• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. Ruang Lingkup dan Metode Penghitungan

3.17. Jasa Lainnya

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Tana Tidung

3.17 Jasa lainnya

. Grafik 3.18.

Laju Jasa Lainnya (Persen), 2015-2019

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Tana Tidung

97

BAB IV

Tinjauan Ekonomi Kabupaten Tana Tidung dari Sisi Permintaan

Pada tahun 2019, perekonomian Kalimantan Utara mengalami pertumbuhan yang positif. Keadaan ini didukung dengan peningkatan pertumbuhan komponen PDRB Pengeluaran seperti PMTB, ekspor, net ekspor antar daerah, konsumsi rumah tangga, konsumsi LNPRT, konsumsi pemerintah, dan perubahan inventori.

Selaras dengan membaiknya perekonomian Kalimantan Utara, perekonomian di Kabupaten Tana Tidung mengalami pertumbuhan sebesar 4,84 persen pada tahun 2019. Seluruh komponen penyusun PDRB kabupaten Tana Tidung mengalami pertumbuhan yang positif. Untuk lebih jelasnya, perilaku masing-masing komponen pengeluaran itu akan diuraikan pada bagian berikut.

Tabel 4.1.

PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Pengeluaran Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015 – 2019 (Juta Rupiah)

Komponen Pengeluaran 2015 2016 2017 2018* 2019**

(1) (2) (3) (4) (5) (6) menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun ke tahun. Peningkatan nilai tersebut dipengaruhi oleh adanya perubahan harga dan juga perubahan volume. Pada tahun

98

2015, PDRB Kabupaten Tana Tidung ADH Berlaku sebesar Rp 3.960, 30 miliar dan mencapai Rp 5.785,69 miliar pada tahun 2019.

Tabel 4.2.

PDRB Atas Dasar Harga Konstan Menurut Pengeluaran Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015 – 2019 (Juta Rupiah)

Komponen Pengeluaran 2015 2016 2017 2018* 2019**

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Selain dinilai atas dasar harga (ADH) Berlaku, PDRB menurut pengeluaran juga dinilai ADH Konstan 2010 atau ADH berbagai produk yang dinilai dengan harga pada tahun 2010. Penghitungan PDRB ADH Konstan pada masing-masing tahun dapat memberikan gambaran tentang perubahan PDRB secara volume atau secara kuantitas saja (tanpa ada pengaruh perubahan harga). PDRB pengeluaran ADH Konstan menggambarkan perubahan atau pertumbuhan ekonomi secara riil, utamanya berkaitan dengan peningkatan volume konsumsi akhir.

Sama halnya dengan PDRB ADH Berlaku, seluruh komponen pengeluaran akhir PDRB ADH Konstan juga menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Nilai PDRB ADH Konstan tahun 2015 sebesar Rp 3.237,24 miliar dan pada tahun 2019 meningkat menjadi Rp 3.704,79 miliar.

Grafik 4.1. menunjukkan bahwa pada umumnya nilai PDRB ADHB selalu lebih besar dari nilai PDRB ADHK. Perbedaan tersebut disebabkan karena ada pengaruh perubahan harga dalam perhitungan PDRB ADHB. Dalam PDRB ADHK pengaruh faktor harga telah ditiadakan.

99 Grafik 4.1.

Perbandingan PDRB ADHB dan ADHK 2010 Menurut Pengeluaran Kabupaten Tana Tidung, Tahun 2015 – 2019 (Miliar Rupiah)

* Angka sementara

** Angka sangat sementara

Terbentuknya keseluruhan PDRB atau total PDRB merupakan kontribusi dari semua komponen pengeluarannya, yang terdiri dari konsumsi akhir rumah tangga (PK-RT), konsumsi akhir LNPRT (PK-LNP(PK-RT), konsumsi akhir pemerintah (PK-P), pembentukan modal tetap bruto (PMTB), perubahan inventori, dan ekspor neto (E) atau ekspor dikurangi impor.

3,960,304 4,209,731

4,753,743 5,187,021

5,785,694

3,237,239 3,272,722 3,401,828 3,533,774 3,704,792

0 1,000,000 2,000,000 3,000,000 4,000,000 5,000,000 6,000,000 7,000,000

2015 2016 2017 2018 2019

ADHB ADHK 2010

* **

100

Tabel 4.3.

Distribusi PDRB ADHB Menurut Pengeluaran Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015 – 2019 (Persen)

Komponen Pengeluaran 2015 2016 2017 2018* 2019**

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Berdasarkan Tabel 4.3 terlihat bahwa selama periode 2015-2019, produk yang dihasilkan di wilayah domestik sebagian besar masih digunakan untuk investasi fisik (hal ini dapat dilihat dari nilai distribusi PMTB) dan pengeluaran net ekspor (ekspor dikurangi impor) dimana berkontibusi diatas 30 persen. Selanjutnya pengeluaran untuk konsumsi akhir pemerintah juga mempunyai peran relatif besar dengan kontribusi sekitar 12-17 persen. Pengeluaran konsumsi rumah tangga mempunyai peranan sekitar 8-10 persen. Sementara itu, untuk pengeluaran konsumsi LNPRT Kabupaten Tana Tidung mempunyai peran yang relatif kecil, hanya sekitar satu persen.

Agregat makro lain yang dapat diturunkan dari data PDRB adalah pertumbuhan riil PDRB atau lebih dikenal dengan pertumbuhan ekonomi (economic growth), yang menggambarkan kinerja pembangunan di bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tana Tidung selama periode 2015-2019 secara rata-rata mencapai 2,93 persen, dengan pertumbuhan masing-masing tahun sebesar 0,88 persen (2015); 1,10 persen (2016); 3,94 persen (2017); 3,88 persen (2018); dan 4,84 persen (2019).

Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2019 yakni sebesar 4,84 persen, sebaliknya yang terendah terjadi pada tahun 2015 (0,88 persen).

101 Tabel 4.4.

Pertumbuhan PDRB ADHK 2010 Menurut Pengeluaran Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015 – 2019 (Persen)

Komponen Pengeluaran 2015 2016 2017 2018* 2019**

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Sementara itu, indeks harga implisit PDRB yang menggambarkan tingkat perubahan harga yang terjadi pada sisi konsumen, baik konsumen akhir (rumah tangga, LNPRT, dan pemerintah) maupun konsumen lainnya (perusahaan dan luar negeri) juga menunjukkan peningkatan. Indeks implisit digunakan untuk melihat inflasi dari sisi perekonomian secara makro.

Tabel 4.5.

Indeks Implisit PDRB Menurut Pengeluaran Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015 – 2019 (Persen)

Komponen Pengeluaran 2015 2016 2017 2018* 2019**

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1. Konsumsi Rumah Tangga 143,65 148,34 151,09 155,02 159,67

2. Konsumsi LNPRT 154,30 158,24 161,07 161,97 167,73

3. Konsumsi Pemerintah 160,08 167,29 169,35 173,14 180,62

4. PMTB 140,42 148,76 153,36 156,61 162,49

5. Perubahan Inventori 177,16 152,80 164,05 171,23 175,95

6. Ekspor 119,38 125,52 137,44 146,71 157,52

7. Impor 137,24 143,31 149,11 156,80 165,65

Total PDRB 122,34 128,63 139,74 146,78 156,17

* Angka sementara

** Angka sangat sementara

102

Tujuan penghitungan indeks implisit adalah untuk melihat pertumbuhan harga dibandingkan tahun dasar. Indeks implisit pada tahun 2015 sebesar 122,34; kemudian meningkat berturut-turut sebesar 128,63 (2016), 139,74 (2017), 146,78 (2018), dan 156,17 (2019). Tingginya indeks implisit di Kabupaten Tana Tidung salah satunya ditandai dengan mahalnya harga barang di daerah kabupaten tana tidung.

4.1 Perkembangan Konsumsi Akhir Rumah Tangga

Data berikut menunjukkan bahwa sebagian besar produk domestik dan produk impor digunakan untuk memenuhi konsumsi akhir rumah tangga.

Tabel 4.6.

Perkembangan Penggunaan Konsumsi Akhir Rumah Tangga Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015 – 2019 rumah tangga mengalami peningkatan signifikan baik secara nominal (ADH Berlaku) maupun riil (ADH Konstan), sejalan dengan kenaikan jumlah penduduk. Kenaikan jumlah

2Diturunkan dari perhitungan PDRB (atas dasar harga konstan/ADHK 2010)

103

penduduk mendorong terjadinya kenaikan nilai konsumsi rumah tangga, yang pada gilirannya akan mendorong laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Salah satu yang mendorong kenaikan jumlah penduduk dan berpengaruh pada peningkatan konsumsi rumah tangga di Kabupaten Tana Tidung yaitu banyaknya pendatang di kabupaten tana tidung salah satunya dikarenakan penerimaan pegawai negeri sipil. Selain itu, kemudahan belanja online menyebabkan tingkat daya beli masyarakat semakin meningkat dimana beberapa desa di kabupaten tana tidung yang sebelumnya susah mengakses internet telah mendapatkan bantuan untuk mempermudah akses internet dari Kementerian Komunikasi dan informatika. Damri yang baru beropresi pada tahun 2019 juga menjadi salah satu hal yang menyebabkan meningkatknya pengeluaran konsumsi rumah tangga.

Porsi pengeluaran konsumsi rumah tangga terhadap PDRB dalam periode 2015-2019 mengalami penurunan setiap tahunnya. Pada tahun 2015 mencapai 9,68 persen dan menurun menjadi 8,23 persen pada tahun 2019.

Meskipun pengeluaran konsumsi rumah tangga mengalami peningkatan signifikan baik secara nominal (ADH Berlaku) maupun riil (ADH Konstan) namun proporsi terhadap PDRB dalam periode 2015-2019 mengalami penurunan setiap tahunnya. Salah satunya dikarenakan pengaruh dari nilai proporsi komponen PDRB Pengeluaran lainnya seperti PMTB, ekspor, net ekspor antar daerah, konsumsi LNPRT, dan konsumsi pemerintah.

Secara umum, rata-rata konsumsi per rumah tangga menurut harga berlaku menurun dari tahun ke tahun. Pada tahun 2015, setiap rumah tangga di Kabupaten Tana Tidung menghabiskan dana sekitar 17,51 juta rupiah setahun untuk membiayai konsumsi berupa makanan dan bukan makanan (sandang, perumahan, pendidikan, dsb). Pengeluaran tersebut menurun hingga menjadi 16,45 juta rupiah pada tahun 2019.

Sementara itu, rata-rata konsumsi rumah tangga menurut ADH Konstan 2010 per rumah tangga juga mengalami penurunan. Pada tahun 2015, rata-rata konsumsi rumah tangga per kapita menurut ADH Konstan 2010 sekitar 12,19 juta rupiah setahun,

104

kemudian menurun menjadi 10,30 juta rupiah pada tahun 2019. Kondisi ini menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi setiap penduduk di Kabupaten Tana Tidung belum mengalami peningkatan baik secara kuantitas (volume) maupun secara nilai (termasuk juga peningkatan kualitas).

Secara total, pertumbuhan konsumsi rumah tangga ADH Konstan sebesar 3,70 persen pada tahun 2015. Selanjutnya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga cenderung meningkat dan pada tahun 2019 menjadi 3,34 persen. Pertumbuhan konsumsi per kapita setiap tahunnya bernilai negatif. Hal ini mengindikasikan penurunan rata-rata konsumsi perkapita pertahun. Pada tahun 2015 pertumbuhan konsumsi rumah tangga per kapita mencapai 3,37 persen, dan pada tahun 2019 pertumbuhannya sebesar 3,93 persen.

Berdasarkan Tabel 4.6, dapat dilihat bahwa peningkatan konsumsi rumah tangga secara “riil” lebih rendah daripada peningkatan jumlah penduduk yang umumnya berada di atas enam persen. Hal ini mengindikasikan terjadi perubahan tingkat kesejahteraan masyarakat, meskipun tidak dapat dijelaskan lebih jauh melalui perangkat data PDRB ini.

Tabel 4.7.

Struktur Penggunaan Konsumsi Akhir Rumah Tangga Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015 – 2019 (Persen)

Total Konsumsi 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

* Angka sementara

** Angka sangat sementara

105

Selama periode 2015-2019, dalam struktur konsumsi akhir rumah tangga Kabupaten Tana Tidung, dapat dilihat bahwa konsumsi bukan makanan lebih tinggi dibandingkan konsumsi makanan. Proporsi pengeluaran untuk makanan cenderung masih berada pada kisaran di bawah 41 persen. Proporsi konsumsi makanan pada masing-masing tahun sebesar 39,51 persen (2015); 40,05 persen (2016); 39,86 persen (2017); 40,04 persen (2018); dan 39,86 persen (2019).

Struktur konsumsi di atas, menunjukkan tarik menarik antara kebutuhan rumah tangga atas makanan dan non-makanan yang masih cukup kuat. Namun demikian, pengeluaran untuk kebutuhan non-makanan menjadi semakin penting sebagai akibat dari perubahan dan pengaruh tatanan sosial ekonomi dalam masyarakat. Pengeluaran tersebut di antaranya meliputi biaya untuk pendidikan, pembelian alat dan perlengkapan elektronik, pembelian alat transportasi, jasa komunikasi, jasa transportasi, jasa kesehatan, perjalanan wisata, restoran, sewa bangunan tempat tinggal, jasa hiburan, dan sebagainya.

Dilihat dari pertumbuhan “riil”-nya, pengeluaran rumah tangga untuk kelompok bukan makanan ada yang cenderung mengalami percepatan dan perlambatan.

Pertumbuhan “riil” ini menunjukkan adanya perubahan konsumsi rumah tangga dalam bentuk kuantum (volume) dari waktu ke waktu. Informasi ini menunjukkan terjadinya peningkatan kesejahteraan masyarakat, meskipun mungkin hanya dapat dinikmati oleh kelompok masyarakat tertentu.

106

Tabel 4.8.

Pertumbuhan Riil Penggunaan Konsumsi Akhir Rumah Tangga Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015 – 2019 (Persen)

Kelompok Konsumsi 2015 2016 2017 2018* 2019**

Sementara itu, tingkat perubahan harga yang secara implisit disajikan dalam Tabel 4.9, menunjukkan peningkatan setiap tahunnya untuk setiap kelompok konsumsi. Kenaikan harga kelompok makanan paling tinggi terjadi pada tahun 2015.

Peningkatan harga kelompok makanan berturut-turut adalah 11,63 persen (2015); 4,87 persen (2016); 1,33 persen (2017); 2,34 persen (2018); dan 2,65 persen (2019).

Tabel 4.9.

Pertumbuhan Implisit (Indeks Harga) Penggunaan Konsumsi Akhir Rumah Tangga Kabupaten Tana Tidung, Tahun 2015 – 2019 (Persen)

Kelompok Konsumsi 2015 2016 2017 2018* 2019**

107

4.2 Perkembangan Konsumsi Akhir LNPRT Tabel 4.10.

Perkembangan Penggunaan Konsumsi LNPRT Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015 – 2019

Peran konsumsi akhir LNPRT dalam PDRB menurut pengeluaran sangat minor dibandingkan dengan komponen pengeluaran lainnya. Hal ini dikarenakan jumah Lembaga non profit yang sangat sedikit di Kabupaten Tana Tidung. Beberapa kegiatan LNPRT di Kabupaten Tana Tidung dilakukan oleh organisasi – organisasi seperti PGRI, IGI, KKG PAI, dan sebagainya. Sementara untuk LNPRT seperti panti asuhan tidak tersedia di kabupaten tana tidung. Peranan institusi ini dalam perekonomian suatu wilayah semestinya dapat lebih ditingkatkan lagi.

4.3 Perkembangan Konsumsi Akhir Pemerintah

Konsumsi akhir pemerintah bersama dengan pengeluaran akhir rumah tangga dan LNPRT merupakan jumlah dari konsumsi akhir dalam suatu perekonomian suatu wilayah. Pengeluaran konsumsi pemerintah juga dapat dilihat dari realisasi anggaran pendapatan dan belanja daerah dan alokasi anggaran pemerintah pusat. Peranan konsumsi pemerintah dalam perekonomian Kabupaten Tana Tidung serta bagaimana perkembangannya akan dijelaskan dalam uraian di bawah ini.

Secara total, pengeluaran konsumsi akhir pemerintah selama tahun 2015-2019 menunjukkan fluktuatif, baik untuk ADH Berlaku maupun ADH Konstan 2010.

Walaupun demikian, pengeluaran konsumsi akhir pemerintah ADH Berlaku cenderung mengalami peningkatan. Pengeluaran konsumsi akhir pemerintah ADH Berlaku pada tahun 2015 sebesar 635,97 miliar rupiah, kemudian menjadi 696,80 miliar rupiah pada

108

tahun 2019. Sementara itu, konsumsi pemerintah ADH Konstan 2010 cenderung mengalami penurunan. Pengeluaran konsumsi akhir pemerintah ADH Konstan pada tahun 2015 sebesar 397,29 miliar rupiah, kemudian menjadi 385,77 miliar rupiah pada 2019. Hal ini mengindikasikan, bahwa secara riil telah terjadi penurunan pengeluaran pemerintah dari sisi kuantitas.

Apabila dicermati lebih lanjut terlihat bahwa proporsi pengeluaran konsumsi akhir pemerintah terhadap PDRB mengalami penurunan setiap tahunnya, dari 16,06 persen di tahun 2015 hingga mencapai 12,04 persen pada tahun 2019. Sepanjang periode tersebut, proporsi terendah terjadi pada tahun 2019, sedangkan proporsi tertinggi pada tahun 2015.

Dalam prakteknya, pengeluaran pemerintah seringkali dikaitkan dengan luasnya cakupan layanan yang diberikan pada masyarakat. Kondisi tersebut dapat diartikan bahwa setiap rupiah pengeluaran pemerintah harus ditujukan untuk melayani penduduk, baik langsung maupun tidak langsung. Pengeluaran konsumsi pemerintah secara total atas dasar konstan menunjukkan penurunan, hal ini diikuti oleh adanya penurunan pada rata-rata konsumsi pemerintah per kapita. Pada tahun 2015 konsumsi pemerintah per kapita ADH Konstan sebesar 18,14 juta rupiah, dan terus menurun pada tahun-tahun berikutnya (lihat tabel 4.11).

109 Tabel 4.11.

Perkembangan Pengeluaran Konsumsi Akhir Pemerintah Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015 – 2019

* Angka sementara

** Angka sangat sementara

Gambaran tentang konsumsi akhir pemerintah per kapita secara “riil”

menunjukkan penurunan baik secara keseluruhan maupun rata-rata (per kapita).

Parameter ini merupakan pendekatan untuk mengukur pemerataan kesempatan masyarakat atas penggunaan sumber daya finansial oleh pemerintah. Pertumbuhan total konsumsi pemerintah tertinggi terjadi pada tahun 2019 yaitu sebesar 3,35 persen.

4.4 Perkembangan Pembentukan Modal Tetap Bruto

Komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) pada sajian PDRB menurut pengeluaran, lebih menjelaskan tentang bagian dari pendapatan (income) yang direalisasikan menjadi investasi (fisik). Atau pada sisi yang berbeda dapat pula diartikan sebagai gambaran dari berbagai produk barang dan jasa yang sebagian digunakan sebagai investasi fisik (kapital). Fungsi kapital adalah sebagai input tidak langsung (indirect input) di dalam proses produksi pada berbagai lapangan usaha.

Kapital ini dapat berasal dari produksi domestik maupun dari impor.

3 Diturunkan dari perhitungan PDRB (atas dasar harga konstan /ADHK 2010)

U r a i a n 2015 2016 2017 2018* 2019**

b. Konsumsi perkapita (24,00) (6,80) (14,30) (4,25) (3,92)

Jumlah penduduk (org) 21 891 23 497 25 084 26 892 28 926

110

Tabel 4.12.

Perkembangan dan Struktur PMTB Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015 – 2019

Komponen PMTB juga menunjukkan peningkatan baik secara nominal maupun riil. Tabel 4.12 menjelaskan bahwa secara keseluruhan pertumbuhan PMTB dalam kurun waktu 2015-2019 mengalami fluktuasi. Nilai pertumbuhan dari 6,01 persen (2015) mengalami perlambatan menjadi 3,08 persen (2016). Kemudian, pada tahun 2017, laju pertumbuhannya menjadi 4,04 persen dan mengalami percepatan menjadi 4,20 persen pada tahun 2018. Pada tahun 2019, terjadi perlambatan sehingga pertumbuhannya menjadi 3,43 persen. Pertumbuhan PMTB pada masing-masing komponen bervariasi antar tahunnya. Sub-komponen bangunan merupakan komponen dengan proporsi terbesar dalam pembentukan modal tetap.

Pembangunan yang dilakukan di Kabupaten Tana Tidung seperti pembangunan bundaran HU, pembangunan dan pemeliharaan jalan, pembangunan pasar induk yang dilakukan pada tahun 2019, dan pembangunan lainnya sebagai salah satu yang

111

mendorong besarnya proporsi Sub-komponen bangunan dalam pembentukan modal tetap. Walaupun demikian, laju pertumbuhannya cenderung melambat selama tahun 2015-2019. Pada tahun 2015 laju pertumbuhannya mencapai 7,66 persen, kemudian melambat pada tahun 2016 menjadi 3,26 persen. Namun pada tahun 2017 kembali meningkat menjadi 4,40 persen. Selanjutnya pada tahun 2018 laju pertumbuhannya menjadi 4,47 persen, namun mengalami perlambatan pada tahun 2019 menjadi 4,06 persen.

Sementara itu, proporsi sub-komponen non-bangunan terhadap total PMTB cenderung stabil selama periode 2015-2019 (tabel 12). Pertumbuhan Komponen non-bangunan cenderung mengalami percepatan pertumbuhan selama periode 2015-2019 meskipun mengalami perlambatan pada tahun 2015-2019. Pada tahun 2015 sub-komponen ini mengalami pertumbuhan negatif sebesar (1,23) persen, kemudian meningkat menjadi 2,23 persen (2016). Pertumbuhannya meningkat bertutut-turut menjadi 2,31 persen (2017) dan 2,88 persen (2018). Namun, pada tahun 2019 pertumbuhannya mengalami perlambatan menjadi 0,30 persen.

4.5 Perkembangan Perubahan Inventori

Secara konsep, yang dimaksud dengan perubahan inventori adalah perubahan dalam bentuk “persediaan” berbagai barang yang belum digunakan lebih lanjut dalam proses produksi, konsumsi ataupun investasi (kapital). Perubahan yang dimaksud disini bisa berarti penambahan (bertanda positif) dan atau pengurangan (bertanda negatif). Apabila perubahan inventori bertanda positif berarti terjadi penambahan persediaan barang, sedangkan apabila bertanda negatif berarti terjadi pengurangan persediaan. Terjadinya penumpukan barang inventori mengindikasikan bahwa distribusi atau pemasaran tidak berjalan dengan sempurna. Secara umum, komponen perubahan inventori dihitung berdasarkan pengukuran terhadap nilai persediaan barang pada awal dan akhir tahun dari dua posisi nilai persediaan (konsep stok).

112

Berbeda dengan komponen pengeluaran lainnya yang dapat dianalisis agak rinci, perubahan inventori baru dapat dianalisis dari sisi proporsinya saja. Perbedaan dalam pendekatan dan tata cara estimasi menyebabkan komponen inventori tidak banyak dikaji lebih. Hal utama yang dapat dilihat dari komponen ini adalah proporsinya dalam PDRB pada umumnya mempunyai besaran atau nilai yang berfluktuasi baik dalam level maupun tandanya (positif atau negatif).

Tabel 4.13.

Perkembangan dan Struktur Perubahan Inventori Kabupaten Tana Tidung Tahun 2015 – 2019

Secara umum, selama periode 2015-2019 nilai perubahan inventori bertanda positif, artinya terjadi penambahan persediaan setiap tahun. Jika dinilai atas dasar harga berlaku penambahan inventori tersebut berada dalam kisaran 32-72 miliar rupiah. Sedangkan atas dasar harga konstan penambahan inventori sekitar 18-41 miliar rupiah pada periode waktu yang sama. Proporsi perubahan inventori dalam PDRB sekitar 0,6-2 persen.

4.6 Perkembangan Ekspor

Dalam struktur permintaan akhir, transaksi ekspor menggambarkan berbagai produk barang dan jasa yang tidak dikonsumsi di wilayah ekonomi domestik, tetapi dikonsumsi oleh pihak luar daerah, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Termasuk pula dalam ekspor pembelian oleh badan-badan internasional, kedutaan

113

besar (termasuk konsulat), awak kapal (udara maupun laut) yang singgah dan sebagainya.

Secara umum, nilai ekspor selama periode 2015-2019 meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2015 nilai ekspor ADH Berlaku mencapai 4.321 miliar rupiah dan terus meningkat hingga menjadi 6.891 miliar rupiah pada tahun 2019. Sejalan dengan nilai ekspor ADH Berlaku, nilai ekspor ADH Konstan 2010 juga menunjukkan arah yang sama, yaitu meningkat setiap tahunnya. Nilai ekspor “riil” masing-masing tahun adalah sebesar 3.620 miliar rupiah (2015); 3.695 miliar rupiah (2016); 3.896 miliar rupiah (2017); 4.088 miliar rupiah (2018); dan 4.374 miliar rupiah (2019). Selama kurun waktu 2015-2019, seiring peningkatan secara nominal nilai ekspor, proporsinya dalam PDRB juga meningkat setiap tahunnya, dari 109,12 persen pada tahun 2015 menjadi 119,10 persen di tahun 2019.

Besarnya Ekspor di Kabupaten Tana Tidung disumbang oleh beberapa komoditas berikut, yaitu kelapa sawit, batubara, hasil kerajinan rotan, hasil laut (bandeng tanpa duri, ikan asin), sarang walet, hasil kayu, udang yang dari bandan bikis dan sengkong bebatu dan sebagainya. Semakin mudahnya akses transportasi juga menjadi salah satu hal yang mendukung kelancaran akses ekspor itu sendiri.

Tabel 4.14.

114

Aktivitas pengeluaran konsumsi (rumah tangga, LNPRT, dan pemerintah) maupun PMTB (termasuk inventori) dan ekspor, didalamnya terkandung produk yang berasal dari impor. PDRB menggambarkan produk yang benar-benar dihasilkan oleh perekonomian domestik Kabupaten Tana Tidung. Untuk mengukur potensi dan besaran produk domestik, komponen impor tersebut harus dikeluarkan dari penghitungan yaitu dengan cara mengurangkan nilai PDRB dengan nilai impornya.

Hasil pengurangan inilah yang secara konsep harus sama dengan nilai PDRB menurut industri (sektor).

Berbeda dengan komponen ekspor, transaksi impor menjelaskan ada tambahan penyediaan (supply) produk di wilayah ekonomi domestik yang berasal dari non residen. Impor terdiri dari produk barang maupun jasa, meskipun rincian penggolongannya bisa berbeda dengan ekspor.

Perkembangan yang terjadi pada transaksi impor menunjukkan semakin kuatnya ketergantungan suatu wilayah terhadap ekonomi atau produk negara lain.

Komponen impor termasuk pembelian berbagai produk barang dan jasa secara langsung (direct purchase) oleh penduduk (resident) Kabupaten Tana Tidung di luar daerah, baik yang berupa makanan maupun bukan makanan (termasuk jasa).

Tabel 4.15.

4 Diturunkan dari perhitungan PDRB (atas dasar harga konstan/ADHK 2010)

115

Tabel 4.15 menunjukkan bahwa nilai impor Kabupaten Tana Tidung selama periode 2015-2019 meningkat setiap tahunnya (baik ADH Berlaku maupun ADH Konstan 2010). Nilai impor menurut ADH Berlaku mencapai 2.994 miliar rupiah pada tahun 2015 dan meningkat menjadi 4.370 miliar rupiah pada tahun 2019. Sementara itu ADH Konstan, nilai impor pada tahun 2015 sebesar 2.182 miliar rupiah dan menjadi 2.638 miliar rupiah pada tahun 2019.

Proporsi impor selama periode 2015-2019 cenderung meningkat. Proporsi impor tersebut masing-masing adalah 75,62 persen (2015); 76,63 persen (2016); 73,25 persen (2017); 74,25 persen (2018); dan 75,53 persen (2019).

Secara riil nilai impor mengalami perubahan yang signifikan selama periode 2015-2019. Laju pertumbuhan impor mengalami percepatan setiap tahunnya. Nilai pertumbuhannya masing-masing tahun adalah sebesar 2,79 persen (2015); 3,15 persen (2016); 3,75 persen (2017); 5,17 persen (2018); dan 7,41 persen (2019).

Perkembangan impor yang meningkat di Kabupaten tana tidung salah satunya dikarenakan sumber daya alam yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sementara jumlah penduduk meningkat setiap tahunnya. Hal ini juga terbukti dimana 60 persen makanan pokok yaitu beras masih dipasok dari luar daerah.

Selain itu, secara rata-rata beberapa komoditas seperti tepung terigu (tidak tersedianya industri pengolahannya), sayur, buah, dan segala komoditas sembako juga impor dari luar daerah. Hal ini yang mendorong meningkatnya nilai impor setiap tahunnya.

116

119 Tabel 1. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Tana Tidung Atas Dasar Harga Berlaku

Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah), 2015─2019

Kategori Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018* 2019** G Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan

Sosial 2 593,0 2 855,5 3 020,2 3 261,9 3 626,6

R,S,T,U Jasa lainnya 15 604,4 17 782,8 18 837,3 19 797,2 22 199,2

Produk Domestik Regional Bruto 3 960 303,9 4 209 730,7 4 753 743,1 5 187 020,9 5 785 693,7

* Angka sementara

** Angka sangat sementara

120

Tabel 2. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Tana Tidung Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah), 2015─2019

Kategori Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018* 2019** G Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan

Sosial 2 238,2 2 338,9 2 415,6 2 502,8 2 549,6

R,S,T,U Jasa lainnya 12 915,7 13 659,0 14 380,3 14 897,9 15 355,3

Produk Domestik Regional Bruto 3 237 238,8 3 272 722,0 3 401 828,1 3 533 774,3 3 704 791,8

* Angka sementara

** Angka sangat sementara

121 Tabel 3. Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Tana Tidung Atas Dasar

Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Persen), 2015─2019

Kategori Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018* 2019**

G Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan

Sosial 0,07 0,07 0,06 0,06 0,06

R,S,T,U Jasa lainnya 0,39 0,42 0,40 0,38 0,38

Produk Domestik Regional Bruto 100 100 100 100 100

* Angka sementara

** Angka sangat sementara

122

Tabel 4. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Tana Tidung Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Persen), 2015-2019

Kategori Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018* 2019**

G Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan

Sosial 2,56 4,50 3,28 3,61 1,87

R,S,T,U Jasa lainnya 2,28 5,76 5,28 3,60 3,07

Produk Domestik Regional Bruto 0,88 1,10 3,94 3,88 4,84

* Angka sementara

** Angka sangat sementara

123 Tabel 5. Indeks Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Tana Tidung Atas

Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha, 2015─2019

Kategori Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018* 2019**

G Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan

Sosial 112,5 117,6 121,4 125,8 128,2

R,S,T,U Jasa lainnya 108,9 115,1 121,2 125,6 129,4

Produk Domestik Regional Bruto 114,1 115,4 119,9 124,6 130,6

* Angka sementara

** Angka sangat sementara

124

Tabel 6. Indeks Harga Implisit Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Tana Tidung Menurut Lapangan Usaha, 2015─2019

Kategori Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018* 2019**

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

A Pertanian, Kehutanan,

danPerikanan 128,59 143,57 144,72 149,06 158,19

B Pertambangan dan Penggalian 104,62 100,55 126,69 137,52 148,92

C Industri Pengolahan 123,17 129,82 136,43 141,12 147,35

D Pengadaan Listrik dan Gas 111,15 119,11 126,89 129,02 165,32 E Pengadaan Air, Pengelolaan

Sampah, Limbah dan Daur Ulang 107,09 113,20 120,60 124,34 129,76

F Konstruksi 141,18 147,11 153,71 162,36 170,38

G Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

126,59 136,99 147,98 153,58 163,30

H Transportasi dan Pergudangan 128,70 131,35 136,51 142,24 149,77 I Penyediaan Akomodasi dan

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan

Sosial 115,86 122,09 125,03 130,33 142,24

R,S,T,U Jasa lainnya 120,82 130,19 130,99 132,89 144,57

Produk Domestik Regional Bruto 122,34 128,63 139,74 146,78 156,17

* Angka sementara

* Angka sementara

Dokumen terkait