BAB III. ANALISIS DATA
III. 2. .Tren IKLH
13. Jawa Tengah
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 73 b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 74
14.
D.I. Yogyakartaa. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 76
b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 77
15. Jawa Timur
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 79
b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 80
16. Banten
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 82
b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 83
17. Bali
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 85
b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 86
18. Nusa Tenggara Barat
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 88
b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 89
19. Nusa Tenggara Timur
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 91
b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 92
20. Kalimantan Barat
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 94
b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 95
21. Kalimantan Tengah
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 97 b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 98
22. Kalimantan Selatan
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 100
b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 101
23. Kalimantan Timur
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 103
b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 104
24. Sulawesi Utara
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 106 b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 107
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup
25. Sulawesi Tengah
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 109 b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 110
26. Sulawesi Selatan
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 112 b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 113
27. Sulawesi Tenggara
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 115 b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 116
28. Gorontalo
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 118 b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 119
29. Sulawesi Barat
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 121 b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 122
30. Maluku
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 124 b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 125
31. Maluku Utara
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 127 b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 128
32. Papua Barat
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 130 b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai
... 131
32. Papua
a. Peta Penutupan Lahan Tahun 2015 ... 133 b. Peta Lokasi Pemantauan Kualitas Air Sungai ... 134
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup
Tim Analisis dan Perhitungan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Tahun 2016
1. Sekretaris Jenderal KLHK Pengarah
2. Kepala Pusat Data dan Informasi Penanggung jawab 3. Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Ketua
4. Kepala Subbidang Penyaji Informasi Sekretaris 5. Prof. Dr. Lilik Budi Prasetyo Anggota
6. Dr. Suryo Adi Wibowo Anggota
7. Dr. Liyantono Anggota
8. Ir. Sri Hudyastuti Anggota
9. Drs. Hendra Setiawan Anggota
Tim Sekretariat: 1. Wiyoga, SE
2. Bagus Martiandi, S.Hut
3. Sudarmanto, ST
4. Yulfikar Tahir Zain, S.Hut
5. S. Dombot Sunaryedi, SAP
6. Juarno
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup
KATA PENGANTAR
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) 2016 merupakan publikasi ketujuh yang menggambarkan kondisi lingkungan hidup Indonesia. IKLH dapat digunakan untuk mengevaluasi secara umum kualitas lingkungan hidup dan tren pencapai tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. IKLH difokuskan pada media lingkungan air, udara dan tutupan lahan.
Dokumen ini menggambarkan kondisi kualitas air, kualitas udara dan kualitas tutupan lahan pada 33 provinsi yang pengukurannya dilakukan pada tahun 2016. Kualitas air diukur pada 150 sungai prioritas nasional pada 33 provinsi, kualitas udara diukur pada kawasan-kawasan perumahan, transportasi, industri, dan perkantoran pada 268 kabupaten/kota, sedangkan kualitas tutupan lahan dihitung berdasarkan indeks tutupan lahan.
Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi tingginya kepada semua pihak yang berkontribusi terhadap penyusunan dokumen IKLH Tahun 2016
Semoga dokumen IKLH Tahun 2016 bermanfaat bagi yang memerlukan.
Jakarta, 27 Desember 2017
Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan,
Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc.
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup
1
BAB I
PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) diintrodusir sejak tahun 2009, yang merupakan indeks kinerja pengelolaan lingkungan hidup secara nasional. Konsep ini merupakan konsep Environmental Performance Index (EPI), yang kriterianya
meliputi kualitas air sungai, kualitas udara, dan kualitas tutupan lahan.
Pada IKLH 2009 hingga 2011 dilakukan penyempurnaan dengan melakukan perubahan titik acuan dan metode perhitungan. Sebagai pembanding atau target untuk setiap indikator adalah standar atau ketentuan yang berlaku berdasarkan peraturan perundangan yang dikeluarkan oleh pemerintah, seperti ketentuan tentang baku mutu air dan baku mutu udara ambien. Selain itu dapat digunakan juga acuan atau referensi universal dalam skala internasional untuk mendapatkan referensi ideal (Benchmark).
Pada tahun 2012 – 2014 dilakukan pengembangan metodologi dengan melakukan pembobotan untuk menghasilkan keseimbangan dinamis antara isu hijau (green issues) dan isu coklat (brown issues).
Isu hijau adalah semua aktivitas pengelolaan lingkungan hidup yang bersumber dari pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Isu coklat adalah aktivitas pengelolan lingkungan hidup yang berkaitan dengan pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.
Tahun 2016 – 2017 dilakukan penyempurnaan kembali dengan pengembangan metodologi perhitungan IKA. Pada periode ini status mutu air yang digunakan adalah status mutu air kelas I Peraturan Pemerintah (PP) No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Selain itu
2
dilakukan penyempurnaan metodologi perhitungan IKTL dengan
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup
mempertimbangkan aspek konservasi dan aspek rehabilitasi berdasarkan perubahan tutupan lahan/hutan, serta karakteristik wilayah secara spasial.
Indikator/parameter yang dipergunakan:
1. Luas tutupan hutan (Forest cover index) dan perubahan tutupan hutan (Forest performance index)
2. Kondisi tutupan tanah (Soil condition index). Indeks ini terkait dengan parameter C (tutupan lahan) dalam perhitungan erosi dan air limpasan
3. Konservasi sepadan sungai/danau/pantai (Water health index). Kondisi tutupan lahan di kanan kiri sungai (ekosistem riparian)
4. Kondisi habitat (Land habitat index). Tingkat fragmentasi hutan/habitat.
Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019 bahwa kebijakan pengelolaan kualitas lingkungan hidup diarahkan pada peningkatan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup yang mencerminkan kondisi kualitas air, udara dan tutupan lahan, yang diperkuat dengan peningkatan kapasitas pengelolaan lingkungan dan penegakan hukum lingkungan.
Adapun strategi yang akan dilakukan yaitu berupa penguatan sistem pemantauan kualitas lingkungan hidup; penguatan mekanisme pemantauan dan sistem informasi lingkungan hidup dan penyempurnaan IKLH.
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 3
IKLH dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara umum atas pencapaian kinerja program perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara nasional. Tujuan IKLH sebagai berikut :
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup
1. Sebagai informasi untuk mendukung proses pengambilan keputusan di tingkat Pusat maupun Daerah yang berkaitan dengan bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup.
2. Sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik tentang pencapaian target
kinerja program perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
3. Sebagai instrumen keberhasilan pemerintah dalam melindungi dan mengelola lingkungan hidup.
I.3. Ruang Lingkup
Ruang lingkup IKLH meliputi analisis indeks kualitas air sungai, kualitas udara ambien, dan kualitas tutupan lahan pada 33 provinsi. Sumber data yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Hasil pemantauan kualitas air sungai pada 150 sungai prioritas nasional di 33 provinsi.
2. Hasil pemantauan passive sampler kualitas udara ambien pada 268 kabupaten/kota di 33 Provinsi
3. Hasil analisis tutupan lahan berdasarkan data citra satelit tahun 2014 dan 2015.
4
1. Pasal 28 H Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.
2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
4. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan.
5. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.
7. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019.
8. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air.
9. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 45 Tahun 1997 tentang Indeks Standar Pencemar Udara.
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup
BAB II METODOLOGI
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 5
II. 1. Kerangka Pemikiran
IKLH sebagai indikator pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia merupakan perpaduan antara konsep IKL dan konsep EPI. IKLH dapat digunakan untuk menilai kinerja program perbaikan kualitas lingkungan hidup. IKLH juga dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam mendukung proses pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Nilai IKLH merupakan indeks kinerja pengelolaan lingkungan hidup secara nasional, yang merupakan generalisasi dari indeks kualitas lingkungan hidup seluruh provinsi di Indonesia.
Kriteria yang digunakan untuk menghitung IKLH adalah : (1) Kualitas Air, yang diukur berdasarkan parameter-parameter TSS, DO, BOD,COD, total fosfat, fecal coli, dan total coliform; (2) Kualitas udara, yang diukur berdasarkan parameterparameter : SO2 dan NO2; dan (3) Kualitas tutupan lahan yang diukur berdasarkan luas tutupan lahan dan dinamika vegetasi.
Tabel 1. Kriteria dan Indikator IKLH
No. Indikator Parameter Bobot Keterangan 1. Kualitas Air TSS 30% Sungai DO BOD
6 COD Total Fosfat Fecal Coli Total Coliform 2.
Kualitas Udara SO2 30%
NO2
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 7
Rumus yang digunakan untuk IKLH provinsi adalah:
IKLH_Provinsi = (30% x IKA) + (30% x IKU) + (40% x IKTL)
Setelah didapatkan nilai IKLH provinsi, selanjutnya untuk menghitung IKLH Nasional digunakan rumus sebagai berikut:
Keterangan: IKLH_provinsi IKA IKU IKTL
= indeks kualitas lingkungan tingkat provinsi = indeks kualitas air
= indeks kualitas udara
= indeks kualitas tutupan lahan 3. Kualitas Luas Tutupan 40 %
Tutupan Lahan Lahan dan Dinamika Vegetasi
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 8
II.2. Struktur dan Indikator Kualitas Lingkungan Hidup
IKLH tahun 2016 dihitung berdasarkan: (1) data hasil pemantauan kualitas air di 150 sungai prioritas nasional pada 33 provinsi; (2) pemantauan kualitas udara pada kawasan-kawasan transportasi, pemukiman, industri dan komersial pada 150 kabupaten/kota; dan (3) hasil analisis citra satelit tutupan lahan dan dinamika vegetasi tahun 2014 dan 2015.
1. Indeks Kualitas Air
Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003, bahwa salah satu metode untuk menentukan indeks kualitas air digunakan metode indeks pencemaran air sungai (PIj).
Indeks pencemaran air dapat digunakan untuk menilai kualitas badan air, dan kesesuaian peruntukan badan air tersebut. Informasi indeks pencemaran juga dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas badan air apabila terjadi penurunan kualitas dikarenakan kehadiran senyawa pencemar.
Indeks pencemaran air dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
PIj adalah Indeks Pencemaran bagi
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 9
Ci/Lij, di mana Ci menyatakan konsentrasi parameter kualitas air ke i dan Lij menyatakan konsentrasi parameter kualitas air i yang dicantumkan dalam baku mutu peruntukan air j. Dalam hal ini peruntukan yang digunakan adalah klasifikasi baku mutu air kelas I berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82
Tahun 2001.
Nilai PIj > 1 artinya bahwa air sungai tersebut tidak memenuhi baku mutu air kelas I sebagaimana dimaksud PP No. 82 Tahun 2001. Penghitungan Indeks
Kualitas Air (IKA) dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Setiap titik pantau pada lokasi dan waktu pemantauan kualitas air sungai dianggap sebagai satu sampel;
2. Hitung indeks pencemaran (PIj) setiap sampel untuk parameter TSS, DO, BOD, COD, Total Phosphat, Fecal Coli dan Total Coliform;
3. Penentuan IKA berdasarkan nilai dari PIj sebagai berikut: a. IKA = 100, untuk PIj≤1,
b. IKA = 80, untuk PIj>1 dan PIj≤4,67 (4,67 adalah nilai PIj dari baku mutu kelas II terhadap kelas I),
c. IKA = 60, untuk PIj>4,67 dan PIj≤6,32 (6,32 adalah nilai PIj dari baku mutu kelas III terhadap kelas I),
d. IKA = 40, untuk PIj>6,32 dan PIj≤6,88 (6,88 adalah nilai PIj dari baku mutu kelas IV terhadap kelas I),
e. IKA = 20, untuk PIj>6,88.
4. Selanjutnya Nilai IKA setiap provinsi dihitung dari rata-rata IKA semua sampel dalam provinsi tersebut.
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 1 0
2. Indeks Kualitas Udara
Pencemaran udara merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi oleh beberapa wilayah perkotaan di dunia dan tidak terkecuali di Indonesia. Kecenderungan penurunan kualitas udara di beberapa kota besar di Indonesia telah terlihat dalam beberapa dekade terakhir yang dibuktikan dengan data hasil pemantauan khususnya partikel (PM10, PM2.5) dan oksidan/ozon (O3) yang semakin meningkat. Selain itu kebutuhan akan transportasi dan energi semakin meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk. Peningkatan penggunaan transportasi dan konsumsi energi akan meningkatkan pencemaran udara yang akan berdampak pada kesehatan manusia dan lingkungan.
Penyusunan dan penghitungan indeks kualitas udara ditujukan:
1. sebagai pelaporan kualitas udara yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan informasi yang mudah dipahami kepada masyarakat tentang kondisi kualitas udara; dan
2. sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan pengelolaan kualitas udara yang tujuannya melindungi manusia dan ekosistem.
Indeks kualitas udara pada umumnya dihitung berdasarkan lima pencemar utama yaitu oksidan/ozon di permukaan, bahan partikel, karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen dioksida (NO2). Namun pada saat ini
penghitungan indeks kualitas udara menggunakan dua parameter yaitu NO2 dan SO2. Parameter NO2 mewakili emisi dari kendaraan bermotor yang
menggunakan bahan bakar bensin, dan SO2 mewakili emisi dari industri dan kendaraan diesel yang menggunakan bahan bakar solar serta bahan bakar yang mengandung sulfur lainnya.
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 1 1
Parameter NO2 dan SO2, diukur pada empat lokasi pada setiap kabupaten/kota dengan menggunakan metode passive sampler. Lokasi tersebut mewakili area transportasi, industri, perumahan dan komersial atau perkantoran/perdagangan. Penghitungan Indeksnya adalah dengan membandingkan nilai rata-rata tahunan terhadap standar European Union (EU) Directives. Apabila nilai indeks > 1, berarti bahwa kualitas udara tersebut melebihi standar EU. Sebaliknya apabila nilai indeks ≤ 1 artinya kualitas udara memenuhi standar EU.
Tabel 2. Standar Kualitas Udara Berdasarkan EU Directives
Air Quality Index Value
(IEU) EU Standards are exceeded by one pollutant or more >1
EU Standards are fulfilled on average 1
The situation is better than the norms requirements on average <1
Standar kualitas udara EU Directive ini saat ini masih diperhitungkan sebagai dasar penentuan baku mutu oleh World Health Organisation (WHO).
Tabel 3. Baku Mutu Udara Berdasarkan WHO No
1
Pollutant
Target Value/ Limit Value Year average is 40 µg/m3 NO2 2 PM10 Year average is 40 µg/m3
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 1 2
3
PM10 daily
Number of daily averages above 50 µg/m3 is 35 days
5 6 7 8 Year average is 20 µg/m3 Year average is 20 µg/m3 Year average is 5 µg/m3 - PM2,5 SO2 Benzene CO
Selanjutnya indeks udara model EU (IEU) dikonversikan menjadi Indeks Kualitas Udara (IKU) melalui persamaan sebagai berikut:
Rumus tersebut digunakan dengan asumsi bahwa data kualitas udara yang diukur merupakan data konsentrasi pencemar. Sehingga harus dilakukan konversi ke dalam konsentrasi kualitas udara, dengan melakukan pengurangan dari 100 persen.
3. Indeks Kualitas Tutupan Lahan
Indeks kualitas tutupan lahan (IKTL) merupakan penyempurnaan dari indeks tutupan lahan (ITL) yang digunakan sebelum tahun 2015. Pada metode perhitungan IKLH sebelumnya, terdapat keterbatasan dalam metode perhitungan indikator tutupan lahan sebagai satu-satunya indikator yang mewakili isu hijau. Oleh Karena itu dilakukan penyempurnaan metode perhitungan IKTL yang
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 1 3
mengelaborasikan beberapa parameter kunci yang menggambarkan adanya aspek konservasi, aspek rehabilitasi dan karateristik wilayah secara spasial, namun dapat disajikan secara sederhana dan mudah dipahami. IKTL dihitung dengan menjumlahkan nilai dari lima indeks penyusunan yang telah diberikan bobot. IKTL dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan :
ITH = Indeks Tutupan Hutan
IPH = Indeks Performance Hutan
IKT = Indeks Kondisi Tutupan Tanah
IKBA = Indeks Konservasi Badan Air
IKH = Indeks Kondisi Habitat
Indeks Tutupan Hutan (ITH)
Tutupan lahan merupakan kenampakan biofisik permukaan bumi. Penghitungan indeks tutupan lahan mengacu pada Klasifikasi Penutup Lahan (SNI 7645-2010). Berdasarkan SNI 7645-2010, penutup lahan didefinisikan sebagai tutupan biofisik pada permukaan bumi yang dapat diamati merupakan suatu hasil pengaturan, aktivitas, dan perlakukan manusia yang dilakukan pada jenis penutup lahan tertentu untuk melakukan kegiatan produksi, perubahan, ataupun perawatan pada penutupan tersebut.
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 1 4
Penghitungan ITH dilakukan dengan membandingkan antara luas hutan dengan luas wilayah administrasinya. Berdasarkan UU Nomor 41 Tahun 1999, bahwa setiap provinsi minimal memiliki kawasan hutan sekitar 30 persen dari luas wilayah. Dalam perhitungan ITH ini, diasumsikan bahwa daerah yang ideal memiliki kawasan hutan adalah Provinsi Papua pada tahun 1982 (84,3% dari luas wilayah administrasinya). Asumsi yang digunakan dalam penghitungan ITH, bahwa daerah-daerah yang memiliki kawasan hutan 30 persen dari luas wilayah administrasinya diberi nilai 50. Sedangkan yang nilai ITH tertinggi (100) adalah daerah yang memiliki kawasan 84,3 persen dari luas wilayah administrasinya.
Penghitungan indeks tutupan hutan diawali dengan melakukan penjumlahan luas hutan primer dan hutan sekunder untuk setiap provinsi. Penghitungan indeks tutupan hutan menggunakan rumus:
Keterangan : TH = Tutupan Hutan
LTH = Luas Tutupan Hutan LWP = Luas Wilayah Provinsi
Kemudian dilakukan konversi persentase yang merupakan perbandingan luas tutupan hutan dengan luas wilayah provinsi melalui persamaan sebagai berikut:
Keterangan :
ITH = Indeks Tutupan Hutan
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 1 5
Indeks Performance Hutan (IPH)
Karakterisasi dinamika temporal vegetasi dalam waktu yang panjang dapat dipergunakan untuk mengamati tren perubahan yang terjadi pada satu kelas penggunaan lahan.
Performance hutan dinilai dari pertumbuhan hutan dengan menggunakan nilai rata-rata Enhanced Vegetation Index (EVI) per tahun. Nilai signifikan perbedaan nilai dua tahun berurutan (threshold change) ditetapkan dengan menggunakan asumsi sebaran normal, sehingga threshold yang digunakan adalah µ ± standard deviasi (SD). Setiap poligon yang terdeteksi sebagai area yang signifikan berubah, baik positif maupun negatif, akan dihitung luasan dan presentase terhadap luas wilayah.
Gambar 1. Dinamika nilai EVI setiap 16 hari sekali (Setiawan, et al. 2014) Indeks Performance Hutan (IPH) untuk setiap provinsi diperoleh dari agregat nilai bobot per luas poligon terhadap luas wilayah total (area-weighted aggregated). Nilai
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 1 6
indeks 50 diberikan pada area di mana tidak terjadi peningkatan dan penurunan
performance hutan pada periode tertentu.
Indeks Kondisi Tutupan Tanah (IKT)
IKT merupakan nilai dari fungsi tutupan lahan atau tanah terhadap konservasi tanah dan air. Indeks ini terkait dengan parameter koefisien tutupan lahan (C) dalam perhitungan erosi tanah atau air limpasan. Nilai parameter C ditentukan berdasarkan fungsi konservasi tanah dan air.
Nilai indeks kondisi tanah dihitung dengan memberikan nilai indeks terbesar sebesar 100 dan terkecil sebesar 50.
IKT = (1 – C x 0,625) x 100
Indeks Konservasi Badan Air (IKBA)
IKBA merupakan fungsi dari sempadan sungai/danau dalam menjaga kualitas badan air. Nilai IKBA dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
IKBA : Indeks Konservasi Badan Air
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 1 7
Indeks Kondisi Habitat (IKH)
IKH mencerminkan kondisi keanekaragaman hayati di suatu tempat, sehingga secara tidak langsung mengukur kondisi habitat adalah mengukur tingkat keanekaragaman hayati yang ada di tempat tersebut. Dalam penilaian kualitas lahan/lanskap ini hanya satu indeks yang digunakan yaitu Total Core Area Index
(TCAI) dengan rentang nilai 0 – 100%.
Keterangan:
TCAI = Total Core Area Index
aijc = Patch dengan core area aij
= Patch
II.3. Sumber dan Kualitas Data 1. Sumber Data
1) Data bersumber dari data primer dan data sekunder. Data primer berasal dari hasil pengukuran pemantauan kuallitas air dan kualitas udara. Data sekunder berasal dari hasil interpretasi satelit tutupan lahan liputan tahun 2015, demografi, dan luas wilayah Indonesia Tahun 2016.
2) Data primer pengukuran kualitas air dan kualitas udara berasal dari Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan
Lingkungan Tahun 2016.
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 1 8
Kehutanan dan Tata Lingkungan Tahun 2015.
4) Data EVI dari MODIS MOD 13Q1 tahun 2014 dan 2015.
5) Data demografi dan luas wilayah bersumber dari BPS Tahun 2016.
2. Jenis Data Kualitas Air
1) Pemantauan kualitas air sungai dilakukan pada 33 provinsi yang merupakan sungai utama lintas provinsi
2) Pemantauan kualitas air sungai dilakukan pada 150 sungai
3) Pemantauan kualitas air sungai dilakukan paling sedikit 4 kali setahun pada tiga lokasi,
4) Jumlah titik pantau : 2427 titik pantau Kualitas Udara
1) Pemantauan kualitas udara ambien dilakukan pada 268 kabupaten/kota. Sekitar 60 persen kabupaten/kota yang dipantau termasuk kedalam
kategori kabupaten/kota sedang dan kabupaten/kota yang termasuk kategori kecil. Kategori ini didasarkan kepada besaran jumlah penduduk.
2) Pemantauan dilakukan pada lokasi-lokasi yang mewakili dampak pencemaran udara dari kawasan transportasi, kawasan perumahan,
kawasan perkantoran dan kawasan industri
3) Pengukuran kualitas udara ambien menggunakan metode passive sampler
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 1 9
Tutupan Lahan
1) Data penutupan lahan yang digunakan merupakan hasil interpretasi Landsat liputan tahun 2015.
2) Persentase perbandingan luas tutupan hutan dengan luas wilayah administasi provinsi, yaitu tutupan hutan yang meliputi klasifikasi
penutupan lahan:
• Hutan lahan kering primer. • Hutan lahan kering sekunder. • Hutan mangrove primer. • Hutan mangrove sekunder. • Hutan rawa primer.
• Hutan rawa sekunder. • Hutan tanaman.
3) Data EVI (enhanced vegetation index) dari citra MODIS MOD13Q1 sebanyak 46 data serial waktu tahun 2014 dan 2015 untuk wilayah
Indonesia.
3. Jaminan Kualitas Data
Untuk menjamin validitas data dengan cara membuat sistem kontrol, yaitu dengan membuat blanko perjalanan, dan blanko laboratorium.
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 2 0
BAB III
ANALISIS DATA
III.1. INDEKS KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP NASIONAL
Hasil penghitungan nilai IKLH 2016 pada masing-masing provinsi disajikan selengkapnya pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Penghitungan IKA, IKU, IKTL dan IKLH Tahun 2016
No
Provinsi IKU IKA IKTL IKLH
1 Aceh 86,30 70,36 66,38 73,55 2 Sumatera Utara 79,20 75,43 50,21 66,47 3 Sumatera Barat 82,90 40,00 57,97 60,06 4 Riau 72,40 50,75 49,45 56,73 5 Jambi 88,10 61,00 48,21 64,01 6 Sumatera Selatan 81,60 84,05 43,93 67,27 7 Bengkulu 85,40 80,97 56,31 72,43 8 Lampung 77,50 68,10 41,66 60,34 9 Bangka Belitung 80,40 82,08 45,33 66,88 10 Kepulauan Riau 78,60 80,00 56,53 70,19 11 DKI Jakarta 56,40 24,62 35,97 38,69 12 Jawa Barat 78,60 32,86 46,09 51,87
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 2