatu produk, jasa dan merek yang kemudian diinformasikan kepada orang lain dengan dimensi informasi positif, rekomendasi, bujukan, pujian, dan kepercayaan. Sehingga dengan adanya promosi yang dilakukan oleh konsumen memberikan dampak signifikan pada penambahan jumlah calon pelanggan baru yang akan membeli produk UMKM.
“Ee… konsumen itu kalau emang beli dan bagus, dan cocok dengan kualitasnya, biasanya sampai kapanpun dia akan selalu balik lagi. Bahkan
55
mereka juga jadi penentu pasar kita, kebanyakan yang kesini ya itu tadi, karena dari mulut ke mulut.” (S1.W2. 127-130)
3. Jejaring produksi/operasi yang dimiliki oleh Unik Batik terdiri dari jejaring lokal dan regional. Adapun jejaring produksi yang dimiliki yaitu Koperasi yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) sebagai penyedia bahan baku sementara. Tak hanya itu, Unik Batik juga berkerjasama dengan pabrik tekstil di Kota Solo sebagai pemasok bahan baku utama kain-kain yang digunakan pada proses produksi. Peneliti melihat bahwa hubungan kerjasama yang timbul antara UMKM dan jaringan usaha memberikan kontribusi positif bagi usaha dalam proses penciptaan produk kreatif dan mendorong kinerja usaha yang dijalankan dalam memenuhi permintaan pasar yang besar.
“Dari solo mbak, kalau ngambil bahan kainnya. Kalau aku langsung mengambil dari gudangnya langsung. Disini juga ada koperasi juga sih mbak, dikelola Bumdes kan, jadi semua disediakan disitu. Jadi semisal kita butuh bahan baku eceran atau mendadak habis ya gak mungkin lari ke solo, makan waktu lagi, jauh kan dari sini ke solo, ya jadinya ngambil di koperasi sini mbak. (S1.W1.168-173)