BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Landasan Teori
2.2.2 Usaha – Usaha Bank
2.2.1.2 Jenis Dan Macam Bank
2.2.1.2. Jenis dan Macam Bank
Berdasarkan pasal 5 undang – undang perbankan No. 7 tahun 1992, Menurut jenisnya bank terdiri dari :
1. Bank umum ( Commercial Bank ), adalah bank yang dalam pengumpulan dananya menerima simpanan dalam bentuk giro dan deposito, dalam usahanya terutama memberikan kredit jangka pendek .
2. Bank Perkreditan Rakyat, adalah bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan, dan bentuk lainnya yang di samakan dengan itu.
Menurut Suyatno, dkk ( 1997 : 15 – 18 ) macam bank terdiri dari yaitu : A. Dilihat dari segi fungsinya :
1. Bank Sentral ( Central Bank ), yaitu bank Indonesia, yang bertugas membimbing pelaksanaan kebijakan keuangan pemerintah dan mengkoordinir serta mengawasi seluruh perbankan di Indonesia, yang selanjutnya diatur dengan undang – undang tersendiri (Undang Undang No. 13 tahun 1968 ).
2. Bank Umum ( Commercial Bank ), adalah bank yang dalam pengumpulan dananya menerima simpanan dalam bentuk giro dan deposito, dan dalam usahanya terutama memberikan kredit jangka pendek.
3. Bank Tabungan ( Saving Bank ), adalah bank yang dalam pengumpulan dananya menerima simpanan dalam bentuk tabungan dan dalam usahanya terutama memperbungakan dananya dalam surat berharga .
4. Bank Pembangunan ( Development Bank ), adalah bank yang dalam pengumpulan dananya terutama menerima simpanan dalam bentuk deposito dan atau mengeluarkan surat berharga jangka menengah dan panjang, serta dalam usahanya terutama memberikan kredit jangka menengah dan panjang di bidang pembangunan.
5. Bank Desa ( Rural Bank ), adalah bank yang menerima simpanan dalam bentuk uang dan natura ( padi, jagung, dan sebagainya ) dan dalam usahanya memberikan kredit jangka pendek dalam bentuk uang maupun dalam bentuk natura kepada sektor pertanian dan pedesaan.
B. Dilihat dari segi kepemilikan : 1. Bank milik Negara, terdiri dari :
a. Bank sentral atau bank Indonesia yang didirikan dengan undang undang No. 13 tahun 1968.
2. Bank milik pemerintah daerah, adalah bank pembangunan daerah yang terdapat pada setiap daerah tingkat 1 . bank ini didirikan berdasarkan undang undang No. 13 tahun 1962.
3. Bank milik swasta, dapat dibagi dalam 3 macam yaitu :
a. Bank milik swasta nasional, adalah bank yang seluruh sahamnya dimiliki warga Negara Indonesia dan atau badan badan hukum peserta dan pemimpinnya terdiri atas warga Negara Indonesia .
b. Bank milik swasta asing, adalah bank yang seluruh sahamnya dimiliki oleh warga Negara asing dan atau badan badan hukum peserta dan pemimpinnya terdiri atas warga Negara asing .
c. Kerja sama antara Bank swasta nasional dengan Bank swasta Asing, kerja sama dalam hal ini dapat dilakukan dengan penggabungan antar Bank Swasta nasional dengan Bank Swasta Asing menjadi satu buah Bank .
4. Bank Koperasi ( Suyatno, dkk, 1997 : 17 ) adalah Bank yang modalnya berasal dari perkumpulan – perkumpulan koperasi . bank koperasi dapat berbentuk :
a. Bank Umum Koperasi. b. Bank Tabungan Koperasi. c. Bank Pembangunan Koperasi.
C. Dilihat dari penciptaan uang giral :
Dilihat dari segi ini, dikenal dua jenis bank, yaitu :
a. Bank Primer, adalah bank yang dapat menciptakan uang giral.
b. Bank Sekunder, adalah bank yang bertugas sebagai perantara dalam menyalurkan kredit. Yang tergolong dalam bank sekunder ialah Bank Tabungan, Bank Pembangunan, dan Bank Hipodik ( yang tidak menciptakan uang giral ).
2.2.1.3. Peranan Bank
Perbankan berhubungan dengan arus dana tabungan ke dalam investasi yang terjadi pada dunia usaha, dimana tidak berhubungan secara langsung . perbankan merupakan organisasi pemerintahan atau organisasi swasta yang melayani tujuan pengumpulan dana dari penabung dan menyalurkan kepada orang perseorang, rumah rumah tangga, atau dunia bisnis yang memerlukan kredit Dalam fungsinya seperti itu, perbankan melakukan kegiatan yang vital dalam pemberian kemudahan arus tabungan dari bunga bisnis atau rumah rumah tangga yang memilki kelebihan dana pada dunia bisnis atau rumah rumah tangga yang memiliki kekurangan dana dan untuk mencapai daya beli yang mereka harapkan. Arus dana yang cepat dan gesit dari para penabung kepada para investor merupakan sesuatu yang esensial bagi pertumbuhan perekonomian keseluruhan dan kesejahtraan orang perorang.
Perbankan tidak hanya berperan di dalam negeri tapi juga berperan di luar negeri. Peranan perbankan di luar negeri merupakan jembatan antara dunia internasional, dalam lalu lintas devisa ( uang ), hubungan moneter dalam perdagangan, hubungan antar bank di dalam maupun di luar negeri, dan lain lain . dengan demikian dikatakan bahwa peranan bank adalah untuk menetapkan ekonomi dan moneter. ( Anwari, 1991 : 7 ).
2.2.1.3.1. Peranan Bank Sebagai Lembaga Intermediasi
Bank adalah suatu lembaga keuangan, yaitu suatu badan yang berfungsi sebagai perantara keuangan masyarakat, perantara dari meraka yang kelebihan uang dengan meraka yang kekurangan uang . karena demikian eratnya kaitan bank dengan uang berdasarkan pengertian diatas, maka bank disebut juga lembaga yang berniaga uang. Bank menerima simpanan uang masyarakat dalam bentuk giro, dan tabungan . kemudian uang tersebut dikembalikan lagi pada masyarakat dalam bentuk kredit .
Kebijaksanaan moneter yang praktis dan fleksibel sangat diperlukan dalam suatu keadaan ekonomi tertentu . kebijaksanaan moneter yang luas berarti suatu kemampuan yang tinggi untuk bergerak dengan cepat menjawab perubahan dan suasana ekonomi, dan pengaruhnya dapat dirasakan dengan cepat pula oleh masyarakat. Maka tindakan untuk memudahkan kredit yaitu dengan memberikan
fasilitas yang menjangkau secara luas kepada seluruh lapisan masyarakat petani, petani pedagang kecil, maupun pengusaha .
( Sinungan ,1992 : 5 ).
Fasilitas yang diberikan bank kepada masyarakat petani maupun pada pedagang kecil melalui kredit usaha kecil ( kredit investasi kecil, kredit candak kulak ), kredit perumahan, kredit perdagangan dengan berbagai kemudahan dan persyaratan yang lunak . bagi usaha menengah dan besar, bank memberikan kredit produksi dan ekport import serta kredit distribusi berskala besar dengan jangkauan ke seluruh dunia . dalam kaitan inilah bank disebut sebagai agent of development atau alat pemerintah dalam membangun perekonomian bangsa melalui pembiayaan semua jenis usaha pembangunan. ( Sinungan, 1992 : 2 ).
2.2.1.4. Resiko Usaha Bank
Resiko usaha bank ( Siamat D, 1993 : 19 ) merupakan tingkat suku ketidakpastian mengenai suatu hasil yang diperkirakan atau diharapkan akan diterima . hasil dalam hal ini merupakan keuntungan bank atau investor . semakin tidak pasti hasil yang diperoleh bank , semakin besar kemungkinan resiko yang dihadapi investor dan semakin tinggi pula premi resiko atau bunga yang diinginkan oleh investor. Resiko usaha yang dihadapi oleh bank antara lain sebagai berikut :
a. Resiko Kredit ( Default Risk )
Merupakan suatu resiko akibat suatu kegagalan atau ketidakmampuan mengembalikan jumlah pinjaman yang diterima dari bank beserta bunganya sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan atau dijadwalkan. Ketidak mampuan nasabah memenuhi perjanjian kredit yang telah disepakati kedua pihak, secara teknis keadaan tersebut merupakan default. b. Resiko Penawaran Dalam Sekuritas ( Investment Risk )
Resiko penawaran dalam sekuritas berkaitan dengan kemungkinan terjadinya kerugian akibat suatu penurunan nilai pokok dari portofolio surat - surat berharga, misal obligasi dan surat surat berharga lainnya yang dimiliki bank. Oleh karena itu dalam situasi tingkat bunga yang berfluktuasi, bank akan menghadapi kemungkinan resiko perubahan harga pasar atas portofolio sekuritasnya. Aspek lain yang berkaitan dengan resiko ini adalah keadaan struktur dimana sekuritas tersebut diperdagangkan.
c. Resiko Likuiditas ( Liquidity Risk )
Adalah resiko yang mungkin dihadapi oleh bank untuk memenuhi kebutuhan liquiditasnya dalam rangka memenuhi permintaan kredit dan semua penarikan dana pada suatu waktu . kebutuhan liquiditas bank secara garis besar pada prinsipnya bersumber pada
dua kebutuhan . pertama, utama memenuhi semua kebutuhan penarikan dana oleh penabung . kedua, untuk memenuhi kebutuhan pencairan dan permintaan kredit dari nasabah terutama kredit yang telah di setujui.
d. Resiko Operasional ( Operational Risk )
Ketidak pastian mengenai kegiatan usaha bank merupakan resiko operasional bank yang bersangkutan. Resiko operasional bank antara lain berasal dari : kemungkinan kerugian dari operasi bank bila terjadi penurunan keuntungan yang dipengaruhi oleh struktur biaya operasional bank, kemungkinan terjadinya kegagalan atas jasa – jasa dan produk – produk baru yang diperkenalkan .
e. Resiko penyelewengan ( Fraund Risk )
Adalah berkaitan dengan kerugian kerugian – kerugian yang dapat terjadi akibat ketidakjujuran, penipuan moral dan perilaku yang kurang baik dari pejabat, karyawan dan nasabah bank.
f. Resiko Fidusia ( Fiduciary Risk )
Resiko ini akan terjadi apabila bank dalam usahanya memberikan jasa dengan bertindak sebagai wali amanat baik untuk individu maupun badan usaha. Titipan atau simpanan dana yang diberikan kepada bank harus benar – benar dikelola dengan baik, bila bank
mengalami kegagalan melaksanakan tugas tersebut dianggap merupakan resiko kerugian sebagai wali amanat.